Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 87- Aku Akan Membawamu Bersamaku!!


__ADS_3

Menghadapi istri yang menganggapnya sebagai orang lain, yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya! Mampukah dia menghadapi dan bertahan dalam situasi serumit itu?!


Saat sedang hanyut dengan pikirannya yang masih berada dalam kebimbangan, dia tersentak saat pintu rumah Fajar terbuka dari dalam. Rahul terpana melihat wanita cantik dengan perut bulat dan besar.


Dia tidak pernah menyangka, jika perempuan yang selama ini dia kira sebagai perempuan yang telah membuatnya menghianati istri tercintanya, ternyata dia adalah istri yang selama ini dicarinya. Dan bayi yang sedang tumbuh didalam perut besar itu, adalah darah dagingnya?! Buah cinta mereka?! Rasanya ini seperti mimpi yang selama ini selalu hadir dalam setiap doa disela-sela sujudnya.


Dia berdiri mematung melihat Zahra yang berjalan dengan langkah pelan menuju kearahnya. Menatap wajah cantik yang dulu pernah dia impikan akan menjadi wajah pertama yang akan dia lihat, begitu penglihatannya kembali. Namun yang terjadi malah berbanding terbalik dengan ekspektasinya. Karena dia baru bisa melihat wajah itu sekarang


Zahra terus berjalan mendekatinya. Tatapan mata keduanya saling bertaut dalam diam. Rahul bisa melihat tatapan sendu yang terpancar melalui sorot mata istrinya. Entah apa yang membuatnya bersedih. Saat keduanya sudah begitu dekat, tanpa dapat dicegah Zahra langsung memeluk Rahul dengan erat.


"Kamu masih disini? Aku pikir tidak akan pernah melihatmu lagi. Aku pikir kamu benar-benar sudah meninggalkanku. Kamu tau? Setelah kamu pergi, aku merasa hidupku begitu hampa. Tadinya aku pikir, aku bisa melupakanmu perlahan-lahan. Karena itu aku memintamu pergi. Tapi ternyata aku salah. Melupakanmu adalah hal yang sangat sulit bagiku. Aku membutuhkanmu. Aku tidak bisa jauh darimu"


Zahra terisak seraya menelusupkan wajahnya didada bidang Rahul. Pernyataan dan tangisan perempuan itu membuat hati Rahul serasa mencelos. Segelombang rasa bersalah kembali menerjangnya. Karena dia pernah berpikiran buruk terhadap istrinya sendiri. Menuduh istrinya bisa bersikap serendah itu!


Padahal Zahra benar-benar tulus mencintainya. Meskipun dalam kondisinya yang sedang tidak mengingat apapun seperti saat ini. Selain itu, semua yang terjadi bukanlah kesalahan Zahra. Melainkan kesalahannya yang tidak bisa menjaga istrinya dari bencana itu. Hingga keadaannya menjadi serumit ini!


Beruntung akhirnya Tuhan membuka matanya dan memberikannya petunjuk. Hingga dia bisa mengungkapkan identitas asli istrinya, yang sekarang sedang memeluknya dengan penuh cinta.


Rahul membalas pelukan Zahra dengan perasaan campur aduk antara bahagia, terharu dan sedih. Rasanya seperti mimpi hingga dia tidak percaya, bahwa wanita yang ada dihadapannya ini adalah istrinya. Dan sedang berada dalam pelukannya!


"Jangan khawatir. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada disisimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau sedetikpun. Walau apapun yang terjadi. Lebih baik aku mati daripada melakukan itu. Aku mohon jangan menangis lagi. Melihat air matamu, membuat hatiku terasa sakit" Kata Rahul lirih dan menekan.


Ingin rasanya dia mengatakan pada Zahra, jika sekarang mereka sudah tidak perlu lagi saling menjauhi. Karena mereka adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya.

__ADS_1


Namun dia berusaha keras untuk menahan diri, karena sudah terlanjur membuat kesepakatan dengan Fajar. Bahwa dia akan menutup mulutnya untuk sementara waktu, hingga sampai pada saat Zahra melahirkan anak mereka.


Dia akan melakukan apapun selama itu bisa membuat Zahra dan anaknya tetap bersamanya, dan tidak meninggalkannya lagi. Meski untuk itu dia harus menunggu dan bersabar. Walau keberadaannya dianggap sebagai orang asing oleh istrinya sendiri!


Saat keduanya sedang terlena dengan perasaan, tiba-tiba saja mereka tersentak saat ada sebuah mobil yang memasuki pekarangan. Tentu saja mereka tau betul bahwa itu adalah mobilnya Fajar. Zahra jadi gelagapan dan langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Rahul.


"I-itu mobilnya Fajar" Ujar Zahra panik.


Sangat berbeda dengan Rahul yang tampak biasa saja. Tentu saja karena dia sudah tau, siapa sebenarnya perempuan yang barusan dia peluk. Jadi dia tidak perlu merasa takut ataupun bersalah lagi, dengan apa yang dia lakukan kepada wanita itu.


"Fajar. A-aku dan Rahul. I-ini tidak seperti yang....." Zahra tampak gugup dan salah tingkah. Sepertinya dia sangat takut Fajar akan marah melihatnya yang memeluk Rahul barusan.


"Ayo kita masuk. Ada yang ingin aku bicarakan" Tukas Fajar lembut.


"Apa yang mau kamu bicarakan memangnya?" Tanya Zahra bingung. Dia sedikit terkejut melihat ekspresi Fajar. Tidak mungkinkan, tadi Fajar tidak melihatnya berpelukan dengan Rahul meski dibalik mobilnya?


"Kita bicara didalam saja ya. Ayo kita masuk dulu"


********


"Kamu ingin aku ke Jakarta bersama Rahul?" Zahra terkejut mendengar keputusan Fajar yang tanpa ada angin tanpa ada hujan, tiba-tiba saja menyuruhnya pergi bersama Rahul. Apa dia tidak salah dengar?


"Iya" Fajar menjawab dengan nada lirih dan raut wajah yang muram.

__ADS_1


"Memangnya ada apa? Ke-kenapa tiba-tiba saja kamu menyuruhku kesana? Dan.... kenapa harus bersama Rahul? Apa ada masalah?" Zahra bertanya memastikan. Takutnya ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan darinya. Hingga dia bisa mendengar keputusan seperti ini.


"Tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja, besok aku harus ke Swiss, untuk mengurus perusahaan cabang farmasi yang ada disana. Dan.... sepertinya aku harus berada disana selama berbulan-bulan. Mungkin sampai kamu melahirkan.


Jadi sebaiknya, sambil menunggu masa-masa persalinan, kamu tinggal saja bersama keluarga Rahul di Jakarta. Disanakan ada Tante Lesti dan Amora yang bisa menemanimu"


"Bukankah disini juga ada Bu Zaitun dan pelayan lainnya? Bukankah mereka juga bisa menemaniku?"


"Mmm.... Besok Bu Zaitun juga akan pulang kampung. Ada saudaranya yang sakit. Kemungkinan beliau akan lama disana sampai saudaranya sembuh. Sedangkan pelayan yang lain, mereka semua pasti sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Jadi tidak mungkin mereka akan selalu ada waktu untuk menemanimu. Beda dengan Tante Lesti. Beliau pasti akan selalu ada waktu untuk menemanimu ngobrol atau melakukan apapun bersama"


"Kamu jangan khawatir. Aku yakin keluargaku pasti akan menerimamu dengan senang hati disana. Karena mereka juga sudah menganggapmu seperti anak sendiri" Rahul yang sedari tadi hanya diam akhirnya ikut menimpali membujuk istrinya.


Apapun yang terjadi, Zahra harus tetap ikut dengannya! Karena dia tidak bisa melepaskan istrinya lagi! Dia adalah suami dari perempuan itu. Serta ayah dari bayi yang sedang dikandungnya. Dan sebagai suami, tentu saja dia memiliki hak dan kewajiban untuk membawa dan menjaga mereka.


Meskipun untuk saat ini, dia masih belum bisa berterus terang tentang kebenaran itu. Namun dia akan tetap mengambil haknya. Karena tempat seorang istri adalah dirumah suaminya!


Zahra berpikir sejenak. Jujur dalam lubuk hatinya yang terdalam, tidak sedikitpun ada rasa keberatan lantaran harus ikut bersama Rahul. Malah sebaliknya, dia merasa sangat bahagia karena bisa tinggal serumah lagi dengan pria itu selama beberapa bulan.


Membayangkan dirinya bisa kembali berada didekat Rahul, serta melihat wajah Rahul setiap saat, membuat hatinya terasa terbang kelangit tinggi.


Tapi sebagai istri dari Fajar, pantaskah dia memiliki pikiran seperti itu? Dia takut semakin berdosa bila cintanya terhadap Rahul menjadi semakin besar dan dalam. Apalagi jika mereka serumah selama beberapa bulan kedepan.

__ADS_1


"Aku akan menyuruh pelayan untuk mengemasi barang-barangmu. Sekarang kamu bersiap-siaplah dulu" Ucap Fajar.


"Iya baiklah. Aku kekamar dulu"


__ADS_2