
"Iya Kakak benar, ibu mertuaku harus segera dimakamkan. Aku memiliki tanggung jawab untuk memakamkannya secara layak dan terhormat. Aku harus memberikan penghormatan terakhir untuknya" Nada bicara Rahul sudah mulai melunak.
"Aku sudah bicara dengan Papa. Katanya Bu Sakinah akan dimakamkan diarea pemakaman khusus keluarga Dirgantara. Biar bagaimanapun juga, beliau adalah bagian dari keluarga kita"
"Iya Kak, terima kasih" Rahul mengangguk dan berusaha untuk tersenyum meskipun terasa berat.
"Ayo" Ajak Gala.
"Hey! Cepat bawa tandu kemari! Ada korban lagi disini!"
"Sepertinya, ada korban lagi yang ditemukan" Rahul mengamati aktivitas dua anggota tim SAR yang sedang berupaya menyelamatkan korban yang masih tertimbun diantara reruntuhan dan lumpur. Lokasi orang-orang itu tak jauh dari posisi mereka berdiri.
"Sudahlah biarkan saja. Masih ada tim SAR yang mengurusnya. Ayo, kita urus ibu mertuamu saja" Gala kembali mengajak Rahul dan menarik lengannya. Rahul hanya menuruti ajakan kakaknya.
Sepeninggal kedua kakak beradik itu, aktivitas anggota tim SAR itu masih terus berlanjut. Dua orang pria tampak berlari membawa tandu. Mereka langsung meletakkan korban wanita dengan perut yang sedikit membuncit itu diatas tandu yang mereka bawa.
Kondisi korban wanita muda itu tampak sangat menyedihkan. Tubuhnya kotor penuh dengan pasir dan lumpur. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka dan darah.
"Sa....ty...a" Wanita itu mengigau dengan suara yang sangat kecil, hingga tidak mampu menembus telinga keempat lelaki berseragam orange yang sedang menyelamatkannya.
Mereka terus saja berjalan dengan menggotong tandu berisi wanita malang yang terbaring lemah itu.
*******
Amora dan Naomi tampak sedang asik menyantap makanan mereka disebuah restoran mewah dan elegan yang ada di Jakarta..
"Apa? Jadi suami dan mertuamu sudah berhasil, menemukan Rahul?" Tanya Naomi penasaran.
"Iya begitulah. Aku saja terkejut, saat pertama kali mendengar hal itu. Mama tau? seisi rumah itu seketika menjadi heboh saat mereka berhasil mengetahui titik lokasi sibuta itu"
Jawab Amora dengan ogah-ogahan sembari menyantap makanannya.
"Jadi benar jika Rahul masih hidup? Terus, Selama ini dia tinggal dimana? Sama siapa?" Naomi semakin kepo dengan cerita anaknya.
"Ya ampun Mama, ya mana aku tau. Mama pikir aku paranormal? Lagipula apa peduliku selama ini dia tinggal dimana dan bersama siapa? Aku bahkan bingung, kok bisa dia masih hidup? Aku pikir dia sudah mati dalam kecelakaan pesawat itu" Ujar Amora dengan arogannya.
"Ya bagus dong kalau dia masih hidup. Itu artinya, kita masih punya kesempatan untuk menjadikan dia sebagai tambang emas kita"
"Maksud Mama?" Amora mengernyitkan kening.
"Kamu tau? ternyata selama ini, Gala itu bukan anak kandungnya Helmi"
__ADS_1
"Hah! Kok bisa?! Kalau Gala bukan anak kandung Papa Helmi, lalu dia anak siapa? Dan, Mama tau darimana?" Amora terkejut bukan main mendengar pernyataan ibunya. Dia tidak pernah tau soal ini.
Selama ini yang dia tau, Helmi memiliki dua orang putra. Gala dan Rahul sama saja. Sama-sama pewaris Dirgantara Group. Bahkan Gala jauh lebih berkuasa lantaran dia anak pertama. Karena itulah dia menuruti ucapan Mamanya untuk menikahi lelaki itu.
Meskipun sebenarnya dia mengakui jika Rahul jauh lebih segala-galanya dari Gala. Kekurangannya hanya satu, dia buta sedangkan Gala tidak.
"Mama tau dari teman Mama yang katanya juga kenal baik dengan Lesti. Dia bilang, Gala itu adalah anak dari hasil pernikahan Lesti dengan suami pertamanya yang sudah meninggal"
"Jadi, Gala itu hanya anak sambung Papa Helmi? Apa itu artinya?"
"Iya, sebagai anak tiri, tidak mungkinkan, dia bisa dengan leluasa menguasai harta kekayaan orang tua tirinya? Udah pasti anak kandungnya yang akan menjadi ahli waris"
"Maksud Mama.... Rahul?"
"Ya siapa lagi sayang? Mau buat siapa semua harta kekayaan itu diwariskan, kalau bukan buat anak kandungnya? Apalagi, jika dia bisa memberikan keturunan. Pasti posisinya akan semakin kuat. Tidak seperti kamu dan Gala, yang sudah lima bulan lebih menikah, tapi sampai sekarang kamu masih belum hamil juga"
"Maksud Mama apa bicara seperti itu? Mama mau bilang, kalau aku mand*l?!" Amora merasa tersinggung dan tersulut emosi dengan ucapan ibunya.
"Ya tidak seperti itu juga sayang, maksud Mama. Ya.... Ya sudahlah, lupakan saja Soal itu. Sekarang yang terpenting adalah, setelah ini Rahul pasti akan kembali kerumah kan? Nah, kamu harus bisa mengambil hatinya. Kalau perlu, buat dia kembali jatuh cinta padamu, sampai dia mau menikahimu"
"Mama serius bicara seperti ini? Mama lupa aku sudah menjadi istrinya Gala? Mama juga kan, yang dulu menyuruhku untuk mendekati dan menikahi dia?"
"Itukan dulu sayang. Sebelum Mama tau kalau ternyata Gala Bukan siapa-siapa. Sekarangkan kita sudah tau, jadi untuk apa kamu masih mau mempertahankan anak tiri sementara kamu masih bisa mendapatkan anak kandung? Ibaratnya, untuk apa kamu masih mempertahankan barang palsu sementara kamu masih bisa mendapatkan barang asli?"
"Kamu tidak perlu terlalu merisaukan hal itu sayang. Kalau kamu berhasil membuat Rahul kembali jatuh cinta padamu, semuanya akan mudah. Karena cinta itu mampu mengalahkan kebencian sebesar apapun. Lagipula, dulu kan dia juga sangat tergila-gila padamu. Jadi Mama rasa, sekarang bukan hal yang sulit untuk kamu mendapatkan hatinya kembali"
"Tapikan dia buta Ma. Memangnya Mama mau apa, anak Mama satu-satunya ini menjadi istri dari lelaki buta? Mau ditaruh dimana muka kita Ma?"
"Udahlah sayang, kamu tidak usah drama. Jaman sekarang, fisik itu nomor sekian. Yang terpenting itu uang. Lagian bagus dong, jika Rahul itu buta. Jadinya nanti, semua yang dia miliki kamu yang akan mengelolanya. Ya, tugas kamu hanya bersikap sebagai seorang istri yang baik. Itu saja, gampangkan?"
Amora terdiam memikirkan ide Mamanya. Apa dia masih bisa menaklukkan hati Rahul, dan membuat pria itu kembali tergila-gila padanya setelah apa yang dilakukannya dulu?
******
Sebuah ambulance berhenti tepat didepan pekarangan rumah sakit yang ada di Magelang. Dari dalam ambulance itu keluar empat orang lelaki berseragam putih.
Mereka mengeluarkan brankar yang diatasnya berisi seorang wanita terbaring tak sadarkan diri, dengan sejumlah luka disekujur tubuhnya yang terbalut perban.
Masker oksigen serta infus sebagai alat penunjang kesehatan terpasang ditubuhnya. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Zahra.
Keempat perawat langsung mendorong brankar itu masuk kedalam rumah sakit. Seorang dokter muda berwajah tampan, berbadan tinggi dan kekar tanpa sengaja berpapasan dengan mereka saat dikoridor.
__ADS_1
"Ini kenapa?" Dokter tampan itu menunjuk Zahra yang terbaring tak sadarkan diri diatas brankar.
"Ini Dokter Fajar, salah satu korban banjir bandang di wilayah xxxx. Keadaannya lumayan parah, makanya kami membawanya kemari agar bisa mendapatkan perawatan secara intensif" Jawab salah satu perawat itu menjelaskan.
"Baiklah, siapkan ruang operasi. Tapi sebelumnya, periksa dulu kondisinya"
"Baik Dok" Keempat perawat itu kembali melanjutkan aktivitasnya sesuai perintah dokter tampan itu.
******
Amora dan Naomi yang baru saja sampai dirumah mewah keluarga Dirgantara langsung terpana melihat semua pelayan lelaki maupun perempuan, sedang sibuk merapikan dan menghias rumah mewah itu dengan buket-buket bunga putih.
"Ra, ini ada apa sih? Kenapa rumah ditata dan dihias begini? Memangnya ada acara apa sih, kok Mama tidak tau?" Tanya Naomi bingung.
"Aku juga tidak tau Ma. Bi" Jawab Amora sama bingungnya. Karena tak ingin terlalu lama berasumsi, akhirnya dia menegur kepala pelayan yang sedang bekerja tak jauh dari mereka.
"Iya Nyonya"
"Ini ada apa ya? Kenapa tiba-tiba rumah dihias seperti ini? Penuh dengan buket bunga begini?"
"Saya juga kurang tau Nyonya. Tadi saya hanya mendapat perintah dari tuan Gala melalui ponsel, katanya rumah ini harus dibereskan, karena jenazah akan segera dibawa pulang"
"Bi Susan, ini mau ditaruh dimana ya?" Seorang pelayan wanita muda menegur Kepala pelayan yang bernama Susan itu.
"Oh, taruh saja disana. Ayo aku bantu" Bi Susan menunjuk tempat untuk meletakkan buket bunga ditangan pelayan muda itu. Lalu dia menuntun wanita itu untuk mengikutinya.
Setelah kedua pelayan beda generasi itu kembali sibuk dengan pekerjaannya, ibu dan anak itu kembali melanjutkan percakapan mereka.
"Ma, kok bi Susan sebut-sebut soal jenazah? Jenazah siapa? Apa jangan-jangan.... jenazah Rahul?"
"Masak sih sayang? Apa mungkin, suami dan mertuamu itu sebenarnya menemukan jenazahnya Rahul? Aduh. Kalau Rahul meninggal, rencana kita gagal dong"
Jawab Naomi dengan panik. Tidak terbayang jika Rahul benar-benar meninggal. Padahal hanya anak itu yang bisa membuatnya menguasai Dirgantara Group.
"Ma, itu sepertinya mereka sudah pulang. Ayo" Ajak Amora saat mendengar suara mobil diluar rumah. Mereka langsung menuju pintu depan.
Dipekarangan depan rumah mewah keluarga Dirgantara, mereka melihat mobil Lexus abu-abu milik Gala diikuti oleh mobil ambulance dibelakangnya.
"Ma, kok itu ada ambulance ya? Jangan-jangan benar lagi, itu ambulance yang membawa jenazahnya Rahul. Ma, jadi benar Rahul sudah mati?" Amora menunjuk ambulance yang baru saja berhenti didepan teras rumah itu.
"Ya mana Mama tau. Kita lihat saja dulu"
__ADS_1
"Itu Mama, Papa dan Gala" Amora menunjuk suami dan sepasang mertuanya yang baru saja keluar dari mobil.