
"Ya sudah, besok kamu datang kemari pagi-pagi" Pak Mahdi melirik Rahul dan berkata dengan datar Sebelum melangkah meninggalkan mereka.
"Ra, kenapa kau setuju dengan syarat yang dia berikan? Kalau aku tidak bisa, kita harus ganti rugi dua kali lipat. Darimana kita mendapatkan uang sebanyak itu?" Akhirnya Rahul melanjutkan tegurannya yang tadi tercegah.
"Dan kalau kamu bisa, kamu akan mendapatkan gaji dua kali lipat juga. Jadi adilkan?" Jawab Zahra dengan santainya.
"Kalau aku gagal gimana?" Pesimis Rahul.
"Aku yakin kau bisa. Jadi tidak usah takut" kukuh Zahra.
"Bagaimana kau bisa sangat yakin, kalau aku bisa?"
"Karena kamu sendiri yang sudah membuktikannya?"
"Maksudnya?"
"Kau lupa? Kau baru saja mengalahkan Amar dan kedua temannya. Tiga orang lelaki berbadan sama sepertimu. Masak bermain dengan gitar dan kayu kamu tidak bisa? Padahalkan, itu jauh lebih mudah daripada bertarung dengan mereka"
"Itu beda Ra....." Bantah Rahul.
"Apa bedanya? Menurutku sama saja"
"Entahlah. Aku hanya tidak ingin menambah bebanmu dan Ibu, jika aku gagal memenuhi tantangan itu" lirih Rahul menundukkan wajahnya.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak suka melihatmu pesimis begitu. Karena masalah yang terjadi tidak serumit itu. Sudah, sekarang ayo pulang. Besok pagi-pagi kamu harus datang kembali kemari" Zahra memilih mengakhiri perdebatan dengan menarik tangan Rahul meninggalkan pabrik itu.
***********
Rahul tampak begitu asik dan fokus dengan pekerjaannya, yang sedang melakukan proses pengecatan pada gitar yang telah didempul, dan dihaluskan bersama beberapa pengrajin lainnya dalam sebuah ruangan yang dikhususkan sebagai tempat untuk merapikan dan pengecatan yang telah dibentuk.
Kebutaannya ternyata bukanlah penghalang bagi Rahul, untuk dapat menekuni pekerjaan barunya itu dengan gigih. Karena sepertinya, dia sudah cukup mahir dalam bidang itu.
"Good evening" seru Zahra dengan suara yang terdengar ceria seperti biasanya. Rahul sedikit terkejut dengan kehadiran gadis itu saat dirinya tengah sibuk dengan gitar-gitar allegro itu.
"Hey, kau disini? Sengaja datang untuk menjemputku?" Rahul membalas sapaan Zahra dengan raut wajah ceria.
"Lih, kepedean sekali kau ya? Memangnya kau anak kecil, sampai harus dijemput segala?" Seloroh Zahra.
"Lalu, kenapa kesini? Merindukanku?" Gurau Rahul.
"Dasar" Zahra mendorong pelan pundak Rahul dengan geramnya.
__ADS_1
"Kamu tau? kamu itu cocoknya diberi gelar si Mr.Pede. Orang aku habis mengantarkan pesanan kue, dan nasi kotak Ibu kerumah Pak lurah. Kebetulan aja lewat sini, jadi mampir"
"Mampir karena kamu ingat aku disinikan?" Rahul yang sedang asik menggoda Zahra tiba-tiba saja terperanjat, saat merasakan ada cairan yang disemprotkan kewajahnya. Rahul mengusap-usap wajahnya yang terasa lengket oleh cairan yang disemprotkan kewajahnya.
Feeling-nya mengatakan, bahwa itu adalah cairan cat yang tengah digunakannya saat ini untuk mengecat gitar-gitar itu.
Oh, rupanya gadis ini ingin bermain-main semprotan cat dengannya ya?
"Oh, mau main semprot-semprotan? Oke" dengan sedikit meraba-raba, Rahul akhirnya berhasil merebut botol cat itu dari tangan Zahra. Dan dia langsung memberikan semprotan balasan pada wanita itu.
"Aaww, ih.... hehehe" suara pekikan disertai dengan suara tawa Zahra menggema diruangan yang dipenuhi dengan alat dan bahan-bahan untuk merapikan gitar itu.
Membuat para pengrajin lain yang juga tengah bertugas diruangan yang sama dengan mereka, hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah dua sejoli yang tengah asik perang cat semprot itu.
Entah Rahul dan Zahra sadar atau tidak, jika aksi konyol mereka telah menjadi pusat perhatian, orang-orang yang berada diruangan yang dipenuhi dengan puluhan gitar yang bergelantungan di langit-langit ruangan itu.
"Udah-udah. Wajah dan tubuhku jadi kotor nih" Melas Zahra dengan nafas terengah-engah. Mengangkat kedua tangannya kedepan, sebagai pertanda menyerah. Lalu dia mengusap-usap wajah dan bagian tubuhnya yang kotor dan lengket akibat semprotan cat berwarna maroon itu.
"Makanya jangan iseng. Dikit-dikit main bar-bar. Memangnya tubuhku tidak kotor juga, gara-gara cat itu?" Sungut Rahul yang juga mengusap-usap wajah dan tubuhnya yang terkena cairan cat gitar itu juga.
"Oh ya, jadi bagaimana masa percobaanmu? Apa kau mampu melakukan pekerjaan seperti ini?" Zahra mencoba mengalihkan pembicaraan karena merasa malu.
"Hah? perusahaan keluarga? Maksudnya, keluargamu memiliki perusahaan sektor kerajinan gitar seperti ini juga?" Tanya Zahra bingung.
Dia tidak begitu tau tentang seluk beluk keluarga Rahul. Setahunya, mereka semua sudah tiada dalam kecelakaan bersamanya waktu itu. Itu cerita yang dia dengar langsung dari Rahul.
Tapi sekarang lelaki itu membahas perusahaan keluarganya? Apa keluarganya juga memiliki perusahaan? Jika iya, berarti pria itu berasal dari keluarga yang berada kan?
"Mmmm...... mak-maksudku, keluargaku semuanya bekerja diperusahaan bisnis gitar seperti ini juga. Jadi karena itulah, aku cukup dominan dalam bisnis ini" Rahul jadi gelagapan menjawab pertanyaan Zahra. Dia baru sadar, kalau wanita ini tidak tau apapun tentang keluarganya.
Astaga!! Kenapa dia bisa keceplosan bicara sih? Hingga membahas keluarganya segala. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan melupakan dan memutuskan hubungan dengan mereka.
"Oh.... gitu" Zahra manggut-manggut dengan polosnya "Makanya, bicara yang jelas"
"Aku sudah bicara jelas. Kau saja yang tidak paham" Kilah Rahul berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Ehem" Senda gurau mereka buyar oleh sebuah suara deheman kasar milik seorang pria yang tiba-tiba muncul.
Sontak mereka langsung menoleh. Dan tampaklah Pak Mahdi sudah berdiri dihadapan mereka dengan tatapan tajam.
"Eh, sore Pak" Zahra tersenyum cengengesan.
__ADS_1
"Astaga naga.... ini muka kalian kenapa pada cemong begitu? Udah pada besar, tapi kelakuan masih seperti anak-anak. Kalian pikir ini taman bermain? Itu cat buat kerja, bukan buat main apalagi pacaran" Panjang lebar Pak Mahdi mengomeli saking jengkelnya dengan kelakuan mereka berdua.
"Maaf Pak, dia duluan yang mulai" Rahul menyalahkan Zahra.
"Lho, kok aku?" Elak Zahra.
"Memang benarkan? Kan tadi kau duluan yang menyemprotku dengan cat itu" kekeh Rahul.
"Ya tapikan kamu duluan yang resek...."
"Udah stop! kalau kalian ingin ribut, bercanda ataupun ingin pacaran, silahkan lanjutkan diluar! Jangan disini, ini tempat untuk kerja!" pekik Pak Mahdi semakin jengkel dengan tingkah mereka berdua yang semakin menjadi-jadi.
"Iya Pak maaf. Tapi kami tidak pacaran kok" ujar Rahul.
"Iya Pak. Mana mungkin saya mau, dengan lelaki menyebalkan seperti dia" timpal Zahra yang masih belum puas mencela Rahul.
"Apalagi saya Pak. Mana mau saya dengan wanita segalak dia" Rahul pun tak mau kalah.
"Udah stop,stop! What ever ya kalian mau pacaran atau tidak! Yang jelas sekarang! kalau kalian masih belum puas, silahkan kalian tinggalkan tempat ini dan lanjutkan urusan kalian diluar! Jangan bikin saya pusing disini!"
Lagi-lagi Pak Mahdi memekik karena merasa enggan dilibatkan dalam perdebatan mereka. Kesabarannya semakin menipis.
"Iya Pak maaf. Oh ya Pak, jadi bagaimana Pak? Apakah Rahul berhasil lolos masa percobaan hari ini? Apa dia bisa diterima sebagai pengrajin tetap dipabrik ini, meskipun dia buta?" Tanya Zahra seketika mengalihkan pembicaraan.
"Ya.....setelah dilihat-lihat, ternyata temanmu ini, memiliki kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini. Meskipun dia, ya... buta. Namun hal itu tidak mempengaruhi kinerjanya dipabrik ini. Karena dia dengan mudahnya, bisa berbaur dan bekerja sama dengan para pengrajin lain dengan baik. Jadi saya putuskan, dia lolos masa percobaan. Jadi mulai besok, dia sudah bisa menjadi karyawan tetap dipabrik ini"
Jawab Pak Mahdi dengan suara datar dan terpaksa.
"Bapak serius?" Tanya Rahul dengan sumringahnya.
"Apakah tampang saya terlihat seperti sedang bergurau? Oh ya saya lupa, kamu kan tidak bisa melihat ya?"
"Terima kasih banyak Pak atas kesempatannya. Saya janji akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan pernah mengecewakan anda" Ujar Rahul terharu.
"Saya pegang ucapanmu ya. Ingat, sekali saja kamu melakukan kesalahan yang dapat merugikan pabrik ini, maka saya akan langsung memecatmu. Jangan sampai kau membuatku mendapat masalah dari Dirgantara Group. Mengerti?" Pak Mahdi memperingatkan dengan tegas.
"Dirgantara Group" Rahul terkesiap mendengar nama itu. Nama yang sangat.... dan sangat familiar baginya.
"Kenapa kamu? Itu adalah satu perusahaan holding company terbesar di Indonesia, yang memiliki beberapa anak perusahaan, yang bergerak dalam beberapa sektor termasuk pabrik ini" Pak Mahdi menjelaskan dengan raut wajah sedikit heran akan sikap Rahul.
"Kamu kenapa kaget Hul? Memangnya kau tau, tentang perusahaan itu?" Timpal Zahra yang juga tak kalah herannya dengan Pak Mahdi.
__ADS_1