
Rahul sedang duduk termenung ditepi ranjang. Pikirannya berkelana kemana-mana. Sejak divonis jika dia masih bisa melihat lagi, hatinya menjadi bimbang. Disatu sisi, dia sangat bahagia. Setelah sekian lama hidup dalam kegelapan, akhirnya dia bisa kembali melihat indahnya dunia. Dia juga bisa melihat, seperti apa wajah istrinya.
Tapi masalahnya, dia harus ke Jakarta? Kota kelahirannya. Kota yang penuh dengan memori kelam masa lalunya. Kota dimana dia mengalami kecelakaan hingga buta seperti ini, demi wanita yang saat itu masih menjadi pemilik hatinya. Namun wanita itu dengan gampangnya mencampakkannya begitu saja.
Dan dikota itu juga, dia disingkirkan secara halus oleh keluarganya sendiri. Hingga ingatan itu menjadi trauma tersendiri baginya.
Untung saja dia bertemu dengan Zahra yang dengan tulus mendukungnya, hingga dia bisa menata kembali kehidupannya yang sudah hancur. Dia sudah merasa sangat nyaman dan bahagia ditempat ini. Haruskah sekarang dia kembali lagi kekota metropolitan itu? Kota yang dia sendiri sudah bersumpah tidak akan menginjakkan lagi kakinya disana.
Selain itu, bujet yang harus dia keluarkan untuk operasi itu juga menjadi salah satu pertimbangannya. Sebenarnya dia masih punya banyak uang dari hasil kompetisi gulat tempo hari. Tapi masalahnya, dia ingin menggunakan uang itu untuk modal usaha.
Dia ingin menjadi suami yang bertanggung jawab. Yang bisa memberikan kehidupan yang serba berkecukupan untuk istrinya. Dia memiliki pengalaman yang cukup di bidang bisnis. Karena saat masih bisa melihat dulu, dia sudah ikut terjun dalam perusahaan keluarganya.
Dan sekarang dia ingin menggunakan keahliannya untuk membuka usaha sendiri. Tapi masalahnya, dia membutuhkan modal untuk itu. Jika semua uang itu dia gunakan untuk operasi mata, maka uang itu pasti tidak akan tersisa sedikitpun. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Tumben kau diam saja dari tadi? Biasanya selalu mencari lelucon untuk menggangguku. Apa gigimu sakit? Atau.... Kau sedang memikirkan tentang operasi itu?" Cerocos Zahra yang baru saja memasuki kamar dan berdiri diujung ranjang melipat pakaian.
"Kau pasti tidak pernah menyangka ya, akan dinyatakan bisa melihat lagi? Pasti, ini sebuah keajaiban yang tidak pernah kau bayangkan bukan? Sabar ya, tunggu sampai tiga atau empat bulan lagi. Setelah itu,kau akan bisa melihat wajah cantik istrimu ini" Zahra duduk disamping Rahul dan merebahkan kepalanya dibahu lelaki itu dengan manjanya.
"Aku ingin operasinya dibatalkan saja"
"Apa?" Ucapan Rahul berhasil membuat Zahra terkejut hingga dia mengangkat kepalanya dan menatap suaminya dengan lekat. "Aku tidak salah dengar? Kamu bercanda kan?"
"Aku serius. Aku tidak ingin menjalani operasi itu. Jadi tidak perlu buang-buang waktu untuk menunggu donor mata itu. Karena aku sudah merasa nyaman dengan keadaanku ini" Jawab Rahul cepat sembari beranjak dari duduknya.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba jadi berubah pikiran begini? Bukankah bisa melihat lagi adalah keinginan terbesarmu selama ini? Aku masih ingat, saat pertama kita bertemu. Kamu begitu rapuh dan terpuruk dengan kebutaanmu. Kamu menganggap kebutaan itu adalah penderitaan terbesar dalam hidupmu. Dan sekarang kamu memiliki kesempatan untuk bisa keluar dari penderitaan itu. Dan kamu menyia-nyiakannya begitu saja? Apa kamu sudah sudah kehilangan akal sehatmu?"
Zahra terus mencecar Rahul saking tidak mengertinya dengan jalan pikiran suaminya.
"Aku memang sangat ingin bisa melihat lagi. Tapi itu dulu, sebelum kamu hadir dalam hidupku. Sekarang aku sudah tidak butuh apapun. Aku hanya menginginkanmu untuk selalu berada disisiku. Hanya itu yang aku inginkan" Rahul merangkum wajah Zahra dengan lembut.
"Kamu ingin aku selalu berada disisimu, tapi kamu tidak ingin melihat, seperti apa wajahku?"
"Untuk apa? Hatiku sudah bisa merasakan, jika kamu adalah wanita tercantik di dunia"
__ADS_1
"Kamu tidak ingin melihat seperti apa cantik, imut, dan manisnya istrimu ini?" Zahra masih tidak mau kalah dengan perdebatan itu.
"Jika aku menjalani operasi itu, darimana kita mendapatkan uang untuk biayanya " Rahul memalingkan tubuhnya.
"Hey, kamu ini amnesia atau apa? Kamu lupa? kita punya uang dari hasil kompetisimu tempo hari. Aku rasa jumlahnya cukup, untuk biaya operasimu" Zahra memegang pundak Rahul dan berdiri didepannya.
"Tapi aku ingin menggunakan uang itu untuk keperluan lain, yang jauh lebih penting daripada operasi itu"
"Keperluan apa?"
"Aku ingi membuka usaha. Aku ingin menjadi orang yang sukses, yang bisa memberikan kehidupan yang layak dan mewah untukmu. Suami yang bisa membuatmu bahagia dan bangga" Lirih Rahul.
"Apa kamu pikir selama ini aku tidak bahagia memiliki suami sepertimu? Kamu salah besar. Aku sangat bahagia menikah denganmu. Aku juga sangat bangga memiliki suami sepertimu. Jadi jangan berpikir jika kamu belum mampu membuatku bahagia. Karena itu semua tidak benar. Karena kebahagiaan itu, datangnya dari hati. Bukan dari materi"
"Aku sudah menduga bahwa kamu akan bicara seperti itu. Karena aku tahu wanita macam apa kamu. Tapi masalahnya tidak sesimpel itu. Sebagai seorang suami, aku memiliki tanggung jawab untuk melindungimu. Baik secara fisik maupun materi. Aku tidak bisa membiarkan, insiden saat juragan Sigit datang dan mengamuk disini. Menagih hutang dengan bar-barnya hingga menyakitimu dan Ibu. Aku ingin kita memiliki kehidupan yang lebih baik. Agar insiden seperti itu tidak terulang lagi"
"Jadi kamu tidak ingin menggunakan uang itu untuk dirimu sendiri? Kalau begitu, apa kamu mau menggunakannya untuk aku dan calon anak kita?"
"Calon anak? Ma-maksudmu apa?"
Zahra memegang tangan Rahul dan meletakkannya diperutnya.
"Saat ini aku sedang mengandung anakmu. Hasil perbuatanmu selama ini"
"A-apa? Kamu hamil? Ka-kamu serius? Kamu sedang tidak bergurau kan?" Tanya Rahul terbata-bata. Rasanya dia tidak percaya akan menjadi seorang ayah.
"Jika kamu tidak yakin, mari kita kerumah sakit. Biar dokter yang akan menjelaskan segalanya"
"Ya Tuhan! Rasanya aku masih tidak percaya!Sebentar lagi aku menjadi ayah?! Hah! muah!" Rahul memeluk dan mencium Zahra dengan bertubi-tubi. Pengakuan wanita itu membuat perasaannya terbang tinggi. Dia tidak menyangka, jika kebahagiaan akan terus menghujaninya sejak Zahra hadir dalam hidupnya. Wanita itu terus memberikan harapan dan warna baru dalam kehidupannya.
"Hey, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Zahra berusaha mendorong Rahul yang terus menciuminya tanpa henti, hingga dia merasa lelah.
"Terima kasih. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah mencintaiku. Terima kasih sudah membuatku menjadi lelaki yang sangat bahagia di dunia ini. Terima kasih sudah melengkapi hidupku"
__ADS_1
"Sudahlah, jangan terlalu lebay seperti disinetron"
"Kamu masih bisa bergurau ya, disaat seperti ini. Kamu tidak tahu kan, betapa emosionalnya aku atas kehadiran sikecil kita ini?" Rahul mengelus perut Zahra dengan lembut.
"Apa kamu bahagia, dengan kehadirannya disini?" Zahra menyentuh tangan Rahul yang sedang mengelus-elus perutnya.
"Pertanyaan macam apa itu? Aku bahkan bukan bahagia lagi, tapi sangaaat bahagia dengan kabar ini. Sampai rasanya, kebahagiaan ini seperti mimpi bagiku"
"Jika kamu sangat bahagia dengan kehadirannya, apa kamu tidak ingin menjadi orang pertama yang melihat wajah mungilnya saat dia lahir nanti? Apa kamu tidak ingin, melihat dia aktif merangkak untuk pertama kali? Apa kamu tidak ingin, melihat dia tumbuh dan belajar berjalan untuk pertama kali? Apa kamu tidak ingin, melihat dia mengenakan seragam sekolahnya untuk pertama kali? Apa kamu tidak ingin, melihat dia dewasa mengenakan baju pengantin, dan duduk diatas pelaminan bersama menantu kita nanti?"
"Apa kamu begitu bersikeras ingin aku melakukan operasi itu? Kamu yakin tidak masalah, jika aku tetap menjadi karyawan biasa dipabrik itu. Dan kita akan selalu hidup pas-pasan?" Tanya Rahul yang sepertinya mengerti inti dari ucapan istrinya.
"Aku tidak masalah hidup seperti apapun. Asalkan kalian berdua ada disisiku, dan selalu mencintaiku. Aku tahu kamu adalah suami yang bertanggung jawab. Buktinya saat aku dirundung kesulitan lantaran hutang itu, kamu berhasil membuatku keluar dari masalah itu. Kamu bisa melunasi hutangku yang ratusan juta itu. Membawaku honeymoon keluar negeri. Padahal kamu tidak bisa melihat. Tapi kamu bisa membuktikan cintamu dan membuatku merasa menjadi wanita yang spesial. Apalagi jika kamu memiliki penglihatan. Kamu pasti akan melakukan yang lebih dari itukan?"
"Baiklah. Jika itu demi kalian berdua, aku akan lakukan apapun. Kita akan menunggu sampai pihak rumah sakit mendapatkan donor mataku"
"Itu baru namanya satyaku. Muah" Dengan senyum lebar yang merekah diwajah cantiknya, Zahra mencium pipi Rahul dan memeluknya dengan mesra.
*******
Waktu empat bulan yang dijanjikan oleh pihak rumah sakit pun telah berlalu. Penantian mereka akan donor mata untuk Rahul kini telah berakhir, setelah pihak rumah sakit mengabarkan berita baik itu.
Dengan hati yang dipenuhi dengan harapan besar, Rahul dan Zahra meninggalkan desa dan bertolak ke Jakarta dengan menempuh perjalanan menggunakan alat transportasi umum kereta api.
"Maaf ya. Aku masih belum bisa menjadi suami yang bisa diandalkan. Tapi aku janji, setelah ini aku akan berusaha lebih keras lagi, untuk bisa membahagiakan kalian berdua" Lirih Rahul seraya mengelus-elus perut Zahra yang sudah mulai membuncit, lantaran usia kehamilannya yang sudah menginjak bulan keempat.
"Aku heran. Apa kamu tidak lelah, meminta maaf terus? Aku saja lelah, apalagi dia" Seloroh Zahra yang juga mengelus-elus perutnya. Mereka sedang berada didalam kereta api. Duduk berdampingan di kursi, dengan posisi kepala Zahra yang bersandar manja didada Rahul.
"Aku serius" Ujar Rahul datar.
"Baiklah, aku juga serius. Kamu tau? hanya ada tiga hal yang aku minta, dan akan selalu aku tuntut darimu" Zahra mengacungkan jari kelingking, tengah dan kanannya.
"Apa itu?"
__ADS_1