
Begitu semua jadwalnya berakhir saat jam menunjukkan pukul 20.50 WIB, Rahul langsung mengemudikan mobilnya dengan tidak sabar untuk segera sampai rumah dan bertemu Shreya.
Diperjalanan pulang, dia tanpa sengaja lewat depan toko bunga. Dia memutuskan untuk mampir dan membeli satu buket bunga ditoko itu. Suara halilintar mulai terdengar dan menggema dengan halus. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.
Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, dia juga terlebih dahulu singgah kerestoran dan membeli beberapa makanan seperti chicken steak, spaghetti. Cap cay sea food, ebi furai, dendeng balado, dessert buah dan jus strawberry.
Meski baru beberapa hari bersama Shreya, namun sedikit banyak dia sudah bisa hafal tabiat wanita itu dalam hal makanan. Dia tau biasanya kalau sudah makan, perempuan itu akan lupa diri dan menghabiskan lumayan banyak makanan.
Rahul sangat berharap jika Shreya akan menerima dan menyukai bunga serta makanan yang dibelinya. Dia berharap wanita itu akan memaafkannya, dan melupakan apa yang terjadi pagi tadi.
Dengan membawa harapan seperti itu, dia kembali melanjutkan perjalanan kerumahnya.
Dan benar saja prediksinya, saat mobil yang dikemudikannya sudah berjarak sekitar beberapa kilometer dari rumah, hujan lebat pun turun dan mengguyur bumi. Membasahi mobil mewahnya.
Hal pertama yang dilakukannya begitu sampai rumah adalah mencari keberadaan Shreya. Dia bertanya pada pelayan tentang keberadaan wanita itu. Pelayan mengatakan jika Shreya sedang berada dikolam renang. Membuat Rahul menerka-nerka, sedang apa wanita itu dikolam renang ditengah-tengah hujan lebat begini? Tak ingin terlalu berasumsi, dia mencoba untuk memastikannya.
Sesampainya disana, dia terpana melihat Shreya sedang berdiri dipinggir kolam sembari mengadahkan tangannya kedepan. Kedua matanya tampak terpejam. Membiarkan air hujan yang sedang turun dengan derasnya jatuh, dan menerpa telapak tangan dan wajahnya.
Membuat wajah dan sebagian tubuhnya basah oleh guyuran cairan bening yang jatuh dari langit. Diiringi hembusan angin yang semakin menimbulkan rasa dingin pada cuaca malam itu. Shreya tampak begitu menikmati suasana yang ada. Bahasa tubuh wanita itu seolah sedang menyatakan kesedihannya.
Apakah perempuan itu masih bersedih gara-gara sikapnya tadi pagi? Hingga dia menenangkan dirinya disini, berbaur bersama rintik-rintik hujan yang membasahi wajah dan tangannya. Memikirkan kemungkinan itu, semakin memupuk rasa bersalah Rahul.
Perlahan-lahan Rahul mendekati Shreya, lalu dia berdiri dibelakangnya. Dengan lembut dia meletakkan telapak tangannya dibawah tangan Shreya. Membiarkan curah hujan ikut membasahinya juga.
Merasakan ada yang menyentuhnya dari belakang, spontan Shreya terlonjak dan langsung membuka matanya. Kemudian dia berbalik, dan semakin terkejut lagi mengetahui bahwa yang sedang memegangnya adalah Rahul.
Dia pikir setelah tadi pagi, pria itu sudah muak untuk melihatnya. Kenapa sekarang malah menemui dan memegangnya dengan begitu mesra? Mau apa lagi dia?!
"Kamu? Sudah pulang?" Ujar Shreya ketus sembari berjalan menuju kursi yang ada diteras.
"Iya. Tadi aku mencarimu didepan, tapi tidak ada. Akhirnya aku kesini. Karena aku tau ini adalah tempat favoritmu jika sedang suntuk. Benarkan?" Rahul berucap dengan santainya sembari berjalan menyusul Shreya. Lalu dia duduk dikursi disamping wanita itu.
"Untuk apa mencariku? Bukankah aku ini hanya perempuan ceroboh dan teledor yang hanya bisa merepotkanmu saja?" Shreya berbicara tanpa memandang Rahul. Suaranya pun masih terdengar ketus.
__ADS_1
Rahul merasa gemas sendiri melihat tingkah wanita itu, yang seperti anak kecil yang sedang merajuk. Namun dia senang, meskipun sedang ngambek, setidaknya perempuan itu masih mau bicara dengannya. Tidak mengabaikannya.
"Aku tidak pernah bilang, kalau kamu wanita yang suka merepotkan. Kamu saja yang salah paham"
"Salah paham bagaimana?! Bukankah kamu bilang kalau aku wanita yang ceroboh?! Itu artinya apa?! Aku merepotkanmu kan?!" Ucap Shreya menggebu-gebu.
"Apa ucapanku sudah sangat keterlaluan? Apa kamu merasa sangat sakit hati? Aku minta maaf ya. Aku tau aku salah. Tidak seharusnya aku bersikap begitu keras dan membentak-bentakmu. Aku hanya khawatir saja dengan keselamatanmu dan bayi dalam kandunganmu. Aku takut insiden kemarin terulang lagi. Kamu jatuh ditangga, dan aku harus membawamu kerumah sakit ditengah hujan deras.
Lalu dijalan aku dibegal dan kamu disandra, dengan pisau yang ditodongkan lehermu. Perasaanku benar-benar kalut saat itu. Kamu tau? aku baru merasa tenang saat dokter mengatakan bahwa kalian berdua baik-baik saja. Aku minta maaf ya, jika sikapku terlalu berlebihan. Kamu maukan, memaafkanku?"
Rahul berbicara selembut mungkin, berharap agar Shreya bisa mencerna setiap perkataannya.
Dan harapannya pun tercapai, saat Shreya akhirnya luluh dengan semua ucapannya. Dengan seulas senyuman diwajahnya, perlahan-lahan wanita itu menganggukkan kepalanya, sebagai pertanda dia bersedia memaafkannya.
Membuat Rahul langsung sumringah karena perdebatannya dengan wanita itu akhirnya selesai.
"Oh ya sebagai permintaan maaf dariku, aku ada sesuatu untukmu. Ada dimobil, mau aku ambilkan?"
"Baiklah, sebentar" Rahul akan beranjak dari kursi saat ponsel Shreya berdering. Shreya mengambil ponselnya, betapa terkejutnya dia saat mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Hallo"
"Hallo Shreya. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu masih dirumah Om Helmi kan?"
"Iya, aku masih dirumah Om Helmi. Keadaanku juga baik-baik saja. Kamu sendiri apa kabar? Bagaimana pekerjaanmu di Thailand?" Ujar Shreya ragu. Sesekali dia melirik Rahul yang mengerutkan kening melihatnya.
"Alhamdulillah keadaanku juga baik. Pekerjaanku di Thailand juga sudah selesai. Bahkan sekarang aku sudah sampai di Jakarta. Tunggu aku ya. Malam ini aku akan kesana untuk menjemputmu" Jawab Fajar dengan cerianya diseberang sana.
DEG....
Shreya terkejut mendengar ucapan lelaki itu. Dia merasa tubuhnya seketika menjadi lemah. Perasaanya campur aduk antara sedih dan bersalah. Fajar akan kembali malam ini?
Itu artinya, dia harus kembali bersama pria itu? Meninggalkan rumah ini? Kebersamaannya dengan Rahul selama beberapa hari ini pun, pada akhirnya akan berakhir?
__ADS_1
Semua yang terjadi membuatnya tidak tau harus bereaksi seperti apa? Sebagai seorang perempuan dan istri, apakah dirinya setidak tau diri itu? Disaat suaminya sedang bekerja diluar, dia malah bermain api dan bersenang-senang dengan lelaki lain disini?
"Ada apa? Kamu baik-baik saja kan? Siapa yang menelpon?" Rahul menyentuh pundak Shreya. Merasa heran dengan sikap wanita itu yang tiba-tiba terdiam dan terlihat sedih, setelah menerima panggilan suara melalui ponselnya.
Shreya bangkit berdiri. Perlahan-lahan dia memundurkan tubuhnya menjauhi Rahul, yang juga ikut berdiri dan menatapnya dengan heran. Kemudian dia berbalik dan berlari-lari kecil meninggalkan Rahul.
Dengan tubuh yang masih basah akibat curahan hujan, serta air mata yang jatuh berlinang membasahi wajahnya, Shreya terus berlari-lari kecil menghindari Rahul yang berjalan dengan langkah lebar mengejarnya.
Raut wajahnya lelaki itu dipenuhi tanda tanya, akan ketidak mengertiannya terhadap sikap Shreya yang mendadak aneh setelah mengangkat ponsel. Keduanya melewati ruangan demi ruangan. Beberapa kali Shreya menubruk tubuh pelayan dan pengawal yang lewat disetiap ruangan yang dilaluinya.
"Hey, hati-hati!" Rahul yang melihat semua itu hanya bisa berseru memperingatkan. Tingkat kekhawatirannya semakin bertambah. Dia takut perempuan itu akan kehilangan keseimbangan dan ambruk.
Semua pelayan dan pengawal yang lewat hanya memasang tatapan tidak mengerti, apa terjadi dengan kedua majikannya yang menurut mereka sedang kejar-kejaran itu. Tanpa menghiraukan para pekerja yang telah ditabraknya, Shreya terus berlari sampai kepintu keluar.
Dia berhenti saat sudah sampai diujung teras. Dengan air mata yang terus membasahi wajahnya, dia meletakkan tangannya pada tiang penyangga teras. Menjadikan tiang itu sebagai tumpuan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang terasa lelah.
Kemudian dia menelungkupkan kepalanya pada tiang bercat putih itu. Dia tidak tau lagi bagaimana harus bersikap sekarang. Disatu sisi, dia merasa begitu buruk sebagai seorang istri, karena sudah menghianati Fajar. Pria baik dan tulus. Serta seorang suami yang begitu perhatian terhadapnya.
Tapi disisi lain, dia benar-benar tidak bisa menyingkirkan perasaannya terhadap Rahul. Dia selalu merasa senang dan nyaman berada didekat lelaki itu. Hanya Rahul yang mampu membuatnya bergairah dan tertawa lepas.
Dia tidak ingin meninggalkan pria itu. Dia ingin selalu berada disisi lelaki itu. Dia tau apa yang dirasakannya itu salah. Tapi dia bisa apa? Dia merasa pria itu sudah menjadi pemilik hatinya. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Ditengah-tengah kebimbangan hatinya, sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang. Dengan cepat dia berbalik dan memeluk tubuh milik seorang pria itu, tanpa melihat dulu siapa pemilik tubuh kekar itu.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Hiks" Lirih Shreya disela-sela isak tangisnya. Pikirannya yang sedang kacau dan tidak jernih membuatnya tidak bisa fokus. Sehingga dia mengira bahwa yang sedang dipeluknya saat ini adalah Rahul.
"Iya, aku juga mencintaimu" Jawab lelaki itu dengan lembut dan ceria sembari membalas pelukannya.
Shreya terkesiap mendengar suara yang terasa tidak asing ditelinganya. Namun dia yakin itu bukan suara Rahul. Lalu, siapa yang sedang dipeluknya saat ini? Shreya melonggarkan pelukannya, lalu dia menoleh.
DEG....
Dia terkejut melihat Rahul sedang berdiri tepat didepan pintu. Memandanginya yang sedang berpelukan dengan lelaki itu. Matanya tampak memerah dan membulat, seperti sedang menahan amarah.
__ADS_1