
Zahra menatap dua orang yang ditunjuk oleh Chika dengan alis bertaut. Dia bingung kenapa Chika menyebut mereka sebagai orang tuanya? Padahal sebagai orang yang sudah kenal lama dengan gadis itu, dia tau betul bagaimana kehidupan anak itu.
Ibunya sudah meninggal karena sakit. Sedangkan ayahnya sudah menikah lagi karena menginginkan anak lelaki. Lalu siapa dua orang yang ada dihadapannya saat ini?
"Mereka adalah orang tua angkat Chika. Mereka berdua yang selama ini merawatnya usai tragedi itu. Dan mereka juga sudah mengadopsi Chika sebagai putri mereka" Seolah mengerti apa yang membuat istrinya merasa bingung, Rahul menjawab pertanyaan yang berkecamuk dipikiran Zahra.
"Benarkah?" Zahra bertanya dengan cerianya.
"Tentu saja. Bahkan karena Chika lah, aku bisa mendapatkan informasi tentangmu. Kalau kamu adalah Zahra, bukan Shreya. Karena Chika yang sudah memberitauku semuanya"
"Kenalkan Bu, saya Nilam, Mamanya Chika" Bu Nilam mengulurkan tangannya pada Zahra dengan senyum ramah yang terpancar diwajahnya.
"Saya Zahra Bu. Senang bisa berkenalan dengan anda" Zahra membalas uluran tangan dan senyum ramah wanita paruh baya itu.
"Saya juga. Chika sering cerita tentang anda. Dia sangat mengagumi Ibu. Oh ya ini suami saya" Bu Nilam menunjuk Pak Ricky yang berdiri disebelahnya.
"Salam kenal Bu, saya Ricky" Pak Ricky pun mengulurkan tangannya pada Zahra.
"Saya Zahra. Atas nama Chika, saya ucapkan terima kasih banyak atas kebaikan kalian yang sudah membantu dan mengadopsinya sebagai anak. Saya sudah menganggap Chika seperti adik saya sendiri. Sejak dulu saya ingin sekali membantunya termasuk dalam hal pengobatan. Tapi saya masih belum mampu melakukannya karena faktor ekonomi"
Sembari mengelus-elus kepala Chika, Zahra berkata dengan menyesal karena dulu dia tidak mampu berbuat banyak untuk membantu Chika. Dia terharu karena sekarang ada orang berhati malaikat, yang membantu dan menjadikan gadis malang itu sebagai putri mereka dengan tulus.
__ADS_1
"Iya Bu, saya dan istri saya juga sangat senang bisa memiliki Chika. Karena melalui dia akhirnya kami bisa merasakan rasanya punya anak, tempat untuk mencurahkan kasih sayang" Ujar Pak Ricky dengan suara yang terdengar tulus.
"Oh ya Kak, aku boleh tidak, melihat dan menggendong dedek bayinya? Pasti dia sangat lucu kan?" Chika bertanya pada Zahra dengan penuh harap.
"Boleh dong sayang. Dedek bayinya juga pasti sangat senang bertemu denganmu. Sekarang dia sedang bersama Oma dan Opanya. Ayo sana" Zahra menjawab dengan suara lembut, sembari menunjuk kedua mertuanya yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa tamu undangan yang tampak sedang berlomba-lomba untuk menggendong Chand.
Dengan antusiasnya Chika mengangguk dan berlari kearah gerombolan Helmi dan Lesti. Sementara Rahul dan Zahra kembali melanjutkan percakapan mereka dengan Pak Ricky dan istrinya. Dengan ramah mereka mempersilahkan kedua tamunya untuk minum dan menikmati hidangan yang tersaji.
Beberapa jam kemudian Fajar datang sebagai salah satu tamu undangan. Dia menatap tempat itu dengan hampa. Entah dia merasa cemburu dengan kebahagiaan wanita yang dicintainya bersama Rahul yang sedang merayakan aqiqah putra mereka dengan penuh sukacita, atau ada hal lain juga yang sedang membebani pikirannya.
Helmi dan Lesti menghampirinya bersama Rahul dan Zahra.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja Tante. Maaf ya, akhir-akhir ini aku lumayan sibuk. Maaf juga ya, kalau aku terlambat" Fajar tersenyum kaku.
"Tidak apa-apa Bro, acaranya juga baru mau dimulai kok" Rahul menanggapinya dengan senyum ramah. Dia bisa merasakan bahwa Fajar terlihat tidak nyaman berada ditempat itu. Mungkin karena pria itu masih belum bisa melupakan perasaannya terhadap Zahra, istrinya.
Fajar tersenyum kecut. "Syukurlah kalau begitu. Oh ya.... Zahra, aku minta maaf ya, dengan apa yang sudah aku lakukan kemarin. Aku minta maaf karena sudah membohongimu yang sedang amnesia, dengan mengaku-ngaku sebagai suamimu" Fajar menatap Zahra dan berbicara dengan perasaan malu dan bersalah atas apa yang sudah terjadi sebelumnya diantara mereka.
"Kita lupakan saja ya semuanya. Anggap saja itu hanya masa lalu yang tidak perlu diingat-ingat lagi. Lagipula aku juga harus berterima kasih padamu. Berkatmu, aku dan Chand bisa berada disini. Kami bisa berkumpul kembali. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah lupa dengan kebaikanmu pada kami"
Zahra menjawab dengan canggung. Dia masih bingung harus bersikap seperti apa terhadap lelaki itu, setelah ingatannya kembali dan dia tau bahwa lelaki itu bukanlah suaminya. Meski dia tidak bisa menyangkal bahwa lelaki itu sudah berjasa dalam kehidupannya dan Chand.
__ADS_1
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Dan aku ikut bahagia, melihat kalian sudah berkumpul lagi seperti sekarang. Semoga.... Keluarga kalian tidak akan pernah terpisahkan lagi" Fajar berkata dengan lirih. Suaranya terdengar tulus dan sendu.
"Aamiin. Terima kasih" Zahra tersenyum gugup.
"Iya sama-sama. Oh ya, sebentar" Fajar merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti sebuah surat undangan, kemudian menyodorkannya pada Lesti.
"Apa ini?" Lesti menerima surat undangan itu dengan alis bertaut. "Undangan pernikahan? Fajar, ka-kamu mau menikah?" Lesti membaca kartu undangan itu dengan terkejut. Dimana dalam surat itu tertulis nama Fajar dan calon istrinya yang akan segera melangsungkan pernikahan dua pekan mendatang.
"Iya Tante. Insya Allah aku akan menikah dua Minggu lagi. Aku harap.... Om, Tante dan kalian semua bisa hadir. Ya.... Anggap saja ini sebagai penebus karena aku tidak bisa mengundang kalian saat acara pernikahanku dengan almarhumah Shreya dulu. Jadi kali ini aku mengundang kalian sebagai anggota keluarga, bukan tamu"
Fajar berbicara dengan nada hambar. Dia terlihat tidak senang membicarakan tentang pernikahannya. Seperti orang yang sedang berusaha menutupi kesedihan. Dan hal itu terus diperhatikan oleh Rahul, yang merasa heran karena tau-tau Fajar sudah memiliki calon istri.
Entah mengapa dia merasa ada yang aneh. Baru sebulan pria itu tidak kelihatan. Dan sekarang dia datang dengan membawa kabar pernikahannya? Secepat itukah dia menemukan wanita yang bisa membuatnya move on dari Zahra?
Tapi ya sudahlah, itu bukan urusannya. Malah dia merasa lega karena Fajar akan memiliki istri lagi dan sudah melupakan Zahra. Karena dia juga tidak rela jika Fajar terus melirik istrinya dengan perasaan yang lebih.
"Wah! Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan! Kamu tenang saja, kami semua tidak mungkin akan melewatkannya. Tapi, memangnya siapa wanita yang beruntung itu? Kok selama ini kamu tidak pernah cerita, kalau kamu sudah punya calon istri lagi?"
Helmi menimpali dengan gembiranya, tanpa menyadari ekspresi Fajar yang terlihat gugup dan salah tingkah saat disinggung perihal calon istrinya. Tampaknya hanya Rahul yang menyadari hal itu. Feelingnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada lelaki itu hingga dia memutuskan untuk menikah.
Namun dia berharap semoga itu hanya dugaannya saja. Dan dia juga sangat berharap agar pernikahan itu berjalan dengan lancar dan sakral.
__ADS_1