Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 9- Beauty And The Beast


__ADS_3

"Iya deh Suster ustadzah. Eheum.... oh ya gays, sepertinya, sebentar lagi akan terjadi kisah cinta antara sang perawat cantik, dan pasien buta tampannya. Hehehe " Yanti tertawa menggoda.


"Maksud kalian apa sih? Dengar ya, aku tekankan sekali lagi. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Antara aku dan laki-laki itu hanya sebatas perawat dan pasiennya saja, tidak lebih. Jadi, tidak usah berimajinasi terlalu jauh, mengerti?" Zahra menekankan dengan tegas. Kesabarannya mulai goyah.


"Itukan menurutmu sayang. Bagaimana dengan pasien tampanmu itu?" Yanti bersikeras.


"Memangnya kenapa dengannya?" tanya Zahra datar.


"Bagaimana kalau ternyata dia mulai tertarik padamu? Kamu yakin, tidak akan menanggapinya" Yanti masih saja menggodanya.


"Coba berikan aku satu alasan saja, yang membuatmu bisa mengambil kesimpulan sejauh itu" kata Zahra dengan tatapan tajam.


"Ingat kue buatan Ibumu? Jadi kemarin saat kamu memintaku untuk menggantikanmu melayaninya, aku melihat kue-kue itu tercecer dilantai. Otomatis aku harus membersihkannya dong. Tapi kalian tau? Si pria itu melararangku. Dan dia bersikeras ingin membersihkan kue-kue itu sendiri. Bahkan dia sampai memarahiku, karena aku terus ngeyel" Yanti menceritakan insiden tempo hari.


"Serius Yan?" Maudy tampak heboh berbeda dengan Zahra yang tampak biasa saja.


"Lalu maksudmu?"


"Ya Allah Zahra, kamu masih belum mengerti juga? Itu artinya, dia mulai memiliki perasaan lebih terhadapmu. Karena itulah, semua yang berhubungan denganmu, sangat berkesan baginya. Termasuk kue Ibumu" Yanti terus memprovokasi Zahra akan institusinya.


"Sudah selesai beropininya?" tengah asik berdebat dengan teman-teman sejawatnya, Ibu pedagang kantin muncul membawa nampan berisi makanan dan minuman pesanan Zahra.


"Terima kasih Bu" ujar Zahra pada wanita paruh baya yang sedang meletakkan semangkuk mie pangsit dan segelas jus alpukat didepannya dan langsung berlalu dari hadapan kelima gadis perawat itu.


"Setelah ini masih banyak pasien yang harus kita urus. Jadi simpan saja tenaga kalian untuk itu. Daripada menghalu hal-hal yang tidak berguna" kata Zahra ketus sembari mengunyah makanannya.


"Aku serius Ra, feeling wanita itu kuat. Masak sih kamu gak peka" Yanti masih kekeh dengan instingnya.


"Aku tidak peduli, karena aku tidak tertarik pada pria itu. Bukan karena dia buta, tapi karena dia sudah berani menghina Ibuku" kata Zahra tegas.


"Mungkin saja dia melakukan hal seperti itu karena sedang emosi. Mungkin pengaruh moodnya yang sedang labil. Namanya juga orang sakit" Wirda mencoba menelaah hal yang mungkin saja adanya.


"Apapun alasannya, bukan berarti dia bisa melampiaskan emosinya pada Ibuku yang tidak tau apa-apa. Kalau dia punya masalah denganku, dia bisa mengatakannya. Bisa menghina dan mencaci maki aku sesuka hatinya. Kenapa harus bawa-bawa Ibuku? Apa karena beliau hanya perempuan cacat dan sakit-sakitan, yang hanya bisa duduk di kursi roda? Jadi dia pikir beliau tidak bisa apa-apa, termasuk mengurus anaknya sendiri? Dia bahkan tidak tau bagaimana perjuangan Ibuku setelah Ayahku meninggal. Beliau banting tulang seorang diri demi menghidupi kami. Bahkan sampai sekarang pun Ibu tidak hanya berpangku tangan melihatku mencari uang. Beliau tetap membantu sebisanya. Meskipun penghasilannya tidak seberapa"


Zahra berkata dengan penuh emosional. Tanpa sadar, tetesan cairan bening lolos dari sepasang pelupuk matanya.


Keempat sahabat seprofesinya langsung mengelus-elus bahu Zahra dengan lembut. Perasaan empati menyergap dada mereka. Karena keempatnya tau betul bagaimana lika-liku kehidupan Zahra dan ibunya yang tidak mudah.

__ADS_1


Mendengar unek-unek gadis itu, membuat Rahul tidak bisa membendung perasaan bersalahnya. Dia tidak menyangka, bahwa kata-kata kasar yang dialamatkannya pada ibu gadis itu tempo hari, benar-benar melekat dihatinya dan menjadi alasan perempuan itu untuk menjauhinya.


Ya, mungkin dirinya memang sudah sangat keterlaluan. Tidak seharusnya dia melampiaskan keterputus asaannya pada orang lain.


Sebelum ini niatnya untuk meminta maaf pada perempuan itu masih berada diambang. Tapi kini hatinya sudah mantap. Apapun yang terjadi, dia akan meminta maaf pada wanita itu dan mengclearkan permasalahan yang telah dibuatnya.


*******


Rahul sedang berjalan seorang diri menyusuri koridor rumah sakit. Saat melewati area ruang inap, Rahul mendengar suara tangisan dan teriakan anak perempuan dari dalam salah satu kamar itu.


"Aku tidak mau disuntik! Tidak mau!! Hu...."


"Sayang, tenanglah. Ini tidak akan terlalu sakit. Hanya seperti digigit semut saja. Jangan menangis ya anak cantik" terdengar suara wanita berusaha membujuk dan menenangkan gadis kecil itu dengan sabarnya.


"Pokoknya aku tidak mau! Tidak mau! hu..." anak itu bersikeras tidak mau diinfus. Tangisnya semakin keras.


"Cup cup cup.... cantik, jangan menangis sayang. Nanti air matamu bisa habis. Ayo katakan padaku, siapa yang sudah membuat peri kecil ini menitikkan air matanya?" Zahra tiba-tiba muncul, dan dengan riangnya dia langsung berbaring di tepi ranjang, disisi anak kecil itu.


Rahul terkesiap mengetahui wanita itu juga ada disana.


"Mereka ingin menyuntikkan jarum infus itu ditanganku! Aku tidak mau! aku takut! Rasanya pasti sangat sakit! Au...." adu anak itu dengan tangisan yang masih membumbung.


berbeda dengan dokter Ema dan Wirda yang sedari tadi sudah membujuk dan menenangkan gadis kecil itu dengan penuh kelembutan dan kesabaran ekstra, Zahra justru memiliki caranya sendiri untuk mengendalikan dan mengambil hati anak itu.


"Lyra" jawab anak itu disela-sela isakannya.


"Wah! nama yang cantik, secantik pemiliknya. Oh ya, aku punya cerita yang sangat menarik. judulnya, beauty and the beast. Lyra pernah dengar ceritanya?" tanya Zahra yang dijawab dengan gelengan kepala oleh bocah perempuan bernama Lyra itu. Tampaknya dia mulai luluh dengan Zahra.


"Benarkah? mau Kak Zahra ceritakan?" tanya Zahra lagi yang dijawab dengan anggukan kepala dari Lyra.


"Tapi ada syaratnya"


"Apa Kak?"


"Hapus dulu air matamu, dan jangan menangis lagi. Setuju?"


Lyra menyeka air matanya. "Kalau begitu, aku tidak akan menangis lagi. Ayo Kak Zahra, ceritakan padaku" rengeknya.

__ADS_1


"Hehe, baiklah cantik. Alkisah, hiduplah seorang Pangeran yang tampan dan gagah. Pada suatu hari, pangeran tampan itu menggelar pesta yang sangat meriah di istana mewahnya" Zahra berdongeng dengan posisi tangannya memegang sepasang tangan mungil Lyra dengan lembut.


"Namun, ditengah-tengah kemeriahan pesta yang sedang berlangsung, datanglah seorang nenek tua yang meminta izin pada sang pangeran untuk numpang berteduh di istana megahnya. Karena pada saat itu sedang hujan badai. Sang nenek memberikan setangkai mawar merah sebagai tanda terima kasihnya pada Pangeran itu. Namun, sang pangeran tidak mengijinkan dan mengusir nenek tua itu dari istananya"


perlahan-lahan Zahra meletakkan tangan kiri Lyra diatas permukaan kasur, sementara mulutnya terus melontarkan kalimat-kalimat dongeng Disney.


"*Wahai nenek tua, istanaku tidak pantas dimasuki oleh nenek tua renta sepertimu. Enyahlah dari hadapanku, sebelum aku menyuruh para pengawalku untuk menyeretmu* Hardik sang pangeran. Nenek pun sangat marah dan mengutuk pangeran tampan itu menjadi sangat buruk rupa. Semua pelayannya pun tak luput dari kutukan nenek itu"


Dengan mulut yang masih berdongeng, Zahra menunjuk tangan bocah itu, serta jarum infus ditangan Wirda melalui isyarat mata. Mengerti akan isyarat yang diberikan Zahra, Dokter Ema dan Wirda saling pandang dan mengangguk.


Lalu Dokter Ema mengambil perlak. Sedangkan Wirda memegang tangan Lyra dengan lembut dan mengangkatnya pelan-pelan. Dokter Ema meletakkan perlak itu diatas permukaan kasur (dibawah tangan Lyra). Wirda meletakkan tangan Lyra diatas perlak itu.


Setelah itu mereka mengelap dan membersihkan tangan mungil itu dengan kapas steril yang sudah diberi alkohol diarea yang akan ditusukkan jarum infus.


"Mereka semua dikutuk menjadi perabot rumah tangga. Nenek itu juga menghapus memori istana dari semua orang. Nenek itu berkata kepada sang pangeran *Wahai Pangeran, kamu dan para pelayanmu akan menjadi manusia normal kembali. Hanya jika kamu bisa menemukan seorang gadis yang bisa mencintaimu dengan tulus, sebelum tangkai mawar terakhir ini gugur. Jika tidak, maka kalian akan selamanya menjadi seperti ini* Hingga pada suatu hari, ada seorang saudagar yang tersesat di hutan. Sang saudagar menemukan sebuah istana tua yang sudah tidak terawat. Dia pun memasuki istana itu. Didalam istana tersebut, sang saudagar melihat setangkai mawar merah. Lalu dia memetik mawar itu untuk dibawa pulang dan diberikan kepada putrinya yang bernama Belle. Tau apa artinya Belle dalam bahasa Perancis?"


tanya Zahra dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya. Dan dijawab dengan gelengan kepala dari sikecil Lyra.


Ketiganya pun berbagai tugas. Zahra terus saja mendongeng. Sementara Dokter Ema dan Wirda terus fokus memasangkan selang injeksi ditangan Lyra.


Dan Lyra, gadis kecil itu tampaknya sudah tidak fokus lagi terhadap dunia sekitarnya. Jiwa polosnya sedang terlena dengan cerita dongeng yang sedang didengarnya. Yang membuatnya lengah hingga tidak menyadari keberadaan jarum yang sedang disuntikkan keintravenanya.


"Belle artinya gadis cantik, sama seperti peri cantik dihadapanku ini" Zahra mencolek-colek puncak hidung Lyra dengan gemasnya.


"Hehe.... lalu bagaimana lagi Kak ceritanya?!" kata Lyra dengan riangnya terkekeh.


"Saudagar itu, ketahuan oleh sang Pangeran tampan yang sudah dikutuk menjadi buruk rupa itu"


"Biar kutebak. Pangeran buruk rupa pasti sangat marah, karena bunga mawarnya dipetik tanpa ijin"


"Benar sekali. Bahkan saking murkanya, sang pangeran sampai menawan dan mengurung sang saudagar di istananya. Hingga putri saudagar itu yang bernama Belle, sangat cemas memikirkan ayahnya yang sudah berhari-hari tak kunjung pulang"


"Lalu, apa Belle mencari ayahnya?" Lyra semakin antusias dan penasaran dengan alur ceritanya.


"Iya, akhirnya Belle memutuskan untuk mencari keberadaan ayahnya dengan menyusuri hutan. Hingga sampailah dia disebuah istana tua dan tidak terawat itu. Coba tebak lagi, apa yang terjadi setelah itu"


"Belle masuk kedalam istana itu dan membebaskan ayahnya?"

__ADS_1


"Tepat sekali. Belle mencoba untuk membebaskan ayahnya. Namun pangeran buruk rupa tidak memperbolehkannya. Belle terus memohon agar ayahnya dibebaskan. *wahai Tuan, aku mohon bebaskanlah Ayahku. Kau boleh mengurung dan menawanku sebagai gantinya* Sang Pangeran pun setuju, dan dia membebaskan ayahnya Belle"


__ADS_2