
"Dok, lalu bagaimana dengan istriku? Dia juga selamatkan?! Bukankah seharusnya kalian menyelamatkannya?!" Desak Rahul dengan resah. Rasanya dia tidak sanggup membayangkan jika pada akhirnya Zahra akan meninggalkannya untuk selamanya!! Tidak! Itu tidak boleh terjadi!!
"Bapak jangan khawatir. Berkat doa dari kalian semua, keajaiban pun terjadi. Kami bisa menyelamatkan ibu Zahra maupun bayinya. Ternyata Ibu Zahra dan bayinya kuat dan mampu melewati masa kritis. Operasinya berjalan dengan lancar. Mereka berdua baik-baik saja"
Dokter menjelaskan dengan senyuman cerah yang mengembang diwajahnya. Penjelasannya benar-benar sudah bisa membuat semua orang bernafas dengan lega sekarang.
"Alhamdulillahi Rabbil a'lamin. Terima kasih Ya Allah" Rahul bersimpuh dan bersujud dilantai, sebagai tanda syukurnya atas keajaiban yang terjadi pada istri dan putranya.
Tuhan telah mengabulkan doa-doa dan permohonannya!! Bidadari dan malaikat kecilnya selamat?! Dua-duanya masih hidup?! Mereka tidak meninggalkannya?! Akan selalu berada disisinya?!
Apalagi yang membuatnya bahagia selain dari itu?! Dia tidak akan pernah berhenti bersyukur, atas kehidupan yang masih Tuhan berikan untuk Zahra dan anak mereka?! Dia bahkan tidak tau bagaimana cara melukiskan kebahagiaannya saat ini!
"Dok, apa saya sudah bisa bertemu mereka sekarang?" Rahul kembali bertanya dengan penuh harap.
"Iya Pak. Tapi mohon bersabar dulu ya, setelah Ibu Zahra kami pindahkan keruang rawat. Dan untuk bayinya akan kami rawat dalam inkubator selama beberapa hari, atau bahkan beberapa minggu untuk menjaga suhu tubuhnya" Tutur dokter yang juga turut merasakan kebahagiaan keluarga besar itu.
"Lakukan apa saja asalkan kondisi mereka berdua bisa semakin membaik" Titah Helmi dengan sumringahnya.
Rasanya dia masih tidak percaya, jika sekarang dia sudah menjadi kakek! Sekalipun cucu pertamanya terlahir dalam keadaan prematur, namun itu bukan masalah besar baginya. Yang terpenting dia lahir dalam keadaan selamat dan sehat.
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi dulu" Dokter menjawab dengan patuh kemudian berlalu, meninggalkan keluarga besar yang sedang bersuka cita menyambut kehadiran seorang jagoan kecil ditengah-tengah mereka. Raut-raut kebahagiaan terpancar dengan jelas dari wajah mereka.
__ADS_1
Kecuali Amora dan Naomi yang tampak bingung dan cemberut. Tidak habis pikir kenapa situasinya bisa berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini. Padahal jelas-jelas sebelumnya dokter sendiri yang mengatakan, hanya bisa menyelamatkan salah satunya!
Tapi kenapa sekarang semuanya malah berubah secara tiba-tiba? Dua-duanya selamat dan baik-baik saja?! Kalau begini caranya, semua yang mereka lakukan gagal dan sia-sia! Dasar sial!!
********
Kelahiran bayi Zahra sebagai keturunan pertama Rahul, menjadi hal yang sangat membahagiakan bagi keluarga besar Dirgantara. Ditambah lagi dengan kondisinya yang stabil dan tidak ada komplikasi, sekalipun terlahir diusia kehamilan yang baru tujuh bulan.
Dokter mengatakan bahwa bayinya adalah anak yang kuat. Detak jantung dan suhu tubuhnya normal dan stabil. Namun dia harus tetap berada dalam inkubator untuk menjaga suhu tubuhnya sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan. Hal itu bertujuan agar sang bayi terhindar dari resiko yang tidak diinginkan.
Rahul dan keluarganya menyerahkan perawatan putranya pada tenaga medis sepenuhnya. Karena mereka yang lebih mengerti.
Helmi memerintahkan para staf rumah sakit maupun pengawalnya, untuk memberikan perawatan dan penjagaan intensif selama 24 jam untuk cucunya. Dia tidak ingin mengambil resiko yang bisa saja menimpa cucu mahkotanya, yang merupakan pewaris Dirgantara group selanjutnya.
Sementara dia sendiri fokus pada Zahra. Dia sudah bisa bernafas lega karena dokter mengatakan jika kondisi Zahra juga sudah baik-baik saja, dan tidak ada hal lagi yang perlu dikhawatirkan, karena masa kritisnya sudah berlalu.
Namun wanita itu masih belum sadarkan diri akibat pengaruh anestesi. Rahul dengan setia dan sabar menunggu istrinya diruang rawat VVIP yang super besar dan mewah itu.
"Terima kasih ya, sudah bertahan. Sudah menjadi wanita yang kuat, yang berhasil melewati rasa sakitmu demi aku, dan anak kita. Terima kasih sudah melahirkan putra kita dengan selamat. Terima kasih sudah menepati janjimu, untuk selalu bersamaku" Rahul memegang tangan Zahra dan berulang kali dia mengecup jari jemari istrinya dengan penuh cinta.
"Sekarang giliranku untuk menepati janjiku. Aku akan selalu menjaga kalian berdua. Aku akan selalu menjadi suami dan ayah yang membanggakan untuk kalian. Aku akan selalu membuat kalian bahagia. Tidak akan pernah aku biarkan siapapun menyakiti kalian. Aku janji itu.
__ADS_1
Tapi.... kapan kamu akan bangun? Kamu tidak ingin melihat putra kita? Dia sangat tampan, seperti Papanya. Iya, persis seperti aku saat bayi. Kamu tau, dia tidak sedikitpun mirip denganmu. Sekalipun kamu yang melahirkannya.
Tapi genku jauh lebih kuat darimu. Kalau kamu masih mau tidur, tidak masalah. Kamu pasti sangat kelelahan kan, habis melahirkan anak kita. Tidur yang nyenyak ya. Aku akan menunggumu disini"
Rahul mengelus-elus kening dan rambut Zahra dengan lembut. Sesekali dia mengecup kening istrinya. Matanya tampak berkaca-kaca oleh air mata haru dan luapan kebahagiaan. Dia terus berbicara dan berseloroh disamping Zahra selama berjam-jam.
Baru beberapa jam yang lalu dia menjadi pria yang sangat menyedihkan. Yang menangisi istri dan anaknya yang terancam akan meninggalkannya untuk selamanya. Dimana dia harus memilih siapa diantara mereka berdua yang harus dia korbankan.
Namun sekarang, badai itu telah berlalu. Tidak ada yang akan yang akan meninggalkannya. Baik Zahra maupun bayi mereka, akan tetap berada disisinya. Sekalipun dia masih harus tetap menerima kenyataan, jika istrinya masih dalam keadaan amnesia hingga saat ini.
Namun dia sudah memutuskan, apapun yang terjadi setelah ini, dia tidak akan mengeluh atau terlalu memikirkan hal itu. Karena baginya, tidak ada yang lebih penting selain keselamatan Zahra dan bayinya. Iya, hanya itu prioritas utamanya. Tidak ada yang lain.
Perlahan-lahan rasa kantuk mulai menyerangnya. Hingga tanpa dapat dicegah, lama kelamaan dia tertidur disamping tempat tidur istrinya.
Entah sudah berapa jam lamanya waktu dia habiskan tertidur disebelah Zahra, dengan posisi tangan kanannya memegang tangan Zahra, sedangkan tangan kirinya dijadikan sebagai tumpuan kepalanya. Hingga akhirnya dia terbangun saat merasakan jemari tangan Zahra bergerak.
"Satya...." Ujar Zahra lirih. Membuat Rahul terkesiap hingga dia terbangun dengan mata terbelalak, dan menatap istrinya yang perlahan-lahan mulai membuka matanya dengan lemas.
Apa dia tidak salah dengar?! Zahra memanggilnya Satya?! Setaunya, yang memberikannya nama itu adalah Zahra?! Bukan Shreya! Apa itu artinya, ingatan Zahra sudah kembali?! Wanita itu sudah mengingatnya sebagai suaminya?! Wajah Rahul tampak berbinar-binar memikirkan kemungkinan itu.
"Zahra! Kamu sudah sadar! Alhamdulillah Ya Allah. Aku senang sekali! Bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu baik-baik saja kan? Katakan padaku, bagian mana yang sakit?!" Rahul menanyakan keadaan Zahra dengan penuh perhatian. Namun wanita itu hanya menatapnya dalam diam, tanpa berkata sepatah katapun.
__ADS_1
"Zahra, kamu kenapa diam saja? Jawab prtanyaanku Belle. Mmm.... Mak-maksudku.... Shreya...." Rahul terkejut hingga mau tidak mau dia harus meralat ucapannya, dan kembali memanggil istrinya dengan nama Shreya.