
"Aku tidak bisa apa-apa selain menuruti keinginan Mama untuk mendekati dan menikahi Gala. Tapi percayalah, aku tidak pernah sekalipun mencintai kakakmu. Karena dari dulu sampai sekarang, perasaanku masih sama. Hatiku masih menjadi milikmu. Mungkin aku terlambat menyadarinya"
"Saat aku mendengar kabar bahwa kamu mengalami kecelakaan pesawat, dan kamu dinyatakan hilang, saat itu perasaanku sangat hancur. Dan saat itu juga aku menyadari betapa aku masih sangat mencintaimu. Setiap hari, setiap saat bahkan setiap detik aku selalu memikirkanmu. Aku selalu berdoa agar Tuhan selalu melindungimu. Dan aku sangat bahagia sekali, saat kamu pulang kesini dalam keadaan selamat. Tuhan telah mengabulkan doaku"
Amora mulai melancarkan aktingnya, dia berbicara selirih dan sesedih mungkin untuk membuat Rahul kembali simpati dan jatuh hati padanya.
Namun Rahul hanya menanggapinya dengan senyum sinis. Nampaknya dia tidak sedikitpun terpengaruh dengan akal bulus wanita itu.
Pengalaman Masa lalu sudah cukup memberinya pelajaran untuk menilai, wanita macam apa yang ada dihadapannya saat ini.
"Udah selesai ngocehnya? Dengar baik-baik ya, kakak iparku tersayang, jika kamu pikir aku akan termakan dengan bualanmu, maka kamu salah besar. Karena aku tidak sebodoh itu hingga bisa jatuh kelubang yang sama untuk kedua kalinya. Selain itu, aku juga sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapmu. Karena perasaanku yang dulu dengan yang sekarang, sangatlah berbeda. Mungkin dulu aku memang sangat mencintaimu tapi sekarang aku sangat mencintai istriku, Zahra"
Kata Rahul dengan sinisnya. Membuat kesabaran Amora mulai habis mendengar lelaki yang berstatus sebagai mantan kekasihnya itu, menyebut nama Zahra dengan penuh cinta dan kekaguman.
Bagaimana bisa, seorang gadis desa yang tidak jelas asal usulnya bisa menggantikan posisinya dihati Rahul? Pria yang dulu cinta mati terhadapnya.
"Kamu yakin, jika istrimu masih hidup? Coba kamu pikir pakai logika, kita semua tau jika banjir bandang itu sangat dahsyat. Lebih banyak korban yang tewas ketimbang yang selamat. Bahkan sampai sekarang istrimu masih belum juga ditemukan bukan? Aku rasa mustahil, jika dia masih bisa bertahan hidup"
"Tutup mulutmu!! Jangan pernah sekalipun kamu berani mengatakan hal buruk tentang istriku! Atau aku akan lupa jika kamu adalah seorang wanita yang berstatus sebagai kakak iparku!!"
Sergah Rahul. Emosi yang sedari tadi dia pendam akhirnya membludak juga mendengar wanita itu mengatakan hal buruk menimpa istrinya.
"Kenapa kamu sangat marah? Aku berkata secara realistis, karena aku peduli padamu. Aku hanya tidak ingin kamu terus-terusan hidup dalam harapan yang tidak pasti. Kamu berhak bahagia"
Amora kembali memegang tangan Rahul. Dia masih tidak mau kalah dalam perdebatan itu, untuk terus memprovokasi Rahul agar melupakan istrinya.
Rahul kembali menarik tangannya dari wanita itu dengan mengkretakkan giginya
"Terima kasih atas kepedulianmu, tapi masalahnya aku sama sekali tidak butuh. Karena aku yakin jika istrimu baik-baik saja. Kenapa? karena aku percaya dengan yang namanya keajaiban. Kamu tau kenapa aku sangat percaya jika keajaiban itu nyata? Ini" Rahul menunjuk matanya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Kamu pasti masih ingatkan, saat kamu mentertawakanku waktu itu? Kamu bilang jika keajaiban itu hanya ada didunia film dan novel. Tapi lihat, saat ini aku dengan jelas bisa melihat wajah munafikmu. Kenapa? karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Sesuatu yang kita katakan mustahil, itu akan terjadi jika Allah sudah menghendakinya untuk terjadi. Dan aku sangat yakin jika hal yang sama akan terjadi pada istriku. Jadi tidak usah banyak bicara dan membuang-buang waktumu, silahkan keluar dari kamarku" Titah Rahul dengan nada tajam.
"Tapi aku...."
"Aku bilang keluar, sebelum aku panggil suamimu kesini untuk mengajakmu keluar dari sini" Ancam Rahul.
__ADS_1
Meski merasa kesal dan terhina dengan perlakuan pria itu, namun Amora tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah Rahul daripada dia benar-benar membuktikan ancamannya.
Bagaimanapun, untuk saat ini dia masih membutuhkan Gala dan mempertahankan pernikahan mereka, sebelum dia berhasil mendapatkan Rahul kembali.
Setelah kepergian Amora dari hadapannya, Rahul menghela dan mengatur nafasnya dengan berat.
"Ya Tuhan.... Kenapa masalah hidupku tidak ada habisnya? Huh"
******
Sudah lima hari sejak ditemukan dan dibawa kerumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri, dengan Fajar sebagai dokter yang bertanggung jawab atas dirinya, akhirnya Zahra terjaga dari tidur panjangnya.
Namun sama seperti diagnosa tim medis, dia tidak mengingat apapun tentang dirinya, bahkan namanya sendiri pun dia tidak tau. Disinilah Fajar memulai perannya sebagai suami palsu wanita itu.
"Ini foto saat kita masih pacaran dulu. Ini saat kita bertunangan dan, ini saat kita menikah" Fajar memperlihatkan satu persatu foto yang terpajang dalam satu photobook pada Zahra.
Dalam foto-foto yang itu terlihat jelas wajah dirinya dan Fajar. Mulai dari foto saat masa-masa pacaran, pertunangan, pernikahan, hingga bulan madu, semuanya terpampang nyata dalam satu album. Membuat Zahra tidak bisa menolak untuk mempercayai jika pria yang ada dihadapannya ini adalah suaminya.
"Jadi namaku Shreya, dan kamu adalah suamiku?" Tanya Zahra linglung.
"Lalu, kenapa aku tidak bisa mengingat apapun Dan..... kenapa aku bisa terluka dan berada disini?" Zahra menatap kesekeliling ruangan yang besar dan luas itu. Dia masih tidak mengerti apa yang terjadi padanya.
"Mmm... Semuanya adalah kesalahanku. Beberapa hari yang lalu, kamu memintaku untuk menemanimu shopping. Tapi karena kesibukanku, aku sampai tidak ada waktu untukmu. Akhirnya aku membiarkanmu pergi bersama supir dan.... terjadilah kecelakaan yang membuatmu berada disini. Menurut hasil CT scan, kepalamu mengalami benturan yang cukup keras, hingga kamu tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalumu. Maafkan aku"
Tutur Fajar dengan sendu. Sebenarnya skenario yang dia ceritakan itu terjadi pada istrinya, Shreya.
Saat itu, wanita itu memintanya untuk menemaninya ke jalan-jalan ke Mall. Namun karena kesibukannya yang harus melakukan operasi, Fajar meminta istrinya untuk pergi bersama supir.
Namun naas, mobil yang ditumpangi Shreya bertabrakan dengan truk. Shreya yang saat itu sedang hamil tujuh bulan mengalami luka yang cukup parah, hingga kandungannya mengalami pendarahan hebat.
Shreya dan bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan, keduanya tewas dalam peristiwa berdarah itu.
Hidup Fajar terasa hancur sejak saat itu. Perasaan bersalah terus menghantuinya. Andai saja saat itu dia tidak menolak permintaan Shreya untuk menemaninya, mungkin saat ini istri dan calon anaknya masih hidup.
Melihat raut kesedihan diwajah Fajar membuat Zahra merasa simpati. Nampaknya pria itu benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya. Sepertinya lelaki itu tidak berbohong jika dia adalah suaminya.
__ADS_1
"Kenapa kamu bersedih? Apa kamu merasa bersalah dengan apa yang terjadi padaku? Semuanya hanya kecelakaan saja, yang terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada yang bisa disalahkan. Lagipula aku juga juga baik-baik saja kan? Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri" Zahra mencoba menghibur Fajar dengan polosnya.
Seulas senyuman muncul diwajah tampan Fajar. Entah mengapa ucapan wanita ini membuat perasaannya sedikit lebih baik. Jika dilihat dari caranya berucap, sepertinya bisa disimpulkan jika wanita ini memiliki hati yang baik dan tulus.
Membuat Fajar jadi merasa bersalah karena telah mempermainkan pikirannya yang sedang hilang ingatan. Tapi apa boleh buat? Dia tidak punya pilihan lain. Semua dilakukannya demi kesehatan wanita malang itu juga.
Sebenarnya foto-foto yang ada dalam photobook itu adalah foto-foto Fajar dengan istrinya, yaitu Shreya asli yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu.
Namun Fajar telah memanipulasi foto-foto itu. Dengan bantuan seorang creator berbakat, dia berhasil mengedit wajah Shreya dengan wajah Zahra. Hingga foto-foto itu terlihat seperti asli, tidak tampak seperti editan sedikitpun.
"Selamat pagi Nona Shreya, ini waktunya Anda sarapan dan minum obat ya" Seorang perawat memasuki kamar rawat inap itu dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman serta obat yang harus diminum Zahra.
"Sini, berikan padaku" Fajar menyodorkan tangannya pada perawat wanita itu, meminta nampan yang ada ditangannya.
"Silahkan Dok" Perawat itu langsung menyerahkan nampan itu ketangan Fajar tanpa ada sanggahan sedikitpun.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Dokter, Nona" Ijin perawat itu dengan sopan lalu berbalik.
"Iya silahkan" Jawab Fajar seraya meletakkan nampan itu diatas nakas. Perawat itu pun berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Fajar mengambil mangkuk berisi bubur diatas nampan dan menyendokkannya, "Ayo makan" Fajar menyodorkan sesendok bubur itu kedepan mulut Zahra.
"Tidak, aku makannya nanti saja" Zahra menggeleng dengan lesu.
"Kenapa? Sudah berhari-hari kamu tidak sadarkan diri dan tidak makan. Kamu butuh asupan nutrisi untuk bayi dalam kandunganmu. Ayo makan ya"
"Mulutku terasa pahit, perutku juga terasa mual setiap kali mencium bau makanan" Keluh Zahra.
"Mungkin itu efek karena kamu baru saja siuman, ditambah lagi kamu sedang hamil. Tapi kamu harus tetap makan agar perutmu tidak kosong demi bayimu. Mmm... Maksudku, demi bayi kita. Ayo aku suapi, sedikit saja" Fajar harus memoles ucapannya dengan gugup saat Zahra menatapnya dengan bingung.
Fajar terus membujuk Zahra agar mau makan. Kata-katanya yang terdengar lembut membuat Zahra tidak bisa lagi membantahnya Akhirnya wanita itu membuka mulutnya dan memakan sesendok bubur itu.
Fajar terus menyuapi sembari membujuknya agar menghabiskan makanan itu. Tubuh Fajar terasa terpaku, jantungnya berdetak tak karuan.
Entah perasaan apa yang sedang dirasakannya saat ini, tapi dia tidak pernah merasakan hal seperti ini selain pada Shreya. Apa mungkin......?
__ADS_1