Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 44- Benarkah Aku Sudah Jatuh Cinta??


__ADS_3

"Oh ya, sebentar lagi aku ada operasi. Kamu tunggu disini sebentar tidak apa-apa ya? Aku janji, nanti setelah itu aku akan membawamu jalan-jalan seperti saran dokter Jenar" Kata Fajar saat mereka sedang berjalan dikoridor rumah sakit.


"Iya tidak masalah, aku bisa menunggu"


"Selamat siang Dokter Fajar, Bu Shreya. Dok, apa anda sudah siap? Kita sudah ditunggu diruang operasi" Vera yang baru muncul bersama seorang wanita berseragam perawat langsung menyapa mereka dengan ramah.


"Iya-iya, sebentar ya" Fajar melirik Shreya yang berdiri disisinya. "Ya, Ratih yang akan menemanimu selama aku aku bertugas. Kamu baik-baik ya disini" Fajar berbicara dengan Shreya, sembari menunjuk perawat muda yang tampaknya seumuran dengan Shreya yang berdiri disamping Vera.


"Iya" Shreya mengangguk. Fajar pun berlalu bersama Vera, meninggalkan Shreya bersama Ratih.


"Ibu Shreya mau tetap disini atau kemana sekarang? Biar saya temani" Tawar Ratih dengan ramahnya.


"Mmm..... Sepertinya aku mau ketaman saja. Disana tempatnya pasti lebih segar dan asri"


"Baiklah, saya akan menemani Ibu kesana. Mari Bu" Dengan sopan dan penuh hormat, Ratih membimbing Shreya menuju taman belakang rumah sakit.


"Oh ya, Ibu mau makan atau mau minum sesuatu? Biar saya carikan" Tawar Ratih saat mereka sudah berada ditaman.


"Mmm..... Aku tidak lapar, tapi aku kehausan. Bisa tolong belikan aku minuman segar saja?"


"Iya Bu tentu saja bisa. Kalau begitu saya kekantin dulu ya Bu. Ibu tunggu disini sampai saya kembali. Jangan kemana-mana ya Bu. Karena saat ini saya sedang ditugaskan oleh dokter Fajar untuk menjaga Ibu"


"Iya Sus. Tenang saja, saya tidak akan kemana-mana"


Ratih meninggalkan Shreya dengan berat hati, lantaran dia harus memenuhi permintaan wanita itu untuk membelinya minuman.


Selepas kepergian perawat itu, Shreya menikmati keindahan dan kesegaran taman. Segerombolan anak-anak yang sedang bermain dengan riangnya berhasil menyita perhatian Shreya.


Tiba-tiba sekilas bayangan yang menampakkan dirinya sedang bermain bersama segerombolan anak kecil dan seorang pria melintas dikepalanya. Membuat pandangannya sedikit kabur, hingga kepalanya terasa pusing.


Hingga sebuah bola melayang dan mendarat didekat kakinya dengan berguling-guling. Shreya memperhatikan bola itu, dan menatap kesekelilingnya dengan kebingungan.


"Kak, maaf ya, aku tidak sengaja menendang bolanya kesini. Kakak tidak kenapa-napa kan?" Seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahunan menegur Shreya dengan sopannya.


"Hem... Iya, aku tidak kenapa-napa. Lain kali hati-hati ya Dek, kalau bermain" Shreya mengambil bola dibawahnya dan menyerahkannya pada anak itu.


"Iya Kak. Kalau begitu aku main lagi ya" Anak itu berbalik dan hampir berlari, namun suara Shreya berhasil menghentikan langkahnya.


"Tunggu"


Anak itu berbalik dan kembali menatap Shreya.


"Apa aku boleh ikut main denganmu dan teman-temanmu?" Tanya Shreya dengan lembut.


"Kakak serius mau ikut bermain dengan kami?" Anak itu balik bertanya memastikan.


"Iya, aku juga bosan hanya diam saja disini dari tadi"


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita main"


********


Fajar yang baru saja menyelesaikan tugas operasinya dua jam kemudian, langsung menghubungi perawat Ratih untuk menanyakan lokasinya saat ini agar dia bisa menyusul Shreya.


Perawat itu pun memberitau jika saat ini dia sedang berada ditaman belakang rumah sakit.

__ADS_1


"Suster Ratih, dimana Shreya? Bukankah tadi dia bersamamu?" Tanya Fajar saat sudah tiba ditaman.


"Ibu Shreya ada disana Dok" Ratih menunjuk Shreya yang sedang asik bermain dengan riang gembiranya bersama sejumlah anak-anak ditengah taman.


"Kan Dokter bilang, saya disuruh menjaga dan menemani Bu Shreya agar dia tidak kenapa-napa dan tidak bosan. Saya lihat, dia sangat senang bermain bersama anak-anak itu. Jadi saya hanya menunggunya disini" Ucap Ratih ragu-ragu.


"Ya tidak masalah. Sekarang kamu bisa kembali bekerja. Terima kasih sudah menjaganya"


"Sama-sama Dok. Kalau begitu saya permisi" Ratih pun berlalu.


Fajar kembali menatap wanita yang sedang asik bercengkrama ria dengan anak-anak ditaman itu. Tanpa sadar seulas senyum hangat tersungging dibibirnya. Dia sangat terkesima dengan pemandangan didepan matanya.


Seperti melihat seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Seorang bidadari yang dengan sihirnya mampu membuat siapapun yang ada didekatnya tersenyum dan tertawa lepas.


Melihat bagaimana wanita itu bisa berbaur dan berteman dengan anak-anak, rasanya sudah bisa dibayangkan bagaimana saat nanti dia menjadi seorang ibu. Tentu dia akan menjadi ibu yang baik dan dianggap malaikat tanpa sayap oleh anaknya bukan?


Beruntungnya pria yang bisa memiliki wanita itu. Andai dia diberi kesempatan untuk menjadikan wanita itu sebagai istrinya yang sesungguhnya. Pasti dia akan sangat bahagia, dan tidak akan pernah menyia-nyiakannya.


"Apa dia cantik?"


"Iya, sangat"


"Apa dia sangat menarik?"


"Tentu saja"


"Apa Dokter merasakan sesuatu saat melihatnya?"


Efek terlalu fokus menatap dan mengagumi istri palsunya, Fajar sampai melupakan kehadiran asisten jahilnya yang sudah sedari tadi bersamanya dan sedang tersenyum menggodanya.


"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja, feeling


saya mengatakan jika Dokter mulai ada rasa lebih, pada Nyonya Shreya palsu itu" Dengan bibir yang masih menyunggingkan senyum menggoda, Vera menunjuk Shreya yang masih belum menyadari kehadiran mereka ditengah-tengah taman sana.


"Apa yang kamu katakan Vera? Kamu sendiri tau bagaimana hubunganku dengannya. Semua yang aku lakukan, segala macam bentuk perhatian yang aku berikan padanya, tidak lebih hanya sebatas dasar kemanusiaan saja"


"Mulut bisa saja mengatakan tidak Dok, tapi hati siapa yang tau? Karena saya merasa apa yang Dokter katakan, tidak sesuai dengan apa yang Dokter rasakan"


"Gak usah sok tau. Kerja aja yang benar" Kata Fajar jengkel.


"Bukannya sok tau Dokter Fajar, saya hanya mengungkapkan isi pikiran saya. Itu saja. Baiklah, sekarang saya tanya, apa Dokter merasa tentram setiap kali melihat wajah wanita itu? Apa Dokter merasa senang saat melihat dia tersenyum dan tertawa lepas seperti itu? Apa Dokter merasa sedih, saat melihat dia kesakitan?"


"Jujur aku masih merasa bingung dengan perasaanku saat ini. Entah mengapa aku merasakan hal yang berbeda setiap melihat wanita itu. Aku merasa nyaman, tenang dan.... entah mengapa aku rasanya selalu ingin melindungi wanita itu. Selalu ingin memastikan jika dia baik-baik saja dan tidak dalam masalah. Bagaimana menurutmu?"


Tutur Fajar dengan raut wajah bingung dan mata yang masih fokus menatap Shreya.


"Itu namanya cinta Dok. Dokter tidak mungkin akan menaruh perhatian yang begitu besar jika Dokter hanya melihatnya sebagai seorang pasien. Kecualiii"


"Kecuali?"


"Ya.... Kecuali lebih dari itu. Dokter melihatnya sebagai seorang wanita yang ingin Dokter miliki"


"Entahlah Vera. Saat ini kematian istriku saja belum genap setahun. Apakah pantas bagiku untuk memikirkan soal wanita lain sekarang?" Fajar berkata dengan lirih dan tatapan menerawang.


"Kenapa tidak Dok? Kan Ibu Shreya sudah tidak ada lagi didunia ini. Yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup lagi. Sedangkan yang masih hidup, harus terus melanjutkan hidupnya. Lagipula saya yakin kok Dok, Ibu Shreya pasti ingin Dokter Fajar bisa menemukan kebahagiaan Dokter setelah kepergiannya"

__ADS_1


Vera memberikan nasehat dengan bijaknya. Membuat Fajar terdiam dan termenung memikirkan ucapan asistennya.


********


Sepulang dari rumah sakit, Fajar mengajak Shreya jalan-jalan kesalah satu mall elite di Magelang.


"Fajar, kita ngapain kesini?"


"Tentu saja untuk shoping, memangnya mau ngapain lagi?"


"Memangnya siapa yang mau shoping?"


"Tentu saja kamu, memangnya siapa lagi?"


"Ta-tapi aku tidak ingin belanja"


"Tapi aku ingin membelanjakanmu. Ayo, hari ini kamu bebas mau pilih apapun yang kamu mau"


"Ta-tapi"


Fajar terus menarik tangan Shreya dan mengajaknya berkeliling mall, menyusuri setiap toko yang terdiri dari berbagai macam brand ternama. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, aksesoris serta make-up.


Fajar terus memanjakannya dengan segala jenis barang-barang branded yang tersedia disetiap toko mall itu. Shreya yang sudah berusaha menolak pada akhirnya hanya bisa pasrah, karena Fajar sama sekali tidak menggubris penolakannya.


"Barang-barangnya tolong dibawa kemobil saja ya. Nanti kami menyusul" Titah Fajar pada kedua anak buahnya yang membawa dan menenteng belasan paper bag berisi sejumlah barang perlengkapan Shreya.


"Baik Tuan" Kedua pria berbadan besar dan tinggi itu pun berlalu sesuai perintah atasannya.


"Kita makan dulu ya? Kamu pasti sudah lapar kan?"


"Iya"


"Ayo kita ke restoran dulu" Ajak Fajar yang kali ini tidak ada sanggahan sedikitpun dari Shreya, karena dia memang sudah sangat lapar. Mereka menuju salah satu restoran yang masih berada dalam mall itu.


Disebuah meja yang tidak terlalu jauh dari posisi mereka yang sedang berjalan, tampak segerombolan pria yang terdiri dari muda dan paruh baya dengan pakaian rapi dan formal terlihat sedang saling menjabat tangan. Sepertinya mereka baru saja menyelesaikan pembicaraan perihal bisnis penting.


Satu persatu dari pria itu berlalu meninggalkan meja. Kini hanya tersisa dua orang pria beda generasi yang juga sudah beranjak meninggalkan meja yang sedari tadi mereka duduki.


Namun tanpa sengaja, pria muda yang berjalan didepan malah menubruk Shreya, hingga wanita itu hampir terhuyung kebelakang. Untung saja Fajar dengan sigap memegang pundaknya.


"Auww!"


"Shreya, kamu tidak apa-apa?" Tanya Fajar cemas yang dijawab dengan gelengan kepala Shreya.


"Mmm, maaf-maaf. Aku tidak sengaja" Ucap pria muda yang barusan menabrak Shreya, yang tak lain adalah Gala.


"Gala, kalau jalan hati-hati" Tegur Helmi yang berada dibelakangnya.


"Iya Pa" Gala menatap ayahnya lalu kembali melirik Shreya dengan perasaan bersalah.


"Nona, saya minta maaf. Kamu baik-baik saja kan?"


"Iya aku tidak apa-apa" Jawab Shreya lirih.


"Om Helmi, Kak Gala" Fajar menegur ayah dan anak itu yang ternyata sudah dikenalnya.

__ADS_1


.


__ADS_2