Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 33- Operasi


__ADS_3

"Cinta, kesetiaan dan kejujuran. Aku ingin kamu selalu mencintaiku. Selalu menjadikanku sebagai satu-satunya wanita yang menjadi pemilik hatimu. Tidak ada wanita manapun yang akan kamu cintai selain aku. Yang kedua adalah kesetiaan. Aku ingin kamu selalu setia padaku. Pada janji suci pernikahan kita. Pada ikatan cinta kita. Pada komitmen yang sudah kita buat bersama"


"Yang ketiga adalah kejujuran. Aku ingin kamu selalu jujur padaku dalam segala hal. Karena sebuah hubungan harus dimulai dengan kejujuran dan kepercayaan. Itulah makna dari sebuah hubungan yang sesungguhnya. Dan itulah yang akan selalu aku tuntut darimu" Tutur Zahra panjang lebar yang membuat Rahul terpaku karena merasa tertampar oleh ucapan istrinya.


Cinta dan kesetiaan. Mungkin dia bisa memberikan kedua hal itu untuk Zahra. Dia sangat mencintai wanita itu dan hanya akan setia pada pernikahan ini.


Tapi kejujuran. Apakah dia sudah memberikannya? Sampai sekarang saja, dia masih menutupi tentang identitas dan keluarganya pada istrinya sendiri. Apakah sudah saatnya dia jujur dan membuat pengakuan, jika Keluarganya masih hidup, agar tidak ada lagi beban dihatinya?


Huh.... Dia masih bimbang jika menyangkut masalah yang satu itu.


*******


Rahul dan Zahra akhirnya sampai di Jakarta, setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Mereka langsung menuju rumah sakit yang telah ditunjuk oleh dokter untuk segera melakukan operasi.


Zahra dengan sabar dan setia menunggu suaminya yang sedang dibedah oleh tim dokter didalam ruangan operasi. Sesekali dia melirik kedalam ruangan yang tertutup dengan pintu dan dinding, dengan perasaan was-was. Dia sangat berharap akan keberhasilan operasi itu.


Meskipun dokter sudah mengatakan jika tingkat keberhasilannya sangat besar, namun tetap saja dia belum bisa tenang sebelum tahu hasilnya. Harapan Rahul untuk bisa melihat kembali sangat besar. Jangan sampai harapannya kandas hingga dia kembali putus asa.


Untuk menenangkan hatinya yang sedang getar getir, Zahra meninggalkan koridor ruang operasi dan menuju mushola untuk menjalankan sholatnya. Dia mendoakan keberhasilan operasi Rahul disela-sela sembah sujudnya. Setelah itu dia langsung kembali menunggui suaminya didepan ruang operasi.


Setelah dua jam lebih menunggu, akhirnya pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah dokter Hadi. Zahra langsung beranjak dari kursi dan menghampiri dokter itu.


"Bagaimana Dok kondisi suami saya?" Tanya Zahra tak sabaran.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar" Jawab dokter Hadi dengan seulas senyum.


"Alhamdulillah" Zahra mengadahkan tangannya kedepan lalu mengusapnya kewajahnya. "Itu artinya, suami saya akan bisa melihat lagi?" Tanyanya lagi dengan antusiasnya.


"Insya Allah. Nanti begitu perbannya dibuka, kita akan sama-sama mengetahui hasilnya"


"Lalu, kapan perbannya akan dibuka Dok?"


"Sabar ya Sus. Perbannya baru bisa dibuka sekitar satu minggu lagi"


"Kalau begitu, apa saya bisa bertemu suami saya Dok?"


"Iya. Nanti setelah Pak Rahul dipindahkan keruang rawat, Suster bisa langsung menemuinya"


"Terima kasih banyak Dok"


"Sama-sama. Kalau begitu, saya tinggal dulu"

__ADS_1


"Iya Dok"


Dokter Hadi kembali kedalam ruangan operasi. Meninggalkan Zahra dengan perasaan melambung tinggi karena kebahagiaan. Sebentar lagi Rahul bisa melihat. Pria itu pasti akan sangat senang, karena keinginannya selama ini akhirnya menjadi kenyataan.


********


Sudah empat hari pasca operasi. Dan selama empat hari itu, Rahul harus beristirahat diruang rawat dengan mata yang terus terbalut perban. Tentunya dia bersama Zahra. Sang istri tercinta yang selalu setia menunggu dan menemaninya.


"Ayo makan lagi. A'k" Zahra menyodorkan irisan apel kedepan mulut Rahul.


"Tidak-tidak. Aku sudah kenyang. Sekarang giliranmu yang makan. Ayo" Rahul mengambil irisan apel itu dari tangan Zahra. Lalu gantian dia yang menyodorkan apel itu didepan mulut Zahra. Bermaksud untuk menyuapi istrinya.


"Tidak, kamu saja. Aku masih kenyang. Ayo" Zahra memegang irisan apel yang masih berada ditangan Rahul.


"Hey. Aku tanya. Yang hamil disini siapa? Yang butuh banyak asupan gizi siapa? Jadi kamu yang harus banyak makan. Ayo, ini demi little ku" Rahul mengangkat irisan apel itu agar terlepas dari tanan Zahra. Dia tetap bersikukuh untuk menyuapi Zahra dengan buah itu.


"Iya-iya, aku makan" Akhirnya Zahra menuruti ucapan Rahul untuk memakan buah itu.


"Nah, begitu dong. Itu baru namanya istri yang baik. Nurut sama suami" Goda Rahul.


"Ih....." Zahra mendorong pundak Rahul dengan kesalnya.


"Auw.... Mulai lagi deh bar-barnya"


"Iya deh bumilku. Eumm...." Rahul memeluk dan mencium pipi Zahra dengan gemasnya.


"Ih.... Dasar menyebalkan" Zahra berusaha melepaskan dan mendorong tangan Rahul yang sedang memeluknya.


"Oh ya. Seandainya aku bisa melihat, kamu tau, apa yang pertama kali ingin aku lihat?"


"Apa?"


"Aku ingin, putri Belle ku adalah wajah pertama yang aku lihat. Bidadari yang dikirim Tuhan untuk memberikanku surga dunia. Mengubah segala bentuk kegelisahanku menjadi ketenangan. Mengubah penderitaanku menjadi kebahagiaan. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah berhenti bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimmu dalam hidupku"


"Dan sekarang dia mengirim malaikat kecil ini didalam rahimmu. Buah cinta kita. Aku tidak tahu harus bicara apalagi sekarang. Karena aku merasa jika kebahagiaanku kini sudah sangat lengkap. Hingga terkadang aku merasa jika ini hanya mimpi" Rahul membelai wajah Zahra dengan satu tangan, dan satu tangan lagi membelai perut istrinya itu.


"So sweet..... Romantisnya suamiku ini" Zahra mencubit pipi Rahul dengan gemasnya. "Aku sangat bahagia karena sebentar lagi kamu akan bisa melihatku. Ditambah lagi dengan kehadiran sikecil ini. Aku membayangkan, kita hidup berempat. Aku, kamu, sikecil dan Ibu sebagai orang tua satu-satunya yang kita miliki"


Celotehan Zahra tentang orang tua kembali membuat Rahul terdiam dengan raut wajah bersalah.


"Hey, kenapa? Kok tiba-tiba wajahmu murung begitu? Apa aku salah bicara?" Tanya Zahra yang merasa heran akan sikap suaminya yang tiba-tiba muram.

__ADS_1


"Tidak. Bukan kamu yang salah, tapi aku" Lirih Rahul.


"Maksudnya?"


"Ini mengenai keluargaku"


"Kenapa? Kamu merindukan mereka? Kamu pasti sangat mengharapkan kehadiran mereka ya saat ini? Aku mengerti perasaanmu. Tapi kita bisa apa? Mereka sudah tiadakan? Doakan saja semoga mereka bahagia di surga sana" Ujar Zahra dengan polosnya.


"Masalahnya, mereka belum ada di surga. Mereka masih ada didunia ini. Dunia yang sama dengan kita"


"Maksudmu?" Zahra mengernyitkan keningnya.


"Aku sudah membohongimu selama ini. Sebenarnya orang tuaku masih hidup. Mereka ada di Jakarta. Dan mereka tidak ada dalam kecelakaan itu"


"Jika mereka masih hidup, lalu kenapa selama ini kamu bohong padaku?"


"Karena aku ingin melupakan dan membuang mereka dari hidupku. Sama seperti mereka yang sudah membuangku selama ini" Kata Rahul dengan emosional.


"Apa yang terjadi? Ceritakan semuanya padaku" Tanya Zahra pelan.


Rahul pun menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Zahra terkejut dan sedih mendengar cerita suaminya. Dia tidak menyangka jika hidup pria yang telah menikahinya ini begitu menyedihkan.


Dicampakkan oleh wanita yang telah dia selamatkan hingga matanya menjadi korban. Wanita itu juga tega menggantikan dirinya dengan kakaknya sendiri.


Tapi bukan berarti dia harus membiarkan suaminya untuk terus hidup dengan perasaan amarah dan dendam yang tumbuh dihatinya. Sebagai seorang istri, dia harus bisa menjadi air yang memadamkan api kemarahan dihati suaminya.


"Apa kamu sangat marah dan sakit hati pada orang tuamu sendiri?" Tanya Zahra lembut.


"Sangat. Aku sangat sakit hati dan kecewa pada mereka yang telah memperlakukanku seperti seekor piaraan" Jawab Rahul dengan suara rendah. Zahra bisa merasakan adanya kemarahan dan sakit hati yang mendalam dari ucapan suaminya itu.


"Apa kamu dendam pada mereka?" Cecar Zahra lagi yang kali ini berhasil membuat Rahul terpaku dan bingung, untuk memberikan jawaban apa atas pertanyaan yang dilontarkan istrinya itu. Meskipun dia merasa sakit hati dan kecewa terhadap keluarganya, tapi apakah ada dendam yang tersimpan dihatinya untuk orang tuanya sendiri?


"Kenapa tidak dijawab? Bukankah kamu sangat marah dan sakit hati terhadap sikap mereka padamu? Itu artinya kamu menyimpan dendam terhadap mereka?"


"Aku tidak tahu" Lirih Rahul dengan wajah menunduk.


"Aku tahu mereka salah. Mereka sudah tidak bersikap adil terhadapmu. Tapi bukan berarti kamu harus membenci mereka kan? Biar bagaimanapun juga, baik buruknya mereka tetap keluargamu. Orang tuamu. Ibu yang melahirkanmu. Yang dibawah kakinya terdapat surgamu. Jadi kalau aku boleh meminta, tolong maafkan mereka....." Pinta Zahra dengan suara lembut.


"Tapi mereka sudah memperlakukanku dengan tidak adil selama ini. Mereka tidak ada disaat aku butuh. Mereka membiarkanku jatuh seorang diri. Apakah aku tetap harus memaafkan mereka?" Tukas Rahul dengan nada suara yang sedikit tinggi saking kesalnya.


"Kamu tau? Seseorang akan disebut hebat, saat mereka berhasil melakukan hal yang paling sulit untuk dilakukannya. Salah satunya adalah memaafkan orang yang sudah menorehkan luka yang teramat dalam dihati kita. Selain itu, memaafkan akan membuat hati kita menjadi tentram. Karena tidak ada lagi kemarahan, kebencian dan dendam yang menggerogoti hati kita. Aku tau itu sangat sulit. Tapi belajarlah untuk berdamai dengan masa lalu"

__ADS_1


"Saat ini aku sedang mengandung anakmu. Sebentar lagi dia akan lahir dan kita akan menjadi orang tua. Waktu pun akan terus berjalan. Semakin lama dia akan semakin beranjak dewasa. Lalu, jika suatu saat nanti dia menanyakan seperti apa kakek, nenek dan omnya. Jawaban apa yang akan kamu berikan padanya?"


"Apa kamu akan mengatakan, jika keluargamu adalah orang yang picik dan egois? Yang telah bersikap tidak adil terhadap ayahnya? Apakah bijak, mengisi kebencian dalam hati seorang anak yang masih polos? Lalu nanti, dia akan tumbuh menjadi sosok yang pendendam terhadap keluarganya sendiri. Apa itu yang kamu inginkan?"


__ADS_2