Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 21- Terpaksa Meminta Maaf


__ADS_3

"Oke, silahkan Bro" Kata Amar dengan santainya, atau lebih tepatnya meledek.


Namun, baru juga selangkah berjalan, Rahul sudah kehilangan keseimbangan lantaran kakinya terasa menginjak cairan licin. Hingga dia terpeleset dan jatuh telentang dilantai.


"Aauw!!" Pekik Rahul.


"Hahahaha" Mereka tertawa terbahak-bahak lantaran rencana mereka untuk membully lelaki itu berhasil.


"Hei Bro, kau tidak apa-apa? Makanya, kalau jalan matanya dipakai"


"Astaga Zacky, Zacky. Kau ini bicara apa? Untuk apa dia memakai matanya, kalau fungsinya saja tidak ada hahahaha" Timpal Thoriq


"Pakai saja mata sapi atau mata kaki. Mungkin akan berfungsi padanya" Tambah Amar. Ketiganya tertawa mencemooh. Mentertawakan Rahul yang tampak menyedihkan akibat Bullyan mereka.


Rahul yang terduduk dilantai dengan pinggang yang terasa nyeri hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat. Berusaha menahan emosi agar tidak terpancing menghadapi ketiga lelaki rusuh itu.


"Ada apa ini?" Tawa cemoohan yang sedang asik dilontarkan Amar CS pada Rahul buyar oleh suara seorang pria yang tiba-tiba ikut nimbrung.


Kalau Rahul tidak salah menilai, sepertinya suara itu bukan milik lelaki muda sebayanya lagi. Melainkan, milik seorang pria berumur


"Astagfirullah hal azzim! Kamu kenapa Nak. Sini saya bantu" Pria paruh baya itu terkejut dan heran melihat Rahul terduduk dilantai dengan penampilan yang agak amburadul. Dia pun membantu Rahul untuk bangkit berdiri kembali.


"Terima kasih Pak"


"Kenapa kamu bisa terjatuh begitu? Apa yang terjadi denganmu Nak?"


"Sepertinya ada orang yang sengaja ingin membully saya Pak, hingga aku terjatuh. Ya maklumlah, aku inikan buta. Jadi aku tidak bisa melihat, jika ada cairan pembersih lantai yang aku rasa sengaja ditumpahkan didekatku" Rahul begitu tenang menjelaskan panjang lebar. Atau lebih tepatnya menyindir trio itu.


"Astagfirullah hal azzim! Amar, Zacky, Thoriq! apa yang kalian lakukan padanya, hingga dia bisa seperti ini?" Pria itu menatap Amar CS dengan nyalang.


"Lho, kok Pak Umar jadi menyalahkan kami? Orang kami tidak melakukan apa-apa" Kilah Amar dengan santainya.


"Tidak usah menyangkal kalian. Kalian kira saya tidak bisa hafal, tabiat kalian yang seperti anak-anak itu? Yang selalu jadi biang rusuh. Ini terakhir kalinya saya melihat kalian membuat masalah disini. Jika tidak, saya tidak akan segan-segan membuat kalian untuk menggantikan pekerjaan marbot selama satu bulan!"


Lelaki yang ternyata bernama Umar itu panjang lebar mengomeli dan mengancam mereka bertiga.


"Hah! Pak, yang benar aja dong. Masak lelaki-lelaki tampan seperti kami disuruh jadi marbot. Mau ditaruh dimana muka kami Pak?" Bantah Amar.


"Ya kalau begitu kalian jangan bikin masalah terus, yang bisa merugikan orang lain. Sekarang kalian cepat minta maaf padanya" Titah Pak Umar.


"Hah, minta maaf?!" Seru mereka bertiga serempak.


"Tidak salah tu Pak? Memangnya kami salah apa pada sibuta ini, sampai harus minta maaf segala?" Tanya Amar tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kok kalian masih tanya. Kalian lupa, sudah membuat dia terjatuh? Kalian kira perbuatan kalian itu benar? Membuat orang celaka"


"Ya Bapak. Hanya jatuh sedikit saja dipermasalahkan. Lagipula kan, dia juga tidak terluka. Untuk apa kami minta maaf pada orang sepertinya. Wudhu yang benar aja tidak bisa. Kami yakin Pak, dia itu tidak pernah sholat. Jangankan sholat, cara sholat saja pasti dia tidak tau. Jadi seharusnya, kita mengusirnya dari sini. Karena orang seperti dia tidak pantas berada disini. Benar tidak?"


Thoriq panjang lebar menghakimi Rahul dengan sinis. Yang mendapat anggukan kepala sinis dari kedua temannya.


"Iya Pak, benar itu" Timpal Zacky.

__ADS_1


"Astagfirullah hal azzim..... Memangnya kalian siapa, hingga merasa berhak menghakimi, dan menentukan seseorang pantas atau tidak memasuki mushola ini?! Memangnya kalian Tuhan? Sekarang tidak usah banyak cerita. Cepat minta maaf padanya, atau saya akan benar-benar membuktikan ucapan saya barusan!"


Pak Umar mulai habis kesabaran menghadapi genk yang memiliki sifat tak ubahnya anak kecil yang keras kepala dan membantah saat dimarahi.


"Udah Bro, turuti saja dulu. Agar masalahnya kelar" Bisik Thoriq.


"Iya, nanti kita cari cara lain saja untuk membalas sibuta ini. Yang penting sekarang, kita lolos dulu dari Pak Umar. Malas Bro, berurusan dengan lelaki tua itu" Timpal Zacky.


"Iya, iya" Amar dengan enggan menuruti saran kedua temannya.


"Mmm.... buta, kami minta maaf ya. Udah kan?"


"Maaf, tapi aku punya nama. Dan namaku adalah Rahul. Bukan buta" Jawab Rahul dengan tenangnya.


"Ribet kali, masalah panggilan saja" Gerutu Amar.


"Ehem!" Pak Umar berdehem dan menatap mereka bertiga dengan tajam.


"Mmm....Rahul, kami minta maaf ya" Amar tersenyum geram.


"Iya aku maafkan. Asal jangan diulangi lagi ya" Rahul tersenyum sinis. Meski tidak bisa secara langsung membalas trio itu dengan menghajarnya, namun setidaknya dia sedikit puas karena mereka dipaksa minta maaf padanya. Seperti anak kecil yang melakukan kesalahan dan akan dihukum jika tidak mau menurut untuk meminta maaf.


Sementara Amar semakin geram melihat senyum sinis yang tersungging diwajah Rahul. Ingin rasanya dia menghajar wajah itu.


"Ayo" Ajaknya pada ketiga sahabatnya sembari menarik mereka untuk keluar.


Kini hanya tinggal Rahul dan Pak Umar berdua saja dikamar wudhu itu.


"Iya Pak, saya baik-baik saja kok?"


"Oh ya, kamu orang baru ya disini? Kok sepertinya, wajahmu masih asing bagi saya?"


"Iya Pak, saya memang baru didesa ini. Nama saya Rahul. Saya tinggal dirumah belakang ibunya Zahra"


"Zahra.... anaknya Bu Sakinah, yang bekerja sebagai perawat Dirumah sakit itu?" Terka Pak Umar.


"Iya Pak benar"


"Oh.... saya Umar, imam dimusholah ini" Pak Umar memperkenalkan dirinya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Rahul.


"Oh ya. Atas nama Amar, Zacky dan Thoriq. Saya benar-benar minta maaf ya. Saya jadi tidak enak denganmu. Baru juga memasuki desa ini, sudah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, dari warga sini"


"Tidak masalah kok Pak, lupakan saja. Lagipula..... yang mereka katakan mungkin memang ada benarnya" Rahul tersenyum simpul dan berkata dengan lirih dan menundukkan wajahnya.


"Maksudmu?"


"Iya Pak. Selama ini, saya memang tidak pernah melaksanakan shalat. Bahkan, saya tidak tau cara mengerjakan wudhu, dan shalat shalat yang benar. Mungkin Amar memang benar. Saya tidak pantas berada ditempat ini"


"Astagfirullah hal azzim.... kamu jangan berpikir seperti itu Nak. Ini tempat ibadah. Semua orang berhak datang kemari, selama niat mereka sungguh-sungguh ingin beribadah. Jika kamu masih kurang mengerti caranya, saya bisa ajarkan. Mari, ikuti saya. Awas, lantainya licin"


"Iya Pak" Rahul melangkah perlahan-lahan dan hati-hati agar tidak terjatuh kembali untuk kedua kalinya.

__ADS_1


************


Zahra tampak sedang asik dengan aktivitasnya yang sedang menata kue dalam kotak bersama ibunya didapur.


"Ra, itu sepertinya ada tamu didepan Nak" Ujar Bu Sakinah kala mendengar ada yang mengetuk pintu depan rumahnya.


"Biar kulihat Bu" Zahra yang nyaris beranjak langsung dicegah ibunya.


"Biar Ibu saja. Kamu lanjutkan saja menata kue-kuenya"


"Oh....ya sudah" Zahra kembali fokus pada kue-kue itu, dan membiarkan ibunya mendorong roda kursi rodanya menuju kedepan.


Tak berselang lama, ibunya kembali kedapur dengan seseorang.


"Mari Nak, ayo masuk".


Zahra berbalik dan ternyata tamu itu adalah Rahul. Dia menghela nafas dan kembali melanjutkan aktivitasnya, tanpa menghiraukan dua orang itu yang sedang berbincang-bincang itu.


"Iya Bu, Ibu sedang apa?"


"Ini, Ibu dan Zahra sedang menyiapkan dan menata kue dalam kotak, sebelum dibawa dan dititipkan di warung-warung"


"Oh..... ada yang bisa aku bantu Bu? Aku bisa, kalau hanya sekedar menata kue dalam kotak"


"Tidak usah repot-repot Nak. Ini sudah hampir selesai kok. Hanya tinggal diantar dan dititipkan di warung-warung saja"


"Kalau begitu, biar aku bantu antarkan kewarung-warungnya aja ya?"


"Kamu serius, ingin membantu Ibu?"


"Iya Bu, aku bisa kok" Rahul terus menawarkan bantuannya meski sudah mendapatkan penolakan.


"Bilang aja mau cari muka, biar jatah makannya dibanyakin" Seloroh Zahra tanpa menoleh. Matanya tetap tertuju pada kue-kue yang sedang ditatanya dalam kotak plastik, meskipun mulutnya berkelakar, mengeluarkan kata-kata celaan terhadap Rahul.


"Zahra, kok bicaranya begitu" Tegur Bu Sakinah, lalu kembali melirik Rahul dengan raut wajah tak enakan. "Nak Rahul, maaf ya. Zahra hanya bercanda kok"


"Iya Bu, tidak apa-apa. Sudah biasa kok disembur oleh mulutnya. Tapi aku heran ya Bu, kok ada ya, Ibu dan anak sifatnya sangat bertolak belakang. Ibunya baik, lemah lembut, penyayang. Tapi kok anaknya.... resek, menyebalkan, gesrek dan bar-bar seperti macan betina uhgg...."


Rahul yang sedang asik membalas celaan Zahra terkesiap saat merasakan ada seonggok butiran halus dilempar kewajahnya. Huh. Sepertinya main lempar-lemparan memang sudah hobby wanita ini.


"Oh.... mau main lempar-lemparan? Oke, siapa takut" Rahul meraba-raba meja disampingnya. Hingga rabaannya sampai dan berakhir pada mangkok plastik berisi butiran-butiran kecil. Rahul menggenggam seonggok butiran kecil itu dan melemparnya pada Zahra.


"Ih...!" Mendapat serangan balasan, Zahra pun kembali menyerang Rahul dengan terigu.


"Uhgg" Rahul pun tak mau kalah, dia juga kembali menyerang gadis itu dengan wijen.


"Ya Tuhan, hey. Sudah, sudah. Berhenti!" Seru Bu Sakinah, berusaha melerai mereka yang sedang asik perang terigu dan wijen dengan dirinya sebagai saksi. Namun percuma, suaranya sama sekali tak digubris.


"Stop!!" Teriak Bu Sakinah yang sudah habis kesabaran menghadapi tingkah laku mereka yang seperti anak-anak itu.


"Huh.... Kalian ini ya. Sudah pada besar, tapi kelakuannya masih saja seperti anak-anak. Ibu rasa kalian berdua ini berjodoh ya. Makanya sifat kalian sama saja" Omelnya.

__ADS_1


"Lih Ibu. Siapa juga yang mau dengan lelaki menyebalkan seperti dia" Zahra masih belum puas mencela Rahul.


__ADS_2