Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 6- Kemarahan Zahra


__ADS_3

Dia memang memiliki kebiasaan. Setiap kali membuat kue, dia akan menyisakan sedikit untuk dibagikan kepada orang-orang yang sedang menjadi pasien Zahra. Dia berharap dengan melakukan itu, bisa mempererat hubungan baik antara Zahra dengan para pasiennya.


Bu Sakinah sangat bangga dengan profesi yang ditekuni putri semata wayangnya itu. Baginya, menjadi bagian dari tenaga medis merupakan pekerjaan yang mulia.


"Iya Bu, nanti aku sampaikan. Ya sudah, Zahra berangkat dulu ya. Assalamualaikum" Zahra menerima box-box kue itu dari tangan Bu Sakinah lalu memasukkannya dalam tasnya. Lalu dia pamit dan mencium tangan ibunya.


"Waalaikum salam, hati-hati dijalan" Bu Sakinah mencium kening Zahra dengan sayang.


"Iya Bu" Zahra pun meninggalkan kediamannya untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang pekerja dirumah sakit di desanya.


Namun sebelum dia ke RS, terlebih dahulu dia akan mampir ke warung-warung terdekat untuk menitipkan kue-kue hasil buatan ibunya.


Ini adalah rutinitasnya setiap hari. Bu Sakinah memang sangat mahir dalam membuat beraneka ragam makanan. dan memanfaatkan keahliannya untuk mencari nafkah. Tak jarang para tetangga maupun warga sekitar menggunakan jasanya untuk membuat menu makanan(catering) dalam acara-acara hajatan mereka.


Sebenarnya Zahra sudah berkali-kali meminta ibunya untuk berhenti saja dari pekerjaannya itu. Mengingat kondisinya yang sering sakit-sakitan. Namun ibunya selalu berdalih bahwa dia bosan dan butuh kesibukan untuk mengisi waktu luangnya.


Padahal Zahra tau kalau ibunya melakukan itu semua lantaran tak tega kalau harus terlalu membebaninya dalam masalah finansial mereka.


*******


Zahra berjalan dengan luwes menyusuri koridor rumah sakit tempatnya bekerja. senyum ramah merekah diwajah cantiknya. Dan terus dia lemparkan pada setiap orang yang berpapasan dengannya disepanjang koridor. Baik itu para dokter, pasien maupun perawat. Mereka semua menyapanya dengan ramah.


Usai mengganti pakaiannya dengan seragam perawat, Zahra langsung melakukan tugasnya antara menjaga dan menemani pasien sesuai dengan perintah para atasannya.


Ibunya menitipkan empat box kue. Sesuai dengan amanah beliau, dia membagikan satu persatu box mika berisi kue itu kepada para pasien yang sedang dalam masa perawatannya.


Tiga kotak telah ludes terbagi kepada tiga pasien yang berbeda. Tinggal satu kotak lagi yang masih tersisa. Kemudian dia ingat pasien tunanetra tampan yang kemarin sempat bersitegang dengannya.


Dia berniat untuk memberikan kue itu kepada laki-laki itu. Kemarin dia sudah keterlaluan menyinggung perasaan pria itu. Sekarang dia ingin memberikan kue ini sekaligus meminta maaf kembali padanya. Semoga setelah ini, tidak akan ada lagi perseteruan diantara mereka. Dan mereka bisa menjalani hubungan yang baik sebagai perawat dan pasien.


"Selamat pagi tampan" seru Zahra riang tatkala membuka pintu dan memasuki kamar itu. Namun dia sedikit terkejut tatkala mendapati pria itu sudah berada dihadapannya. Sedang berjalan meraba-raba kearah pintu tanpa mengenakan seragam pasien lagi. Melainkan pakaian biasa (pakaian yang dikenakannya pada saat warga pertama kali membawanya kerumah sakit itu).


"Hei, kamu mau kemana? Kenapa kamu sudah tidak mengenakan seragam pasien lagi?" Zahra langsung mendekati dan memegang lengan laki-laki itu dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


Rahul merasa familiar dengan suara gadis yang menegur dan memegang tangannya itu. "Bukankah kamu perawat wanita yang kemarin?"


"Iya benar. Wow....ternyata kamu masih ingat suaraku ya...."Zahra tersenyum lebar.


Rahul enggan meladeni wanita aneh itu. "Dimana bagian administrasinya?" tukas Rahul datar.


"Kenapa kamu menanyakan bagian administrasi?" tanya balik Zahra heran.


"Aku tanya dimana bagian administrasinya?!" Rahul sedikit menaikkan volume suaranya. Rasa jengkel mulai kembali melandanya karena ulah wanita itu.


"Aku juga tanya kenapa kamu menanyakan bagian administrasi? Bisa tidak, sekali saja jawab pertanyaanku? Aku saja selalu menjawab setiap kali kamu bertanya...." Zahra pun tak mau kalah.


"Apapun yang ingin aku lakukan, itu sama sekali bukan urusanmu" tukas Rahul dingin.


"Iya kamu benar sekali, itu memang bukan urusanku. Lalu untuk apa aku capek-capek menjawabnya? Kan tidak ada urusannya denganku" ujar Zahra dengan tenang, lalu membalikkan badannya dan hendak melangkah.


Dia sudah terbiasa menghadapi pasien yang uring-uringan, dan sudah tau betul cara mengatasinya. Rahul mengkretakkan giginya menahan amarah.


"Aku ingin membayar semua tagihan selama aku dirawat disini. Supaya aku bisa segera angkat kaki dari rumah sakit ini" jawabnya seketika geram. Zahra langsung membalikkan badannya kembali menghadap Rahul.


"Untuk apa menanyakan keluargaku? Apa urusanmu dengan mereka?"


"Tentu saja karena mereka keluargamu. Jadi mereka harus bertanggung jawab terhadapmukan?"


"Dengar baik-baik Nona perawat, itu sama sekali bukan urusanmu. Aku bukan anak kecil yang tidak bisa mengurus diriku sendiri. Yang apa-apa harus melibatkan keluargaku hanya karena aku buta"kata Rahul ketus.


"Bukan seperti itu maksudku, tolong jangan salah pengertian dulu. Memangnya kamu punya uang untuk membayar biaya rumah sakit ini kalau tidak ada keluargamu? Setauku, saat warga desa membawamu kesini, kamu tidak memiliki uang sepeserpun"


Rahul mencoba menelaah ucapan Zahra. Kalau dipikir, apa yang dikatakan oleh suster aneh itu ada benarnya. Dia tidak memiliki uang sepeserpun. Lalu dengan apa dia harus membayar biaya rumah sakit itu?


Apa dia harus menghubungi keluarganya dan mengatakan kalau dirinya berada di rumah sakit dibogor? Apa keluarganya akan senang jika tau dirinya masih hidup dan selamat dari kecelakaan pesawat tempo hari? Atau justru sebaliknya? Mereka malah akan merasa senang kalau dirinya dinyatakan tewas dan menghilang saja? Apa yang harus dilakukannya sekarang?


Meskipun tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu, namun tampaknya Zahra cukup peka untuk memahami bahwa pasiennya itu sedang gelisah.

__ADS_1


"Ya sudah, aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu. Sekarang pikirkan saja kesehatanmu. Kamu baru saja siuman, kondisimu masih belum sepenuhnya membaik. Kamu masih butuh pemeriksaan, perawatan. Jadi sebaiknya sekarang kamu istirahat saja. Tidak usah berpikir untuk meninggalkan tempat ini dulu. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu"


Zahra mengambil tangan Rahul dan menggenggamkan kotak berisi kue titipan ibunya ketangan pria itu.


"Aku tidak butuh apapun darimu. Jadi bawa saja kembali, atau berikan pada orang lain" Rahul memegang tangan Zahra dan menggenggamkan kembali kotak mika itu ketangannya.


"Sebentar" menganggap penolakan Rahul hanya angin lalu saja, Zahra langsung membuka kotak itu dan mengambil salah satu kue yang ada didalamnya.


"ini namanya pisang coklat, Ibuku yang membuatnya. Kamu tau? Ibuku sangat mahir membuat berbagai macam jenis masakan termasuk kue. Bahkan didesa kami, beliau dijuluki sebagai seorang chef. Dan dia selalu menyisakan kue buatannya untuk para pasienku. Beberapa box sudah aku berikan pada yang lain. Ini aku sisakan satu box untukmu. Ayo makanlah" dia menyodorkan kue itu kemulut Rahul.


"Sudah kubilang aku tidak mau.berikan saja pada yang lain" Rahul menolak sembari memalingkan wajahnya. Berusaha menjauhkan mulutnya dari kue itu.


"Kamu bilang begitu karena belum mencicipinya. Aku yakin nanti pasti kamu akan ketagihan. Ayo dicoba dulu" Zahra terus memaksa sekalipun laki-laki itu terus menolaknya. Sampai akhirnya kesabaran Rahul habis.


Dengan gusar dia menepis tangan gadis itu. Alhasil kotak beserta kue-kue ditangannya jatuh berceceran dilantai. Zahra terlonjak dengan sikap kasar laki-laki itu.


"Dengar baik-baik Nona, siapa namamu kemarin? Oh iya, Nona Azzahra Alfathunnisa! Kamu sama sekali tidak memiliki hubungan apapun denganku! kamu bukan keluargaku, saudara ataupun temanku! Jadi berhentilah bersikap sok akrab denganku! Karena aku tidak butuh belas kasihan darimu ataupun dari siapapun! Dan satu lagi, bukankah sedari tadi aku sudah menolak pemberianmu?! kenapa kamu terus memaksa? apakah kamu tidak mengerti bahasa Indonesia?! Apakah ibumu tidak pernah mengajarimu untuk tidak menggangu atau ikut campur dalam urusan orang lain?! Apakah ibumu terlalu sibuk dengan julukannya sebagai chef hingga tidak ada waktu untuk mendidik putrinya....?" kata-kata makian seketika tersembur dari mulut Rahul.


PLAAK


Zahra melayangkan sebuah tamparan kewajah pria itu. Rahul terkejut dengan aksi wanita itu terhadapnya. Zahra menatap Rahul dengan tatapan murka.


"Silakan hina aku sesuka hatimu. Tapi jangan pernah sekalipun kamu berani menghina Ibuku! Karna kamu tidak apapun tentangnya! Dan apa katamu tadi? Mengasihanimu? Ya kamu benar, aku memang kasihan padamu. Bukan pada kebutaanmu, melainkan pada jiwa pecundangmu!" Zahra berkata dengan berapi-api, suaranya sedikit gemetar. Matanya tampak memerah dan berkaca-kaca.


Sedangkan Rahul, rahangnya tampak mengeras dengan raut wajah membunuh. Emosinya yang belum sepenuhnya redup kembali membumbung mendengar kalimat 'pecundang' yang disematkan gadis itu padanya setelah dia memberinya tamparan.


"Tidak ada manusia yang sempurna didunia ini. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Semua itu tergantung dari cara mereka menyikapinya. Apakah mereka akan menjadikan kekurangan mereka sebagai senjata bagi dirinya sendiri untuk membuktikan pada dunia, kalau mereka juga bisa menjadi berharga layaknya permata. Sekalipun memiliki kekurangan, namun mereka mampu menutupinya dengan kelebihan yang mereka miliki. Atau sebaliknya, menjadikan kekurangan mereka sebagai senjata dan peluang bagi dunia, untuk merendahkannya layaknya kerikil tak berguna, yang pantasnya diinjak-injak. Dan sayangnya, kamu memilih yang kedua. Kamu memilih dilihat sebagai sebuah kerikil yang tidak memiliki arti bagi siapapun. Dibandingkan sebuah permata yang berharga bagi semua orang. Dan itulah yang membuatku merasa kasihan padamu..."


"Sudah selesai ceramahnya? bisakah kamu keluar dari sini dan membiarkanku beristirahat?" tukas Rahul dengan nada suara rendah dan bergetar. Nafasnya naik turun, berusaha meredam amarahnya agar tidak kembali meluap. Raut wajahnya tampak muak.


"Tentu saja. Karna aku juga tidak berminat untuk berlama-lama disini. Bersama pria pecundang sepertimu" lanjut Zahra dengan tampang sinis.


"Yang berlagak sebagai orang yang paling menderita dan teraniaya dihadapan seluruh dunia. Sama seperti matamu yang buta, hatimu pun sama butanya. Sehingga kamu tidak bisa melihat, kalau diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih menderita dan tidak sempurna darimu. Tapi mereka menggunakan akal sehatnya untuk menjadikan kekurangan mereka sebagai contoh dan inspirasi bagi orang lain. Bukan sebagai rantai yang akan membelenggu kebahagiaannya. Hah...tapi untuk apa aku mengatakan hal ini padamu? percuma saja. Karna hatimu sudah diperbudak oleh kebencian dan dendam terhadap takdirmu sendiri"

__ADS_1


Dan dia pun berlalu. Meninggalkan Rahul dengan perasaan tak menentu.


__ADS_2