
"Tidak bisa Belle. Dia masih harus berada dalam inkubator sampai kondisinya stabil. Lagipula kamu baru saja selesai operasi. Kamu masih harus banyak istirahat. Tidak boleh banyak bergerak dulu. Apalagi meninggalkan tempat tidur. Nanti lukanya bisa terbuka dan infeksi" Sanggah Rahul khawatir.
"Aku mohon. Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja. Aku janji tidak akan lama-lama. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum bertemu dengan putraku. Ya, please..." Rengek Zahra yang membuat Rahul tidak tega menolaknya.
Biar bagaimanapun juga, dia adalah ibunya. Wanita yang sudah melahirkan anak itu. Tentu saja Zahra ingin sekali melihat anak mereka untuk pertama kalinya.
Akhirnya Rahul mengalah. Namun sebelumnya dia bertanya dulu pada dokter untuk mengantisipasi. Dokter pun akhirnya mengijinkan dengan catatan, tidak boleh berlama-lama apalagi banyak bergerak, karena dikhawatirkan bisa menyebabkan lukanya terbuka.
Selain itu, kondisi tubuh Zahra juga masih terlalu lemah karena dia baru sadarkan diri usai mengalami kritis dan operasi. Jadi dia masih membutuhkan cairan infus yang masih belum bisa dilepas dari tubuhnya.
Rahul menyetujuinya. Dia mengantar Zahra menuju ruang inkubator dengan menggunakan kursi roda. Para perawat sudah menawarkan diri untuk mendampingi dan mendorong kursi roda Zahra.
Namun Rahul menolaknya. Dia meyakinkan mereka semua bahwa dia bisa menjaga istrinya dengan baik. Karena dia tidak ingin ada orang lain yang menggangu kebersamaan keluarga kecilnya.
*******
"Lihat itu" Begitu sampai didepan ruang inkubator, Rahul langsung menunjuk salah satu bayi yang berada dalam inkubator yang dilihatnya dari luar kaca.
"Sat, i-itu anak kita?" Zahra menatap bayi itu dengan mata berkaca-kaca. Luapan kebahagiaan dan rasa haru sangat terlihat jelas diwajahnya.
Rasanya dia masih tidak percaya, jika sekarang dia sudah menjadi seorang ibu. Menjadi ibu dari anak pria yang sangat dicintainya. Ini adalah anugerah terbesar dalam hidupnya.
"Iya. Itu baby Chand kita" Rahul membungkukkan tubuhnya dan memeluk Zahra dari belakang.
"Putraku sangat tampan seperti bintang Bollywood" Celetuk Zahra.
"Tentu saja. Siapa dulu Papanya?" Seloroh Rahul dengan sombongnya.
"Dasar narsis" Zahra mengerutkan wajahnya.
__ADS_1
"Kok narsis? Memang kenyataannya begitu kan? Memang aku tampan kan? Buktinya, kamu bisa tergila-gila dengan ketampananku" Rahul tersenyum menggoda.
"Lih, GR. Kata siapa" Tanya Zahra sinis.
"Kata dia" Rahul mengambil tangan Zahra dan meletakkannya didada istrinya itu.
"Huh dasar" Zahra meninju pundak Rahul dengan pelan dan setengah bercanda. Lalu dia kembali melirik anaknya didalam sana. "Oh ya, namanya Chand?" Tanya Zahra yang dijawab dengan anggukan kepala Rahul.
"Jadi kamu sudah memberinya nama? Dasar curang. Memberi nama anak tidak bicara dulu dengan ibunya" Gerutu Zahra.
"Ya habis, kamu kerjanya tidur mulu sih. Yang ada aku keduluan sama Mama dan Papa. Mereka sangat heboh dan antusias ingin memberinya nama. Maklumlah, namanya juga cucu pertama" Kelakar Rahul.
"Mama dan Papa. Aku jadi merasa tidak enak dengan orang tuamu. Aku masih ingat, mereka sangat terkejut saat tau kalau aku adalah istrimu. Kira-kira sekarang bagaimana ya, tanggapan mereka terhadapku? Apa mereka bisa, menerimaku sebagai istrimu, dan menantu mereka?"
Ucap Zahra lirih dengan wajah menunduk. Raut wajahnya yang sedari tadi tampak ceria, seketika berubah muram mendengar Rahul menyebut nama orang tuanya. Masih segar dalam ingatannya, wajah kecewa dan terkejut mereka dalam acara tujuh bulanan itu.
Entah bagaimana cara dia menghadapi keluarga suaminya itu nantinya. Entah bagaimana pandangan mereka terhadap dirinya sekarang.
"Jangan khawatir. Mereka sudah tau semuanya. Dan mereka dengan senang hati menerimamu sebagai istriku dan menantu mereka"
"Benarkah?" Zahra bertanya untuk memastikan.
"Tentu saja. Untuk apa aku berbohong. Bahkan mereka juga sangat mencemaskanmu, saat kondisimu masih kritis dan harus dioperasi. Mereka juga ikut mendoakanmu dan Chand, supaya kalian berdua bisa selamat"
"Syukurlah kalau begitu. Berarti aku tidak perlu takut menghadapi mereka nanti" Zahra kembali tersenyum cerah dan merasa lega mendengar penjelasan suaminya.
"Memangnya apa yang harus kamu takuti? Kamu pikir orang tuaku macan atau hantu?" Cetus Rahul.
"Oh ya, ngomong-ngomong, nama lengkap anak kita siapa?" Tanya Zahra penasaran.
__ADS_1
"Chand Aditya Dirgantara"
"Kamu sudah mempersiapkan namanya dari jauh-jauh hari, sejak aku masih amnesia?"
"Tidak. Aku spontan saja teringat nama itu, saat pertama kali melihat wajahnya. Karena dia terlahir dari rahim wanita yang sangat aku cintai. Wanita yang telah membawa cahaya dalam gelapnya duniaku. Wanita yang telah menjadi rembulan pada malam hariku. Dan menjadi mentari, pada pagi dan siang hariku. I love you putri Belleku"
Rahul berjongkok didepan kursi roda Zahra dan membelai wajah istrinya selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia mengecup bibir mungil wanita itu dengan penuh kehangatan.
"I love you Satyaku" Zahra memegang tangan Rahul yang ada diwajahnya, lalu mengecupnya dengan senyum haru yang terus dia pancarkan.
Kebahagiaan yang selama ini mereka impikan akhirnya tiba dan bisa mereka nikmati. Ditambah lagi dengan kehadiran buah cinta yang semakin melengkapi kebahagiaan mereka.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang mengawasi mereka dari sudut lain. Tatapan bahagia, terharu dan sedih sangat terlihat jelas dari raut wajahnya melihat kebersamaan dan kemesraan sepasang suami istri itu.
"Aku turut senang melihat kalian sudah berkumpul lagi. Selamat atas kelahiran baby kalian. Aku doakan, semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecil kalian" Fajar tersenyum sendu.
Kemudian dia berbalik dan berjalan dengan membawa perasaan bahagia dan terharu, yang bercampur dengan perasaan sedih dan kecewa yang mendalam. Setengah dari hatinya ikut merasa bahagia dan terharu melihat kebahagiaan keluarga kecil dua orang terkasihnya.
Namun setengah dari hatinya, perasaan sedih dan kecewa itu terasa sangat nyata hingga menyesakkan dadanya, melihat kemesraan wanita yang dicintainya bersama lelaki lain! Dia tau ini tidak benar. Karena lelaki itu adalah suaminya sendiri.
Dia hanya bisa berharap, semoga perlahan-lahan dia bisa menyingkirkan keberadaan wanita itu dari hati dan perasaannya! Semoga saja
********
Amora tampak sedang berjalan sembari berkomunikasi dengan Mamanya melalui ponsel, saat tiba-tiba Rahul muncul menarik lengannya dan menyeretnya hingga kebalik dinding. Sontak tindakannya itu membuat Amora terkejut.
"Ra-Rahul? Ka-kamu sedang apa disini? Kamu tidak dirumah sakit? Kok malah menarik-narik tanganku....?" Amora bertanya dengan terbata-bata.
Jantungnya terasa deg-degan melihat tatapan tajam yang ditujukan Rahul padanya. Entah apa maksud dari tatapan itu. Yang jelas perasaan Amora mendadak jadi tidak enak dan ketar-ketir.
__ADS_1
"Tidak perlu basa-basi, apalagi berlagak lugu dihadapanku. Karena aku yakin, kamu pasti tau kan, siapa yang memutar videoku dan Zahra dalam acara tujuh bulanan kemarin? Atau.... Justru kamu orangnya?" Tukas Rahul to the poin dengan datar. Dia menatap Amora dengan tatapan menyelidik.
"K-kok kamu jadi menyalahkanku....?" Amora jadi gelagapan mendapat tuduhan itu.