Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 55- Kencan


__ADS_3

Rahul memegang pundaknya yang baru saja didorong oleh perempuan itu dengan termangu. Kenangan akan Zahra kembali muncul dibenaknya. Bagaimana tindakan bar-bar wanita itu setiap kali menerima kejahilan darinya dulu.


Dan baru saja dia kembali merasakannya. Namun bukan oleh Zahra, melainkan Shreya. Apakah ini yang membuatnya begitu sulit untuk melupakan dan menjauhi Shreya? Karena dia seperti merasa menemukan sosok Zahra dalam diri perempuan itu?


Sosok yang sangat amat dirindukannya? Kalau iya, kenapa harus Shreya? Istri dari sahabatnya sendiri. Rahul menyandarkan tubuhnya dikursi mobil sembari menghela nafas panjang.


Ya Tuhan..... Mengapa hidupnya menjadi serumit ini? Zahra, perempuan yang telah sah menjadi miliknya, namun wanita itu sekarang jauh darinya. Sedangkan Shreya, wanita yang saat ini bersamanya dan dekat dengannya, namun wanita itu bukanlah miliknya.


Apakah mencintai dan memiliki adalah hal yang terlalu muluk baginya? Hingga setiap wanita yang dia cintai harus berakhir dengan meninggalkannya? Mulai dari Amora, Zahra dan sekarang Shreya.


Hubungannya dengan wanita itu jauh lebih rumit, karena mereka berdua sama-sama memiliki kehidupannya masing-masing. Seandainya Zahra ada disini, mungkin hidupnya tidak akan sekacau ini.


*********


Dihari berikutnya Rahul kembali bekerja dikantor seperti biasanya. Tubuhnya memang berada dikantor bersama karyawan, klien atau pemimpin perusahaan lainnya, namun hatinya selalu tertuju pada Shreya.


Ingin rasanya dia menemani perempuan itu sepanjang waktu. Apalagi mengingat kondisi wanita itu yang belum sepenuhnya membaik, dan butuh perhatian ekstra setelah insiden kemarin.


Tapi dia takut wanita itu akan merasa risih dan tidak suka, jika dia terus menempel padanya Padahal dia punya suaminya sendiri.


Rahul bolak balik menghidupkan layar ponselnya. Ingin sekali dia menghubungi Bu Susan atau pelayan lainnya, untuk menanyakan keadaan Shreya, atau sedang apa dia sekarang.


Sekalian memperingatkan mereka untuk mewanti-wanti Shreya, agar menjauh dari tangga dan menggunakan lift saja. Karena dia tidak bisa membayangkan jika insiden tempo hari sampai terulang kembali.


Tapi sepertinya itu bukan cara yang tepat. Yang ada mereka semua akan curiga dengan sikapnya, yang terlalu berlebihan menunjukkan perhatiannya pada wanita yang berstatus sebagai istri Fajar.


Huh.... Rahul menghela nafas panjang. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Keadaan Shreya benar-benar menjadi beban pikirannya. Membuatnya tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.


Karena hatinya tidak bisa tenang dan terus mencemaskan wanita itu, akhirnya Rahul memutuskan untuk meninggalkan kantor saat hari masih siang.

__ADS_1


Diperjalanan pulang, Rahul melihat gerobak batagor keliling dipinggir jalan. Makanan yang selalu mengingatkannya pada Zahra dan Shreya. Rahul memutuskan untuk membelikan batagor itu untuk Shreya, karena dia tau wanita itu sangat menyukainya. Dia membeli tiga kotak sekaligus.


Sesampainya dirumah, Rahul langsung mencari Shreya diruang depan, tengah, ruang keluarga bahkan dikamarnya dengan semangat yang membara. Namun perempuan itu tidak ada. Setelah bertanya pada pelayan, akhirnya Rahul tau jika Shreya sedang berada dikolam renang. Rahul langsung menuju kesana.


Dia menemukan Shreya sedang duduk dikursi daybed rotan dipinggir kolam renang dengan wajah murung. Dengan senyum hangat yang tersungging diwajahnya, Rahul menghampiri wanita itu.


"Selamat siang" Rahul duduk disamping Shreya dan tersenyum dengan manisnya. Namun yang dia dapatkan malah wajah jutek Shreya, yang hanya melihatnya sekilas lalu membuang mukanya. Membuat Rahul mengernyitkan keningnya melihat sikap wanita itu yang tidak seperti biasanya.


"Kenapa wajahmu cemberut begitu? Kamu marah padaku? Memangnya aku ada salah apa, sampai dicuekin begitu?"


"Oh ya, lihat ini. Taraaa" Rahul menyodorkan kantong plastik warna putih berisi kotak Styrofoam kedepan wajah Shreya.


"Ini batagor untukmu. Aku tau kamu sangat menyukainya, jadi aku beli tiga saja sekaligus. Supaya nanti aku tidak perlu balik lagi ketempat pedagangnya, kalau kamu masih merasa tidak kenyang juga" Seloroh Rahul.


"Berikan saja batagornya untuk Bu Susan atau pelayan lainnya. Aku tidak mau" Ucap Shreya dengan nada hambar.


"Kok diberikan untuk pelayan? Aku membelikannya untukmu. Karena aku dengar dari Bu Susan, kamu tidak ada nafsu makan sejak pagi. Bukankah waktu itu kamu sangat menyukai makanan ini? Memangnya kali ini apa yang salah? Kok kamu jadi uring-uringan begini?"


"Tapi aku tidak mau makan, aku hanya ingin keluar" Seketika Shreya berkata dengan merengek.


"Keluar? Kemana?"


"Ya terserah kemana saja. Yang penting aku bisa menghirup udara segar. Aku bosan dirumah terus. Kamu sih enak, setiap hari bisa bebas keluar. Bertemu dengan karyawan dan klienmu. Tidak sepertiku yang setiap hari harus terkurung dirumah ini, tidak kemana-mana"


Shreya beranjak dari kursi dengan mulut yang terus mengomel. Membuat Rahul tersenyum lucu melihat tingkah wanita itu yang seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Baiklah kalau begitu, sekarang ganti pakaianmu" Rahul menghampiri Shreya dan berdiri disampingnya.


"Memangnya kita mau kemana?" Shreya menoleh dan menatap Rahul dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Nanti juga kamu akan tau sendiri. Aku tidak ingin dinobatkan sebagai pria jahat yang tega memenjarakan seorang wanita hamil dirumahku ini" Seloroh Rahul.


"Baiklah. Aku ganti baju dulu" Dengan sumringahnya Shreya berbalik dan berlari-lari kecil menuju kedalam rumah.


"Hey, hati-hati. Jangan lari nanti kamu jatuh!"


Seru Rahul memperingatkan.


Setelah Shreya berlalu kedalam, Rahul tersenyum gemas melihat tingkah laku wanita itu yang selalu mengingatkannya pada tingkah laku Zahra, apalagi saat sedang merajuk seperti tadi.


*********


Demi menyenangkan hati Shreya dan mengembalikan mood wanita itu, Rahul pun mengajaknya jalan-jalan keliling kota Jakarta pada siang hari itu. Disepanjang perjalanan,


Shreya tampak sangat antusias menatap keindahan kota Jakarta. Seperti gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi yang dilihatnya melalui kaca mobil dikanan kirinya.


Rahul yang duduk didepan kemudi menyunggingkan senyuman, melihat mood wanita itu yang sudah kembali. Tidak uring-uringan lagi seperti dirumah tadi.


Rahul membawa Shreya ke kota tua, sebuah kawasan wisata yang berpusat dialun-alun Fatahillah. Wajah sumringah Shreya terus terpancar sepanjang dia menginjakkan kakinya dikawasan oud Batavia itu. Membuat Rahul ikutan sumringah melihat senyum ceria diwajah cantik wanita itu.


Kawasan wisata itu sangat ramai dengan kehadiran ribuan pengunjung yang berlalu lalang. Karena area itu dijadikan area bebas kendaraan bermotor, jadi banyak pengunjung yang terlihat melewati jalan itu dengan bersepeda.


Kebanyakan dari mereka tampak berboncengan bersama pasangannya. Dan momen itu terlihat begitu romantis hingga membuat Shreya merasa iri, dan ingin mencobanya. Bagai kerbau yang dicocol hidungnya, Rahul menuruti apapun kemauan wanita itu.


Dengan menyewa sepeda yang sudah disediakan diarea wisata itu, keduanya tampak berboncengan mengelilingi kota lada itu dengan riang gembiranya. Kondisi Shreya yang sedang berbadan dua, membuat Rahul selalu mengingatkan dirinya sendiri agar berhati-hati dalam mengayuh sepeda, agar perempuan itu tidak sampai terluka.


Puas bersepeda, mereka menyambangi beberapa museum yang menjadi tempat bersejarah dikota itu. Yang paling membuat Shreya sangat antusias adalah saat mereka berkunjung kemuseum magic Art 3D.


Menikmati suasana mural dan ilusi dengan berfoto dalam museum dengan gambar-gambar lukisan unik, sesuai dengan zonanya masing-masing yang tersebar diberbagai ruangan.

__ADS_1


Dengan energi yang meluap-luap, Shreya mencoba semua zona yang disediakan dimusem itu untuk berpose bersama Rahul. Mulai dari zona horor, satwa, petualangan, lukisan, laut, rutinitas, dinosaurus dan lainnya.


__ADS_2