
Rahul ada disana? Lalu siapa lelaki yang sedang dipeluknya saat ini? Shreya melepaskan pelukannya. Dia menengadah untuk melihat siapa pemilik dada bidang yang dipeluknya.
DEG...
Dia semakin terkejut melihat Fajar ada dihadapannya. Ternyata sedari tadi dia memeluk Fajar, suaminya! Ternyata benar dia sudah kembali dari Thailand!
Shreya kembali menoleh kearah Rahul. Dari lubuk hatinya yang terdalam ingin sekali rasanya dia berlari dan memeluk lelaki itu dengan erat. Dia sendiri tidak mengerti kenapa ada rasa bersalah yang singgah dihati kecilnya, saat dia melihat Rahul memandanginya seperti itu.Mengapa dia seolah merasa bersalah telah memeluk Fajar didepan Rahul?
Fajar melirik Rahul dengan alis bertaut. Sementara Rahul merasa sedikit terkejut dan syok melihat kehadiran Fajar dirumahnya dan sedang bersama Shreya.
Ternyata sahabatnya itu sudah kembali dari Thailand! Apa itu artinya, lelaki itu akan membawa Shreya pergi dari rumah ini?! Dari sisinya?! Apakah, kebersamaannya dengan wanita itu akan berakhir malam ini?!
Melihat Fajar yang berada didekat Shreya bahkan memeluknya, membuat hati Rahul terasa terbakar. Ingin rasanya dia melangkah dan menarik Shreya untuk menjauhi lelaki itu.
Andai dia memiliki alasan untuk itu, pasti sudah dilakukannya sedari tadi! Dia merasa sangat sangat marah melihat Fajar menyentuh dan memeluk Shreya, seakan wanita itu adalah miliknya. Yang membuatnya merasa tidak rela saat disentuh oleh orang lain.
Beberapa menit kemudian, mobil Nissan Serena dan Honda Odyssey tampak memasuki pekarangan rumah mewah itu. Kedua mobil itu berhenti didepan teras.
Supir yang mengemudikan kedua mobil itu turun terlebih dahulu. Sembari membawa payung, mereka membukakan pintu belakang mobil untuk tuan dan nyonya mereka yang duduk di jok belakang.
Tampaklah Helmi dan Lesti dari dalam mobil Nissan Serena yang berada didepan. Sepasang suami istri paruh baya itu keluar dari mobil dengan menggunakan payung yang sama, sebagai tameng untuk melindungi tubuh mereka dari basah, akibat hujan yang sedang turun dengan derasnya.
Begitupun dengan Gala dan Amora yang baru keluar dari mobil Honda Odyssey yang berada dibelakang. Sepasang suami istri itu juga berada dibawah satu payung.
Kedua pasangan itu memandangi Rahul, Shreya dan Fajar yang berada diteras dengan tatapan heran. Mereka tidak mengerti adegan apa yang sedang terjadi antara ketiga orang itu, ditengah-tengah derasnya hujan serta guntur yang saling bersahutan seperti ini.
Sedangkan Rahul melihat orang tua dan kakaknya dengan terkejut. Melihat mereka yang juga sudah kembali dari Kanada. Dia juga tidak tau akan kepulangan mereka pada malam ini. Mereka tidak memberitahukannya sama sekali.
*********
Seorang pelayan muda membawakan sebuah nampan berisi cangkir teh hangat untuk ketiga pasangan tuan dan nyonya majikannya. Dia berlutut dan meletakkan keenam cangkir itu diatas meja, didepan Shreya, Fajar, Gala, Amora, Helmi dan Lesti yang sedang duduk berkumpul disofa ruang keluarga.
"Mirna, Rahul kemana ya? Kok begitu kami sampai, dia langsung menghilang?" Tanya Lesti.
"Tadi Tuan Rahul bilang, katanya beliau ingin menyelesaikan pekerjaannya dikamar Nyonya. Tuan Rahul juga berpesan tidak ingin diganggu" Jawab pelayan bernama Mirna itu sembari berdiri.
"Oh" Lesti manggut-manggut.
__ADS_1
Sementara Shreya menduga, mungkinkah Rahul sengaja menghindari semua orang karena ingin menenangkan diri? Apa mungkin dia juga merasakan hal yang sama dengannya? Perasaan tidak sanggup untuk berpisah dan saling melupakan?
Mirna pun pamit meninggalkan perkumpulan majikannya itu.
"Jadi, selama aku ke Thailand, Om, Tante, Kak Gala dan Kak Amora juga ke Kanada? Sedangkan Shreya, hanya tinggal dengan Rahul dirumah ini?"
Fajar bertanya langsung keintinya. Suaranya terdengar biasa saja, namun mampu membuat semua orang terdiam karena maksud dari ucapannya, yang seolah mempertanyakan keadaan Rahul dan Shreya yang selama berhari-hari hanya tinggal berdua saja dirumah itu tanpa mereka.
Dia menatap semua orang dengan raut wajah penuh tanda tanya, termasuk Shreya yang hanya terdiam seribu bahasa. Hatinya masih terlalu bimbang untuk bersuara.
"Mmm.... Fajar, tolong kamu jangan salah paham dulu ya. Shreya tidak hanya berdua kok dengan Rahul dirumah ini. Banyak pelayan dan pengawal yang juga disini. Saat itu Rahul tidak bisa ikut dengan kami karena dia harus mengurus perusahaan.
Ditambah lagi, dia masih bersedih karena kehilangan istrinya. Sedangkan Shreya, kan kamu sendiri yang bilang, kalau dia tidak boleh melakukan perjalanan jauh karena kondisinya yang sedang hamil. Jadi kami semua menyuruhnya untuk tetap dirumah ini sampai kamu kembali"
Lesti mencoba meluruskan dengan ragu. Sesekali dia melirik Helmi yang duduk disebelahnya. Seolah meminta pembelaan dari suaminya, karena takut jika anak itu sampai berpikiran yang macam-macam tentang Rahul dan Shreya.
"Iya Fajar, kamu tenang saja. Om yakin kok, tidak terjadi apa-apa diantara Rahul dan Shreya selama kita pergi. Karena Om yakin mereka berdua adalah anak yang baik dan bisa menjaga diri. Mereka tidak mungkin akan menghianatimu. Jadi Om minta, tolong jangan berpikiran yang macam-macam ya" Timpal Helmi sependapat dengan istrinya.
Sementara Amora yang duduk disamping Gala hanya tersenyum sinis, menyimak setiap percakapan mereka. Feelingnya mengatakan, sepertinya telah terjadi drama seru dirumah ini selama kepergiannya ke Kanada.
Shreya bisa melihat kekecewaan dan kesedihan mendalam yang terpancar dari sorot mata lelaki itu. Itu juga yang dirasakannya saat ini. Ingin sekali kakinya berlari dan memeluk lelaki itu. Menyatakan jika dirinya tidak ingin pergi dan meninggalkannya. Namun sepertinya, itu tidak mungkin lagi sekarang.
Rahul berbalik dan berlalu. Shreya terus memperhatikan Rahul yang meninggalkan balkon dengan membawa perasaan kecewa.
Melihat tatapan sendu Dimata lelaki itu, membuat hati Shreya terasa tercabik-cabik. Dia ingin sekali menghampiri Rahul dan berbicara dengannya seperti biasa.
Tapi masalahnya, dia berada diposisi yang sangat sulit. Karena dia adalah seorang wanita bersuami dan sedang hamil anak mereka. Jadi yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah, menatap pria itu dari kejauhan. Begitupun sebaliknya.
"Iya Om. Om tenang saja, aku percaya kok, pada istri dan sahabatku" Fajar tersenyum tulus. Sepertinya dia bisa menerima penjelasan dari Helmi dan Lesti. Membuat sepasang suami istri itu tersenyum lega karena berhasil memberi pengertian padanya.
Sedangkan Shreya masih bungkam untuk bersuara. Pikirannya masih terlalu terpusat pada Rahul. Pada raut kekecewaan yang dia lihat dengan jelas diwajah pria itu. Pada harapan semunya yang ingin bersama lelaki itu.
"Syukurlah kalau kamu mengerti. Ya sudah, ayo sekarang kita semua istirahat. Ini sudah malam. Lagipula katanya kan besok, kalian berdua akan kembali ke Magelang"
"Iya Om, ayo kita kekamar" Fajar mengajak Shreya. Namun wanita hanya duduk mematung tidak menanggapinya, dengan wajah yang masih menengadah menatap keatas balkon. Seolah dia tidak mendengar suara pria disebelahnya itu.
"Shreya. Shreya?" Akhirnya Fajar menyentuh pundak Shreya dengan lembut.
__ADS_1
"Euh iya" Shreya tersentak dan menatap semua orang, yang sedang menatapnya dengan kening berkerut.
"Kamu lihat apa?" Karena penasaran, Fajar pun ikut menengadah menatap balkon yang sedari tadi dilihat Shreya. Namun matanya tidak menangkap sosok apapun diatas sana.
"Mmm.... Tidak ada apa-apa. Aku kekamar dulu ya. Aku mengantuk" Shreya beranjak dari sofa, dan meninggalkan ruangan yang sedang diisi oleh orang-orang yang menatapnya dengan heran.
Sesekali mereka saling beradu pandang, merasa aneh dengan sikap wanita itu. Begitupun dengan Fajar yang merasa tidak mengerti dengan sikap istri palsunya itu, yang seolah tidak nyambung dengan pembicaraan mereka sedari tadi.
*********
"Bagaimana? Sudah siap semuanya?" Tanya Fajar pada Shreya yang sedang mempacking, dan memasukkan barang-barang mereka kedalam koper diatas ranjang.
"Iya" Jawab Shreya dengan suara hambar.
"Oh ya, aku ada sesuatu untukmu. Sebenarnya mau aku berikan semalam, tapi kamunya sudah tidur duluan"
"Apa itu?"
"Tutup dulu matamu"
"Untuk apa?"
"Lakukan saja. Ini kejutan" Fajar tersenyum lembut. Sesuai permintaan lelaki itu, Shreya memejamkan matanya. Fajar menyibakkan rambut panjang Shreya kedepan.
Rahul yang tanpa sengaja lewat depan kamar mereka, mau tidak mau harus menyaksikan Fajar yang sedang memakaikan kalung berlian dileher Shreya. Adegan itu membuat hatinya kembali sakit.
Dulu dia juga pernah berada diposisi itu. Memakaikan kalung berlian dileher istrinya, sembari menikmati momen-momen bulan madu mereka. Itu adalah masa-masa terindah yang pernah dirasakannya. Rasa yang sama setiap kali dia bersama Shreya.
Melihat Fajar menyentuh Shreya dengan begitu mesranya, membuat Rahul hanya bisa mengepalkan tangannya. Menahan amarahnya yang langsung memuncak.
Padahal seharusnya dia merasa bersalah kan? Karena dia sudah berani menaruh rasa dan mengganggu istri lelaki itu. Tapi yang dia rasakan justru sebaliknya. Rasa marah seakan wanita itu adalah miliknya yang diganggu oleh orang lain.
"Nah, sekarang buka matamu"
Shreya membuka matanya. Fajar membimbingnya menuju cermin. Melalui cermin yang ada dikamar itu, Shreya melihat lehernya yang sudah tersemat kalung berlian permata yang terlihat semakin mempercantik lehernya yang jenjang.
"Ini oleh-oleh dari Thailand. Bagaimana apa kamu menyukainya?" Fajar tersenyum hangat. Dia berharap wanita itu akan menyukai pemberiannya. Shreya memegangi permata diamond yang terdapat pada bagian tengah kalung itu dengan perasaan hampa.
__ADS_1