
Sudah belum sih?" Sungut Zahra saat dia keluar dari mobil dalam keadaan mata yang tertutup kain hitam sehingga membuat seluruh pandangannya menggelap.
"Sabar dong sayang. Jangan menggerutu mulu" Rahul memegang dan menuntun istrinya untuk berjalan sesuai dengan arahannya.
"Tapi sampai kapan mataku ditutup begini?" Zahra semakin tidak sabar karena harus berjalan dengan meraba-raba seperti orang buta saja.
"Iya sabar Belle. Ini juga mau dibuka kok" Akhirnya Rahul membuka kain yang sedari tadi menutupi mata istrinya. Dan....
"SURPRISEE!"
Zahra terpana melihat pemandangan dihadapannya. Sebuah gedung besar, megah dan menjulang tinggi yang tampaknya sebuah rumah sakit berdiri dengan kokoh didepannya.
Zahra menatap gedung itu dengan takjub. Didepannya terdapat air mancur dan kolam mini, yang disekelilingnya dipenuhi dengan lingkaran rumput hias dan patung rumput dikanan kirinya. Sehingga membuat pekarangan gedung itu nampak semakin indah dan menakjubkan.
Ada juga beberapa orang lelaki dan perempuan berpakaian rapi yang berdiri didepan gedung itu. Tampaknya mereka semua adalah karyawan Rahul. Hal itu terlihat dari cara mereka menyambut kedatangan sepasang suami istri itu dengan senyum ramah, sopan dan penuh hormat terhadap Rahul dan Zahra.
Zahra membaca tulisan yang ada pada gedung itu.
*RUMAH SAKIT AZZAHRA ALFATHUNNISA*
"Satya, ini tempat apa? Kok seperti rumah sakit? Untuk apa kamu membawaku kemari Dan itu.... Kok ada nama lengkapku? Ini maksudnya apa sih?" Zahra membaca tulisan itu dengan bingung. Dia tidak mengerti kenapa namanya bisa ada disana.
"Ini adalah rumah sakit terbaru Dirgantara group. Dan aku sengaja membangun rumah sakit ini untukmu, dan atas namamu" Rahul tersenyum lembut.
"Kamu serius? Tapi.... Untuk apa?"
__ADS_1
Rahul merangkul Zahra dan membelai wajahnya. "Kamu ingat, saat kita mengunjungi tajmahal sewaktu honeymoon di India dulu?" Tanya Rahul yang dijawab dengan anggukan kepala Zahra.
"Aku merasa tersentuh dengan cinta raja Shah Jahan kepada istrinya, ratu Mumtaz Mahal. Bagaimana beliau mencintai istrinya dengan begitu besar sekalipun sang ratu sudah tiada. Bahkan untuk mengenang mendiang istrinya, sang raja sampai membangun monumen tajmahal yang namanya diambil dari nama istrinya.
Dan saat aku memutuskan untuk membangun rumah sakit ini, saat itu aku tidak tau, apakah kamu akan kembali padaku atau tidak. Karena aku masih belum tau siapa kamu yang sebenarnya waktu itu. Jadi aku pikir, aku bisa menjadikan rumah sakit ini sebagai monumen untuk mengenangmu. Ratuku. Karena aku ingat pertama kali mengenalmu saat dirumah sakit"
Panjang lebar Rahul mengungkapkan rasa cinta terhadap istrinya. Membuat Zahra terkesima dan terharu mendengarnya. Dia merasa menjadi wanita yang paling beruntung didunia. Memiliki suami seperti Rahul yang sangat mencintainya dengan tulus dan besar.
Bahkan sampai membangun rumah sakit semegah ini untuknya?! Entah bagaimana cara dia melukiskan kebahagiaan dan rasa syukurnya, karena telah diberikan suami impian seperti ini!
"Jadi karena itu, kamu memberikan namaku untuk tempat ini?"
Rahul mengangguk. "Ya begitulah. Dan.... Aku juga sudah membuat peraturan pada rumah sakit ini. Bahwa orang-orang yang tidak mampu akan diberikan pengobatan gratis apapun penyakitnya. Dan aku juga akan mempekerjakan dokter dan perawat-perawat terbaik dari luar negeri"
"A... Aku tidak tau harus bicara apa. Semua yang kamu lakukan ini benar-benar membuatku terharu. Kamu tau? Dari dulu aku selalu bermimpi bisa menggunakan profesiku untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Tapi sayangnya, aku masih belum mampu karena perekonomian keluargaku yang pas-pasan.
Luapan kebahagiaan membuncah didada Zahra. Sehingga tanpa dapat dicegah, dia memeluk dan mencium pipi Rahul. Sebenarnya dia ingin memberikan ciuman bertubi-tubi untuk suami tercintanya.
Namun karena ditempat itu banyak orang, mau tidak mau dia harus mengurungkan niatnya. karena tidak ingin menjadi tontonan gratis yang akan membuatnya malu.
"I love you to princess Belle" Rahul membalasnya dengan mencium kening Zahra. Dia hendak mencium bibir istrinya juga. Namun dengan cepat Zahra menepisnya, dan mengingatkan suaminya bahwa sekarang mereka sedang berada dihadapan banyak orang.
*******
Acara aqiqah baby Chand digelar dengan meriah dan penuh sukacita. Dengan mengusung konsep bernuansa putih yang memberikan kesan elegan. Dekorasi bernuansa vintage serta bunga segar pun tampak memenuhi setiap sisi ruangan.
__ADS_1
Sebenarnya Zahra lebih suka acaranya digelar secara sederhana saja. Namun mengingat mertuanya merupakan orang terpandang yang tentunya memiliki banyak kenalan dan rekan bisnis, rasanya tidak mungkin kalau acara itu digelar sesuai dengan keinginannya.
Lagipula dia juga senang, anaknya mendapat perlakuan istimewa dari keluarga suaminya, yang saat ini satu-satunya keluarga yang dia miliki. Helmi dan Lesti mengundang beberapa kolega bisnis mereka yang berasal dari dalam kota.
Ratusan anak panti asuhan untuk ikut mendoakan baby Chand supaya menjadi anak yang cerdas, soleh, berbakti kepada orang tua Dan menjadi kebanggaan bagi keluarganya. Serta senantiasa diberi kesehatan dan umur yang panjang.
Lesti merasa acara itu kurang lengkap tanpa kehadiran Gala yang juga paman dari Chand. Lesti menghubungi dan berusaha membujuk putra sulungnya, agar bersedia kembali ke Indonesia minimal selama beberapa hari saja. Supaya dia bisa menghadiri acara aqiqahan keponakannya.
Namun Gala bersikeras menolaknya. Dia juga menyampaikan permintaan maafnya, karena untuk saat ini hatinya masih belum siap untuk kembali kenegara kelahirannya itu. Dia juga menitipkan permintaan maafnya terhadap Rahul dan Zahra, karena tidak bisa hadir dalam acara penting anak mereka.
Dia mengatakan hanya bisa mendoakan Chand dari jauh. Dan mengirim kado untuk keponakan kesayangannya itu. Karena Gala bersikeras menolak, lagi-lagi Lesti terpaksa mengalah.
Zahra tau jika ibu mertuanya sedang bersedih atas ketidak hadiran Kak Gala dalam acara aqiqah anaknya. Sebisa mungkin dia berusaha menghibur ibu mertuanya, dengan cara menyibukkannya dengan berbagai hal. Salah satunya dengan Chand.
"Kak Zahra!" Zahra mengernyit heran saat dia mendengar suara anak perempuan yang terdengar ceria memanggil namanya. Zahra merasa bingung karena ada yang mengenalnya.
Padahal setaunya, semua tamu undangan adalah kerabat dan kenalan suami serta mertuanya. Sedangkan semua kerabat dan kenalannya berada didesa, dan sudah tiada dan menghilang dalam tragedi itu. Dan disini dia tidak mengenal siapapun.
Karena penasaran, akhirnya Zahra menoleh kearah sumber suara. Dia terpana melihat seorang gadis kecil yang wajahnya tampak familiar sedang berlari-lari kecil menghampirinya. Saat mereka sudah dekat, anak itu langsung memeluk Zahra dengan erat.
"Chika? Kamu disini? Kamu juga selamat dari tragedi itu?" Zahra membalas pelukan gadis itu dengan senang hati. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Rahul tersenyum terharu melihat pertemuan istrinya dengan anak yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.
"Iya Kak, Alhamdulillah Chika selamat. Oh ya, kenalkan ini Mama dan Papa aku" Chika melepaskan pelukannya. Kemudian dengan gembiranya dia menunjuk Pak Ricky dan istrinya yang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
"Mama Papa?" Zahra menatap dua orang yang ditunjuk oleh Chika dengan alis bertaut.