
Hati dan pikirannya bergejolak. Lubuk hatinya yang terdalam merasa bersalah dan mencerna perkataan wanita itu. Namun pikirannya dipenuhi dengan kemarahan dan kebencian, serta tidak terima wanita itu sok-sokan menceramahi dan mengatur hidupnya. Tak hanya itu, bahkan wanita itu juga berani menamparnya?!
Rahul mendengus marah sembari meninju tembok kamar dengan sangat keras. Darah segar kembali merembes keluar dari punggung jemari tangannya.
Seluruh tubuhnya tampak dipenuhi oleh keringat yang membasahi. Nafasnya tersengal-sengal oleh kemarahan. Raut wajahnya tampak seperti seekor singa yang diganggu tidurnya.
Beraninya wanita itu menjudge dan menamparnya! Siapa dia?! Tau apa dia tentang hidupnya?! Dia hanya seorang perawat. Mengapa tidak bersikap sesuai dengan tugasnya saja?! Mengapa wanita itu begitu turut campur dalam kehidupan pribadinya?! Mengapa wanita itu berlagak seperti orang yang paling tau tentang hidupnya melebihi dirinya sendiri?! Dia bersumpah kalau dia sangat membenci wanita itu!
Namun, yakinkah dia dengan sumpahnya sendiri? Mengapa ucapan gadis itu terus terngiang dibenaknya? Kata-kata yang terdengar begitu pedas, begitu menyakitkan dan terkesan menghina kondisi fisiknya.
Disisi lain, kata-kata yang dilontarkan gadis itu terdengar sangat mendalam dan mampu menyentuh relung hatinya. Mampu menorehkan rasa bersalah dihati kecilnya.
Ahhkk....!! Ada apa dengannya? Bahkan dia baru bertemu dengan gadis itu dua kali. Tapi mengapa gadis itu bisa mempengaruhi hati dan pikirannya seperti ini?!
Perlahan-lahan Rahul merosot dan terduduk dilantai dengan perasaan kacau balau. Perkataan wanita bar-bar itu terus terngiang di kepalanya.
Benarkah selama ini dia sendiri yang memberi peluang pada orang lain untuk merendahkannya? Benarkah selama ini dia sendiri yang memilih untuk menjadi sebuah kerikil, padahal dia bisa menjadi permata yang dipandang berharga oleh seluruh dunia?
Tapi, apakah masih ada hal yang bisa dibanggakan darinya, dibalik kekurangannya? Hal yang bisa membuatnya dianggap berharga laksana permata?
Lama dia berkutat dengan perasaannya yang tak menentu. Entah sudah berapa lama waktu yang dia lalui dalam posisi seperti itu. Sampai akhirnya dia mendengar suara pintu terbuka, disertai dengan suara langkah kaki.
"Mau apa lagi? Masih belum puas untuk ceramahmu yang tadi?" Rahul berkata dengan geram. Emosinya yang masih naik turun membuatnya kembali meradang karena dia mengira itu adalah Zahra. Gadis yang saat ini membuatnya galau.
"Maaf Pak, saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan. Saya kesini hanya ingin mengantar makan siang sekaligus obat buat Bapak" jawab seorang wanita dengan bingung.
Rahul tersentak mendengar suara yang masih asing ditelinganya. Itu jelas bukan suara Zahra.
"Siapa kamu?"
"Nama saya Yanti Pak, salah satu perawat disini"
"Oh, maaf. Saya tidak mengenalmu. Karena sejak kemarin yang keluar masuk ruangan ini sepertinya perawat yang lain. Bukan kamu"
"Oh..... mungkin yang anda maksud adalah Zahra. Iya, memang sejak anda dibawa kesini dalam keadaan tidak sadarkan diri, dia kebagian tugas menjaga dan merawat anda. Namun karena sekarang anda sudah siuman, jadi dia merasa tugasnya sudah selesai. Dia juga sudah minta izin pada kepala perawat, untuk menjaga pasien yang lain. Oh ya, dia juga
menitip pesan untuk Bapak. Katanya mulai hari ini, dia tidak akan masuk kesini lagi. Jadi anda bisa istirahat dengan tenang"
"Oh begitu? Terima kasih sudah menyampaikan pesannya" Rahul bersikap sok acuh tak acuh. Seharusnya dia merasa sumringah karena wanita aneh itu tidak akan menemuinya lagi. Itu artinya dia tidak perlu lagi dibuat pusing oleh ocehan dan ceramahnya yang sok bijak itu. Tapi, entah mengapa dia merasa agak kecewa.
"Iya Pak sama-sama. Astagfirullah hal azzim! tangan anda! Sebentar Pak" wanita berseragam serba putih itu terkejut melihat tangan Rahul berdarah. Dengan cemas dia berlari kearah meja dan meletakkan nampan berisi mangkok bubur, gelas minuman, serta obat. Setelah itu dia langsung kembali menghampiri Rahul.
"Pak, tangan anda kenapa? Kok bisa terluka?" tanyanya seraya memegang tangan Rahul yang terluka.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa" jawab Rahul hambar.
"Tapi tangan anda berdarah. Sebentar Pak, saya ambilkan kotak obat dulu" perawat Yanti mengambil kotak P3K dari dalam laci meja dan meletakkannya di atas kasur.setelah itu dia kembali pada Rahul.
"Mari Pak, kita duduk disana saja. Biar saya obati lukanya"
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Kamu keluar saja dan urus pasienmu yang lain"
"Tapi nanti lukanya bisa infeksi Pak kalau tidak diobati. Lagipula ini sudah bagian dari tugas saya. Saya bisa dikenakan sanksi jika mengabaikan keadaan pasien yang sedang terluka. Mari Pak, kita duduk dikasur"Yanti membujuk dengan lembut dan membimbing Rahul untuk duduk di ranjang.
Mau tidak mau Rahul menuruti perempuan itu, demi menghindari konfrontasi babak kedua dengan penghuni RS itu. Cukup dengan perawat aneh itu saja dia bersitegang. Dan dia tidak ingin ada babak berikutnya dengan orang yang berbeda.
Yanti mengobati luka Rahul dengan telaten. Mengolesnya dengan obat merah, hingga membalutnya dengan perban.
"Sudah selesai Pak, sekarang waktunya Bapak makan siang. Bapak mau makan sendiri atau saya suapi....?"tanya Yanti sembari mengambil mangkok berisi bubur diatas nampan yang tadi dibawanya.
"Tidak-tidak, saya bisa makansendiri. Kamu bisa keluar sekarang" Rahul menjawab dengan cepat.
"Anda yakin tidak apa-apa saya tinggal?"
"Iya saya yakin. Saya bisa sendiri meskipun saya buta. Kamu bisa keluar sekarang"
"Ya sudah kalau begitu. Nanti obatnya jangan lupa diminum ya Pak" Yanti menggenggamkan mangkok bubur itu ketangan Rahul.
"Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu Pak"
"Heum"
Yanti beranjak dan melangkah untuk meninggalkan kamar itu. Namun langkahnya terhenti tatkala melihat kue-kue yang berceceran dilantai.
"Lha....aku baru sadar, inikan piscok buatan ibunya Zahra. Kok bisa berserakan dilantai seperti ini ya? Hah... sayang sekali, padahal kuenya sangat enak. Aku saja setiap kali dikasih selalu ketagihan. Ya sudahlah, aku bersihkan saja. Takut lantainya nanti jadi licin, dan bisa membuat orang terjatuh" Yanti bicara sendiri.
Rahul terpana mendengar ocehan wanita perawat itu. Dia baru ingat pada kue-kue yang jatuh saat tadi dia berkonfrontasi dengan perawat bar-bar itu.
"Kamu kenal baik perawat yang bernama Zahra itu?" Rahul menjadi tertarik .
"Tentu saja Pak, dia salah satu sahabat saya disini. Lagipula siapa dirumah sakit ini yang tidak mengenalnya? Semua dokter dan perawat disini sangat bergantung padanya dalam menghadapi sikap para pasien dengan berbagai macam karakter. Saat mereka semua sudah merasa kualahan menghadapi pasien yang uring-uringan, maka tidak butuh waktu lama baginya untuk menaklukkan mereka. Itulah yang membuat sebagian dokter dan perawat laki-laki disini menaruh hati terhadapnya. Bukan hanya karena kecerdikannya, tapi juga karena kecantikannya"
"Memangnya dia secantik itu?"tanya Rahul penasaran.
"Tentu saja Pak, sayang sekali anda tidak bisa melihat. Kalau tidak, saya yakin seratus persen. anda juga pasti akan tergila-gila padanya" Rahul tersenyum sinis. Itu tidak akan pernah terjadi. Wanita sengklek itu jelas bukan seleranya.
"Ya sudah Pak. Saya ambilkan peralatan kebersihan dulu ya, untuk membersihkan kue-kue ini"
__ADS_1
"Tidak, tidak usah. Biar saya saja yang membersihkannya"
"Ti-tidak usah Pak, biar saya saja. Ini tugas saya"
"Ini kesalahan saya. Jadi saya harus tanggung jawab"
"Tapi Pak"
"Saya bilang ini kesalahan saya! Jadi saya harus tanggung jawab! Kenapa? Apa karena saya buta?! Jadi kamu pikir kalau saya tidak bisa apa-apa?!" Rahul berkata dengan intonasi tinggi. Kesabarannya mulai menipis menghadapi perawat yang suka ngeyel itu.
"Bu-bukan begitu Pak, saya hanya....ya sudah kalau begitu, saya ambilkan peralatan kebersihannya saja ya Pak...."
"Itu juga tidak perlu. Biar nanti saya ambil sendiri" tukas Rahul.
"Ta-tapi Pak...."
"Kenapa?! Kamu takut kalau saya tidak tau dimana peralatan kebersihannya?! Apa penghuni rumah sakit ini hanya kita berdua? Sehingga tidak ada orang yang bisa saya tanyain?!"
"Bu-bukan seperti itu maksud saya Pak...." sanggah Yanti terbata-bata.
"Lalu apa maksudmu!" Rahul semakin kesal.
"Euum.....ya sudahlah, terserah anda saja. Saya permisi dulu" tak ingin berdebat lebih jauh, Yanti akhirnya mengalah dan membiarkan pasiennya melakukan apapun yang diinginkannya.
Sepeninggal Yanti, Rahul beranjak dari tempat tidur dan berjalan perlahan-lahan dengan tangan meraba-raba kesekeliling. Dia berhenti saat kakinya merasakan menginjak sesuatu yang terasa licin dan lengket. Dugaannya kuat, itu adalah susu yang berasal dari kue itu.
Rahul berjongkok dan mengambil salah satu kue yang tercecer dilantai lalu mencicipinya. Cemilan yang terdiri dari pisang dibalut tepung goreng serta lelehan susu coklat diatasnya, terasa begitu lezat dilidah Rahul. Meskipun rasanya sudah dingin, namun cemilan itu tetap mampu menggugah selera Rahul hingga membuatnya ketagihan. Tanpa sadar, dia sudah menghabiskan semua kue dilantai itu.
*********
Bahkan hingga malam tiba, perasaan Rahul masih gundah gulana. Hal utama yang ada dibenaknya adalah perawat centil itu. Entah mengapa gadis itu tidak bisa enyah dari benaknya.
Wajah cemberut Rahul berubah sumringah saat mendengar suara pintu terbuka. Namun wajah cemberutnya langsung kembali begitu sipembuka pintu mengeluarkan suaranya yang ternyata itu bukanlah Zahra. melainkan perawat lain yang ditugaskan untuk membawakan makan malam dan obat untuknya.
Begitu pula keesokan pagi dan siang harinya. Lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan lantaran yang melayani dan mengecek kondisinya adalah dokter dan perawat lain.
Hingga kesabarannya pun habis. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk mencari gadis itu.
Meski dia tidak tau akan bisa menemukannya atau tidak ditengah-tengah kondisi keterbatasan fisiknya. Namun dia sudah bertekad, jadi dia harus melakukannya.
Selain itu, dia juga ingin membuktikan ceramah perempuan itu tempo hari. Entah mengapa dia ingin sekali menemui perawat itu. Mungkin karena didorong oleh perasaan bersalah, lantaran dia sudah bersikap kasar padanya. Iya, pasti karena itu.
Walaupun dia memiliki sifat yang keras, namun kasar pada wanita bukanlah sifatnya.
__ADS_1