
Matahari kembali terbit sebagai tanda bahwa pagi sudah tiba.
PRAK!!
Rahul yang sedang terlelap dalam tidurnya tersentak bangun, saat mendengar suara benda jatuh.
Dia membuka matanya dan menangkap sosok wanita yang tak lain adalah Shreya, sedang berdiri disamping tempat tidurnya. Wanita tampak membungkuk, berusaha menggapai botol infus yang jatuh dilantai. Perut besarnya membuat wanita itu tidak bisa bergerak atau membungkuk dengan leluasa.
Rahul langsung menghampiri Shreya dan mengambil botol infus yang tergeletak dilantai.
"Hey! Kamu mau kemana?" Rahul memegang tubuh Shreya dengan khawatir.
"Aku mau ketoilet"
"Kenapa tidak membangunkanku? Kalau kamu sampai jatuh lagi bagaimana?"
"A-aku tidak enak membangunkanmu. Aku lihat kamu sedang tidur nyenyak"
"Ya sudah, ayo, aku akan membantumu ketoilet"
"Hah?!" Shreya terkejut dan menatap Rahul dengan tidak percaya. Pria itu akan membantu dan menemaninya ketoilet? Yang benar saja? Apa kata orang nantinya?
Rahul menghela nafas dan menatap Shreya dengan gemasnya. Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.
"Tidak usah berpikiran terlalu jauh. Aku bukan lelaki brengsek yang akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ayo" Rahul berbicara dengan tenangnya. Kemudian dia mengangkat tubuh Shreya dan menggendong wanita itu dilengannya.
Shreya meletakkan tangannya dibahu Rahul. Sementara matanya terus menatap wajah tampan milik pria itu. Semakin dekat dengan pria itu, semakin membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Perhatian yang ditunjukkan lelaki itu terhadapnya, sungguh membuatnya merasa sangat bahagia, hingga rasanya sulit untuk menggambarkan perasaannya melalui kata-kata.
Andai dia bisa menghentikan waktu agar selalu berada dalam momen seperti ini, pasti akan sangat menyenangkan rasanya. Karena hanya pria itu yang bisa membuatnya merasakan perasaan nyaman dan hangat. Seolah dia sudah sangat dekat dengan lelaki itu.
Entah darimana perasaan itu muncul dan menguasai hatinya. Yang jelas perasaan itu benar-benar membuatnya bahagia.
"Sudah sampai" Suara Rahul membuat Shreya terlonjak. Dia pun menoleh, ternyata mereka sudah berada tepat didepan pintu toilet. Ya ampun, saking terlenanya dengan perhatian lelaki itu, dia sampai lupa dengan tujuan awalnya yang ingin buang air.
"Oh, iya" Jawab Shreya dengan kikuk dan malu.
Rahul menurunkan Shreya dengan perlahan-lahan.
"Aku tunggu disini. Sekarang masuklah"
__ADS_1
Shreya mengangguk, lalu dia membuka pintu dan masuk kedalam toilet itu.
*********
"Sekarang waktunya kamu sarapan" Rahul mengaduk bubur dalam mangkok, lalu menyendoknya dan menyodorkannya kedepan mulut Shreya. "A'k"
"A-aku bisa makan sendiri" Tolak Shreya, bukan lantaran dia merasa jengah atau tidak suka dengan sikap perhatian pria itu terhadapnya, tapi karena dia takut semakin terbuai dengan perasaannya hingga semakin lama, pria itu akan semakin leluasa memasuki dan membuat tempat dihatinya.
Biar bagaimanapun, dia masih berstatus sebagai istri Fajar. Sedangkan lelaki yang bersamanya saat ini, adalah sahabat Fajar sejak kecil. Betapa jahatnya jika dia sampai menjadi sosok yang membuat hubungan persahabatan diantara mereka menjadi renggang nantinya.
"Tanganmu sedang diinfus. Bagaimana kamu bisa makan? Ayo makan" Rahul berbicara dengan nada tegas, hingga Shreya tidak bisa menolaknya lagi. Akhirnya wanita itu membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
"Kamu tidak keperusahaan? Memangnya kamu tidak ada kerjaan hari ini?"
"Aku sudah menyuruh asistenku untuk menghandle semuanya. Jadi kamu tidak perlu khawatir" Rahul menjawab dengan santainya sambil terus mengaduk bubur dan menyuapi Shreya.
"I-ini.... Wajahmu? Kok bisa seperti ini?" Shreya memegang wajah Rahul yang tampak sangat babak belur. Dia baru sadar dan ingat, jika semalam pria itu rela menerima pukulan dan dihajar habis-habisan, demi melindunginya yang disandera oleh begal itu. Shreya merasa sangat terharu dengan pengorbanan yang dilakukan lelaki itu untuknya.
Apakah ini yang menjadi alasan Rahul hingga bisa mendapatkan tempat khusus dihatinya? Karena pria itu sangat gentleman. Rela terluka demi melindungi wanita yang tidak berdaya seperti dirinya.
Tapi sepertinya itu bukan alasan yang kuat. Karena kalau harus membandingkannya dengan Fajar, mungkin suaminya itu juga akan melakukan hal yang sama kan?
"Ini tidak apa-apa, hanya memar sedikit saja. Sudah, tidak usah dibahas" Rahul menyingkirkan tangan Shreya dari wajahnya dengan lembut. Rasanya sangat memalukan jika dia sampai mengumbar lukanya akibat baku hantam pada seorang wanita.
"Kamu mau apa?"
"Sudah diam saja"
Shreya menekan tombol emergency, meminta perawat untuk membawakan kotak p3k kekamarnya. Selang beberapa menit kemudian, perawat datang dan membawakan kotak p3k pesanan Shreya. Shreya langsung membuka kotak itu. Dia mulai mengobati luka lebam yang sedang mendominasi wajah tampan pria itu.
Rahul meringis merasakan perih saat kapas yang sudah diolesi cairan antiseptik, dioles dan ditekan-tekan secara perlahan pada permukaan kulit wajahnya.
Namun saat matanya kembali menatap wajah cantik Shreya, ringisan itu berhenti seolah rasa perih yang dia rasakan ikut terlupakan begitu saja, dengan keindahan mahkluk ciptaan Tuhan dihadapannya ini.
Tanpa sadar, tangan Rahul terangkat untuk memegang tangan Shreya yang sedang mengobati lukanya. Hingga wanita itu menghentikan aktivitasnya dan menatap Rahul. Keduanya kembali bertatapan dengan dengan begitu dalamnya.
Perlahan-lahan Rahul mendekatkan wajahnya kewajah Shreya. Setelah kedua wajah itu tidak memiliki jarak lagi, Rahul melayangkan kecupannya dikening wanita itu yang sama sekali tidak memberontak. Wanita itu malah memejamkan matanya, menikmati kecupan itu. Mengikuti perasaannya yang begitu dalam.
*********
Sesuai saran dokter, selama empat hari Shreya mengistirahatkan dirinya dirumah sakit, untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang sempat drop.
__ADS_1
Rahul sebagai orang yang bertanggung jawab atas Shreya selama wanita itu dirawat dirumah sakit, terus menemani dan menjaganya dengan sepenuh hati. Mulai dari menyuapinya makan, mengupas dan mengiris buah-buahan sebagai makanan pencuci mulutnya, mengantarnya setiap kali Shreya ingin ketoilet.
Jika ada masalah diperusahaan yang sangat membutuhkan kehadirannya, yang tidak bisa lagi dia wakilkan pada asisten maupun karyawannya yang lain, maka Rahul akan meninggalkan Shreya dalam pengawasan perawat.
Selama Rahul sibuk dengan pekerjaannya, Shreya selalu merasa kesepian dan merindukan lelaki itu, hingga dia menjadi uring-uringan dan malas untuk makan sekalipun perawat sudah berusaha untuk membujuknya, menawarkannya nonton TV agar tidak bosan, namun tidak ada yang berhasil.
Mood Shreya akan kembali baik setiap kali dia sudah melihat wajah Rahul. Begitupun dengan Rahul, yang tidak pernah bisa merasa tenang setiap kali dia harus meninggalkan Shreya demi pekerjaannya.
Meskipun dia sangat yakin bahwa tim medis dirumah sakit itu pasti akan menjaga wanita itu dengan baik, namun tetap saja, wanita itu selalu menjadi beban pikirannya setiap kali dia berada dikantor, menghadiri meeting dengan karyawan, klien, manager serta direktur dari anak perusahaan.
Sebisa mungkin dia akan melakukan meeting itu dengan sebaik-baiknya agar secepatnya mencapai hasil. Begitu masalah pekerjaannya selesai, Rahul akan langsung kembali kesisi Shreya yang menyambutnya dengan sumringah.
Hingga tibalah hari dimana kondisi Shreya sudah dinyatakan membaik, dan diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit.
**********
Mobil yang dikendarai Rahul akhirnya sampai didepan halaman rumah keluarga Dirgantara. Rahul menghentikan mobilnya, lalu melirik Shreya yang duduk disebelahnya.
Senyum gemas tersungging dibibirnya saat melihat wanita itu ternyata sedang tertidur pulas didalam mobil. Rahul menyibak rambut panjang yang menutupi wajah Shreya dengan hati-hati, agar tidak menggangu tidur wanita itu.
Lalu dia merangkum wajah Shreya dengan lembut. Menatap wajah cantik yang selalu membuatnya tidak pernah merasa bosan untuk melihat dan memikirkannya.
Meski sebelumnya dia sudah berpikir dan bertekad untuk membuat sedikit jarak diantara mereka, demi menjaga hubungan persahabatannya dengan Fajar. Namun nyatanya, tekad itu masih belum sebulat hati dan perasaannya yang sudah merasa sangat terikat dengan wanita itu.
Seolah ada magnet kuat yang terus menariknya kedekat wanita itu. Hingga rasanya dia menyerah untuk menjalankan tekatnya itu. Mungkin memikirkannya memang mudah, namun tidak untuk mempraktekkannya. Entah sampai kapan perasaan ini akan membumbung dihatinya.
Rahul kembali mendekatkan wajahnya kedepan wajah Shreya secara perlahan. Bibir sensualnya kali ini mengincar bibir mungil wanita itu dengan penuh hasrat.
Saat bibirnya sudah berjarak sekitar tiga inci dari bibir indah Shreya, mata wanita itu pun terbuka. Membuat Rahul terkesiap dan langsung menjauhi tubuhnya.
"Euh..... Sudah sampai?" Dengan mata yang masih berkabut dan wajah loyo, Shreya menatap kesekelilingnya. Ternyata dia sudah berada didepan pekarangan rumah Dirgantara.
"I-iya. Ini kita sudah sampai" Rahul tampak salah tingkah akibat perbuatan tidak bermoral yang barusan hampir dia lakukan.
Dia hanya berharap agar wanita itu tidak menyadari dan mengetahui tindakannya, yang hendak menciumnya seperti dirumah sakit tempo hari itu. Semoga saja. Jika tidak, mungkin wanita itu akan merasa takut menjadi korban tindakan tidak senonohnya.
"Oh..... Ya sudah, ayo turun"
"Kamu yakin bisa sendiri? Tidak perlu dibantu?" Tanya Rahul yang masih belum sepenuhnya merasa yakin dengan kondisi Shreya.
"Ya tentu saja. Memangnya aku anak kecil, sampai tidak bisa berjalan sendiri?"
__ADS_1
"Ya kamu memang bukan anak kecil. Tapi kan, kamu sedang membawa-bawa anak kecil dalam perutmu" Kelakar Rahul sembari menunjuk perut besar dan bulat Shreya.
"Uhg.... Dasar! Ayo turun" Shreya mendorong pundak Rahul dengan kesalnya mendengar lelucon pria itu. Setelah itu dia langsung membuka pintu mobil dan keluar lalu melangkah masuk kedalam rumah.