
"Kita? Maksudmu? Kita pertama kali bertemu didesa ini?" Zahra mengernyitkan keningnya dengan bingung. Rahul langsung mengatupkan mulutnya dengan rapat. Lagi-lagi dia keceplosan.
"Mmm.... Mak-maksudku, dengan istriku, Zahra" Poles Rahul gugup.
"Oh..." Zahra manggut-manggut. "Lalu, kenapa kamu mengajakku kesini?"
"Karena aku ingin mengulang kembali, masa-masa indah yang pernah aku lalui bersama Zahra ditempat ini. Dan aku butuh seseorang untuk menemaniku. Makanya aku mengajakmu" Alasan Rahul.
"Kenapa kamu tidak mengajak Kak Gala saja? Kan kalian sama-sama lelaki? Apalagi dia kakakmu. Jadi pasti dia lebih mengertimu kan?"
"Kak Gala kan sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ditambah lagi dia harus meluangkan waktu untuk istrinya juga. Kalau aku mengajaknya kesini, bisa-bisa waktunya akan habis untukku. Kasiankan istrinya? Jadi aku mengajakmu saja. Kamu kan tidak sibuk. Apalagi suasana baru bagus untuk tumbuh kembang boy" Rahul berkilah.
Untuk apa dia mengajak kakaknya ketempat ini? Tidak ada hal penting atau mengesankan yang bisa dia lakukan bersama saudaranya itu disini. Lagipula setiap hari juga mereka bertemu.
Berbeda dengan istrinya yang sudah berbulan-bulan jauh darinya. Bahkan hingga melupakannya. Desa ini satu-satunya tempat yang banyak memiliki kenangan akan kisah percintaan mereka. Mulai dari awal mula mereka bertemu hingga menikah.
Sampai akhirnya terpisah akibat peristiwa tragis itu. Dan semoga saja, tempat ini sedikit banyak bisa membuat Zahra menemukan ingatannya kembali. Karena biar bagaimanapun juga, desa ini adalah kampung halamannya. Tempat kelahirannya.
"Lalu sekarang kita kemana?"
"Aku akan membawamu kesuatu tempat. Dan aku yakin, kamu pasti akan sangat menyukainya"
********
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba disebuah sungai yang didominasi dengan bebatuan-bebatuan granit besar didalamnya. Dan dilatar belakangi oleh air terjun yang jatuh dari ketinggian tebing, serta dikelilingi tumbuhan hijau.
"Wahhh! Aku tidak menyangka, kalau kamu akan mengajakku ketempat seindah ini" Seru Zahra tersenyum takjub melihat panorama alam yang tersuguh didepan matanya.
"Kamu suka" Rahul tersenyum puas melihat wajah sumringah istrinya.
"Tentu saja" Zahra menjawab dengan antusiasnya. Lalu dia melangkahkan kakinya. Hendak menapaki bebatuan besar didepannya.
"Hey hati-hati. Bebatuannya licin" Rahul memperingatkan sembari memegang lengan Zahra.
"Iya" Zahra menjawab dengan santai sambil terus melanjutkan aksinya.
Namun beberapa detik kemudian, sekilas bayangan tampak kembali melintas dibenaknya. Membuat kepalanya terasa pusing, hingga dia kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
Beruntung sebelum dia terjatuh diantara bebatuan granit dan aliran air, Rahul dengan sigap langsung menangkap dan menyanggah tubuhnya.
"Zahra!!" Seru Rahul panik tatkala melihat istrinya yang hampir terjatuh tiba-tiba. "Kamu baik-baik saja? Ada yang sakit?"
"Kepalaku sedikit pusing" Keluh Zahra dengan lemah seraya memegang kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, kita pergi saja ya"
"Tidak-tidak. Aku masih mau disini"
"Tapi kan kamu pusing"
"Aku hanya pusing sedikit saja kok. Kita kan baru datang. Masak langsung pergi?"
"Kamu yakin kan, tidak apa-apa?"
"Iya. Lagipula tempat seasri ini pasti akan membuatku baik-baik saja. Aku bisa melihat air terjun yang jatuh dari ketinggian, bebatuan granit besar. Padang rumput yang dihiasi dengan bunga-bunga. Suasananya benar-benar membuat hati terasa nyaman dan tenang" Zahra melepaskan tubuhnya dari rangkulan Rahul.
"Ya sudah kalau begitu. Tp nanti kalau kamu merasa pusing atau sakit, katakan saja supaya kita langsung pulang. Daripada nanti kamu pingsan disini. Masak aku harus menggendongmu. Kan berat"
Gurau Rahul yang membuat Zahra kembali kesal, hingga dia menginjak kaki Rahul dengan keras.
"Maksudmu apa bicara seperti itu? Kamu mau bilang aku gendut?" Tanya Zahra sewot.
"Yang bilang begitu kamu kan? Bukan aku" Jawab Rahul santai.
"Iiih!" Zahra semakin greget hingga dia kembali mengangkat kakinya. Rahul yang sudah siap menerima serangan dari Zahra pun melongo bingung, tatkala ternyata perempuan itu tidak jadi menginjak kakinya seperti yang dia lakukan barusan.
"Kok tidak jadi?"
"Untung saja aku sedang hamil. Jadi aku malas ribut denganmu" Jawab Zahra ketus.
"Kenapa memangnya?"
"Karena aku tidak mau anakku nanti mirip denganmu. Terutama sifat menyebalkanya" Jawab Zahra mengomel.
Rahul tersenyum kecil mendengar ocehan istrinya. Bagaimana mungkin anak yang dikandung perempuan itu tidak akan mirip dengannya? Jelas-jelas itu darah dagingnya sendiri. Sedikit banyak anak itu pasti akan mirip dengannya kan?
__ADS_1
"Eh, kamu mau ngapain?" Rahul kembali menarik lengan Zahra, saat wanita itu hendak kembali berjalan diatas bebatuan yang ada dihadapannya.
"Ya mau main air lah. Ngapain jauh-jauh datang kemari kalau tidak menikmati dan merasakan keasrian alamnya?" Kicau Zahra. Namun beberapa detik kemudian dia terkejut saat Rahul mengangkat dan menggendong tubuhnya. "Eh!"
"Aku yang akan membantumu kesana" Rahul berjalan menapaki bebatuan-bebatuan granit besar itu.
"Perasaan tadi ada yang bilang malas menggendongku. Katanya aku beratlah, gendutlah" Zahra menyindir.
"Kata siapa aku ingin menggendongmu? Orang aku hanya ingin menggendong Boy. Aku hanya takut saja, nanti dia sampai terluka akibat kecerobohan ibunya seperti beberapa waktu yang lalu. Hingga dia harus masuk rumah sakit lagi" Seloroh Rahul memberi alasan. Membuat Zahra semakin cemberut.
Tak lama kemudian, mereka sudah berada ditengah-tengah sungai. Rahul mendudukkan tubuh Zahra diatas bebatuan besar yang berada ditengah-tengah sungai itu dengan lembut dan hati-hati. Dengan posisi kaki Zahra yang dicelupkan kedalam aliran air yang mengalir sedikit deras menghantam bebatuan.
"Tunggu disini ya. Jangan kemana-mana. Kalau mau beranjak, panggil aku saja. aku akan kembali lagi"
"Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Zahra dengan wajah menengadah menatap Rahul.
Rahul menunjuk arah Padang rumput yang terletak tak jauh dari area sungai itu. "Hanya kesana sebentar. Tidak lama kok"
"Baiklah" Zahra mengangguk. Rahul pun meninggalkan Zahra yang dengan riangnya bermain air sungai yang terasa dingin. Wanita itu tampak sangat patuh pada perkataan Rahul, untuk tidak bangkit berdiri dari batu yang menjadi tempat duduknya.
Sekitar dua puluh menit kemudian Rahul kembali. Zahra yang sedang asik dan terbuai dengan nuansa alam disekitarnya tidak menyadari kehadiran Rahul.
Tanpa berkata sepatah katapun, Rahul langsung menyematkan bagian atas kening Zahra dengan karangan bunga warna-warni yang sudah dirangkainya sedemikian rupa, hingga membentuk bando yang cantik dan indah.
Spontan Zahra terkejut saat merasakan ada benda yang menyentuh kepalanya.
"Eh, apa ini?" Zahra menengadah sembari meraba dan memegang benda yang disematkan diatas rambutnya itu. "Kamu dapat darimana?"
Rahul duduk diatas batu disamping Zahra. "Dari sana. Apa kamu suka?" Jawabnya menunjuk arah yang disinggahinya barusan.
"Tentu saja. Ini sangat cantik" Zahra tersenyum takjub.
"Yang memakainya jauh lebih cantik lagi" Gombal Rahul. Membuat Zahra tersipu malu.
"Oh ya, apa perlu aku memotretmu?" Rahul menawarkan.
"Ide bagus. Ayo cepat ambil fotonya" Zahra tampak sangat antusias menerima ide itu.
__ADS_1
"Oke, diam disini" Titah Rahul yang lantas beranjak agak menjauh dari posisi Zahra. Lalu dia mengeluarkan ponselnya, dan memotret istrinya yang berpose dengan gembiranya.
Puas berpose, Zahra mengajak Rahul kepadang rumput. Lagi-lagi dia tersenyum takjub mengagumi keindahan hamparan bunga-bunga liar warna-warni dan bervariasi yang tumbuh bermekaran. Saking terpesonanya, Zahra sampai memetik satu persatu bunga itu dengan cerianya.