
Satu minggu pun telah berlalu, hingga akhirnya dengan berat hati, keduanya harus kembali ketanah air. Kendati demikian, rumah tangga mereka yang masih seumur jagung tetap dipenuhi dengan kemesraan, cinta dan kebahagiaan.
Meski terkadang keduanya kerap kali disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Seperti Zahra yang harus kembali menekuni profesinya sebagai perawat yang setiap saat selalu disibukkan dengan pasien yang berbeda-beda.
Begitupun dengan Rahul yang harus kembali berkutat dengan alat dan bahan pembuatan gitar, yang ada ditempatnya bekerja. Namun keduanya tetap mampu membagi waktu, antara pekerjaan dan rumah tangga.
Tak jarang Rahul menemani istrinya saat bertugas dirumah sakit. Bermain dan bercengkrama ria dengan pasien-pasien kecil istrinya ditaman belakang.
Begitupun dengan Zahra yang seringkali menemani Rahul bekerja dipabrik. Bahkan terkadang dia merasa penasaran dan tertarik dengan pekerjaan yang ditekuni oleh suaminya. Hingga dia sering merengek minta agar dilibatkan dalam pekerjaan pria itu. Mulai dari pembuatan body gitar, hingga finishing akhir.
Hingga terkadang tanpa sadar, mereka suka membuat yang lain merasa risih dengan kemesraan mereka yang tidak tahu tempat. Bahkan tak jarang tingkah mereka ditegur Pak Mahdi, yang merasa jengkel melihat mereka bercumbu disela-sela pekerjaan. Namun mereka tak pernah ambil pusing, dan menganggap teguran itu hanya sebagai lelucon saja.
Setiap malam tiba, Rahul
selalu meminta jatah batinnya dari Zahra yang tidak pernah bisa menolak kewajibannya sebagai istri. Tanpa terasa pernikahan yang dipenuhi dengan kemesraan, keharmonisan, cinta dan kebahagiaan itu sudah menginjak usia satu bulan.
"Sudah sampai?" Tanya Rahul saat mereka sudah sampai didepan rumah sakit tempat Zahra bekerja selama ini.
"He em"
"Ya sudah, selamat bekerja ya" Rahul memutar wajahnya kesamping. Memberi kode pada Zahra agar mencium pipinya.
"Jangan mulai lagi. Banyak orang disini" Zahra menepis pipi Rahul yang menghadap wajahnya seraya menatap kesekeliling. Pada orang-orang yang berlalu lalang keluar masuk rumah sakit itu.
"Memangnya kenapa? Aku hanya meminta jatah pagiku"
"Tiap malam selalu aku berikan, tapi kau tidak pernah merasa puas?"
"Belle ku sayang, aku tidak akan pernah merasa puas dengan belaianmu"
"Dasar mesum. Sudah, tidak usah banyak cerita. Sekarang ikut saja aku kedalam" Zahra menarik tangan Rahul.
"Aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku harus kepabrik sekarang. Besok saja ya"
"Tidak bisa, kamu harus ikut aku sekarang. Aku ada kejutan untukmu didalam"
"Kejutan? Kejutan apa?"
"Yang namanya kejutan, kalau diberi tahu, namanya bukan kejutan lagi satyaku sayang. Sudah, jangan banyak tanya. Ayo ikut aku" Zahra kembali menarik tangan suaminya untuk memasuki gedung rumah sakit itu.
"Mmm, baiklah" Rahul hanya bisa menurut mengikuti langkah kaki istrinya.
*******
__ADS_1
"Masuk"
Mendengar ada perintah dari dalam untuk masuk, Zahra langsung membuka pintu ruangan itu dengan perlahan.
"Selamat pagi Dok" Sapa Zahra yang berdiri diambang pintu.
"Pagi, eh, Suster Zahra. Silahkan masuk" Dokter berusia sekitar 30 tahunan itu bangkit dari kursi, dan membalas sapaan Zahra dengan senyum ramah.
Zahra berjalan sembari mengapit lengan Rahul dan membimbingnya untuk mendekati dokter muda itu.
"Dok. Kenalkan ini suami saya, namanya Rahul" Zahra menunjuk Rahul. "Satya, kenalkan ini Dokter Hadi"
"Saya Hadi. Senang berkenalan dengan anda" Dokter Hadi mengulurkan tangannya pada Rahul dengan senyum ramah yang masih terus mengembang diwajahnya.
"Saya Rahul" Rahul membalas uluran tangan dokter muda itu. Namun keterbatasan penglihatannya membuat Rahul malah mengulurkan tangannya kearah yang berlawanan. Zahra langsung memegang tangan Rahul dan membantunya menjabat tangan dokter Hadi.
"Mmm, maaf Dok" Ujar Zahra.
"Its oke. Silahkan duduk" Jawab dokter Hadi. Rahul dan Zahra pun menurut, mereka duduk di kursi yang ditunjuk didepan dokter itu.
"Oh ya, by the way, sudah berapa lama kalian menikah?" Tanya dokter Hadi basa-basi.
"Mmm... Usia pernikahan kami sudah sekitar satu bulan" Jawab Rahul.
"Wah. Masih bisa dibilang pengantin baru ya?"
"Oh ya Pak Rahul. Mungkin anda sudah tahu, jika istri anda ini adalah salah satu perawat yang cukup mumpuni disini"
"Tentu saja aku tahu. Karena istriku ini adalah wanita yang sempurna" Rahul mengelus rambut Zahra dengan lembut.
"Tapi Dok, aku keberatan jika ada yang memuji atau mengagumi istriku. Hanya aku yang melakukan itu. Karena dia hanya milikku" Rahul berkata dengan suara ramah, namun menyelipkan nada ketidak sukaannya terhadap pujian yang barusan dilontarkan dokter Hadi terhadap istrinya. Lalu dia mencium bibir Zahra, seolah menunjukkan bahwa wanita itu adalah miliknya.
"Ih.... Jangan membuatku malu dengan sikapmu" Zahra mendorong bibir Rahul yang sedang asik menciumnya. Rasanya sangat memalukan melakukan hal seperti itu didepan umum.
"Kenapa harus malu sih Belle? Kan kita pasangan suami istri. Jadi terserah kita mau apa. Bukan urusan orang lain" Jawab Rahul dengan santainya.
"Ehem" Dokter Hadi berdehem. "Mmm, maaf Pak Rahul. Saya tidak ada maksud apa-apa kok dengan ucapan saya barusan. Jadi tolong jangan dimasukkan kehati. Baiklah, lupakan saja Soal yang tadi. Kalau boleh tahu, sudah berapa lama anda mengalami kebutaan ini?" Dia akhirnya mengalihkan topik pembicaraan.
"Maaf. Kalau boleh tahu, kenapa ya Dok, menanyakan hal itu pada saya?" Rahul mengerutkan keningnya.
"Satya. Dokter Hadi ini adalah Dokter spesialis mata lulusan terbaik di Amerika. Dia sudah terbukti ahli dalam mengatasi masalah kebutaan yang dialami oleh puluhan pasiennya, hingga mereka bisa melihat lagi. Padahal banyak dari mereka yang sudah divonis mengalami kebutaan permanen" Jawab Zahra.
"Ja-jadi maksudmu?" Rahul sepertinya mulai mengerti maksud Zahra memperkenalkannya pada dokter itu.
__ADS_1
"Kamu pahamkan apa maksudku? Kamu inginkan, bisa melihat lagi? Sekarang jalannya sudah terbuka untukmu" Zahra bergelayut dilengan Rahul dan tersenyum dengan manisnya.
"Ka-kamu yakin, Dokter ini bisa membuatku bisa melihat lagi seperti dulu?" Tanya Rahul sangsi. Bukan tanpa alasan dia berpikir begitu. Masalahnya sudah belasan dokter dari luar negeri yang memvonisnya mengalami kebutaan permanen. Apakah mungkin sekarang tiba-tiba ada keajaiban yang mematahkan vonis para dokter itu? Rasanya dia ragu.
"Ya mana aku tahu Satya, kan aku bukan Tuhan. Tidak salahnya mencoba? Mumpung kesempatannya sedang ada didepan mata"
"Pak Rahul. Untuk lebih jelasnya, kita lakukan pemeriksaannya saja dulu. Agar kita bisa menentukan tindakan apa yang bisa dilakukan selanjutnya. Mari Pak, ikut saya" Timpal dokter Hadi mengusulkan.
"Mmm....." Rahul tampak berpikir.
"Sudah, jangan terlalu lama berpikir. Ikuti saja apa katanya. Ayo cepat" Zahra bangkit dan menarik tangan suaminya saking gregetnya.
"Mmm, iya-iya" Rahul akhirnya mengikuti kemauan Zahra, sekalipun dia tidak merasa yakin pada pemeriksaan itu. Namun dia tidak bisa menolak jika sudah didesak seperti itu oleh istrinya.
******
Zahra dengan sabar menunggu suaminya menjalani serangkaian pemeriksaan mata, yang membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih. Mereka juga harus menunggu sekitar setengah jam lagi, untuk melihat hasil pemeriksaannya.
Setengah jam pun berlalu.
"Jadi bagaimana Dok?" Tanya Zahra yang sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.
"Hasilnya cukup bagus Sus. Disini dinyatakan, jika peluang Pak Rahul untuk bisa melihat lagi, sekitar 99 persen" Dokter Hadi membacakan hasil pemeriksaan mata Rahul.
"Benarkah dok?!" Zahra tersenyum sumringah lalu melirik dan memeluk Rahul dengan bahagianya. "Sat, sebentar lagi kamu bisa melihat lagi. Selamat ya"
"Dokter serius? Ini bukan leluconkan? Masalahnya, saya sudah berulang kali divonis mengalami kebutaan permanen oleh dokter yang berbeda. Bahkan, meskipun saya melakukan operasi transplantasi mata sekalipun"
Cecar Rahul yang masih berusaha memastikan, jika dokter itu sedang tidak mengepranknya. Rasanya sulit untuk dipercaya, jika dia masih ada harapan untuk bisa melihat lagi.
"Dokter itu hanya manusia biasa Pak. Vonisnya bisa saja terbukti, atau bisa juga meleset. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Masalah hasilnya nanti, kita serahkan saja pada Tuhan" Jawab dokter Hadi dengan bijaknya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang Dok?" Timpal Zahra.
"Pak Rahul bisa menjalani operasi donor mata. Saya harap kalian bisa bersabar menunggu, sekitar tiga sampai empat bulan untuk pihak rumah sakit mendapatkan donor mata dulu. Dan, untuk operasinya, bisa dilakukan di Jakarta. Karena disana peralatannya lebih lengkap, ketimbang didesa ini"
"Jadi maksudnya, saya harus ke Jakarta?" Tanya Rahul dengan nada hambar.
"Ya, begitulah. Apa anda keberatan? Atau ada masalah?" Dokter Hadi bertanya kembali dengan menyelidik.
"Tidak ada masalah kok Dok. Kami akan melakukan apapun, asalkan suami saya bisa melihat lagi" Jawab Zahra cepat, saking tidak rela melewatkan kesempatan emas agar suaminya bisa melihat lagi.
"Syukurlah kalau begitu. Saya kira ada apa"
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan biayanya Dok? Apakah lumayan besar?" Tanya Rahul lagi.
"Untuk biayanya, itu nanti bisa anda konfirmasikan sendiri pada pihak rumah sakit. Tapi setahu saya, biasanya biayanya itu berkisar antara lima sampai enam ratus juta"