
Bingung lantaran dia tidak bisa memastikan, siapa diantara kedua pria itu yang sebenarnya adalah suaminya! Sedih lantaran ingatan yang bisa membuatnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tak kunjung dia dapatkan!
Kecewa lantaran dia bisa merasakan, ada yang disembunyikan oleh kedua lelaki itu darinya! Dan semua itu membuatnya bingung harus bersikap seperti apa terhadap mereka berdua!
Meski merasa heran dengan sikap istrinya yang tidak biasanya terlihat dingin terhadapnya, namun Rahul tetap mencoba untuk berpikir positif. Dia berusaha memaklumi kondisi Zahra yang sedang berbadan dua. Iya, mungkin itu memang akibat pengaruh hormonnya. Wanita hamil kan moodnya terkadang sukar ditebak.
Ditambah lagi saat ini sedang ada Fajar diantara mereka. Iya, mungkin itu juga menjadi salah satu alasannya, kenapa Zahra tidak bisa bersikap humoris seperti biasanya terhadapnya. Karena hingga saat ini, Zahra masih mengira bahwa Fajarlah suaminya. Iya, pasti karena itu juga.
"Mmm.... Baiklah. Kami akan keluar. Sekarang istirahatlah. Jangan pikirkan hal yang berat-berat. Oke?" Pinta Rahul dengan penuh perhatian, yang dijawab dengan anggukan kepala dingin dari Zahra.
Sesuai dengan keinginan wanita itu, Rahul berjalan keluar diikuti oleh Fajar yang sedari tadi berdiri didepan pintu. Zahra langsung menutup pintu kamarnya, tanpa menghiraukan tatapan-tatapan keheranan yang ditujukan oleh kedua lelaki itu padanya.
********
Semalaman Zahra tidak bisa tidur dengan nyenyak, akibat terlalu berkutat dengan pikirannya. Berusaha keras menguras otaknya untuk mendapatkan kembali ingatannya. Agar segala macam pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dikepalanya bisa terjawab.
Namun percuma. Ingatan yang menjadi satu-satunya cara untuk membuatnya mengetahui fakta yang sesungguhnya, tak kunjung dia dapatkan.
Zahra melepas cincin emas yang melingkar dijari manisnya. Memindainya dengan seksama. Melihat huruf F dan S yang terukir dibalik cincin itu dengan perasaan bimbang. F dan S tentu saja inisial dari nama Fajar dan Shreya.
Jika Fajar memang bukan suaminya, lalu bagaimana cincin ini bisa ada ditangannya?! Bagaimana dia bisa mengenakannya?! Tapi jika ternyata suaminya adalah Rahul, lalu kenapa selama ini pria itu diam saja?! Tidak mengatakan apapun padanya?! Tidak mungkinkan, Rahul tidak mengenali istrinya sendiri?!
Selama ini Rahul selalu menunjukkan cinta dan perhatian yang sangat besar untuknya. Pria itu selalu bersikap manis dan romantis terhadapnya. Dia bisa melihat jika selama ini, Rahul sangat menginginkan keberadaannya disisinya.
Dan jika ternyata mereka berdua memang memiliki hubungan pernikahan, bukankah seharusnya Rahul merasa bahagia, karena tembok yang menjadi pembatas mereka berdua tidak akan berlaku? Tapi kenapa lelaki itu malah tidak mengakuinya?!
__ADS_1
Apa Rahul merasa malu atau risih memiliki istri seperti dirinya?! Apalagi menurut yang dia dengar, Zahra istrinya Rahul hanya seorang wanita yang berasal dari desa. Sangat jauh berbeda dengan lelaki itu, yang merupakan anak dari pemilik Dirgantara group!!
Apakah itu yang membuat Rahul enggan mengakuinya sebagai istri?! Sekalipun kenyataanya memang benar seperti itu?!!
Zahra memeluk perut besarnya yang terasa sakit sembari menangis. Menangisi nasibnya dan anak dalam kandungannya yang tidak jelas. Memikirkan siapa suaminya dan ayah dari bayinya. Mengabaikan rasa sakit yang mendera kepala dan perutnya akibat pikiran-pikiran semrawutnya itu.
********
"Shreya" Sebuah suara lembut menegurnya. Zahra yang sedang larut dalam lamunannya langsung tersentak dan menoleh. Tampaklah Lesti yang terlihat begitu cantik, elegan dan anggun dalam balutan busana muslim dan formal yang dikenakannya.
Disebelahnya ada Naomi yang juga mengenakan busana formal yang tertutup dipadukan dengan kerudung. Iya, ini adalah hari tujuh bulanannya.
Seharusnya dia merayakan acara ini dengan penuh sukacita dan rasa syukur, dalam mendoakan dan menyambut kehadiran calon buah hatinya, yang akan segera datang dalam hidupnya sekitar dua bulan lagi.
Namun hingga detik ini pikirannya masih kacau balau, akibat pikiran-pikiran yang berkecamuk dikepalanya.
"Kamu baik-baik saja Nak?" Lesti bertanya memastikan.
"I... ya Tante. A-aku baik-baik saja"
"Tapi, wajahmu terlihat pucat? Kamu sakit?" Lesti menatap Zahra dengan sedikit cemas, melihat wajah wanita itu yang tampak sedang kurang sehat.
"Tidak kok Tante. Mu-mungkin aku hanya gugup saja. Karena, aku belum pernah melakukan acara seperti ini" Zahra memberi alasan dengan gugupnya.
"Tidak perlu terlalu gugup Nak. Ini hanya acara tujuh bulanan biasa saja kok. Bermaksud untuk
__ADS_1
mendoakanmu dan sikecil supaya kalian berdua sehat dan selamat hingga tiba waktunya melahirkan. Dan sikecil bisa menjadi anak yang baik serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Kamu jangan khawatir, kami semua akan mendampingimu"
Lesti mencoba menenangkan Zahra dengan kata-katanya yang terdengar bijak dan lembut. Zahra memaksakan dirinya untuk tersenyum menanggapi ucapan Lesti.
"Iya sayang, kamu santai saja. Selain kami, disana kan juga ada suamimu Rahul yang akan selalu setia mendampingimu" Naomi menimpali ucapan Lesti yang sedang mencoba menghibur Zahra. Atau lebih tepatnya, sengaja memperkeruh suasana.
Membuat Lesti terkejut dan menatap Naomi dengan pandangan nyalang dan heran. Tidak paham apa maksud dari perkataan besannya itu. Sementara Zahra kembali merasa tegang dan sedih mendengar ucapan Naomi.
"Eh ma-maaf, saya salah sebut. Maksudnya... Fajar. Maaf ya sayang, Tante salah. Pokoknya begini, kamu tidak perlu memikirkan yang macam-macam. Karena sebagai suamimu, Fajar pasti akan senantiasa mendampingimu sepanjang acara. Menemanimu dengan penuh cinta. Karena.... kamu sedang mengandung buah cinta kalian. Jadi pasti rasa cintanya untukmu semakin bertambah besar dengan kehadiran sikecil ini"
Naomi berpura-pura gelagapan dan mengoreksi kata-katanya. Dan memegang perut Zahra dengan lembut sembari tersenyum hangat. Meski dia tau, tindakannya juga tidak akan membuat kondisi wanita itu membaik. Tapi memang itu tujuannya.
"Ya sudah, ayo kita keluar. Tamu-tamu sudah menunggu. Sebentar lagi juga acaranya akan dimulai" Ajak Lesti yang dijawab dengan anggukan kepala pelan Zahra.
"Iya Tante" Zahra beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar dengan dibimbing oleh Lesti dan Naomi disampingnya.
Mereka menuju keruangan yang menjadi pusat berlangsungnya acara. Konsep acara itu menonjolkan tema pastel dengan nuansa krem keemasan. Baik dari dekorasi ruangan maupun outfit yang dikenakan oleh para anggota keluarga.
Rangkaian bunga-bunga yang terdiri dari warna putih, biru, lilac, kuning dan peach tampak mendominasi setiap sisi ruangan. Hiasan pada backdrop didekor dengan hiasan tanaman rambat dan taburan bunga-bunga bernuansa pastel, yang menggelantung dengan Chandelier dikedua sisinya.
Kehadiran Zahra diruangan itu langsung menjadi pusat perhatian. Tatapan takjub dan kagum dia dapatkan dari semua orang yang hadir untuk memeriahkan acara.
Sekalipun tubuhnya tampak berisi terutama dibagian perutnya, namun aura kecantikannya tetap terpancar. Wanita itu terlihat begitu cantik, anggun dan elegan dalam balutan gamis tile berwarna krem keemasan, dan kerudung dengan warna senada yang dikenakannya.
Membuat Rahul dan Fajar begitu terpesona melihatnya. Penampilan Zahra seolah telah menghipnotis kedua lelaki itu dan tamu undangan.
__ADS_1
Hanya ada satu tatapan antipati yang dia dapatkan. Yaitu dari Amora yang hanya bisa menghela nafas berat dengan sebalnya. Tatapan iri dan dengki sangat terlihat jelas dari caranya memandang Zahra.