
Waktu makan malam pun tiba. Fajar yang baru kembali dari rumah sakit langsung menuju ruang makan untuk mengisi perutnya.
"Silahkan Tuan" Ucap Bu Zaitun dengan sopan, sembari meletakkan piring berisi ayam goreng dimeja makan didepan tuan mudanya itu.
"Terima kasih. Oh ya Bu, Shreya mana ya? Kok tidak ikut makan malam" Kepala Fajar celingukan mencari Shreya yang tidak tampak akan hadir diruangan itu.
"Nyonya muda ada dikamarnya Tuan. Saya memintanya untuk istirahat. Tadi siang dia muntah-muntah lagi" Bu Zaitun bercerita dengan resah.
"Muntah-muntah? Dia sakit? Kok Ibu tidak memberitau saya? Kan saya sudah berpesan, kalau ada apa-apa dengan Shreya tolong Ibu hubungi saya" Fajar terkejut dan tampak khawatir mendengar kondisi Shreya.
"Maaf Tuan. Sebenarnya tadi saya ingin menghubungi Tuan, tapi Nyonya melarangnya. Katanya dia tidak ingin mengganggu pekerjaan Tuan. Tapi jujur Tuan, saya merasa cemas melihat kondisi Nyonya Shreya.
Sepertinya sejak kembali dari Jakarta, dia jadi sering terlihat muram dan sedih. Nafsu makannya juga semakin lama semakin berkurang. Saya jadi takut kalau dia seperti itu terus, lama-lama akan berpengaruh pada bayi dalam kandungannya"
Fajar menghela nafas. Ucapan Bu Zaitun membuatnya ikut cemas. "Memangnya dia makan apa, sampai muntah begitu?"
"Hanya makanan biasa saja Tuan. Saya dan para pelayan menggunakan bahan yang higienis untuk membuatnya" Bu Zaitun menjawab dengan yakinnya.
"Lalu saya harus bagaimana Bu? Saya sudah berusaha untuk mendekati dan bicara sama dia. Tapi dia masih tetap bersikap kaku pada saya. Saya tidak bisa bersikap berlebihan padanya. Karena Ibu tau kan, kalau kami bukan suami istri yang sesungguhnya?"
Lirih Fajar dengan ekspresi yang tampak sedih. Membuat Bu Zaitun ikut bersimpati melihatnya.
"Iya Tuan saya mengerti. Mmm.... begini saja, coba Tuan ajak Nyonya keluar. Siapa tau dengan begitu dia bisa sedikit tenang dan ceria. Mungkin perlahan-lahan dia bisa membuka hatinya untuk Tuan"
"Ajak kemana Bu? Saya sudah sering mengajaknya keluar, tapi sikapnya terhadap saya masih saja seperti itu"
"Tuan jangan menyerah. Tuan harus terus berusaha untuk mendekati dan mengambil hatinya, sampai dia luluh. Ingat Tuan, cinta itu butuh perjuangan"
"Cinta?" Fajar menautkan alisnya.
"Sudahlah Tuan. Tuan tidak perlu berkelit didepan saya. Saya bisa melihat kok, dari cara Tuan melihat dan memperlakukan Nyonya. Sudah sangat jelas kalau Tuan melakukan itu semua karena cinta" Bu Zaitun tersenyum menggoda.
"Baiklah, nanti saya akan coba mengajaknya keluar. Terima kasih sarannya Bu" Fajar tersenyum cerah.
"Sama-sama Tuan"
*********
Shreya terbangun dari tidur lelapnya dipagi hari. Dia menguap dan menggeliat dengan malasnya.
"Good morning" Suara Fajar yang terdengar lembut membuat Shreya terkesiap hingga dia langsung terbangun dan terduduk. Matanya pun terbuka lebar.
Ternyata lelaki itu sudah berada dihadapannya, dan sedang duduk dipinggir ranjang didepannya.
"Mmm, maaf ya, semalam aku ketiduran sampai tidak melihatmu pulang. Aku juga bangunnya kesiangan"
"Tidak masalah. Aku mengerti kamu sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Oh ya, kita keluar yuk" Ajak Fajar dengan lembut.
__ADS_1
"Kemana?"
"Nanti kamu juga akan tau sendiri. Sekarang mandi dan bersiap-siaplah. Aku tunggu diluar"
"Iya, baiklah" Sebenarnya Shreya merasa enggan untuk keluar bersama pria itu. Saat ini dia sedang tidak bersemangat untuk melakukan apapun.
Tapi kalau dia menolak, Fajar pasti akan kecewa. Dia sudah memutuskan, akan mencoba membuka hatinya kembali untuk pria itu demi pernikahan mereka.
********
Shreya keluar dari mobil. Pemandangan yang ada dihadapannya membuatnya terpana. Pegunungan granit dan hutan lebat, dengan dikelilingi Padang rumput yang menghampar berhiaskan taman bunga.
Serta hembusan angin yang membuat udara terasa sejuk dan segar. Suasana yang dihadirkan ditempat ini mampu membuat hati terasa nyaman. Sedikit banyak beban pikiran yang bersarang dikepalanya menguap dengan berada disini.
Saking terpesonanya dengan keindahan alam yang ada didepan mata, tanpa sadar kakinya perlahan-lahan melangkah. Menikmati suasana asri yang membuat hatinya merasa adem.
Fajar mencoba mengikutinya dari belakang. Hingga akhirnya dia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan wanita itu.
"Bagaimana, apa kamu suka tempat ini?" Tanya Fajar dengan seulas senyum.
"Iy-iya" Shreya menjawab dengan kaku.
"Syukurlah kalau kamu suka. Apakah tempatnya indah?"
"Iy-iya. Tempatnya sangat indah"
"Aku bisa membawamu ketempat yang lebih indah dari ini. Bahkan kalau kamu mau, aku akan mengambil bulan dan bintang dilangit dan menyerahkannya untukmu" Gombal Fajar Membuat Shreya terdiam dan tertegun melihatnya.
Dengan lembut dan telaten dia memakaikan jaket itu pada Shreya. Membuat wanita itu merasa canggung dengan perlakuan pria yang mengaku suaminya itu.
"Udaranya dingin. Takutnya nanti kamu masuk angin lagi"
"Iya, terima kasih" Ucap Shreya kaku. Kemudian dia berbalik dan kembali berjalan diantara bunga-bunga yang sedang bermekaran serta menebarkan aroma semerbak itu.
Karena terlalu terlenanya, dia sampai tidak sadar jika Fajar sudah berada disampingnya. kehadiran lelaki itu Membuatnya sedikit terkejut.
"Bunga yang cantik, untuk wanita yang cantik" Dengan senyum cerah yang merekah diwajah tampannya, Fajar menyodorkan setangkai bunga padanya.
Shreya menatap bunga itu selama beberapa saat dengan hampa. Lalu dengan ragu dia mengambilnya dari tangan lelaki itu.
"Terima kasih" Ujarnya dengan canggung.
Setiap kali bersama Rahul, dia tidak pernah merasa gugup seperti ini. Apalagi setiap kali pria itu memberikan sesuatu untuknya. Dia selalu merasa senang dan antusias. Seolah dia sudah begitu dekat dengan lelaki itu.
Tapi kenapa dia tidak pernah merasakan hal seperti itu, setiap kali bersama Fajar yang jelas-jelas adalah suaminya?
Lagi-lagi kepalanya terasa pusing saat ada sekilas bayangan yang melintas dibenaknya. Membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Sebelum dia terjatuh, Fajar dengan sigap menahan tubuhnya.
__ADS_1
"Shreya! Kamu baik-baik saja?" Tanya Fajar panik.
"Kepalaku pusing" Jawab Shreya lemah seraya memegang kepalanya.
"Ya sudah, ayo kita kemobil" Fajar menggendong wanita itu dan menuju mobil.
Sesampai dimobil, dia membuka tutup botol air mineral dan menyerahkannya pada Shreya. "Ini, minumlah dulu"
"Terima kasih" Shreya menerima botol minuman itu dan langsung meneguknya.
"Maaf ya, aku tidak tau kalau kamu sakit. Sekarang kita langsung pulang atau kerumah sakit dulu?"
"Kita langsung pulang saja ya. Aku lelah"
"Kamu yakin tidak mau kerumah sakit? Bagaimana kalau kandunganmu sampai kenapa-napa?"
"Kandunganku baik-baik saja kok. Buktinya perutku tidak merasa sakit sama sekali. Hanya kepalaku saja yang pusing"
"Ya sudah kalau itu maumu. Tapi nanti kalau kamu sampai kesakitan lagi, tolong katakan padaku ya"
"Iya" Shreya mengangguk.
Fajar hendak menyalakan mobil, namun sontak aksinya terhenti saat ponselnya berdering. Fajar mengangkat dan melihat layarnya. Lalu dia melirik Shreya yang duduk dijok disampingnya.
"Sebentar. Aku angkat telpon dulu"
"Iya"
Fajar pun meletakkan ponselnya didaun telinganya. Selama beberapa saat dia berkutat dengan ponselnya. Bicara ngalor ngidul dengan lawan bicaranya diseberang sana.
Sementara Shreya kembali tertegun memandangi setangkai bunga ditangannya. Tadi saat Fajar menyerahkan bunga itu, dia seperti melihat bayangan saat dirinya menerima bunga dari seorang pria. Seolah dia sudah pernah mengalami adegan yang serupa sebelumnya.
Tapi dimana? Kenapa dia tidak bisa mengingatnya? Sampai kapan dia terus seperti ini? Kapan ingatannya akan kembali agar dia tidak sebingung ini?
"Shreya!" Saat sedang berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba saja dia dibuat terperangah oleh suara yang terdengar seperti suara RAHUL!
Shreya menoleh kearah pintu. Melalui kaca jendela mobil, dia melihat Rahul sedang berdiri ditengah-tengah hamparan bunga dengan beragam jenis dan warna dipadang rumput, yang jaraknya lumayan jauh dari posisi mobil mereka itu. Pria itu tampak merentangkan tangannya kedepan, seolah meminta pelukan darinya.
"Rahul" Lirih Shreya.
Tanpa pikir panjang, Shreya langsung keluar dari mobil dan berlari ketengah Padang rumput menghampiri lelaki itu, tanpa disadari oleh Fajar yang masih berkutat dengan ponselnya.
Shreya menatap Rahul dengan perasaan campur aduk. Antara rindu, marah dan sedih. Rindu yang begitu besar namun terpendam. Marah lantaran lelaki itu terus menghantuinya disetiap saat.
Sedih memikirkan dirinya yang tidak bisa bersama dengan lelaki itu. Semua rasa itu bercampur menjadi satu dan membuat perasaannya tersiksa.
"Disetiap saat, disetiap menit, disetiap detik, bahkan dalam mimpiku, kamu selalu hadir. Kenapa kamu selalu menyiksaku dengan keberadaanmu?! Kenapa kamu tidak bisa membiarkanku hidup tenang?! Kenapa?!"
__ADS_1
Shreya berkata dengan berkobar-kobar sembari menangis. Dengan seulas senyuman yang tampak diwajahnya, Rahul merangkum wajah Shreya dengan lembut.
"Itu karena kamu sangat mencintaiku. Karena itulah kamu selalu melihatku disetiap waktu, bahkan disetiap tempat" Rahul mencekal lengan Shreya dan mencium pergelangan tangan wanita itu dengan rakus.