Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 45- Aku Mohon Kembalikan Istriku!!!


__ADS_3

"Fajar. Kamu Fajar kan? Anaknya Andre Lazuardi?" Tanya Helmi memastikan sembari menunjuk Fajar dengan jari telunjuknya.


"Iya Om, ini aku Fajar"


"Ya Tuhan.... Fajar. Kemana saja kamu selama ini?" Helmi menepuk pundak Fajar dan memeluk pria itu dengan senangnya. Fajar membalas pelukan pria paruh baya itu. Lalu dia beralih pada Gala.


"Kak"


"Hey Bro, apa kabar?" Gala menepuk-nepuk pundak Fajar dan memeluknya dengan akrab.


"Alhamdulillah baik Kak"


"Oh ya, lalu ini?" Helmi menunjuk Shreya yang berdiri disamping Fajar dengan tatapan bertanya-tanya.


"Kenalkan ini Shreya, istriku. Shreya, kenalkan ini Om Helmi dan anak sulungnya Kak Gala. Beliau adalah sahabat baik almarhum orang tuaku" Fajar memperkenalkan ketiga orang itu.


"Hallo Om, saya Shreya" Shreya memegang tangan Helmi dan menyalaminya.


"Hallo sayang, apa kabar Nak?"


"Alhamdulillah baik Om"


"Istrimu cantik ya" Ucap Helmi yang jujur dari hatinya mengagumi kepribadian, Shreya yang menurutnya sopan dan santun dengan menyalaminya sebagai orang tua.


Bahkan Amora saja yang sudah berbulan-bulan menjadi menantunya saja, tidak pernah melakukan hal seperti itu terhadapnya.


"Terima kasih Om, dia memang wanita yang sangat cantik" Fajar tersenyum sumringah.


********


"Kamu ini keterlaluan sekali ya. Bertahun-tahun tidak ada kabar setelah kamu menghilang bersama kedua orang tuamu. Bahkan sekarang, kamu menikah pun kami sekeluarga tidak ada yang tau. Kamu tau kan, Om ini adalah sahabat karib Papamu?"


Celoteh Helmi saat mereka sudah berkumpul pada satu meja dalam restoran.


"Iya Om aku minta maaf deh. Waktu itu kami bertiga pindah dan menetap di Polandia selama lima tahun. Setelah kedua orang tuaku tiada, aku kembali ke Indonesia dan menetap di Magelang hingga sekarang. Aku sibuk sekali mengurus bisnis Papa, hingga kita putus kontak"


"Jadi kedua orang tuamu benar-benar sudah meninggal?" Tanya Helmi memastikan. Sebenarnya dia memang sudah lama mendengar soal kabar kematian sahabatnya itu, namun masih simpang-siur.


"Iya Om, mereka mengalami kecelakaan 9 tahun yang lalu" Jawab Fajar pilu.


"Kamu yang sabar ya. Doakan saja agar mereka tenang dialam sana" Helmi berkata dengan simpati.


"Iya Om, terima kasih"


"Ya sudah, sekarang Om ingin mendengar tentang awal mula hubungan kalian berdua. Nak, katakan pada Om, apa yang membuatmu bisa jatuh cinta hingga menikah dengan anak bodoh ini? Kapan dan bagaimana kalian bertemu?" Helmi menggoda Shreya.

__ADS_1


"Mmm..... A-aku.... Aku....." Shreya terbata-bata. Bingung harus menjawab apa. Dia saja tidak ingat sedikitpun kapan dan bagaimana bertemu hingga menikah dengan Fajar.


"Kami bertemu enam tahun yang lalu Om. Saat itu aku sedang mengambil S3 di Delhi. Kebetulan saat itu aku Shreya satu kampus. Dia sedang semester satu fakultas psikologi. Sekitar satu setengah tahun yang lalu kami menikah disana. Iya kan sayang" Tutur Fajar yang lantas melirik dan tersenyum dengan manisnya pada Shreya.


"Mmm.... Iy-iya" Jawab Shreya ragu.


"Wah, romantis juga ya pertemuan pertama kalian. Sayang sekali kami sekeluarga tidak hadir saat kalian menikah. Padahal Mama pasti antusias sekali kalau tau soal pernikahanmu. Kan kamu juga sudah dianggap seperti anaknya sendiri" Timpal Gala.


"Iya Kak, sekali lagi aku minta maaf soal itu. Aku juga sangat menyesal atas ketidak hadiran kalian saat pernikahan kami. Oh ya, Kak Gala sendiri apa kabar? Aku dengar Kakak juga sudah menikah ya? Katakan padaku, siapa wanita yang beruntung itu?" Fajar menggoda Gala.


"Namanya Amora. Kami menikah lima bulan yang lalu. Dia wanita yang sangat cantik, aku sangat mencintainya. Nanti aku kenalkan ya, dengan istriku" Gala membicarakan istrinya dengan penuh cinta.


"Siap Kak. Oh ya, lalu bagaimana dengan Rahul? Apa kabarnya dia? Aku masih ingat betul, dulu saat kami masih kecil dan aku masih tinggal di Jakarta, kami sering sekali bermain bersama. Bahkan bisa dibilang, kami adalah sahabat karib. Sama seperti Om dan Papa"


"Rahul baik. Hanya sajaaaa" Jawab Helmi dengan lirih dan raut wajah yang mendadak tampak sedih.


"Hanya saja? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Fajar penasaran.


"Bisa dibilang saat ini dia sedang berduka, karena baru saja kehilangan istrinya" Jelas Helmi sendu.


"Maksudnya, istrinya baru saja meninggal?" Cecar Fajar yang semakin tertarik mendengar cerita tentang sahabat masa kecilnya.


Sementara Shreya hanya terdiam dan termenung. Entah mengapa mendengar nama Rahul membuat hatinya bergetar. Dia merasa nama itu sudah tidak asing lagi ditelinganya.


"Entahlah, kami sendiri masih belum bisa memastikan soal itu. Yang jelas ceritanya panjang. Oh ya, berhubung kita bertemu disini, Om ingin bilang, jika bulan depan adalah anniversary Om dan tantemu. Jangan lupa ya, kalian berdua harus datang. Ingat, jangan sampai tidak"


Helmi mengalihkan pembicaraan untuk membuat suasana ramai kembali.


"Maksudnya, kami berdua harus ke Jakarta?" Tanya Fajar dengan berat hati.


"Memangnya kenapa? Jangan bilang kalau kalian tidak punya kendaraan untuk kesana" Kelakar Helmi yang dibalas dengan tawa Fajar.


"Om bisa aja"


"Ya.... Pokoknya jangan banyak alasan ya. Kalian berdua harus hadir nanti. Jika tidak, kami sekeluarga akan sangat kecewa. Iya gak Pa?" Gala menimpali dengan ekspresi memperingatkan, yang dibalas dengan kedipan mata oleh ayahnya.


"Iya Kak, nanti kami usahakan untuk hadir. Tapi sebelumnya, kami harus konsultasi dulu dengan dokter obgynnya Shreya. Apakah dikondisinya yang sekarang bisa memungkinkan untuk dia melakukan perjalanan jauh"


"Memangnya ada apa dengan Shreya? Sampai harus konsultasi dengan dokter obgyn segala?" Tanya Helmi heran.


"Dia sedang hamil Om"


"Hamil, benarkah?" Helmi tampak antusias menanggapi pernyataan Fajar dan melirik Shreya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Iya Om" Jawab Shreya dengan seulas senyuman.

__ADS_1


"Wah.... Selamat ya. Sebentar lagi akan ada kehadiran sikecil diantara kalian. Pasti kalian sangat bahagia ya? Pasti kalian sudah tidak sabar kan menunggu calon buah hati lahir kedunia "


Celoteh Helmi dengan perasaan campur aduk, antara ikut berbahagia untuk Fajar yang sudah dianggapnya anak sendiri, serta kesedihan mengingat keadaan Rahul yang saat ini sedang sangat terpukul, lantaran kehilangan istri yang sedang mengandung darah dagingnya.


"Tentu saja Om. Pokoknya Om dan Kak Gala tenang saja, kami pasti usahakan untuk bisa hadir dalam acara anniversary Om dan tante. Karena aku juga ingin sekali bertemu dengan tante Lesti dan Rahul. Aku sangat merindukan mereka"


"Benar ya? Awas kalau bohong" Helmi menatap Fajar dengan tegas sembari menunjuknya dengan jari telunjuk.


"Iya"


*********


Semakin lama Rahul semakin merana. Sudah hampir satu bulan dia dipisahkan dari istrinya. Dan selama itu yang bisa lakukan hanyalah menatap cincin pernikahan mereka, sembari membayangkan kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.


Meskipun dia sudah berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan, namun tetap saja, dia tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Zahra. Dia benar-benar sangat merindukan istrinya. Kalau seperti ini terus, lama-lama dia bisa gila.


Dulu saat pikirannya sedang kacau balau, yang bisa menemani dan menyembuhkannya hanyalah minuman. Dan sekarang dia benar-benar sangat membutuhkan cairan itu. Dia sudah tidak tahan lagi.


Rahul mengambil salah satu botol minuman yang berada dalam lemari kaca dikamarnya. Dia membuka botol minuman itu dan bersiap untuk meneguknya.


Namun mendadak perkataan Zahra terngiang-ngiang dibenaknya. Wanita itu pernah mengatakan padanya, jika minuman semacam ini adalah haram dan dosa. Rahul menghela dan mengatur nafasnya yang terengah-engah.


Dia menutup dan memasukkan kembali botol minuman itu ketempatnya semula. Rahul menutup wajah dengan telapak tangannya. Dia benar-benar pusing menghadapi ujian hidupnya yang tiada henti.


Dulu sebelum Zahra hadir dalam hidupnya, dengan gampangnya dia bermain dengan minuman koleksinya. Tapi sekarang, dia harus bisa menahan segala tabiat buruk yang pernah dia lakukan dimasa lalunya.


Dia tidak ingin membuat istrinya kecewa dengan sikapnya yang seperti anak-anak. Yang dengan gampangnya kembali terjerumus kedalam lembah hitam.


Alarm dengan nada dering adzan diponselnya berbunyi. Iya, dia memang menyetel alarm adzan diponselnya. Hal itu dia lakukan agar dia selalu mengingat setiap waktu sholat tiba.


Tanpa pikir panjang, Rahul langsung mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban sholat maghribnya. Usai sholat dia mengadahkan tangannya dan berdoa.


"Ya Allah, aku mohon padamu, tolong pertemukan aku dengan istriku. Aku sangat merindukannya. Kau boleh mengambil apapun yang aku miliki termasuk penglihatanku seperti dulu. Tapi aku mohon padamu Ya Allah, tolong kembalikan Zahra kesisiku. Aku sangat yakin jika istriku masih hidup. Karena hatiku berkata seperti itu.


Dia adalah segala-galanya bagiku. Dia belahan jiwaku, separuh hidupku. Terlebih, dia sedang mengandung anakku. Beri aku kesempatan untuk menemani dan mendampinginya dimasa-masa kehamilannya. Aku janji, aku tidak akan pernah menyakiti, apalagi sampai menyia-nyiakannya. Itulah janjiku"


Rahul memanjatkan doa dengan sendu. Tanpa terasa tetesan cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Kemudian dia mengusap telapak tangan kewajahnya begitu doanya selesai.


Ini adalah doa yang selalu dia ucapkan disetiap waktu sholatnya. Permohonan yang sangat dia harapkan akan dikabulkan oleh sang pencipta yang telah mempertemukan dan memisahkannya dari Zahra.


Lesti yang sedari tadi berdiri dibalik pintu hanya bisa menatap putra bungsunya dengan penuh empati, sembari menyeka air matanya yang tidak dapat terbendung melihat kesedihan anak kesayangannya.


Sebagai seorang ibu, hatinya terasa teriris melihat duka yang dirasakan oleh anaknya. Andai ada yang bisa dilakukannya untuk menghilangkan duka itu, pasti sudah dilakukannya.


"Eh, Ma" Rahul yang sedang menggulung sajadah baru menyadari kehadiran ibunya dibalik pintu.

__ADS_1


__ADS_2