Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 95- Menghabiskan Waktu Denganmu


__ADS_3

Zahra hendak berjalan, namun Rahul langsung menarik lengannya. Hingga mau tidak mau wanita itu harus berhenti.


"Hey tunggu dulu"


"Apalagi? Aku harus kerumah sakit untuk periksa kandungan" Keluh Zahra.


"Aku tau. Makanya itu aku menunggumu disini dari tadi. Karena aku ingin menemanimu kerumah sakit untuk memeriksa keadaan Boy"


"Alasan. Dasar sotoy. Tau darimana memangnya, kalau hari ini jadwalku cek kandungan?" Zahra bertanya dengan nada menantang.


"Kan aku ayah...." Rahul langsung terdiam kala sadar jika dia sudah hampir keceplosan lagi.


"Ayah? Maksudmu? Ayah siapa?" Tanya Zahra bingung.


"Mmm.... maksudku.... Kamu lupa? Aku inikan calon seorang ayah, dari anak yang dikandung oleh istriku. Dulu saat kami masih bersama, aku juga sering menemani Zahra periksa kandungan. Jadi tentu saja aku tau, kapan jadwalnya untuk wanita hamil sepertimu periksa kedokter"


Rahul berkilah dengan gugupnya. Alasan yang dia berikan membuat Zahra tampak berpikir dengan ragu.


"Sudah jangan kebanyakan mikir. Ayo" Karena tidak sabaran, Rahul menarik tangan Zahra. Membuat wanita itu berjalan mengikutinya.


"Ta-tapi. Aku bisa pergi sendiri. Kamu pasti sibukkan harus keperusahaan?"


"Tenang saja. Masalah perusahaan bisa dihendel. Aku tidak akan pernah sibuk untukmu" Rahul menjawab dengan santainya sambil terus berjalan.


Jawaban Rahul membuat hati Zahra tersentuh dan terharu. Dia tidak menyangka, jika lelaki itu akan lebih memprioritaskan dirinya ketimbang pekerjaannya. Zahra tersenyum simpul.


"Eh, kalian mau kemana?" Lesti tiba-tiba muncul dan berpapasan dengan mereka. Membuat Zahra menjadi gugup dan langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Rahul.


"Mmm.... ini Tante. Aku mau cek kandungan kedokter"


"Oh..." Lesti manggut-manggut. "Sudah berapa bulan usia sikecil sekarang?"


"Sudah masuk enam bulan Tante"

__ADS_1


"Semoga dia sehat terus ya, sampai dia lahir" Dengan senyum cerah, Lesti mengelus-elus perut Zahra dengan lembut.


Perasaan hangat dan bergetar kembali menyelimuti hatinya. Dia sendiri tidak mengerti, kenapa dia bisa merasa begitu sayang dan dekat dengan anak dalam kandungan Shreya. Padahal anak itu saja belum lahir, dan belum pernah dilihatnya sama sekali.


Rahul tersenyum simpul melihat ibunya yang sudah begitu dekat, dan penuh perhatian pada Zahra dan anaknya. Dia sangat berharap, agar nantinya saat mereka semua mengetahui kenyataan bahwa wanita itu adalah istrinya, keluarga besarnya akan menerima dan menyayangi Zahra sebagai menantu mereka dengan senang hati.


Dia akan senantiasa berdoa dan berharap, agar masa-masa indah itu segera menghampiri hidupnya.


"Amin. Terima kasih Tante" Zahra tersenyum simpul.


"Ya sudah, biar Tante panggil supir dulu untuk mengantarmu ya" Lesti hendak berbalik, namun Rahul langsung mencegah Mamanya melaksanakan rencananya untuk memanggil supir.


"Mmm, Ma. Bukankah supirnya sudah mengantar Papa kelokasi proyek apartemen yang baru? Yang satunya lagi sedang mengantar Kak Gala dan Amora jalan-jalan. Dan supir yang lain katanya sedang ijin karena ada urusan keluarga"


"Benarkah? Lalu.... siapa yang akan mengantar Shreya? Tidak mungkinkan, dia pergi sendirian tanpa ditemani orang rumah?" Ucap Lesti cemas.


"Tante jangan khawatir. A...."


"Mama tenang saja. Biar aku yang mengantarnya" Tukas Rahul dengan antusiasnya.


"Mama tenang saja. Hari ini jadwalku lumayan longgar kok. Jadi aku punya banyak waktu untuk mengantarnya. Daripada dia pergi sendirian. Kan lebih baik aku saja yang menemani"


Tentu saja Rahul tidak merasa sibuk. Dia sudah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa. Supaya hari ini menjadi momen quality time bersama istrinya yang yang sudah lama dia tunggu-tunggu.


Dengan mempengaruhi Papanya supaya beliau saja yang pergi untuk meninjau lokasi proyek yang baru. Memprovokasi kakaknya supaya mengajak Amora keluar dan menghabiskan waktu bersama. Dengan begitu, mereka semua akan memakai jasa supir untuk bepergian.


Sedangkan supir yang tersisa, sudah dia berikan bonus agar mereka cuti dan tidak masuk dulu untuk hari ini. Dengan begitu, maka tidak ada yang akan yang akan mengantar Zahra.


Lagipula dia juga tidak rela, istrinya pergi bersama lelaki lain! Sudah cukup dia menahan sakit hati, saat masih mengira Zahra adalah Shreya. Istrinya Fajar. Tapi sekarang tidak akan pernah lagi!


"Iya juga sih. Shreya, kamu tidak apa-apa kan, pergi dengan Rahul?" Lesti meminta pendapat Zahra, lantaran dia masih merasa bimbang.


"Mmm.... aku...." Zahra pun merasa bingung harus menjawab apa. Rasanya tidak etis bila dia terang-terangan mengakui sensng pergi bersama Rahul.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok Ma. Kan aku tidak mungkin akan menyakitinya. Ya sudah, kami jalan dulu ya Ma" Tukas Rahul yang langsung menarik tangan Zahra dan membuatnya berjalan mengikuti langkahnya. Meninggalkan Lesti yang melongo menatap tingkah mereka.


********


Hari itu Rahul kembali menemani Zahra melakukan pemeriksaan kandungan hingga USG. Matanya tampak berkaca-kaca akibat rasa haru dan kebahagiaan yang membuncah, melihat anak kesayangannya yang sedang tumbuh dengan sehatnya didalam rahim istri tercintanya.


Zahra sudah menjaga dan merawat buah cinta mereka dengan sangat baik selama ini, meskipun ditengah-tengah kondisinya yang sedang kurang baik. Kini giliran dia yang akan menjaga dan merawat dua orang tercintanya itu, dengan baik dan sepenuh hatinya. Dan dia sudah berjanji untuk itu.


Selepas dari rumah sakit, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Rahul, kita mau kemana? Kok dari tadi gak sampai-sampai? Dan kalau aku perhatikan, sepertinya ini bukan jalan pulang kerumahmu? Ini jalannya berbeda dengan jalan saat kita pergi dari rumah tadi"


Zahra bertanya dengan bingung sembari memperhatikan jalanan yang tampak asing dan terasa berbeda, dengan jalanan yang biasa dilaluinya untuk tiba dirumah Rahul.


"Memangnya siapa bilang kita akan pulang kerumah sekarang?" Jawab Rahul santai sembari mengemudi tanpa menoleh.


"Lalu kamu mau membawaku kemana?"


"Nanti kamu juga akan tau sendiri"


"Kamu tidak ada niat untuk berbuat macam-macam kan padaku? Ingat ya, aku ini sedang hamil" Zahra berkata dengan was-was seraya memegang perut besarnya. Tampaknya dia mulai positif thinking terhadap Rahul.


"Nah, justru itu. Kata orang, wanita hamil itu lebih menggoda dan memuaskan. Ketimbang wanita yang tidak berisi" Rahul tersenyum nakal sebagai candaan. Namun Zahra menanggapinya serius.


"Ma-maksudmu? Kamu jangan macam-macam ya. Aku bisa mengadukanmu pada orang tuamu" Zahra semakin tidak tenang, hingga dia menggunakan gaya sok mengancam. Namun sikap dan gesturnya malah terlihat lucu bagi Rahul, hingga dia tertawa terkekeh-kekeh.


"Hahaha! Kamu pikir aku anak SD yang sedang melakukan kenakalan, hingga diadukan pada orang tuaku? Sudahlah kamu tenang saja. Aku tidak mungkin akan menyakitimu. Justru sekarang aku ingin membawamu ketempat yang akan membuatmu senang. Jadi kamu diam dan duduk manis saja disini sembari aku menyetir. Oke?"


********


Setelah hampir tiga jam berkendara, akhirnya mereka tiba disebuah tempat yang tampak seperti sebuah pedesaan yang dilatar belakangi dengan persawahan.


"Rahul, ini tempat apa?" Zahra menatap takjub pemandangan sawah yang membentang dikanan kirinya. Atap mobil yang terbuka, membuat hembusan angin langsung menerpa kulit tubuh mereka. Membuat udara terasa begitu sejuk dan segar.

__ADS_1


"Ini adalah desa xxx, didesa inilah pertama kali kita bertemu" Ujar Rahul dengan tatapan menerawang.


__ADS_2