Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 94- Momen Yang Kurindukan


__ADS_3

Rahul tiba dirumahnya saat jam menunjukkan pukul 17.57 WIB. Dan tentu saja orang pertama yang dia cari adalah istri yang setiap saat selalu dia rindukan. Seakan mengerti kebiasaan istrinya pada jam-jam segini, dia langsung menuju dapur.


Dan dugaannya pun tidak meleset. Begitu tiba didapur, dia langsung menemukan istri tercintanya yang sedang berkutat dengan alat dan bahan-bahan memasak sembari bersenandung ria. Wanita itu tampak sangat menikmati kegiatan yang sedang dilakukannya.


Pemandangan itu langsung membuat hati Rahul seketika menjadi teduh. Dengan senyum cerah yang terpancar diwajahnya, dia menghampiri Zahra. Untung suasana sedang dalam keadaan sepi. Tidak ada orang lain diruangan itu selain mereka berdua.


Dan hal itu menjadi kesempatan emas bagi Rahul, untuk bisa lebih leluasa berduaan dengan istrinya. Mencurahkan segala bentuk perasaan cintanya terhadap wanita itu. Zahra yang sedang asik memasak tidak menyadari kehadiran Rahul yang sudah berada tepat dibelakangnya. Rahul menutup mata Zahra dengan kedua telapak tangannya.


"Aduh. Siapa sih ini? Jangan iseng deh. Aku sedang sibuk" Protes Zahra sembari berusaha menyingkirkan tangan yang sedang menyelubungi matanya itu. Rahul pun akhirnya menyingkirkan tangannya dari mata istrinya.


"Sudah kuduga. Pasti kamu biang keroknya" Sungut Zahra yang lantas kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Oh.... Jadi sedari tadi kamu selalu memikirkanku? Makanya kamu langsung tau kalau ini aku" Goda Rahul.


"GR. Memangnya aku tidak ada kerjaan sampai memikirkanmu terus?"


"Masak sih? Jangan bohong ya. Nanti hidungmu bisa sepanjang Pinokio lho" Gurau Rahul yang membuat Zahra kembali menatapnya sembari tersenyum menahan geram.


"Lucu sekali. Sudah sana, jangan menggangguku. Aku sedang sibuk"


"Kamu sedang masak apa? Apa perlu aku membantu?" Rahul mendekati Zahra dan memeluknya dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku?" Tegur Zahra saat kedua tangan Rahul melingkar didadanya.


"Memangnya aku ngapain?" Rahul balik bertanya dengan santai sembari menyandarkan dagunya dibahu Zahra.


"Ini. Singkirkan tanganmu" Zahra menunjuk tangan Rahul yang sedang melilit tubuhnya.


Rahul tidak mengindahkan. Dia tetap memeluk Zahra dengan erat. Sudah lama dia merindukan momen seperti ini. Momen mesra dan romantis bersama istri tercintanya.


Kemarin dia tidak bisa memeluk ataupun menyentuh Zahra dengan bebas. Karena dia mengira bahwa wanita itu adalah istri dari pria lain. Tapi tidak untuk sekarang. Sebagai seorang suami, dia berhak mencurahkan cintanya terhadap perempuan itu sesuka hatinya kan?

__ADS_1


"Coba kamu pikirkan, kalau sampai ada yang melihat ini, mereka pasti akan salah paham dan mengira kita ada apa-apa" Karena Rahul tak kunjung melepaskannya, Zahra pun akhirnya memperingatkan dengan tegas. Membuat Rahul menghela nafas berat.


Jika dipikir, apa yang dikatakan Zahra memang ada benarnya. Keluarganya pasti akan curiga jika sampai melihat perbuatannya ini. Mereka pasti akan meminta penjelasannya. Atau kalau tidak, tudingan miring pasti akan menerpa hubungan dia dengan istrinya sendiri.


Sementara dia masih harus tetap berada dalam posisi, dimana dia belum bisa speak up tentang status hubungan mereka yang sesungguhnya. Akhirnya dengan berat hati, dia melepaskan tangannya dari tubuh Zahra.


"Baiklah, aku akan pergi. Aku tunggu masakanmu dimeja makan" Rahul menyentil kening Zahra dengan sepelan mungkin. Namun tindakannya tetap membuat perempuan itu mengaduh.


"Aauww!" Zahra memegang keningnya. Rahul merangkum wajah Zahra dengan gemasnya.


"Tenang saja. Aku melakukannya dengan pelan. Aku yakin tidak terlalu sakit kok" Rahul mengecup kening Zahra dengan penuh cinta.


"Sekarang tidak sakit lagi kan?" Rahul tersenyum dengan manisnya.


Kemudian dia berbalik dan meninggalkan Zahra yang berdiri mematung dan terperangah akibat ciumannya barusan. Dia tidak habis pikir, kenapa semakin hari, Rahul semakin seenaknya mencium setiap bagian wajahnya?


Dan lucunya, alih-alih merasa dilecehkan, dia malah merasa senang dan ketagihan menerimanya. Dan kenapa Rahul memperlakukannya seolah-olah mereka adalah pasangan yang sesungguhnya? Apa dia tidak ingat istrinya saat melakukan semua itu?


Meskipun dia masih memiliki Fajar sebagai suaminya, tapi dia selalu mengatakan pada Rahul, bahwa dia tidak pernah merasakan perasaan apapun terhadap suaminya itu. Hanya dengan Rahul saja dia selalu merasakan perasaan yang berbeda. Tapi.... apakah Rahul sendiri juga merasakan hal itu hanya kepadanya saja?


********


Waktu makan malam pun kembali tiba. Dan seperti biasa, seluruh anggota keluarga Dirgantara berkumpul dalam satu meja diruang makan.


Helmi menatap Rahul yang sedang asik menyantap makanannya. "Rahul. Semuanya baik-baik saja kan? Apa ada sesuatu hal yang baik terjadi?"


"Maksud Papa?" Rahul balik bertanya tidak paham.


"Ya maksud Papa, sikapmu ini. Papa perhatikan, akhir-akhir ini sikapmu jadi beda dari biasanya. Kamu jadi terlihat begitu sumringah dan ceria. Tidak seperti biasanya yang selalu terlihat murung dan sedih. Bahkan Papa dengar dari Kakakmu, (Helmi menunjuk Gala yang sedang duduk menyantap makan malamnya disamping Amora) kamu sampai memberikan bonus untuk semua karyawan. Kamu juga memberikan santunan kepada anak-anak panti asuhan dan anak-anak terlantar dijalanan. Benar begitu?"


"Memangnya kenapa? Papa keberatan dan tidak suka, dengan apa yang aku lakukan pada mereka semua? Papa juga tidak senang, melihatku bersikap seperti ini?"

__ADS_1


"Kata siapa? Justru Papa sangat bangga dengan apa yang kamu lakukan itu? Papa juga sangat senang, melihatmu bisa ceria lagi. Sudah bertahun-tahun lamanya, Papa tidak melihatmu seperti ini"


"Lalu kenapa harus dipertanyakan? Bukankah bagus, jika aku sudah bisa melupakan segala bentuk kesedihanku? Dan bukankah semua yang aku lakukan itu adalah hal yang positif dan kebaikan? Coba bayangkan, berapa banyak anak-anak yatim piatu yang mendoakan kita, karena kita sudah membuat mereka bahagia?"


"Apa kamu melakukan semua itu.... supaya anak-anak itu mendoakanmu agar bertemu kembali dengan Zahra?" Timpal Lesti dengan pelan. Sedangkan Zahra, Gala dan Amora masih diam menyimak.


"Tentu saja. Aku ingin mereka semua mendoakanku, supaya aku bisa bersatu dan hidup bahagia lagi bersama Zahra seperti dulu" Jawab Rahul dengan seulas senyuman seraya menatap Zahra dalam-dalam.


Berbeda dengan yang lain, Zahra yang menyadari hal itu hanya membalas tatapan Rahul dengan kebingungan. Dia tidak mengerti kenapa Rahul membicarakan istrinya sembari menatapnya.


Seakan lelaki itu mengkait-kaitkannya dengan istrinya. Atau mungkin, itu hanya perasannya saja? Entahlah. Dia juga tidak mengerti.


********


Zahra sedang berjalan dengan santainya saat tiba-tiba Rahul muncul dibalik dinding dan langsung menyapanya.


"Good morning"


"Huh. Bikin kaget saja" Gerutu Zahra yang sedikit terkejut akibat kemunculan Rahul yang secara tiba-tiba.


"Kamu kaget? Apa Boy baik-baik saja?" Rahul mengelus-elus perut Zahra dengan agak cemas.


Lagi-lagi perlakuan Rahul membuat Zahra terpana hingga jantungnya berdegup kencang. Kehangatan kembali menjalar keseluruh tubuhnya, kala tangan Rahul menyentuh dan mengelus-elus perut buncitnya.


"Makanya.... kalau jalan itu jangan sambil melamun. Kasiankan Boy"


"Siapa yang melamun? Kamu saja yang muncul secara tiba-tiba seperti hantu"


"Mana ada hantu setampan ini? Kalaupun ada, berarti judulnya.... Hantu tampan dong" Seloroh Rahul.


"Bergurau saja terus. Sudahlah, aku tidak ada waktu untuk mendengar ocehanmu. Aku buru-buru"

__ADS_1


__ADS_2