Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 119- Aku Adalah Zahramu!!


__ADS_3

Melihat ekspresi Zahra membuat Rahul seketika menjadi lesu. Tampaknya wanita itu masih dalam keadaan amnesia! Buktinya, Zahra seperti tidak mengerti apa yang dia katakan. Rahul menghela nafas kecewa.


Tapi barusan dia mendengar Zahra memanggilnya dengan nama Satya?! Benarkah dia hanya salah dengar?! Ah ya, mungkin itu secara spontanitas dibawah alam sadarnya yang pasti mengingatnya sebagai suami!


Tapi dialam nyata, wanita itu pasti masih hilang ingatan dan tidak mengingat apapun! Dia harus menerimanya dengan lapang dada. Mungkin, kesabarannya masih diuji! Ya sudahlah. Apapun itu, dia akan tetap berdamai dengan keadaan.


"Namaku Zahra, bukan Shreya" Namun seketika ucapan Zahra membuat Rahul terkejut, dan dia menatap lekat istrinya yang balas menatapnya dengan seulas senyum simpul.


"Ka-kamu bilang apa? Kamu menyebut dirimu sebagai Zahra?!" Rahul bertanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


"Bukankah memang itu nama asliku? Azzahra Alfathunnisa?" Ucap Zahra santai.


"Ka-kamu sudah ingat semuanya? Kamu sudah ingat kalau kamu adalah...?" Rahul semakin terkejut dan serasa tidak percaya mendengar Zahra bisa menyebutkan nama lengkapnya sendiri.


"Azzahra Alfathunnisa, istri dari Rahul Aryan Dirgantara? Alias.... Bellenya Satya" Tukas Zahra sembari tersenyum cerah.


"I-ini aku sedang tidak bermimpi kan? Ingatanmu benar-benar sudah kembali? Kamu sudah ingat, kalau aku adalah suamimu?" Rahul merangkum wajah Zahra dengan lembut dan dengan tatapan tidak percaya.


Benarkah ingatan istrinya sudah kembali?! Benarkah wanita itu sudah sepenuhnya mengingatnya sebagai suami?! Benarkah ini nyata?! Atau mungkin, hanya mimpi belaka?!


"Aauww! Kenapa kamu malah mencubitku?" Rahul terkejut dan mengaduh kesakitan saat tiba-tiba Zahra mencubit lengannya dengan keras. Membuatnya protes seraya mengusap-usap tangannya yang terasa nyeri seperti digigit serangga.


"Apa terasa sakit? Kalau iya, berarti kamu sedang terbangun. Tidak sedang tertidur sampai bisa bermimpi" Lagi-lagi Zahra menjawab dengan santainya dengan disertai sedikit kelakar. Rahul kembali merangkum wajah istrinya.


"Aku benar-benar tidak percaya ini. Ini adalah mimpi yang selama ini aku nanti-nantikan. Dimana ingatanmu tentangku, dan cinta kita akhirnya kembali. Aku sangat bahagia sekali. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doaku selama ini. Istriku sudah kembali. Zahra, putri Belleku. Bukan Shreya, istrinya Fajar"

__ADS_1


Mata Rahul tampak kembali berkaca-kaca oleh air mata kebahagiaan. Rasanya dia masih belum percaya jika istrinya sudah kembali. Kembali sebagai Zahra! Bellenya!! Bukan sebagai istri dari orang lain! Mimpinya selama ini sudah benar-benar menjadi kenyataan sekarang?!


Zahra balas merangkum wajah Rahul. Air mata tampak sudah lolos dari pelupuk matanya dan membasahi wajahnya.


"Aku minta maaf ya. Karena selama ini, tanpa aku sadari, aku sudah banyak menyakitimu. Aku memanggil lelaki lain sebagai suamiku dihadapanmu. Aku tau hatimu pasti sangat sakit dan terluka. Tapi kamu rela menahannya demi aku. Aku mohon maafkan aku ya. Aku benar-benar tidak mengingat apapun saat itu. Aku melupakanmu. Melupakan ikatan cinta yang sudah kita buat bersama. Kamu maukan, memaafkan putri Bellemu ini"


Sembari menangis, Zahra menatap Rahul dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Dia sadar sudah banyak menyakiti suaminya selama ini. Bagaimana dia selalu menyebut nama Fajar sebagai suaminya didepan Rahul selama ini. Sebagai seorang pria dan suami, dia tau jika Rahul sangat sakit hati dan terluka oleh rasa cemburu.


Tapi pria itu harus menahannya demi menjaga kondisinya. Betapa dia sudah gagal menjadi istri yang baik, yang bisa membahagiakan suaminya. Dia tidak tau, apakah kesalahannya masih bisa dimaafkan atau tidak?


Dengan lembut Rahul menyeka air mata yang berlinang diwajah Zahra.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Aku sangat mengerti dan memaklumi semuanya. Semua yang terjadi bukan salahmu. Tapi semua itu adalah musibah. Justru aku yang seharusnya minta maaf. Karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik, sampai kamu harus menjadi korban dalam tragedi itu...."


Dia juga menatap istrinya dengan perasaan bersalah dan penyesalan, karena sudah merasa gagal menjadi suami yang bisa diandalkan untuk menjaga istrinya, hingga mereka bisa terpisah akibat tragedi itu. Rahul berusaha agar tidak menangis didepan istrinya.


Tanpa bisa dicegah lagi, Rahul memeluk Zahra dengan erat yang membalas pelukannya. Luapan kebahagiaan dan rasa haru membuncah didada mereka.


Rasanya masih seperti mimpi mereka bisa berkumpul lagi sebagai pasangan suami istri seperti dulu. Sekarang mereka sudah tidak perlu lagi merasa sungkan atau menjaga jarak. Karena semua kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka kini telah berakhir.


"Aauw!" Pelukan Rahul yang terlalu erat membuat Zahra tiba-tiba mengeluh kesakitan. Sontak Rahul terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.


"Eh, kamu tidak apa-apa?" Rahul bertanya dengan khawatir.


"Sakit" Keluh Zahra sembari memegang perutnya yang sudah rata kembali.

__ADS_1


"Maaf-maaf. Aku lupa, saking bahagianya" Ujar Rahul yang merasa bersalah. Lalu dia mengecup perut Zahra dengan lembut. "Apa masih terasa sakit?"


"Disini?" Rengek Zahra sembari menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya. Membuat Rahul tersenyum gemas.


"Oh.... Ternyata istriku mulai agresif ya" Goda Rahul.


"Sudah lama kamu tidak memberikannya. Selama ini kita harus menahannya dan menjaga jarak" Ujar Zahra dengan suara yang terdengar manja.


Rahul kembali merangkum wajah Zahra dan mengecup bibir mungil istrinya itu. Kemudian dia menempelkan wajah mereka berdua selama beberapa menit.


"Sekarang jarak itu sudah tidak ada lagi. Dia sudah lenyap bersama dengan datangnya ingatanmu kembali. Tidak ada lagi yang perlu kita tahan. Karena mulai sekarang, aku akan memberikannya dengan sepuas hati. Karena aku sudah sangat merindukan ini, ini, ini dan ini"


Rahul menyentuh hidung dan bibir Zahra. Kemudian dia memegang dua buah dada dan bagian kewanitaan istrinya dengan lembut, dan dengan disertai seulas senyum nakal. Membuat Zahra tersipu malu.


Rasanya sudah lama sekali dua bagian sensitifnya itu, tidak merasakan sentuhan dari suaminya. Namun tiba-tiba Zahra tampak terkejut.


"Sebentar! Pe.... Perutku sudah rata? Ada luka juga? Sat, a-anak kita? Apa dia....?" Zahra memandang perutnya. Dia baru sadar kalau perutnya sudah tidak buncit lagi seperti sebelumnya.


Bahkan perutnya juga terluka dan diperban seperti habis dioperasi. Dia menatap kesekelilingnya. Hanya ada mereka berdua diruangan yang luas dan mewah itu.


"Jangan khawatir. Chand baik-baik saja. Sekarang dia berada diruang inkubator. Sedang dalam masa perawatan" Sembari mengulas senyuman, Rahul menjelaskan dengan santainya.


"Dia sudah lahir? Bukankah kehamilanku baru tujuh bulan?" Zahra bertanya dengan bingung.


"Ya mau bagaimana lagi? Waktu itu ketubanmu sudah pecah. Dan kamu mengalami pendarahan hebat. Jadi satu-satunya cara ya.... Dengan operasi caesar. Dan Alhamdulillah, kalian berdua masih bisa diselamatkan"

__ADS_1


"Kalau begitu antar aku kesana sekarang juga. Aku ingin sekali melihat putra kita. Aku sudah tidak sabar ingin melihat dan menggendongnya" Pinta Zahra dengan antusiasnya.


Mendengar bahwa dia sudah melahirkan anaknya dengan selamat, membuatnya sangat ingin melihatnya untuk pertama kali.


__ADS_2