Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 73- Kacang Almond?!!


__ADS_3

Dari suaranya tampak jelas bahwa dia sangat mengkhawatirkan Shreya. Dan hal itu semakin membangkitkan kecemburuan dihati Rahul.


"A-aku tidak tau. Dia sedang diperiksa oleh dokter" Jawab Rahul hambar.


"Ya sudah. Tolong beritau aku rumah sakit mana"


"Iy-iya. Akan aku share lok alamat rumah sakitnya"


"Iya terima kasih. Aku akan langsung kesana sekarang" Pembicaraan pun diputuskan oleh Fajar dari sana.


Rahul menatap ponsel ditangannya dengan hampa. Tak berselang lama, dokter pun keluar dari ruang ICU. Rahul langsung menghampiri dokter lelaki berumur itu.


"Dok! Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?! Kandungannya juga tidak kenapa-napa kan? Iya kan Dokter?!" Dengan tidak sabaran Rahul langsung mencecar dokter itu. Perasaan gelisah masih membuncah didadanya.


"Anda tidak perlu khawatir Pak. Istri Bapak baik-baik saja, begitupun dengan bayi dalam kandungannya" Jawab dokter disertai seulas senyuman.


Rahul menghela nafas lega. "Hah syukurlah. Sebenarnya apa yang terjadi padanya Dok? Tadi dia baik-baik saja. Namun tiba-tiba saja dia jadi sesak nafas hingga pingsan"


"Sepertinya ini gejala alergi Pak. Mungkin istri anda salah makan"


"Alergi Dok?" Rahul mengernyitkan keningnya.


"Iya Pak. Apa Bapak ingat, sebelumnya istri anda makan apa?"


"Mmm.... Dia makan-makanan yang aku pesan direstoran saja Dok. Dan setauku, makanan yang ada disana tidak mengandung bahan-bahan yang berbahaya kok Dok" Rahul tampak berpikir. Dia tidak tau apapun tentang makanan yang membuat Shreya alergi. Mungkin Fajar sebagai suaminya tau banyak tentang hal itu.


"Ya sudah kalau begitu. Untuk lebih jelasnya, kita akan lakukan tes darah untuk mendeteksi, jenis alergi apa yang diderita oleh istri anda"


"Tapi.... Saya boleh menemuinya kan Dok?"


"Silahkan Pak. Kebetulan Ibu Shreya juga sudah sadar"


"Terima kasih Dok"


********


Dengan mengumpulkan tenaganya yang masih belum sepenuhnya membaik, Shreya perlahan-lahan bangkit dari tidurnya dan hendak turun dari brankar. Rahul yang baru saja masuk langsung berlari menghampiri Shreya dengan cemasnya.


"Hey! Kamu mau ngapain? Jangan banyak gerak dulu. Kamu masih harus istirahat" Tegur Rahul sembari memegang tangan Shreya. Menahan tubuhnya yang masih goyah.


"Aku tidak apa-apa kok. Aku mau pulang" Ngeyel Shreya dengan lesu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya. Kita tunggu dulu apa kata dokter. Jika dokter bilang kamu boleh pulang, maka kamu akan pulang. Oke?" Ujar Rahul pelan.


"Tapi aku tidak...."


"Shreya!" Perdebatan mereka buyar oleh kehadiran Fajar yang tiba-tiba datang, dan langsung menghampiri Shreya dengan raut wajah yang terlihat begitu cemas.


Saking fokusnya dia dengan kondisi Shreya, tanpa sadar Fajar sampai menyenggol Rahul, agar dia bisa mendekati Shreya yang masih terduduk diatas brankar.


"Kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa masuk kesini?" Tanya Fajar seraya memegang tangan Shreya. Memastikan kondisi wanita itu saking paniknya dia.


"Iy-iya. Aku tidak apa-apa kok. Kamu tidak perlu khawatir" Jawab Shreya hambar, lalu melirik Rahul yang berdiri agak menjauh darinya akibat disenggol oleh Fajar barusan.


Pria itu tampak cemberut. Kehadiran Fajar telah merubah moodnya. Melihat sahabatnya itu menunjukkan perhatiannya yang begitu besar pada Shreya membuatnya muak. Meskipun dia ingat betul status mereka berdua. Namun dia tetap tidak mampu mengendalikan perasaan cemburu yang membuncah didadanya.


"Bagaimana aku tidak khawatir melihatmu seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Tolong ceritakan semuanya padaku" Fajar kembali bertanya dengan nada tegas.


"A-aku. Ta-tadi...."


"Selamat sore"


Mereka langsung menoleh kearah pintu. Dimana terdapat sumber suara yang telah membuyarkan percakapan mereka. Nampaklah dokter yang tadi memeriksa Shreya sedang berjalan menghampiri mereka.


"Iya sore" Jawab Fajar.


"Mmm.... Dokter Ronal?" Fajar balik memastikan.


"Iya Dok. Apa kabar?" Dokter bernama Ronal itu tersenyum lebar.


"Alhamdulillah baik. Dokter sendiri apa kabar?" Fajar ikut tersenyum lebar bertemu dengan rekan seprofesinya.


"Alhamdulillah saya juga baik Dok. Oh ya, Dokter Fajar sedang apa ya disini?"


"Saya sedang menemui istri saya Dok" Fajar menunjuk Shreya.


"Jadi Ibu Shreya ini istri Dokter? Saya pikir Bapak ini suaminya. Karena beliaulah yang tadi membawanya kemari. Dan.... Dari tadi juga saya perhatikan, Bapak ini sangat mengkhawatirkan kondisi Ibu Shreya" Dokter Ronal menunjuk Rahul dengan heran.


"Di.... Dia ini.... sahabat saya Dok. Dan Shreya ini adalah istri saya" Fajar menatap Rahul dengan ekspresi campur aduk antara tegang dan bingung.


"I-iya Dokter. Shreya ini adalah istrinya Fajar. Dari tadi juga saya ingin memberitau Dokter. Tapi pikiran saya terlalu kacau melihat kondisi Shreya. Tadi saya tidak sengaja bertemu dengannya direstoran. Saya lihat dia pingsan, jadi saya membawanya kesini" Timpal Rahul dengan sedikit berkilah.


"Oh.... Begitu?" Dokter Ronal manggut-manggut.

__ADS_1


"Mmm Dok, jadi sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya? Kenapa dia bisa pingsan? Dia dan kandungannya baik-baik saja kan?" Tanya Fajar.


"Jadi begini Dok, menurut tes darah yang kami lakukan, Ibu Shreya ini memiliki riwayat alergi terhadap kacang almond hingga terjadinya reaksi anafilaksis, atau reaksi alergi yang hebat. Karena itulah dia bisa menjadi seperti ini"


"Alergi kacang almond Dok?" Fajar mengernyitkan keningnya.


"Iya. Memangnya Dokter tidak tau, tentang alergi yang diderita oleh istri Dokter sendiri?" Tanya dokter Ronal bingung.


"Mmm.... Selama kami menikah, aku tidak pernah melihatnya makan kacang. Jadi aku tidak tau, kalau ternyata dia alergi makanan itu. Iya kan sayang" Kilah Fajar dengan gugup. Lalu dia melirik Shreya.


"Mmm.... Mmm.... Iy-iya" Shreya menatap Fajar, lalu dia menjawab dengan ragu.


"Oh begitu?" Dokter Ronal kembali manggut-manggut.


Rahul yang hanya diam tidak ikut nimbrung dalam percakapan mereka pun, sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia benar-benar tidak tau bahwa Shreya alergi kacang almond. Karena itulah dia memesannya.


Dia terkejut bukan main mengetahui jika ternyata Shreya masuk rumah sakit, gara-gara memakan makanan yang dia pesan direstoran tadi.


Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah, lagi-lagi perempuan itu mengingatkannya pada Zahra, yang juga memiliki alergi terhadap jenis makanan yang sama.


Rahul tidak habis pikir, kenapa semakin lama dia semakin menemukan sosok Zahra dalam diri Shreya? Dia merasa apa yang ada dalam diri Zahra, itu juga ada pada Shreya. Entah apa maksud dari semua ini. Dia benar-benar tidak bisa menafsirkannya. Hanya Tuhan yang tau.


"Tapi sekarang Shreya dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja kan Dok? Mereka berdua sudah tidak kenapa-napa kan?" Fajar memastikan kondisi Shreya.


"Alhamdulillah, Ibu Shreya sudah baik-baik saja. Kami sudah memberikannya obat alergi. Begitupun dengan kandungannya. Mereka berdua sudah tidak kenapa-napa. Jadi Dokter tenang saja. Ibu Shreya juga boleh pulang sekarang. Tidak perlu harus dirawat inap disini"


Dokter Ronal menjelaskan dengan seulas senyuman.


"Alhamdulillah kalau begitu. Terima kasih Dok" Fajar tersenyum lega.


"Tapi saya harap, hal seperti ini jangan sampai terulang lagi. Saya harap Ibu Shreya bisa lebih berhati-hati dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi. Sebab, jika hal seperti ini sering terjadi, maka tidak menutup kemungkinan jika sewaktu-waktu alergi yang Ibu alami, bisa berpengaruh pada bayi yang ada dalam kandungan Ibu" Dokter Ronal mewanti-wanti Shreya.


*******


Untuk para reader yang telah Sudi membaca dan mendukung cerita ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tanpa kalian para pembaca, apalah artinya cerita receh hasil karya penulis amatir macam saya ini😘😘


Bagi yang merasa karya saya ini mungkin terlalu mbulet, berbelit-belit, monoton karena Zahra lama banget sembuh dari amnesianya, author minta maaf yang sebesar-besarnya ya masih belum bisa mengembalikan ingatan Zahra πŸ˜­πŸ˜­πŸ™πŸ™


ceritanya sudah sesuai alur. Makanya saat diawal cerita Rahul buta dulu. Tapi bukan berarti ceritanya jalan ditempat dan gak ada ujungnya ya, semua akan indah pada waktunya kok.


Jadi mohon dukungannya terus ya πŸ™πŸ™ terutama untuk vote yang udah 73 bab tapi masih kosong aja🀭🀭😭😭

__ADS_1


Tapi untuk like, comen, favorit dan hadiah yang udah author terima, terima kasih banyak saya ucapkan kepada para pembaca yang sudah sangat menghargai karya pertama saya ini πŸ₯°πŸ₯° Semoga Allah membalasnya.


__ADS_2