
Hari-hari selanjutnya mereka jalani dengan saling memendam kerinduan yang membumbung dihati masing-masing. Meski keduanya sudah sama-sama memutuskan untuk saling melupakan dan fokus pada pasangan masing-masing, namun ternyata untuk mempraktekkan tidak semudah membayangkannya.
Setiap kali waktu makan tiba, Shreya hanya duduk didepan meja makan dan menghabiskan sedikit makanan dan selalu memasang raut wajah muram. Fajar selalu menawarkannya untuk menambah, namun dia selalu menolak. karena sejak kembali ke Magelang, selera makannya semakin lama semakin berkurang.
Begitupun dengan moodnya. Fajar selalu mencoba mengajaknya bicara. Membahas tentang berbagai hal, termasuk soal tumbuh kembang sikecil yang masih dalam kandungan. Namun Shreya hanya menanggapi ala kadarnya dengan kaku.
Setiap kali selesai makan, dia langsung pamit kekamarnya, tanpa menghiraukan siapapun. Biasanya dia akan menghabiskan waktu untuk menyendiri dan melamun selama berjam-jam didalam kamar, balkon, taman, kolam renang dan lainnya.
Bu Zaitun dan para pelayan lainnya mencoba sebisa mungkin untuk menghibur wanita itu, dengan membuatkan makanan yang sehat dan enak-enak. Karena mereka semua merasa cemas dengan kondisi Nyonya muda mereka, yang semakin hari nafsu makannya semakin berkurang. Sehingga tubuhnya semakin mengurus. Hanya bagian perutnya saja yang masih tampak membesar.
Namun usaha mereka seakan percuma. Karena semua makanan itu terasa hambar dimulut Shreya. Hingga dia sering merasa mual dan membuat semua orang semakin cemas.
Fajar pun tidak patah arang. Dia berusaha keras untuk mendekati dan mengambil hati wanita itu. Dengan membelikannya makanan yang enak-enak diluar, menawarkan untuk menyuapinya makan, minum vitamin, mengajaknya jalan-jalan ke mall. Membelikannya barang-barang branded seperti pakaian, baju, tas, sepatu, aksesoris dan perhiasan.
Namun tidak ada satupun dari barang-barang mewah itu yang berhasil membuatnya merasa senang. Satu-satunya barang yang paling berkesan baginya hanyalah, bola kristal yang didalamnya berisi sepasang miniatur boneka pemberian Rahul saat dikota tua tempo hari.
Dia selalu memandangi benda yang dia letakkan diatas nakas disamping tempat tidurnya itu, sembari menahan rindu yang amat dalam pada pemberi bola kristal itu.
Fajar juga sering mengajaknya ketaman bermain, kepesta rekan atau relasinya. Dengan bangganya Fajar memperkenalkan wanita cantik itu sebagai istrinya.
Untungnya saat dia menikah dengan Shreya yang asli di Delhi, pernikahan itu tidak digelar secara besar-besaran. Lantaran mereka tidak mengantongi restu dari orang tua wanita itu. Banyak dari teman maupun relasinya yang tidak hadir.
Jadi sekarang tidak ada dari mereka yang tau ataupun curiga, bahwa wanita yang bersamanya itu bukanlah istrinya yang sesungguhnya.
Sementara Shreya tetap merasa hidupnya hampa. Tidak ada satupun dari tindakan Fajar yang penuh perhatian terhadapnya, mampu membuatnya merasa senang ataupun tersanjung. Yang ada dipikirannya hanya Rahul.
Dimana pun dan apapun yang dilakukannya, bayangan akan lelaki itu selalu hadir. Yang membuatnya selalu teringat saat lelaki itu menyuapinya makan, menggendongnya, membawanya ketempat wisata, membuat dan membelikan makanan apa saja yang diinginkannya.
Setiap kali dia menyisir rambut panjangnya, dia selalu teringat saat Rahul mengikat rambutnya dengan hati-hati saat didapur waktu itu.
Hingga tibalah jadwal pemeriksaan kandungan. Fajar dengan setia menemani dan membawanya ke dokter obgyn. Pria itu tampak begitu sumringah saat melihat bayi kecil yang tampak bergerak-gerak dengan lincahnya dilayar monitor. Hingga dia lupa bahwa janin itu bukanlah benihnya.
Tanpa terasa usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke 25. Sehingga Shreya bisa merasakan gerakan bayi yang sudah sangat aktif melalui perutnya.
Melihat Fajar dan dokter yang tersenyum antusias membahas perkembangan janin dalam kandungannya, Shreya hanya bisa tersenyum terpaksa sembari menatap layar monitor.
__ADS_1
Bukannya dia tidak bahagia melihat perkembangan putra kecil yang sedang tumbuh dirahimnya, tapi dia kembali teringat saat melakukan USG di Jakarta. Saat itu usia kehamilannya masih pada minggu ke 22. Dia merasa sangat bahagia didampingi oleh Rahul. Melihat senyum antusias diwajah pria itu saat melihat bayinya melalui layar monitor.
Padahal dia hanya baru sekali saja periksa kandungan dengan ditemani oleh lelaki itu. Dan mereka juga baru beberapa hari menghabiskan waktu bersama.
Tapi kenapa setiap kenangan yang dia lewati bersama lelaki itu, begitu sukar untuk dilupakan. Seakan dia sudah memiliki ikatan yang kuat dengan lelaki itu. Hingga sangat sulit baginya untuk bisa melepaskan hatinya dari ikatan itu.
Sepulang dari rumah sakit, lagi-lagi dia harus kembali melihat pemandangan yang mengingatkannya pada kenangan bersama Rahul. Yaitu deretan gerobak pedagang kaki lima dipinggir jalan yang dilihatnya melalui kaca jendela mobil. Shreya tercengang melihat gerobak yang menjual beragam jenis makanan itu.
Teringat bagaimana dia dengan antusiasnya melahap makanan yang dijual oleh pedagang gerobak seperti itu. Disertai tatapan dan senyum lucu dari Rahul yang membuatnya semakin antusias.
Huh! Kenapa semua hal yang dilaluinya selalu mengingatkannya pada Rahul? Apa istimewanya lelaki itu? Memang dia tampan Tapi lelaki tampan didunia ini bukan hanya dia saja kan? Suaminya Fajar juga tampan.
Tapi kenapa hanya keberadaan lelaki itu terasa begitu melekat dihatinya. Sampai kapan dia akan seperti ini terus?
"Kamu ingin makan disini?" Suara Fajar membuyarkan lamunan Shreya dan membuatnya terlonjak.
"Mmm, ti-tidak. Aku tidak ingin makan disini kok"
"Lalu kenapa dari tadi kamu melihat pedagang gerobak itu terus? Aku pikir kamu lapar dan ingin makan"
"Kamu yakin, tidak ingin makan?"
"Iya aku yakin. Ayo kita pulang saja. Aku capek sekali"
"Baiklah kalau kamu tidak lapar"
********
"Nyonya, ini kami buatkan salad sayur dan jus jeruk untukmu. Kata Tuan, sayur-sayuran baik untuk pertumbuhan sikecil" Bu Zaitun dan kedua bawahannya menghidangkan salad sayur dan jus jeruk diatas meja dihadapan Shreya.
Shreya menatap makanan dan minuman yang tersuguh dihadapannya dengan hampa. Seketika dia kembali teringat saat Rahul membuatkannya salad buah dan jus strawberry, serta menyuapinya dengan telaten.
"Tapi, aku tidak ingin jus jeruk dan salad sayur" Tolak Shreya lirih.
"Lalu Nyonya ingin makan apa? Katakan saja, biar kami yang buatkan" Tanya Bu Zaitun dengan lembut dan sopan.
__ADS_1
"Aku ingin salad buah dan jus strawberry"
"Baik kalau begitu, Nyonya tunggu disini ya. Biar kami buatkan dulu" Bu Zaitun merasa senang akhirnya wanita itu ingin makan sesuatu.
"Iya"
Bu Zaitun memberi isyarat pada Rita dan Fina agar membawa kembali makanan itu. Sesuai perintah, kedua ART muda itu mengambil dan membawa nampan berisi piring salad dan gelas jus itu. Lalu membawanya kedapur.
Sekitar lima menit kemudian, mereka kembali kebalkon dengan membawa makanan yang diinginkan Shreya. Mereka langsung meletakkannya dimeja didepan wanita itu.
"Nyonya, ini salad buah dan jus strawberrynya. Silahkan dimakan Nyonya" Bu Zaitun mempersilahkan.
"Iya terima kasih" Shreya menyendokkan salad itu dan memasukkannya kedalam mulutnya. Namun makanan itu malah membuat perutnya bergejolak, hingga dia langsung berlari ketoilet.
"Ya Tuhan, Nyonya!" Dengan raut wajah khawatir, Bu Zaitun ikut berlari ketoilet menyusul nyonya mudanya.
"Uek.... Uek.... Uek...." Ditoilet Shreya memuntahkan isi perutnya.
"Nyonya, anda baik-baik saja? Apa perlu saya hubungi Tuan untuk mengantar Nyonya kerumah sakit?" Bu Zaitun datang memijat-mijat tengkuknya. Berharap tindakannya akan membuat keadaan perempuan itu menjadi membaik.
Rita dan Fina pun ikut membantu sebisanya dengan raut wajah yang sama-sama menunjukkan kekhawatiran.
"Ti-tidak usah. Dia pasti sedang sibuk sekarang. Ibu tidak usah mengganggunya Tolak Shreya usai berkumur-kumur dengan air dan meludahnya.
"Tidak apa-apa Nyonya. Tuan pasti tidak masalah dihubungi kalau menyangkut masalah Nyonya. Beliau sendiri yang berpesan seperti itu. Saya juga khawatir dengan kondisi janin dalam kandungan Nyonya, kalau melihat Nyonya seperti ini" Timpal Rita dengan resah.
"Iya Nyonya, Rita benar. Saya hubungi Tuan saja ya?" Bu Zaitun menyetujui pendapat Rita dengan ekspresi yang juga menunjukkan kecemasan.
"Tidak perlu Bu. Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya butuh istirahat yang cukup. Nanti aku juga akan minum vitamin agar janinku kuat. Ibu tidak perlu khawatir. Kami baik-baik saja kok" Shreya tetap ngeyel.
Bu Zaitun menghela nafas. "Ya sudah kalau itu maunya Nyonya. Ayo sekarang saya temani kekamar. Tapi nanti kalau ada apa-apa, tolong beritau saya ya. Biar saya hubungi Tuan"
"Iya" Shreya mengangguk.
Karena Shreya terus menolak, ketiga pelayan itu pun akhirnya mengalah. Mereka hanya membantu memapah Shreya hingga perempuan itu berbaring diranjang yang empuk.
__ADS_1