Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 116- Keputusan Yang Sangat Sulit!!


__ADS_3

"Iya, Papa benar. Semua ini memang salahku. Karena aku tidak jujur dari awal, hingga semua ini terjadi. Aku memang tidak bisa diandalkan. Baik sebagai anak, suami maupun seorang ayah. Aku memang tidak berguna. Sekalipun aku sudah tidak lagi dalam keadaan buta.


Aku tidak tau, apakah aku masih bisa berguna, jika Zahra sampai benar-benar meninggalkanku. Mungkin duniaku akan kembali gelap, sekalipun mataku bisa melihat dengan jelas. Aku tidak tau"


Sambil kembali menitikkan air mata, Rahul berucap dengan suara lirih dan sendu. Sekalipun nada suaranya sudah tidak kencang lagi dari sebelumnya, namun kata-kata yang dilontarkannya terdengar sangat sedih dan menyayat hati.


Puas meraung-raung dan meracau tak karuan, Rahul meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan semua orang yang memanggil-manggilnya.


"Rahul! Rahul!"


********


Rahul memilih menenangkan dirinya di mushola rumah sakit, dengan melaksanakan ibadah sholat, zikir dan doa.


"Ya Allah, aku mohon padamu, tolong selamatkan Zahra. Tolong selamatkan anak kami. Aku mohon, jangan buat aku kehilangan mereka lagi. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Dan aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka.


Aku tidak bisa mengorbankan salah satu demi menyelamatkan yang lainnya. Aku ingin keduanya selamat dan tetap hidup. Aku rela, jika nyawaku sebagai gantinya. Tapi tolong berikan mereka kesempatan untuk tetap hidup. Aku mohon"


Dengan air mata yang tak berhenti lolos dari pelupuk matanya, Rahul menadahkan tangannya. Mempersembahkan doa untuk keselamatan istri dan calon buah hatinya. Dia begitu putus asa. Seumur hidupnya dia tidak pernah menyangka, jika akan dihadapkan pada pilihan sulit seperti ini! Dimana dia harus memilih antara istri dan anaknya sendiri!!


Bagaimana dia bisa memilih nyawa dua orang yang sangat dicintainya?! Dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya!! Bagaimana dia bisa mengorbankan salah satunya, demi menyelamatkan yang lainnya?!! Hanya Tuhan satu-satunya tempat yang saat ini bisa dia mintai petunjuk dan pertolongan.

__ADS_1


Helmi dan Lesti berdiri didepan pintu mushola, dan menatap anak mereka dengan perasaan sendu dan empati. Ingin rasanya mereka mendekati dan menghibur putra mereka itu.


Namun mereka berusaha menahan diri, karena mereka hafal betul sifat anak mereka yang keras kepala dan temperamen. Jika sudah marah atau kecewa, akan sangat sulit mengajaknya bicara ataupun membuatnya mengerti.


Fajar muncul dan berdiri dibelakang Helmi dan Lesti. Dia memberi kode pada Om dan Tantenya agar mereka tetap disana, dan membiarkannya untuk menemui Rahul dan mencoba bicara dengannya. Helmi menganggukkan kepalanya dan memberi kode balasan, bahwa dia menyetujui usulan Fajar.


Fajar memasuki mushola. Kemudian dia duduk disamping Rahul yang sedang mengusapkan kedua telapak tangan kewajahnya setelah menyelesaikan doanya.


"Rahul, aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Karena aku juga pernah merasakan ada diposisimu. Dan aku juga minta maaf, karena aku juga ikut andil hingga keadaannya menjadi kacau seperti ini. Tapi aku rasa, sekarang bukan saatnya untuk kita membahas masalah itu dulu.


Karena saat ini... yang harus kita prioritaskan adalah Zahra dan anak kalian. Saat ini hidup mereka ada ditanganmu. Ada pada keputusanmu. Aku tau kamu harus mengambil keputusan yang sangat berat.


Tapi bukankah, lebih baik menyelamatkan dan mengorbankan salah satunya? Ketimbang mengorbankan dua-duanya? Zahra tidak punya banyak waktu. Aku mohon tenangkan dirimu, dan ambil keputusan dengan kepala jernih"


Jika dipikir-pikir, apa yang dikatakan Fajar memang ada benarnya. Dia tidak bisa terlalu lama larut dalam kesedihan, kekecewaan dan kemarahan. Karena Zahra dan bayinya tidak punya banyak waktu untuk menunggu.


Tapi, siapa diantara mereka berdua yang harus dia selamatkan?! Dan, mampukah dia mengorbankan salah satunya?!!


********


Dengan mengenakan baju steril, Rahul menemui Zahra yang masih terbaring tak sadarkan diri diruang ICU, dengan sejumlah alat medis yang terpasang ditubuhnya seperti ventilator, infus, monitor dan lain sebagainya.

__ADS_1


Hati Rahul serasa teriris melihat wanita itu terbaring tak berdaya seperti itu! Zahra yang dikenalnya adalah sosok wanita yang ceria, bar-bar, kuat dan tangguh. Bahkan mampu membuatnya menjadi sosok yang kuat dan tabah menerima ujian hidupnya. Tapi sekarang?!!


Andai posisi mereka bisa ditukar, dia ingin sekali menggantikan Zahra saat ini! Dia ingin setiap rasa sakit yang mendera Zahra berpindah padanya! Dia rela dirinya menerima rasa sakit yang dahsyat, ketimbang melihat istri dan anaknya yang kesakitan dan berada dalam kondisi kritis seperti ini!!


"Sayang.... Bangunlah. Ini aku, Satyamu. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Aku sangat merindukan putri Belleku yang ceria dan bar-bar. Yang selalu mampu menghadirkan senyumanku. Bukankah kamu sudah berjanji akan selalu mencintaiku? Bukankah kamu selalu mengatakan, jika kamu tidak bisa jauh dariku?"


Rahul berusaha untuk tersenyum disela-sela air mata yang tak kunjung berhenti menetes dan membasahi wajahnya. Dia menggenggam tangan Zahra dengan lembut.


"Jadi jangan pernah lakukan itu ya. Jangan tinggalkan aku. Kamu tau, aku sudah menyiapkan banyak kejutan untukmu. Kejutan yang aku sangat yakin, bisa membuatmu meloncat kegirangan. Jika kamu tidak ada, bagaimana kamu akan menerima kejutan dariku"


Sesekali dia mengecup buku jemari tangan istrinya itu. Dia juga mengelus-elus rambut Zahra yang sama sekali tidak merespon apapun tindakannya. Suasana kamar itu tampak hening. Yang terdengar hanya suara ratapan lirih Rahul dan monitor disamping tempat tidur Zahra.


Dia mencoba berbicara dengan Zahra. Berharap Zahra bisa mendengar dan ada keajaiban yang bisa menyembuhkan istrinya! Sehingga dia tidak perlu menentukan pilihan sulitnya!! Namun tampaknya, harapan hanyalah harapan.


Dokter yang baru saja memasuki ruangan itu mencoba mendekati Rahul dengan pelan-pelan. Dan berusaha untuk berbicara sehati-hati mungkin dengan lelaki itu. Berharap sangat agar dia bisa memaklumi dan tidak mengamuk lagi seperti sebelumnya.


"Maaf Pak, kita sudah tidak punya banyak waktu. Saya mohon Bapak segera mengambil keputusan. Karena operasi harus dilakukan secepatnya. Jika kita menunda lebih lama lagi, kami takut baik Ibu Zahra maupun bayinya, tidak akan bisa bertahan"


Rahul terdiam selama beberapa saat. Tatapannya tampak sendu dan hampa. Kemudian dia kembali menatap Zahra dan mengelus-elus rambutnya. Lalu dia mengecup kening istrinya.


Kemudian dia menatap perut buncit Zahra dan mengelus-elusnya juga. Setelah itu dia mencium perut yang didalamnya berisi darah dagingnya itu. Sepertinya dia sudah siap, untuk mengambil keputusan.

__ADS_1


Sembari menahan rasa sakit dihatinya yang mau tidak mau tetap harus mengambil keputusan yang sulit, Rahul menatap lurus kedepan lalu berkata dengan tegas.


"Selamatkan istriku"


__ADS_2