Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 91- Terima Kasih Sudah Kembali Padaku


__ADS_3

Memanfaatkan kondisi amnesia perempuan itu, dan menekannya habis-habisan supaya dia mau menerima Tuan Fajar. Dia tau apa yang dilakukannya memang salah.


Tapi semua yang dia lakukan semata-mata demi menjalankan amanah dari almarhum Tuan dan Nyonya besarnya, untuk selalu menjaga dan membuat Fajar bahagia. Sehingga tanpa pikir panjang, dia sampai menempuh jalan yang salah demi mewujudkan ambisinya. Termasuk mengorbankan perasaan orang lain.


Tapi sekarang dia sadar, bahwa yang namanya cinta memang tidak bisa dipaksakan. Mungkin memang benar, bahwa perempuan yang bernama Zahra itu tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan Tuan Fajar. Dan dia harus bisa menerimanya.


Semoga suatu saat nanti, Tuan Fajar bisa menemukan kebahagiaan sejatinya, bersama wanita yang mencintainya dengan sepenuh hati. Dan mendampinginya hingga mereka tua bersama. Dia akan selalu berdoa agar Tuhan bisa mewujudkan harapannya.


********


"Nyonya. Semua pakaian-pakaian Nyonya muda sudah saya masukkan kedalam lemari. Apa Nyonya masih butuh sesuatu?" Tanya Mirna begitu selesai membantu memasukkan dan menata pakaian-pakaian Zahra dalam lemari pakaian.


"Tidak usah. Aku ingin istirahat saja sekarang. Terima kasih sudah membantuku"


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya"


"Iya-iya"


Mirna pun meninggalkan Zahra dan membiarkan perempuan itu beristirahat. Rahul yang sedari tadi berdiri didepan pintu kamar dan asik menatap wajah Zahra, terpaksa bersembunyi saat Mirna keluar dari kamar istrinya itu.


Begitu pelayan muda itu lenyap dari pandangannya, Rahul kembali berdiri didepan pintu kamar untuk memanjakan matanya dengan memandangi istrinya. Menatap wanita cantik sekaligus ibu dari anaknya itu. Senyum sumringah merekah diwajah tampannya.


Dia melihat Zahra sedang mengambil baju piyama dalam lemari pakaian. Sampai pada akhirnya wanita itu menoleh dan baru menyadari keberadaannya yang sedang berdiri memandanginya didepan pintu.


"Sedang apa kamu disini?" Zahra berjalan mendekati Rahul kearah pintu.


"Hanya ingin melihatmu" Rahul menjawab asal-asalan. Walaupun jawabannya memang benar.

__ADS_1


"Ini sudah malam. Aku ingin tidur. Kamu kekamarmu saja sana"


"Saat kita dalam perjalanan kesini, kamu sudah tidur selama berjam-jam lho dimobil. Dan sekarang masih mau tidur lagi?" Seloroh Rahul.


"Memangnya ada yang salah? Inikan sudah malam. Apa menurutmu aku harus begadang semalaman? Kamu pikir aku kelelawar?" Gerutu Zahra.


"Biasanya, orang yang suka tidur itu, ciri-cirinya orang malas" Rahul tersenyum jahil.


"Kamu bilang apa? Kamu bilang aku pemalas?! Iiih!" Zahra memukul-mukul tubuh Rahul dengan geramnya.


"Aauww! Aduh. Ya, mulai deh bar-barnya" Rahul menggerak-gerakkan tubuhnya dan mengaduh dengan sikap menyebalkan.


"Rasain! Siapa suruh menyebutku pemalas!" Zahra masih terus memukul-mukul Rahul yang dengan santai menerimanya.


"Selamat malam putri malas" Rahul mencium pipi Zahra sebelum dia berlari menjauh meninggalkan istrinya dengan tubuh terpaku. Terkejut dengan tindakan pria itu terhadapnya. Zahra memegang bagian pipinya yang habis menerima ciuman barusan.


Dia malah merasa sebaliknya. Rasa hangat yang tiada tara menjalar keseluruh tubuhnya, kala bibir sensual itu menyentuh kulit wajahnya. Dia kembali teringat pada momen saat dirinya ketiduran dalam mobil, sewaktu mereka masih dalam perjalanan dari Magelang beberapa jam yang lalu.


Dia seperti bermimpi Rahul menciumnya. Rasanya sama persis seperti ciuman yang dia rasakan sekarang. Tidak hanya itu, dia juga mersa seperti mendengar Rahul membisikkan kata-kata cinta ditelinganya. Entah itu hanya mimpi belaka, atau memang lelaki itu benar-benar melontarkannya dialam nyata?


Entahlah, yang jelas apapun yang dilakukan Rahul terhadapnya membuatnya serasa terbang keawang-awang. Kenapa pria itu sangat menggairahkan baginya?


********


Rahul menghempaskan tubuhnya keatas kasur yang empuk. Senyum sumringah terus menghiasi wajahnya. Entah bagaimana caranya dia mengekspresikan kebahagiaannya saat ini. Membayangkan istrinya yang kini sudah kembali kesisinya membuatnya serasa melambung tinggi.


Rahul meraih ponselnya. Lalu dia bangkit dari posisi awalnya yang berbaring. Kini dia sudah berada dalam posisi duduk diatas ranjangnya. Dia membuka laci nakas yang terletak disamping tempat tidurnya. Dan mengambil dua foto USG dengan dimensi yang berbeda.

__ADS_1


Kemudian dia membuka ponselnya dan melihat potret-potretnya bersama Zahra yang dia simpan dalam galeri ponselnya. Momen yang dulu dia pikir dia abadikan bersama istri temannya.


Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya terkuak bahwa ternyata perempuan itu adalah istrinya sendiri. Sebuah kenyataan yang terdengar lucu. Namun dia sangat bersyukur, karena akhirnya bisa mengungkap dan mengetahui kebenaran tentang istrinya.


Dan sekarang dia bisa kembali serumah lagi bersama wanita tercintanya. Meskipun mereka masih belum bisa satu ranjang, lantaran kondisi Zahra yang masih belum bisa mengingat apapun tentangnya.


Namun dia akan tetap berjuang, agar istrinya bisa kembali mengingat masa-masa indah dan bahagia yang dulu pernah mereka lalui bersama. Dia yakin akan ada keajaiban untuk itu. Dan dia tidak akan pernah ragu, karena dia sudah dua kali membuktikannya sendiri.


Pertama saat dia pikir jika dia tidak akan pernah bisa lepas dari kebutaannya. Karena dia terlalu terpaut pada vonis dokter. Namun ternyata takdir berkata lain. Tuhan menunjukkan keajaibannya, hingga sekarang dia bisa dengan jelas melihat wajah orang-orang yang dicintainya. Terutama wajah cantik istrinya. Wajah yang selama ini selalu dia impikan untuk dia lihat.


Yang kedua, adalah saat dia berhasil menemukan istrinya dalam keadaan selamat dan sehat seperti saat ini. Dan dia sangat yakin, bahwa keajaiban ketiga pun pasti akan terjadi pada ingatan Zahra. Dan dia akan bersabar menunggu keajaiban itu datang menghampiri.


"terima kasih. Terima kasih banyak, karena kalian sudah bertahan. Sudah menjadi sosok yang kuat selama ini. Hingga kalian kembali lagi padaku, dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun. Aku sangat beruntung memiliki kalian. Bidadari cantik dan malaikat kecilku. Dua sumber kebahagiaanku.


Semangat hidupku. Aku janji, mulai sekarang aku akan menjaga kalian dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tidak akan pernah melepaskan kalian. Apalagi sampai membiarkan kalian meninggalkanku lagi. Belle, aku tau saat ini kamu masih belum bisa mengingatku. Mengingat kenangan-kenangan indah yang pernah kita lewati bersama.


Kenangan saat aku masih belum bisa melihat wajah cantikmu. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk membuatmu kembali mengingat semua itu. Supaya kita bisa hidup bahagia bersama calon putra kecil kita. Kebahagiaan yang selama ini kita impikan bersama. Dan terima kasih banyak, karena untuk kedua kalinya kamu sudah membuatku percaya, bahwa keajaiban itu nyata. Bukan cuma fiktif"


Dengan mata yang berkaca-kaca, Rahul mencium layar ponselnya. Dia juga melakukan hal yang sama pada foto dengan gambar segumpal janin dan bayi, seolah-olah dia mencium Zahra dan bayinya.


*******


Rahul terbangun dipagi hari. Dia meraih ponselnya dan melihat jam. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 5.35. Dia bangkit dari posisi berbaringnya, dan langsung teringat Zahra. Apakah istrinya sudah bangun? Apakah semalam tidurnya nyenyak?


Padahal semalam mereka baru bertemu. Namun perasaan rindu sudah kembali membuncah dihatinya. Karena penasaran, dia memutuskan akan memastikannya. Kalaupun dia sampai masuk kedalam kamarnya, tidak salahkan?


Bukankah wanita itu memang istrinya? Yang penting dia usahakan agar tidak ada yang melihatnya. Rahul keluar dari kamarnya dan langsung menuju kekamar Zahra.

__ADS_1


__ADS_2