Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 39- Kesedihan Rahul


__ADS_3

"Hentikan Vera. Kamu lupa? dia sedang hamil. Bagaimana mungkin aku bisa menikahi istri orang?" Tegur Fajar dengan tatapan tajam, merasa jengkel dengan ulah asistennya itu.


"Tapikan kita tidak tau Dok, apakah suaminya masih hidup atau tidak. Kita juga tidak tau seperti apa kisah hidupnya. Tidak semua wanita hamil memiliki suami"


"Maksudmu, dia hamil diluar nikah?"


"Tidak menutup kemungkinan kan?"


"Jangan bicara sembarangan, karena kita tidak tau seperti apa kisah hidupnya. Bagaimana jika dia sampai mendengar tuduhanmu itu? Hamil diluar nikah adalah mimpi terburuk setiap wanita"


"Iya Dok baiklah, lupakan saja. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar bisa meyakinkan dia, jika Dokter adalah suaminya saat dia sadar nanti"


"Jangan khawatir, aku tau apa yang harus aku lakukan"


*******


Prosesi pemakaman Bu Sakinah dimulai dikediaman Dirgantara. Mulai dari dimandikan hingga dikafani, serta disholatkannya jenazah yang sudah terbujur kaku dengan Rahul sebagai imamnya.


Hingga tibalah pada tahap jenazah dimasukkan keliang lahat. Rahul bersama Gala serta beberapa petugas lelaki lainnya ikut turun kedalam liang lahat yang telah dipersiapkan sebagai tempat peristirahatan terakhir Bu Sakinah.


Dengan perasaan sedih dan hancur, Rahul hanya bisa berharap agar ibu mertuanya bisa tenang dan bahagia dialam sana. Hanya itu yang bisa dia lakukan terhadap wanita yang telah melahirkan wanita yang sangat dicintainya.


Selain anggota keluarga, prosesi pemakaman itu juga dihadiri oleh puluhan pelayat yang berasal dari kalangan pengusaha, pejabat hingga konglomerat yang memiliki hubungan relasi yang cukup baik dengan Dirgantara Group, yang datang untuk memberikan ucapan turut berbelasungkawa atas musibah yang sedang mereka alami.


*******


"Hello, good morning. Apa kabar? Apa tidurmu nyenyak?" Fajar menyapa Zahra yang masih tertidur tak sadarkan diri dengan suara ramah dan terdengar bersahabat. Dia duduk diatas kursi disamping ranjang wanita itu.


Dia memindai setiap sisi wajah wanita itu. Wajah yang cantik, imut dan manis. Dihiasi dengan hidung kecil dan bibir mungil yang terlihat pucat dibalik masker oksigen yang dikenakannya. Mata dengan bulu yang lentik serta belahan didagunya. Rambut panjang bergelombang, serta kulitnya yang putih bersih.


"Kalau diperhatikan, ternyata wajahmu cantik juga. Betapa beruntungnya pria yang telah berhasil mempersuntingmu, hingga menanam benihnya dirahimmu. Apa kamu sangat mencintai pria itu?" Raut wajah Fajar yang sebelumnya tampak ceria seketika berubah muram.


"Sebuah ikatan cinta memang tidak mudah untuk dilepaskan. Dan aku sangat tau seperti apa rasanya, karena aku pernah mengalaminya"


Fajar memegang tangan lembut Zahra. Ada sebuah cincin emas yang melingkar dijari manis wanita itu. Fajar melepas cincin dari jari manis wanita itu dengan perlahan-lahan. Dia memindai dua huruf besar yang tertera dibalik cincin itu.

__ADS_1


"R Z?" Fajar kembali menatap Zahra yang sama sekali tidak meresponnya. "Apakah ini inisial namamu dan suamimu? Aku tidak tau siapa namamu aslimu. Entah apa kepanjangan dari dari kedua huruf ini, tapi maaf ya, untuk sementara waktu, kamu tidak bisa menggunakan cincin ini. Tapi percayalah, semua ini kami lakukan demi kesehatanmu dan bayimu"


Fajar memasukkan cincin itu kedalam saku jasnya dan mengeluarkan cincin emas lain. Dia menatap cincin itu dengan perasaan pilu.


Itu adalah cincin pernikahan milik mendiang istrinya. Dia tidak pernah menyangka, jika cincin yang menyimpan banyak kenangan akan istrinya harus dia gunakan untuk kepentingan pasiennya.


Fajar memakaikan cincin itu kejari manis Zahra dengan perlahan-lahan. Betapa terkejutnya lelaki itu saat melihat cincin emas itu sangat pas dijari manis wanita itu. Tidak kendor atau sempit sedikitpun.


Dia jadi berpikir, apakah wanita malang ini memang dikirim Tuhan untuk menggantikan istrinya yang telah tiada?


Vera bilang, kemungkinan besar suami wanita ini juga menjadi korban dalam tragedi banjir itu. Mungkin pria itu juga sudah tewas.


Dia kehilangan istrinya saat melahirkan anaknya. Pendarahan hebat yang dialami oleh wanita yang dia nikahi setahun yang lalu, membuat nyawa keduanya tidak dapat diselamatkan.


Dan sekarang, dia dipertemukan dengan seorang wanita hamil, yang suaminya entah dimana. Dan dia harus bersandiwara sebagai suami dari wanita ini demi menyelamatkan hidupnya? Entah ini hanya kebetulan atau....?


Ah sudahlah, dia tidak ingin berpikir terlalu jauh.


Mata Fajar kini beralih pada kalung emas dengan bandul huruf yang teruntai indah dileher wanita itu. Dia memegang bandul kalung dengan huruf SABEL itu.


*******


Rahul sedang berdiri termangu dibalkon kamarnya. Dia menatap cincin pernikahan yang melingkar dijari manisnya. Momen saat dia mengucapkan ijab Kabul untuk menjadikan Zahra sebagai istrinya kembali terngiang dibenaknya.


Masa-masa bahagia penuh canda tawa yang mereka lalui bersama, sikap bar-bar dan lucu wanita itu yang selalu mampu mencairkan suasana hatinya, membuatnya sangat amat merindukan saat-saat itu.


Andai waktu bisa diulang kembali, maka dia akan langsung menghentikannya saat itu juga.


Mengapa semua ini harus terjadi saat dia sudah bisa melihat lagi? Tadinya dia pikir akan melanjutkan kehidupan bahagianya bersama istri tercintanya. Menemani Zahra melewati masa-masa kehamilannya, menunggu kelahiran calon buah hati mereka, merawat dan membesarkannya bersama-sama.


Tapi sekarang dia tidak tau apakah impian itu akan menjadi kenyataan atau tidak, saat dia bahkan tidak tau dimana keberadaan istrinya sendiri.


Apakah ini hukuman untuknya, karena bertahun-tahun dia hidup sebagai manusia yang tidak bersyukur dengan kehidupan yang dimilikinya? Terus-terusan menyalahkan Tuhan karena telah merenggut penglihatannya?


Dia akui, dulu memang dia sangat membenci takdirnya yang harus hidup sebagai lelaki buta yang tidak berguna dan dipandang rendah oleh dunia. Hingga dia selalu memikirkan cara untuk mengakhiri hidupnya.

__ADS_1


Tapi itu dulu, sebelum dia bertemu dengan Zahra. Setelah wanita itu hadir dalam hidupnya, perlahan-lahan dia sudah bisa mengerti akan artinya bersyukur. Bahkan dia sudah sangat ikhlas jika harus menghabiskan sisa hidupnya sebagai pria buta. Lalu apalagi salahnya?


Apakah sekarang dia juga harus ikhlas, saat dipisahkan dari istrinya? Tidak!! Dia tidak akan pernah ikhlas melepas istrinya! Itu sangat tidak adil untuknya!!


Saat pikirannya sedang asik berkelana memikirkan Zahra, tiba-tiba dia merasakan ada sepasang telapak tangan lembut yang menutupi matanya dari belakang.


Rahul yang masih belum fokus pada dunia nyata hanya menikmati perlakuan itu, tanpa memikirkan siapa pemilik tangan lembut itu. Pikirannya yang sedang melayang entah kemana tampaknya membuatnya berpikir, jika saat ini dia sedang bersama Zahra.


"I love you. I love you Belle ku" Ucap Rahul seraya tersenyum hangat.


"I love you to my baby honey" Jawab sipemilik tangan dengan cerianya.


Rahul terkejut mendengar suara yang sangat familiar baginya. Dia langsung menyingkirkan tangannya itu dari matanya dan berbalik. Moodnya yang sedang buruk membuatnya mendelik tajam melihat wanita itu.


"Kamu? Sedang apa kamu disini?" Hardik Rahul dengan nada tinggi.


"Aku hanya ingin membawakan makan siang untukmu. Sejak kamu kembali lagi kesini, aku tidak melihatmu makan apapun. Lihat, aku membawakan makanan kesukaanmu. Ada sandwich buah, ayam tandoori, pasta dan minuman favoritmu, jus strawberry. Aku masih ingat dulu kamu sangat menyukai makanan ini. Apalagi jika aku yang membawakannya, kamu selalu antusias untuk menyantapnya. Iya kan? Kamu pasti masih ingat kan?"


Amora berkata dengan manis dan mesranya sembari menunjuk makanan dalam nampan diatas meja.


"Aku tidak ada waktu untuk mengingat masa laluku denganmu. Tapi tiga hal yang ingin aku ingatkan padamu. Yang pertama, tidak perlu bersikap sok perhatian terhadapku, karena aku bisa mengurus diriku sendiri. Yang kedua, aku bukan anak kecil. Jika aku lapar, aku bisa mengambilnya sendiri didapur, atau memanggil pelayan untuk membawakan makanan kesini.


Yang ketiga, tolong jaga sikapmu. Aku tidak suka dengan caramu yang seenaknya masuk kedalam kamarku bahkan sampai menyentuhku seperti tadi"


Kata Rahul dengan suara rendah, berusaha mempertahankan kesabarannya menghadapi sikap lancang wanita yang berstatus sebagai kakak iparnya itu.


"Kamu kenapa marah sih? Kan dari dulu juga aku sudah terbiasa melakukan hal seperti tadi. Bahkan lebih dari itu" Amora memegang pergelangan tangan Rahul dan berbicara dengan raut wajah sedih, berusaha menarik simpati lelaki itu.


Rahul langsung menarik tangannya dari genggaman wanita itu dengan tatapan tajam.


"Itu dulu bukan sekarang. Ada perbedaan antara dulu dengan sekarang. Dulu kita masih sama-sama berstatus singel. Belum terikat dengan janji suci pernikahan. Beda dengan sekarang. Kita sama-sama sudah memiliki pasangan masing-masing yang berasal dari sebuah hubungan yang sakral. Jadi tolong jaga batasanmu. Tidak pantas seorang istri masuk kekamar pria yang berstatus sebagai adik iparnya, apalagi jika hanya ada mereka berdua dikamar itu.


"Coba kamu bayangkan, seandainya Kak Gala melihat ini, apa yang akan dia pikirkan? Tolong jangan membuat hidupku dalam masalah lagi untuk kedua kalinya Amora. Karena saat ini beban pikiranku sudah sangat banyak" Ujar Rahul dengan berkobar-kobar. Kelakuan wanita itu benar-benar membuatnya muak.


"Kamu kenapa bersikap ketus seperti itu sih terhadapku? Kamu masih marah dan sakit hati dengan apa dengan aku lakukan dulu? Aku akui aku memang salah. Tidak seharusnya aku bersikap tidak adil padamu, setelah kamu berkorban menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Aku melakukannya karena desakan dari Mama yang terus menekanku untuk meninggalkanmu"

__ADS_1


__ADS_2