
Shreya yang masih berada didalam mobil, dengan kondisi yang sedang berjuang menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya, terutama perutnya hanya bisa menjadi saksi hidup dari pertarungan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sekilat bayangan kembali melintas dikepalanya, yang membuatnya merasa seperti pernah melihat adegan yang hampir serupa, dengan apa yang sedang berlangsung dihadapannya saat ini. Tapi entah dimana, dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
"Ra.... Rahul" Lirih Shreya. "Ahhkk!!" Shreya terkejut dan menjerit ketakutan saat salah satu dari keempat begal yang sedang mengeroyok Rahul, tiba-tiba membuka pintu mobil dan menyeretnya keluar hingga seluruh tubuhnya basah kuyup tertimpa air hujan.
"Ayo keluar!! Keluar!!" Pria itu terus menyeret Shreya dengan kasar tanpa menghiraukan kondisinya yang sedang kesakitan dan tidak berdaya.
"Lepaskan aku! Aauww! Lepas" Shreya terus menjerit dan memberontak sembari memegang perutnya dan mengaduh kesakitan.
"Diam!!" Lelaki itu membentaknya lalu dia melirik Rahul dan berteriak. "Heh, lihat ini!"
Teriakan pria itu berhasil menarik perhatian Rahul yang masih aktif dalam pertarungan.
"Lepaskan dia!" Pinta Rahul dengan geram melihat pria itu sedang menyandra dan menodongkan pisau didepan leher Shreya.
"Semuanya ada ditanganmu. Menyerah, atau istrimu akan aku habisi didepan matamu!" Ancam lelaki itu dengan santainya, yang kali ini cukup ampuh untuk membuat Rahul tak bisa berkutik lagi, melihat pisau tajam yang berada tepat dileher Shreya yang sedang mengerut kesakitan, sembari memegang perut buncitnya.
Akhirnya Rahul hanya bisa pasrah, saat ketiga lelaki itu secara bertubi-tubi melayangkan pukulan ketubuhnya, tanpa dia berani lagi untuk melakukan perlawanan.
"Tolong lepaskan dia, aku mohon" Lirih Shreya menangis mengiba pada pria yang sedang menyandranya. Rasa sakit diperutnya bersatu dengan rasa sakit dihatinya melihat pria itu dihajar didepan matanya, tanpa berani melakukan perlawanan demi melindunginya.
"Diam sebelum aku menghabisimu!!" Pria itu kembali membentak dan mengancam Shreya, yang membuat wanita itu semakin ketakutan.
Untung saja mobil yang dikendarai oleh pengawal Rahul tiba. Dengan cepat mereka keluar dari mobil dan langsung menyelamatkan bosnya yang sedang dikeroyok, dan dijadikan bulan-bulanan oleh keempat pria berandalan itu.
Dua diantara mereka menyerang pria yang sedang menyandra Shreya. Alhasil, wanita itu terlepas dari cengkramannya. Dengan sigap Rahul langsung menangkap tubuh wanita yang sudah tidak sadarkan diri itu, lalu membopongnya.
"Tuan, Tuan baik-baik saja?" Kepala pengawal memastikan kondisi bosnya dengan khawatir.
"Iya, tolong kalian urus mereka, karena aku harus membawa Shreya kerumah sakit sekarang juga" Titah Rahul dengan tergesa-gesa.
Kepanikannya kini semakin bertambah, karena takut jika dia sudah terlambat menyelamatkan Shreya dan janinnya, karena harus membuang waktunya untuk meladeni keempat lelaki brengsek itu.
Seandainya mereka berdua sampai tidak selamat, maka dia berjanji dalam hatinya, akan mengejar keempat lelaki itu hingga keujung dunia dan membunuh mereka satu persatu.
__ADS_1
"Baik Tuan, hati-hati"
********
Setibanya dirumah sakit, Shreya langsung mendapatkan penanganan medis secara intensif. Karena rumah sakit itu adalah milik Dirgantara Group, jadi para pekerja yang ada disana harus berhati-hati dan bekerja dengan maksimal, jika sudah berurusan dengan pemilik rumah sakit itu.
Rahul tampak mondar-mandir dengan perasaan harap-harap cemas didepan ruang UGD. Dia benar-benar tidak bisa tenang sebelum mengetahui kondisi wanita itu dan janinnya.
Dia hanya berharap semoga dia belum terlambat membawanya kemari. Apalagi setelah dia dicegat oleh begal tadi.
Rasanya dia tidak rela jika bayi mungil itu sampai berlalu Sebelum dia sempat merasakan hidup didunia ini. Setelah satu jam menunggu tanpa kepastian, akhirnya penantian Rahul berakhir setelah dokter keluar dari ruangan UGD.
"Dok, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi padanya? Dia dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja kan?" Rahul langsung mencecar dokter itu dengan tak sabaran.
"Alhamdulillah, kandungannya masih bisa diselamatkan. Untung janinnya cukup kuat, hingga dia bisa mampu bertahan. Dan benturannya pun tidak terlalu parah."
"Alhamdulillah" Rahul mengusap telapak tangan kewajahnya, dengan rasa penuh syukur. "Lalu bagaimana kondisinya sekarang Dok? Apa, saya boleh menemuinya?"
"Silahkan saja Pak. Setelah pasien dipindahkan keruang rawat, Bapak bisa langsung menemuinya. Selain itu, selama beberapa hari ini dia harus dirawat disini, untuk memulihkan kondisinya"
"Baik Pak. Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu"
"Iya"
Setelah dokter itu meninggalkannya, Rahul langsung menghubungi kepala pengawalnya, untuk menanyakan keadaan begal yang telah mengganggunya. Hatinya senang mendengar pengawalnya mengatakan, bahwa mereka sudah membereskan keempat lelaki itu dan sudah menyerahkannya pada pihak berwajib.
Dia juga memerintahkan pengawalnya untuk datang kerumah sakit dan membawakannya baju salin, lantaran baju yang dikenakannya saat ini sudah basah kuyup akibat hujan-hujanan tadi.
Setelah Shreya dipindahkan kekamar rawat inap, Rahul langsung menuju kamar itu. Didalam kamar VVIP yang luas dengan fasilitas mewah itu, Rahul melihat Shreya sedang tertidur karena pengaruh obat, atau memang sedang pingsan.
Entahlah, yang jelas itu bukan beban pikirannya lagi. Karena sekarang keadaan wanita itu sudah baik-baik saja, begitupun dengan bayi dalam kandungannya. Segala bentuk kekhawatirannya kini telah sirna.
Rahul duduk dikursi disamping ranjang tempat Shreya berbaring. Dia memandangi wajah cantik yang sedang terlelap itu. Lalu memegang tangan lembut dan mulus milik wanita itu.
Kemudian pandangannya jatuh pada perut buncit Shreya. Perlahan-lahan dia memegang perut yang semakin hari semakin membesar itu dengan lembut. Perasaan hangat mengaliri dan menjalar keseluruh tubuhnya, saat tangannya merasakan kehidupan kecil yang sedang tumbuh dibalik perut bulat itu.
__ADS_1
Baru beberapa menit yang lalu hati dan pikirannya dipenuhi dengan kegelisahan dan ketakutan. Takut saat melihat Shreya menangis dan menjerit kesakitan, yang akan berakibat fatal pada malaikat kecil yang ada didalam perut ini.
Meski dia baru melihat bentuk bayi itu melalui layar monitor USG, namun hatinya sudah merasa sangat sayang dan dekat dengan jagoan kecil itu.
Meskipun dia tau bahwa bayi itu bukanlah miliknya, tapi milik Fajar, sahabatnya sendiri. Entah bagaimana caranya wanita dan janinnya itu bisa mempengaruhi perasaannya hingga begitu dalam.
Tanpa sadar, dia mencium tangan Shreya. Lalu beralih pada kening wanita itu. Dia mengecup kening wanita itu dengan lembut. Selama beberapa saat mengikuti perasaannya, hingga akhirnya dia tersentak dan bangkit berdiri.
Rahul menatap Shreya yang sama sekali tidak merespon perbuatannya barusan dengan tegang. Apa yang dia lakukan?! Bagaimana bisa dia mencium wanita itu?! Apa dia lupa, kalau wanita yang ada dihadapannya saat ini adalah istri dari sahabatnya sendiri?!
Selain itu, apa dia juga lupa, kalau dia juga masih memiliki istri yang saat ini sedang menunggunya entah dimana?! Pantaskah dia bermain api disaat istrinya sedang berjuang untuk hidup ditengah-tengah tragedi yang menerjangnya.
setelah wanita itu dengan tulus memberikan cinta yang begitu besar untuknya, hingga dia bisa bangkit kembali dan menjadi seperti saat ini. Rahul sangat membenci dan mengutuk perbuatannya. Akhirnya dia meninggalkan Shreya yang masih terlelap dikamar itu seorang diri.
Sesampainya diluar, Rahul langsung merebahkan tubuhnya diatas kursi diruang tunggu. Dia merogoh ponselnya dan melihat-lihat daftar kontak yang ada pada ponselnya itu.
Hingga akhirnya dia melihat kontak seseorang yang membuatnya merasa bimbang untuk menghubunginya atau tidak. Haruskah dia menelpon Fajar dan memberitau sahabatnya itu, bahwa istrinya mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit?
Seandainya Fajar tau, apakah lelaki itu akan langsung terbang kemari untuk melihat dan menjaga istrinya? Lalu Fajar akan menyuruhnya untuk pulang dan meninggalkan Shreya bersamanya disini?
Memikirkan kemungkinan itu membuat hatinya merasa takut dan cemburu. Dia ingin dirinya lah yang mendampingi dan menjaga Shreya saat ini. Dia merasa sangat tidak rela melepaskan Shreya bersama Fajar yang notabene adalah suaminya sendiri.
Arrgghhh!! Jika memang itu yang dia rasakan, apa itu artinya, jika dia sudah memiliki perasaan lebih kepada Shreya? Jika itu benar, lalu bagaimana dengan Zahra? Apakah wanita itu masih ada dihatinya hingga saat ini?
Sebuah pertanyaan yang membuatnya merasa sangat bingung akan jawabannya. Jika ditanya tentang perasaannya terhadap Zahra, dia masih merasakan hal yang sama setiap kali memikirkan wanita itu. Lalu mengapa dia juga merasakan hal yang sama pada Shreya?
Tak ingin berpikiran lebih jauh lagi, akhirnya Rahul memasukkan ponselnya kembali. Dia memutuskan untuk tidak menghubungi Fajar. Mungkin apa yang dia rasakan dan lakukan saat ini terbilang jahat dan egois.
Dia juga sudah siap, seandainya nanti pria itu mengetahui kondisi Shreya dari orang lain lalu marah padanya, maka dia akan menerima segala konsekuensi dari perbuatannya. Untuk saat ini, dia hanya ingin mengikuti perasaannya. Perasaan yang dia harap hanya sesaat dan akan menguap dengan sendirinya seiring waktu.
Rahul kembali kekamar Shreya. Wanita itu masih terbaring dengan mata terpejam. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa dia merasa terusik dengan kedatangan dan kepergian Rahul barusan.
Rahul merebahkan tubuhnya disofa yang agak jauh dari ranjang Shreya. Matanya terus memandangi Shreya dengan perasaan gelisah. Meski sudah memutuskan untuk tidak menghubungi Fajar dan menjaga Shreya seorang diri, namun dia tetap tidak boleh terlalu larut dalam perasaanya yang akan menyakiti banyak hati.
Setidaknya dia harus bisa membuat sedikit jarak dengan wanita itu. Karena bagaimanapun juga, wanita itu bukanlah miliknya. dia harus ingat dan tau diri untuk itu. Dia harus yakin jika dia bisa, karena dia hanya mencintai Zahra.
__ADS_1