Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 76- Aku Harus Mengecewakanmu!


__ADS_3

"Maaf Nyonya. Tapi salad dan jus itu bukan buatan saya ataupun pelayan lain. Tapi itu buatan Tuan Rahul" Ujar Bu Zaitun datar.


"Rahul?" Shreya langsung menatap Bu Zaitun dengan terkejut. Jadi benar dugaan yang dia bantahkan? Bahwa yang membuat semua ini adalah Rahul? Dia tidak menyangka jika lelaki itu bisa mengerti apa yang dia inginkan. Entah ini kebetulan atau bagaimana.


"Iya Nyonya. Tadi saya melihat Tuan Rahul membuat salad dan jus didapur. Saya pikir beliau hanya iseng saja karena tidak ada kerjaan. Tapi sekarang saya mengerti, Tuan Rahul sengaja membuatkannya untuk Nyonya Shreya. Sepertinya..... Tuan Rahul sudah sudah sangat mengerti ya, apa yang Nyonya sukai.


Bahkan melebihi Tuan Fajar, yang sudah mencari makanan kesana kemari. Tapi malah Nyonya abaikan. Saya pikir, antara Nyonya dan Tuan Rahul sudah selesai sebelum Nyonya masuk rumah sakit kemarin. Tapi sepertinya..... Nyonya masih belum menyelesaikannya.


Padahal bukan hanya Nyonya saja yang masih memiliki Tuan Fajar yang dengan tulus mencintai Nyonya, tapi Tuan Rahul juga masih memiliki istri.


Dan saya yakin, Nyonya pasti sudah mendengar cerita mereka. Saya masih sangat berharap, agar Nyonya dan Tuan Rahul tidak bermain terlalu jauh. Apa Nyonya tega, menyakiti dua hati yang tulus? Tuan Fajar, dan istri Tuan Rahul. Mereka pasti akan sangat terluka karena ini. Tolong pikirkan baik-baik, apa yang saya katakan Nyonya. Saya mohon"


Panjang lebar Bu Zaitun berucap. Puas memprovokasi Shreya untuk menjauhi Rahul, kepala pelayan itu lantas meninggalkannya dalam kebimbangan dan kegalauan.


Shreya memandangi salad dan jus dihadapannya. Nafsu makannya kembali menghilang saat dia kembali dituntut untuk meninggalkan Rahul.


Pada akhirnya dia harus tetap melakukan hal yang paling bertentangan dengan perasaannya. Apakah ini memang sudah saatnya dia berpisah dengan Rahul?


********


Rahul tersenyum cerah melihat Shreya sedang asik menyiram bunga ditaman belakang. Dengan hati yang berbunga-bunga, Rahul berjalan dengan langkah lebar mendekati wanita itu ditengah-tengah taman.


"Hey, kamu disini ternyata? Aku cari dari tadi. Oh ya, ba...."


"Memangnya kenapa kamu harus repot-repot mencariku? Kenapa kamu tidak mencari istrimu saja?" Tukas Shreya datar. Membuat Rahul terkesiap dan tidak mengerti kemana arahnya ucapan wanita itu.

__ADS_1


"Ma-maksudmu apa? Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu?"


"Karena aku sadar sekarang, bahwa apa yang kita lakukan ini sudah melampaui batas. Hubungan, kedekatan, bahkan, perasaan yang kita rasakan ini sudah terlalu melewati batas. Hingga kita lupa, bahwa kita tidak sendiri. Kita sama-sama memiliki pasangan yang dengan tulus mencintai kita.


Aku sama sekali tidak menemukan kekurangan pada Fajar, yang membuatku merasa pantas untuk menghianatinya. Dan aku yakin, hal yang sama juga berlaku pada istrimu. Apa kamu bisa menemukan kekurangan pada istrimu, yang membuatmu merasa pantas untuk menghianatinya demi aku?"


Ujar Shreya lirih sembari menahan air matanya agar tidak tumpah. Berusaha menguatkan dirinya agar mampu menentang kata hatinya sendiri.


Rahul hanya diam terpaku. Berusaha mencerna setiap perkataan perempuan itu. Sebenarnya dia sudah merasa, jika sikap Shreya mulai berubah terhadapnya pasca dari rumah sakit itu. Wanita itu tampak menjaga jarak dan menghindarinya.


Tadinya dia berpikir jika itu semua dilakukan Shreya, lantaran takut diperhatikan atau dicurigai oleh penghuni rumah ini. Tapi ternyata, wanita itu mulai risih dengan kedekatan mereka. Benarkah seperti itu?!


"Kenapa kamu diam saja? Apa itu artinya, kamu setuju dengan apa yang aku katakan? Bukankah kamu pernah bilang, kalau kamu sangat mencintai istrimu? Sangat beruntung memiliki istri seperti dia? Lalu kenapa kamu malah disini bersamaku? Kenapa kamu tidak pergi untuk mencari istrimu? Apa kamu tidak merasa khawatir dengan keadaannya diluar sana? Bukankah dia sedang mengandung anakmu? Apa kamu tidak sedikitpun, mencemaskan mereka?"


"Apa maksudmu, kamu ingin aku menjauhimu dan meninggalkan rumah ini? Apa kamu, tidak ingin melihatku lagi disini? Kamu ingin aku pergi?" Rahul kembali bertanya dengan terbata-bata. Tampaknya dia sudah tau jawaban dari pertanyaannya itu.


Shreya berkata dengan sendu. Dengan air mata yang sudah jatuh berlinang diwajahnya, dia meninggalkan taman itu. Meninggalkan Rahul yang berdiri terpaku menatap kepergiannya.


Hatinya terasa begitu sakit bak tertampar mendengar setiap kata demi kata yang dilontarkan wanita itu. Secepat itukah dia harus meninggalkan Shreya? Inikan akhir dari kisah cintanya yang harus kembali berakhir dengan kepahitan?


********


Shreya berdiri termenung dibalkon. Berusaha menenangkan dirinya yang gundah gulana. Hatinya terasa hancur berkeping-keping karena harus menyingkirkan Rahul dari hidupnya.


Apalagi saat dia harus melihat raut kesedihan dan kekecewaan diwajah pria itu karena sikapnya. Tapi dia yakin Rahul pasti akan memahami keputusannya. Dia tau Rahul adalah lelaki yang baik. Dan Fajar adalah sahabatnya. Dia yakin bahwa Rahul pun tidak ada maksud untuk menyakiti siapapun.

__ADS_1


"Nyonya. Nyonya baik-baik saja?" Bu Zaitun tau-tau muncul dan menyentuh lengan Shreya dengan pelan. Mencoba memastikan keadaan wanita itu.


"Iya Bu. Aku baik-baik saja. Sekarang aku hanya ingin sendiri dulu" Jawab Shreya datar.


"Apa Nyonya merasa sedih dan bersalah, dengan apa yang Nyonya katakan pada Tuan Rahul? Nyonya, seharusnya Nyo....."


"Ibu tolong. Aku tau aku sudah bersalah pada Fajar. Tapi aku sudah melakukan apa yang Ibu katakan untuk menebus kesalahanku. Jadi aku mohon, tolong jangan menekanku terus. Tolong tinggalkan aku sendiri. Beri aku waktu untuk menenangkan diriku"


Tukas Shreya dingin. Hatinya masih terlalu kacau balau untuk bicara atau mendengarkan siapapun saat ini.


Bu Zaitun pun diam dan tidak banyak bicara lagi. Dia menatap Shreya dengan resah. Dari gestur tubuh dan tatapan matanya, Bu Zaitun bisa melihat jika perasaan wanita itu terhadap Rahul sudah begitu besar dan dalam.


Sepertinya, rencananya untuk membuat perempuan itu jatuh cinta pada Tuan Fajar sudah gagal karena kehadiran Tuan Rahul.


Semoga dengan kepergian Tuan Rahul dari rumah ini, akan membuat perasaan diantara mereka menguap secara perlahan-lahan. Bagaimanapun caranya, Tuan Fajar harus berhasil memiliki wanita ini.


"Ya sudah kalau memang itu maunya Nyonya. Tapi kalau misalkan nanti Nyonya butuh sesuatu, panggil saya saja. Permisi Nyonya" Ujar Bu Zaitun pelan sebelum melangkah pergi. Shreya hanya mengangguk dengan ekspresi datar.


********


Waktu makan malam pun tiba. Rahul, Shreya dan Fajar berkumpul dalam satu meja diruang makan.


"Jadi, besok kamu akan kembali ke Jakarta?" Tanya Fajar sembari mengunyah makanannya.


"Iya" Jawab Rahul tanpa menoleh.

__ADS_1


"Lho, kok mendadak? Memangnya pekerjaanmu di Magelang sudah selesai? Bukankah kamu baru beberapa hari datang kesini? Kok sudah mau pergi saja" Fajar kembali bertanya dengan bingung.


"Aku bisa menyuruh asisten atau salah satu karyawanku yang lain untuk mengurusnya. Itu bukan masalah besar"


__ADS_2