Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 102- Rasa Yang Sama


__ADS_3

Mereka berdua meninggalkan pabrik tatkala hari sudah gelap. Disepanjang perjalanan dalam mobil Zahra terus menguap. Nampaknya wanita itu sudah kelelahan dan mengantuk.


"Mengantuk?" Rahul bertanya sembari mengemudikan mobilnya.


"Iya" Jawab Zahra dengan lesunya dan mata yang sudah mulai berat.


"Ya sudah, kita pulang sekarang. Lagipula ini juga sudah malam. Kamu juga harus beristirahat kan?"


"Tapi aku juga lapar. Sepertinya aku tidak akan kuat menahan lapar hingga kita sampai rumah. Karena pasti jaraknya masih jauh kan?" Keluh Zahra sembari memegang perut besarnya.


"Ya sudah kalau begitu. Kita mampir dulu


ke Caffe untuk makan. Habis itu baru kita pulang. Oke?" Tawar Rahul yang langsung dijawab dengan anggukan kepala antusias Zahra.


********


Setelah beberapa menit berkendara, mereka akhirnya keluar dari area pedesaan dan memasuki area perkotaan. Rahul mengajak Zahra kesebuah Caffe elite yang berada dilantai teratas alias rooftop. Dibawah cahaya rembulan serta taburan bintang dilangit angkasa. Atmosfer syahdu dan cozy sangat kentara.


Rahul mengatur dan memesan setiap menu makanan untuk Zahra. Dia sangat mewanti-wanti agar dalam setiap makanan itu tidak mengandung bahan kacang-kacangan. Karena dia tau betul jika istrinya alergi terhadap kacang almond. Dan dia tidak ingin insiden dimana Zahra sampai masuk rumah sakit terulang kembali untuk ketiga kalinya.


Sementara Zahra hanya duduk diam dan pasrah dengan tindakan Rahul yang memperlakukan seperti anak kecil, yang segala sesuatunya harus diatur dengan cermat. Entah mengapa dia merasa sangat menyukai dan tersanjung dengan sikap over protective lelaki itu terhadapnya. Dia merasa sangat dicintai dan diperlukan layaknya seorang putri oleh pria tercintanya.


Rahul memesan banyak sekali makanan, lantaran dia sudah hafal nafsu makan istrinya yang tidak bisa terkontrol. Dan perkiraannya pun tidak pernah meleset. Seperti biasa, Zahra melahap semua menu makanan yang terhidang didepannya.


"Pelan-pelan makannya" Sekalipun Rahul sudah berkali-kali memperingatkan, namun Zahra tidak mengindahkan. Dia tetap mengunyah makanan itu seperti orang yang sudah tidak melihat makanan selama berhari-hari.

__ADS_1


Rahul mengambil tissue dimeja dan menyeka mulut Zahra yang belepotan dengan sisa makanan yang sedang dikunyahnya. Makanan yang sedang disantapnya tidak lagi membuatnya berselera melihat tingkah laku istrinya.


Bukan lantaran merasa ilfil, namun karena dia sangat menikmati pemandangan yang ada didepannya. Sikap konyol istrinya yang selalu menghiburnya, mampu membuatnya lupa pada hal lain.


"Sudah kenyang? Atau masih mau tambah lagi?" Tanya Rahul saat semua menu makanan yang ada didalam piring putih diatas meja dihadapannya habis tak bersisa.


"Tidak usah, aku sudah kenyang. Kita pulang saja sekarang" Tolak Zahra yang tampak sudah sangat kekenyangan.


"Kok buru-buru sekali?"


"Buru-buru apanya? Kita sudah keluar seharian. Lagipula ini kan sudah malam. Sesuai dengan yang kita bicarakan sebelumnya, sehabis makan kita langsung pulang" Celoteh Zahra.


"Tapi tidak bisa kah kita menikmati suasana disini sebentar lagi? Ayo sini" Rahul menarik tangan Zahra beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing.


Zahra hanya pasrah mengikuti langkah kaki Rahul yang sedang menarik tangannya dengan pelan. Rahul mengajak Zahra ketempat yang agak jauh dari keramaian para pengunjung lain. Yaitu kedekat tembok pembatas rooftop.


Tengah asik menikmati keindahan penjuru kota, Zahra dikejutkan oleh pemandangan lainnya yang terdengar dan muncul secara tiba-tiba. Yaitu pemandangan kembang api yang menyala-nyala dengan indahnya, diiringi dengan suara gemuruhnya yang bersahut-sahutan dilangit yang gelap.


Zahra tersenyum terkagum-kagum menyaksikan fenomena yang ada didepan matanya. Hingga akhirnya perlahan-lahan suara gemuruh serta ledakan kembang api itu berhenti, dengan menyisakan tulisan yang berbentuk I love you yang terukir dengan indah dan menyala bagaikan lampu diatas langit sana.


Zahra menatap Rahul yang tersenyum dengan cerahnya. Seakan-akan sedang menunggu tanggapan darinya. Seketika Zahra menjadi terpana. Dia kembali menengadah kelangit tinggi. Menatap kembang api itu dengan tatapan sendu.


"Kok kamu diam saja? Dan kenapa wajahmu tiba-tiba jadi terlihat sedih seperti itu? Kamu tidak menyukainya?" Tanya Rahul dengan bingung. Gestur tubuh istrinya yang tampak sedih membuat hatinya terasa mencelos.


Padahal dia sudah merencanakan kejutan yang sedemikian rupa untuk istrinya. Dia berpikir bahkan sudah membayangkan, jika wanita itu akan terkesima dan mengagumi kejutan yang diberikannya. Namun nampaknya pikirannya meleset. Apa ada yang salah dengan caranya?

__ADS_1


"Apakah menurutmu, yang kita lakukan ini pantas? Apa kamu tidak merasa, jika ini sudah melewati batas? Apakah, kita tidak terlalu jauh bermain api dibelakang Fajar dan Zahra? Apakah kita tidak berdosa dengan semua ini?" Zahra berkata dengan sendu.


Membuat Rahul menghela nafas panjang. Lagi-lagi itu masalahnya yang membuat Zahra kurang nyaman bersamanya. Dia pikir bahwa hari ini akan menjadi hari yang penuh cinta antara dia dan istrinya.


Namun dia lupa, selama ingatan Zahra belum kembali, maka kebersamaan mereka akan selalu terusik dengan status palsu istrinya itu dengan lelaki lain. Rahul menggenggam jari jemari tangan Zahra dengan lembut, kemudian mengecupnya dengan mesra.


"Tidak bisakah hari ini menjadi hari kita berdua saja? Tanpa melibatkan satu pun orang lain didalamnya? Tidak bisakah sejenak saja, kita saling menikmati kebersamaan dan kebahagiaan yang membuncah ini? Saling menyalurkan perasaan satu sama lain?"


Ujar Rahul lirih dengan tatapan sendu dan penuh permohonan serta pengharapan. Tatapan yang seakan menembus jantung Zahra. Membuat Zahra terhanyut dan tidak berdaya untuk menolak.


Rahul mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra. Hingga bibirnya berlabuh pada kening Zahra. Tak cukup dibagian kening, Rahul beralih pada bibir mungil Zahra. Menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu selama beberapa saat. Merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak dia rasakan.


Zahra masih berdiri mematung. Dia masih bingung harus berbuat apa. Kecupan Rahul terasa sangat nikmat. Hatinya terlalu berat untuk menolak. Rahul merangkum wajah Zahra. Membuat wanita itu kembali menatapnya.


"Tidak bisakah sehari saja, kita menganggap dunia ini hanya milik kita berdua saja? Dan tidak ada siapapun, selain kita? Tidak bisakah kita melupakan mereka sejenak saja? Hari ini aku hanya ingin bersamamu, dan hanya memikirkanmu saja" Rahul menjelajahi leher Zahra. Kemudian mengecup tengkuknya.


Sentuhan bibir lelaki itu bagaikan sihir bagi Zahra, yang tanpa sadar mengangkat kedua tangannya dan membelai pipi Rahul. Kemudian mencium bibir lelaki itu dengan lembut.


Mereka saling mengecup dan ******* bibir satu sama lain. Lidah keduanya saling bertaut.


Rahul masih sangat hafal rasa bibir ini. Ini adalah rasa yang sama yang sudah membuatnya kecanduan dan ketagihan saat dia merasakannya dalam keadaan buta dulu. Hatinya terasa melambung tinggi karena akhirnya malam ini dia bisa kembali merasakan kenikmatan yang berasal dari bibir istrinya itu.


Sementara Zahra hanya bisa mengikuti perasaannya dengan bingung. Menikmati setiap sentuhan, belaian dan kecupan bibir yang terasa tidak asing baginya. Hatinya berkata dia sudah pernah merasakan bibir dan lidah ini. Namun dia begitu sulit untuk mengingatnya.


Terlalu larut dalam gairah yang menggelora, membuat keduanya terbuai hingga melupakan sekitar mereka. Jika saat ini mereka

__ADS_1


sedang berada ditempat umum, sekalipun posisi mereka agak jauh dari keramaian.


Mereka bahkan tidak sadar, jika ada sosok yang sedang mengawasi aktivitas keduanya dan mengabadikannya melalui ponselnya.


__ADS_2