
Kenyataan yang pahit memang, namun harus tetap diterimanya. Dan yang bisa dia lakukan untuk mengurangi kerinduannya hanyalah dengan memandangi foto-foto kebersamaannya dengan Shreya melalui ponselnya.
Serta dua foto USG berisi gambar janin milik Zahra dan Shreya. Dua janin dan usia yang berbeda, namun sama-sama mampu membuat hatinya merasakan satu hal. Yaitu perasaan hangat melihatnya. Dia merasa rasa sayangnya terhadap kedua janin itu sama, tidak ada bedanya.
Begitu pula dengan kerinduannya terhadap Zahra yang juga membuncah sejak kepergian Shreya.
"Selamat siang" Pintu terbuka dari luar dan masuklah Gala kedalam ruangan adiknya itu. Membuat Rahul terkesiap dan langsung mematikan ponselnya, serta memasukkan kembali gambar USG itu kedalam dompetnya.
"Eh Kak. Masuk" Kata Rahul seraya mengusap-usap matanya yang tampak berkaca-kaca.
"Ada apa? Kok wajahmu terlihat murung lagi? Kamu kembali teringat Zahra?" Tanya Gala saat memperhatikan raut kesedihan diwajah adik semata wayangnya.
"Kalau soal itu tidak usah ditanya Kak. Setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik. Aku selalu memikirkan istriku. Aku tidak pernah bisa melupakannya" Jawab Rahul sendu dan tegas.
"Aku mengerti perasaanmu. Tapi kamu harus sabar. Kamu harus tetap berdoa dan berusaha" Ujar Gala penuh simpati.
Rahul beranjak dari kursinya, lalu berjalan kedepan seraya berkata dengan sinis.
"Aku selalu berdoa Kak. Setiap saat aku selalu berdoa dan berusaha. Tapi mana hasilnya? Dan soal kesabaran, apakah kesabaranku selama ini masih kurang? Orang bilang, kesabaran itu akan berbuah manislah. Hadiahnya adalah kebahagiaan sejatilah. Tapi mana buktinya?
Apakah hal itu terjadi padaku? Saat aku sudah ikhlas dengan takdirku setelah Zahra hadir dalam hidupku, Tuhan malah merenggutnya. Membuatku kembali merasa kehilangan yang rasa sakitnya jauh lebih besar, ketimbang saat aku kehilangan penglihatanku dulu. Dan saat aku sudah bisa....."
Rahul baru sadar sudah banyak bicara. Mau tidak mau dia harus diam sebelum keceplosan.
"Sudah bisa apa maksudmu? Kok berhenti?" Gala berjalan menghampiri adiknya dengan kening berkerut.
Rahul menggeleng. "Tidak-tidak. Sudah lupakan saja. Kakak sendiri ngapain kesini? Tumben menghampiri keruanganku? Apa ada yang mau dibicarakan, atau ada masalah?" Rahul mengalihkan pembicaraan.
"Mmm..... Begini. Sebenarnya, aku harus ke Magelang untuk mengecek dan meninjau pembangunan pabrik kelapa sawit kita yang ada disana. Sebenarnya aku merasa enggan untuk kesana karena..... Aku tidak ingin jauh-jauh dari Amora. Masalahnya..... Aku ingin memperbaiki hubungan kami" Gala berkata dengan ragu.
Sementara Rahul langsung terbelalak matanya mendengar kakaknya menyebut-nyebut Magelang. Setaunya, Fajar dan Shreya tinggal disana. Jika dia ke Magelang, itu artinya dia bisa bertemu dengan.....!
Baru membayangkannya saja sudah membuat perasaannya melambung tinggi! Apalagi jika itu sampai terjadi!
__ADS_1
"Memperbaiki? Memangnya hubungan kalian memburuk? Ada masalah apa?"
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Akhir-akhir ini, aku merasa sikap Amora jadi berubah terhadapku. Dia jadi cuek dan.... Seperti mengabaikanku. Aku sudah mencoba untuk mendekatinya tapi.... Ya mungkin tanpa aku sadari, aku telah berbuat salah terhadapnya. Karena itulah, aku tidak ingin kemana-mana. Aku tidak ingin meninggalkan istriku meskipun hanya untuk beberapa hari saja. Aku takut, kalau hal itu justru akan semakin membuat kami menjauh" Dengan wajah muram Gala bercerita.
Rahul menatap kakaknya dengan empati. Dia mengerti bagaimana perasaan Kak Gala. Karena dia tau betul, wanita macam apa Amora.
Tapi dia bisa apa? Mau bilang kakaknya terlalu dibutakan oleh cinta, dia juga pernah seperti itu sampai dia buta beneran. Dia hanya berharap, semoga kakaknya tidak akan pernah merasakan apa yang dia rasakan dulu karena terjebak dalam jeratan perempuan picik dan egois itu.
"Jadi maksud Kakak menceritakan masalah rumah tangga Kakak padaku apa? Ingin aku menggantikan Kakak ke Magelang?" Rahul bertanya dengan sok cuek. Padahal dalam hatinya, dia sangat berharap itulah maksud dari ucapan kakaknya.
"Mmm.... Se-sebenarnya itupun kalau kamu tidak keberatan. Tapi kalau kamu merasa keberatan, tidak masalah. Biar aku saja yang...."
"Jangan khawatir, aku sama sekali tidak keberatan. Kakak tenang saja, dengan senang hati aku akan mengurus pabrik kita yang ada di Magelang. Kakak tetap disini dan urus saja istri Kakak. Oke?" Tukas Rahul dengan antusias.
"Ka-kamu serius? Kenapa kamu tiba-tiba jadi terlihat sumringah begini? Tadi kamu terlihat uring-uringan? Kok tiba-tiba berubah? Kamu baik-baik saja kan?" Gala menatap Rahul dengan bingung. Tidak mengerti dengan perubahan sikap adiknya yang begitu drastis.
"Ya sudah kalau begitu Kakak saja yang kesana. Urus pabrik kita yang ada di Magelang, dan tinggalkan saja istri tercintamu disini. Yah, syukur-syukur nanti tidak diambil orang" Rahul berbalik dan berbicara dengan iseng. Membuat Gala jadi takut sendiri membayangkannya.
"Ya janganlah. Kok kamu bicaranya begitu? Memangnya kamu tega apa, melihat rumah tanggaku hancur? Kamukan tau kalau aku sangat mencintai istriku...." Gala berkata dengan tegang.
"Ya.... Aku akan sangat senang sekali kalau kamu bisa menggantikanku kesana. Thank you Bhother. Kamu memang adikku yang paling bisa diandalkan" Gala memeluk Rahul dengan bangganya. Merasa senang lantaran adiknya ternyata bisa diandalkan untuk menghendel pekerjaannya.
Sementara Rahul serasa berbunga-bunga perasaannya, membayangkan akan bertemu Shreya. Harus dia akui, kali ini kakaknya sangat membantunya. Lantaran sudah memberinya jalan untuk pergi ke Magelang.
Setelah hampir satu bulan memendam rindu yang membuncah didada, akhirnya segala kerinduan itu akan segera tersalurkan.
*********
Rahul langsung pergi ke Magelang hari itu juga. Demi sikap profesionalisme, dia langsung menuju lokasi pabrik untuk melakukan peninjauan dan pengecekan. Setelah itu dia langsung menuju rumah sakit milik Fajar.
"Hei Bro" Rahul mendengar suara seorang pria menyapanya. Dia berbalik dan tampaklah Fajar yang sedang berjalan menghampirinya. Setelah dekat, dua sahabat itu langsung saling tos dengan riangnya.
"Hei, apa kabar"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik. By the way, kok kamu bisa ada disini? Sedang apa?"
"Iya, kebetulan aku sedang mengurus dan meninjau pembangunan pabrik kelapa sawit yang ada disini. Aku ingat kamu tinggal disini, dan ini rumah sakit milik keluargamu. Jadi sekalian saja aku mampir"
"Ini benar-benar kejutan untukku. Aku harap kali ini kita bisa punya banyak waktu seperti dulu. Karena jujur aku sangat menyesal, waktu ke Jakarta kemarin, aku malah sibuk ke Thailand. Saat kembali, aku malah harus langsung kembali kesini demi kerjaanku disini. Aku juga tidak sempat pamit denganmu, karena kamu malah menghilang begitu saja saat aku datang" Keluh Fajar dengan wajah cemberut.
"Iya maaf, waktu itu aku sibuk sekali dengan pekerjaanku. Jadi tidak ada waktu untuk bicara denganmu" Rahul tersenyum kecut.
Sebenarnya itu hanya alasannya saja untuk menghindari Fajar saat itu, lantaran dia sangat kalut karena kebersamaannya dengan Shreya harus berakhir gara-gara kembalinya Fajar dari Thailand.
Meskipun dia tau bahwa lelaki itu tidak bersalah. Karena disini yang bersalah adalah dirinya, yang telah tega menaruh hati pada Shreya.
"Tapi untuk kali ini tidak ada lagi alasan sibuk. Didepan sini ada Caffe. Yuk kita ngobrol disana"
"Memangnya kamu sedang tidak sibuk"
"Aku baru saja selesai operasi. Jadi waktuku sekarang kosong"
"Oh begitu? Ya sudah ayo"
********
Obrolan mereka pun berlanjut di Caffe dekat rumah sakit Fajar.
"Oh ya, bagaimana keadaan Shre.... mmm... Maksudku, bagaimana keadaan istrimu?" Rahul jadi gelagapan saat sadar bahwa dirinya sudah hampir keceplosan.
Hah. Efek terlalu antusias ingin mendengar kabar soal Shreya, dia sampai lupa tempat.
"Alhamdulillah keadaan Shreya baik-baik saja. Sekarang dia ada dirumah"
"Syukurlah kalau begitu" Rahul merasa sangat lega mendengar Shreya baik-baik saja.
Sudah hampir satu bulan dia sangat merindukan wanita itu setiap saat. Tapi apakah perempuan itu pernah mengingat atau memikirkannya, walau hanya sejenak saja?
__ADS_1
Entahlah. Yang jelas apapun itu, dia ingin sekali bertemu. Walau hanya sekedar melihat wajah wanita itu saja. Dia sadar dengan posisinya dan posisi Fajar sebagai suami sah dari perempuan itu.