Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 93- Aku Sangat Bahagia!!


__ADS_3

"Ya sudah. Biar nanti Tante suruh pengawal untuk cek kamarmu. Kalau kamu masih takut, sebaiknya jangan main dikamar dulu. Wanita hamil tidak baik, sering-sering terkejut melihat binatang"


"I-iya Tante. Sekarang aku juga, mau kedapur kok. Tapi aku mau siap-siap dulu sebelum kebawah"


"Kamu tidak apa-apa kalau Tante tinggal?" Lesti bertanya dengan ragu.


"Tentu saja tidak Tante. Tikusnya pasti sudah tidak ada. Kalau Tante sedang ada urusan, sebaiknya Tante urus saja urusan Tante. Aku tidak enak kalau menjadi penyebab terhalangnya urusan Tante"


"Ya sudah kalau begitu. Tante kedapur duluan ya. Soalnya Tante mau siapin sarapan buat Om Helmi"


"Iya Tante. Nanti aku susul ya" Setelah Lesti pergi, Zahra baru bisa bernafas lega. Dia kembali masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu. Kemudian dia berbalik dan...


"Ah...." Dia terkejut melihat Rahul yang sudah berdiri dibalik pintu. Spontan dia hendak berteriak. Namun Rahul sudah terlebih dulu membekab mulutnya.


"Kalau kamu teriak lagi, sama saja dengan kamu memanggil Mamaku untuk kembali kesini. Kamu mau, nanti Mama masuk kesini? Lalu dia melihat bahwa tikus yang dimaksud ternyata adalah anaknya sendiri" Rahul memperingatkan dengan suara pelan.


Zahra menggelengkan kepalanya. Membuat Rahul tersenyum penuh kemenangan. Dan dia pun menyingkirkan tangannya dari mulut istrinya.


"Iih! Dasar menyebalkan! Gara-gara kamu ya, aku sampai harus membohongi Mamamu!" Zahra menggerutu sembari memukul Rahul dengan kesalnya.


"Kenapa jadi aku yang disalahkan? Kan aku tidak pernah menyuruhmu untuk bohong pada Mamaku" Sanggah Rahul dengan santainya.


"Jadi maksudmu, aku harus jujur pada Tante Lesti kalau anaknya yang menyebalkan ada didalam kamarku?!"


"Ide bagus. Bagaimana kalau aku saja yang jujur pada Mama?" Rahul tersenyum usil dan hendak melangkah untuk keluar.


"Eh, kamu mau ngapain?" Zahra menarik tangan Rahul dan menghentikannya.


"Ya tentu saja mau berkata jujur. Daripada aku membuatmu berbohong pada Mamaku" Kelakar Rahul.


"Jangan ngaco. Sebaiknya sekarang kamu keluar. Aku tidak ada waktu untuk meladenimu. Aku mau kedapur. Mau membantu yang lain menyiapkan sarapan" Zahra semakin sewot dengan sikap Rahul yang tidak bisa diajak serius. Hingga dia memilih untuk menghentikan perdebatan yang semakin lama semakin menjengkelkan itu.


"Baiklah aku akan keluar. Tapi jangan lupa ya"


"Apa?"

__ADS_1


"Buatkan sarapan yang enak untukku"


"Kamu pikir aku pembantumu?"


"Yang bilang kamu pembantuku siapa? Kamu kan is..."


"Is apa maksudmu?" Zahra bertanya dengan bingung saat tiba-tiba Rahul tidak menyelesaikan ucapannya.


Kini giliran Rahul yang gelagapan saat sadar, bahwa dia sudah hampir keceplosan dan hendak menyebut Zahra sebagai istrinya. Ya ampun, kenapa dia bisa ceroboh?!


"Bu-bukan apa-apa. Tidak penting. Ya sudah aku keluar dulu. Good morning" Rahul mencium bibir Zahra sebelum dia berlari meninggalkan wanita itu dikamarnya.


Tindakannya itu kembali membuat Zahra terkejut dan terpaku. Dia memegang bagian bibirnya yang baru saja terkena sentuhan bibir Rahul. Entah dia harus merasa marah atau senang dengan apa yang dilakukan lelaki itu terhadapnya.


Namun dia tidak bisa merasakan yang pertama. Karena sentuhan bibir Rahul membuatnya serasa terbang melayang! Ya Tuhan.... Kenapa lelaki itu begitu menggairahkan? Kenapa setiap perlakuan yang dilakukan lelaki itu terhadapnya selalu saja membuatnya merasa meleleh?


********


Rahul tiba dikantor bersama Gala. Beda dari biasanya, pagi ini dia tampak begitu sumringah.


"Pagi" Rahul membalas sapaan mereka semua dengan seulas senyum cerah sembari terus berjalan. Pancaran kebahagiaan sangat terlihat jelas diwajahnya.


Membuat semua karyawan merasa bingung dengan sikap atasan mereka yang berubah drastis itu. Karena biasanya direktur mereka itu akan bersikap dingin dan cuek. Namun hari ini, tiba-tiba saja sikapnya jadi berbeda.


Namun mereka semua merasa senang dengan mood baik bos mereka itu. Begitupun dengan Gala yang yang sedari tadi tersenyum simpul melihat wajah ceria adiknya.


"Kenapa Kakak senyum-senyum terus sambil melihatku dari tadi? Ada yang aneh denganku?" Tanya Rahul heran.


"Memangnya kamu tidak sadar?"


"Maksudnya?" Rahul mengernyitkan keningnya.


"Aku bingung saja dengan sikapmu. Tidak biasanya kamu seceria ini. Apa kamu habis menang lotre?" Seloroh Gala. Membuat Rahul tersenyum tipis.


"Ini sejuta kali lebih membahagiakan daripada memenangkan lotre Kak"

__ADS_1


"Memang apa terjadi? Coba ceritakan padaku" Gala bertanya dengan penasaran. Rahul tersenyum misterius.


"Kenapa aku harus cerita pada Kakak? Dasar kepo. Sudahlah, aku mau keruanganku dulu. Banyak kerjaan" Rahul berjalan dengan santainya, meninggalkan Gala yang menatap kepergiannya dengan wajah melongo bengong saking herannya.


********


Rahul sedang berkutat dengan laptop diatas mejanya saat asisten Adam masuk dan menemuinya dalam ruangannya.


"Selamat pagi Pak" Sapa Adam dengan penuh hormat.


"Pagi. Adam, aku ada tugas untukmu"


"Tugas apa Pak. Akan saya laksanakan Tugas dari Bapak dengan sebaik mungkin"


"Bagus kalau begitu. Berikan bonus untuk semua karyawan. Dan satu lagi, berikan juga santunan berupa uang, makanan dan pakaian untuk anak-anak panti asuhan dan para pengemis dijalanan. Juga untuk para kaum duafa.


Dan untuk anak-anak yang masih terlantar dijalanan dan sudah tidak punya keluarga, pastikan mereka semua dibawa kepanti asuhan yang terbaik. Dan mendapatkan tempat tinggal yang layak"


"Hah? Bapak serius?" Adam terlalu terkejut dengan perintah yang diberikan Rahul. Hingga dia menatap bosnya dengan penuh kebingungan.


"Apa tampangku terlihat seperti sedang bercanda?"


"Mmm.... Maksud saya, dalam rangka apa, tiba-tiba Bapak melakukan amal sebesar itu?" Adam memberanikan diri untuk bertanya.


"Kalau kita mau berbuat amal dan kebaikan untuk menyenangkan orang lain, apa harus alasan dan rangkanya?"


"Mmm.... maksud saya, Bapak terlihat seperti sedang syukuran"


"Tentu saja. Aku memang sedang syukuran. Karena aku sangat bersyukur dengan apa yang sudah aku dapatkan. Tuhan sudah memberiku anugerah yang sangat indah. Hingga aku tidak bisa berhenti untuk bersyukur"


Rahul berbicara dengan tatapan menerawang penuh cinta. Membayangkan Zahra dan anaknya selalu membuatnya merasa sumringah. Ingin rasanya dia terbang dan memeluk mereka. Dua cahaya yang sudah menerangi kehidupannya.


Sementara Adam memilih untuk diam dan tidak lagi bertanya lebih lanjut. Meski merasa bingung dan penasaran, namun dia tidak berani bersikap kepo terlalu jauh. Walaupun hatinya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, akan penyebab suasana hati bosnya yang tiba-tiba saja membaik seperti ini sepulangnya dari Magelang kemarin.


Dia jadi berpikir dan menduga-duga. Apakah ini ada kaitannya dengan kepergian dan kepulangan mendadaknya dari India waktu itu? Apa mungkin bosnya menemukan sesuatu hal yang membuatnya sangat bahagia, sehingga dia merasa patut bersyukur untuk itu?

__ADS_1


Entahlah, dia juga tidak ingin terlalu berasumsi. Apapun itu, dia ikut senang melihat bosnya ceria seperti itu. Jarang-jarang dia melihat pancaran kebahagiaan dalam diri lelaki yang berstatus sebagai atasannya itu.


__ADS_2