Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 46- Perasaan Apakah Ini??!


__ADS_3

Lesti mendekati Rahul dan memegang pundaknya dengan lembut.


"Jika hatimu memang yakin jika istrimu masih hidup, maka Mama pasti akan selalu mendukungmu. Kita sama-sama berdoa dan berusaha ya, untuk menemukan menantu Mama. Mama minta maaf ya, selama ini Mama tidak pernah mengerti perasaanmu. Mama meninggalkanmu saat kamu membutuhkan dukungan Mama.


Tapi Mama janji, jika hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Karena kamu dan Gala adalah harta Mama yang paling berharga. Dan Mama tidak ingin sampai kehilangan harta itu lagi"


Lesti berkata dengan sendu. Membuat Rahul merasa tersentuh. Seulas senyuman terpancar diwajah tampannya. Rahul memegang tangan Lesti dan menciuminya dengan lembut.


"Iya Ma. Aku juga minta maaf ya, selama ini aku sudah banyak membuat Mama bersedih dengan sikap dan perkataanku. Saat ini, aku sedang sangat membutuhkan dukungan dan doa Mama. Aku mohon tolong doakan Zahra agar kembali lagi padaku. Kata pak Umar, marbot yang aku temui saat masih berada didesa, doa seorang ibu itu sangat mustajab. Tidak ada tirai yang menutupi atau menghalanginya untuk sampai pada Allah"


Lirih Rahul penuh harap. Membuat mata Lesti berkaca-kaca karena perasaan haru. Kini hubungan mereka sudah semakin membaik setelah perseteruan beberapa bulan yang lalu.


Dia sangat senang melihat perubahan anaknya yang semakin dewasa dan religius, dengan selalu melaksanakan kewajiban lima waktu dan lebih menghormatinya.


Dia yakin semua itu karena pengaruh istrinya yang bernama Zahra. Dia sangat bersyukur karena putranya bisa menemukan wanita yang tepat. Namun sayangnya, sekarang wanita itu tidak tau dimana rimbanya.


"Iya Nak. Mama pasti akan selalu berdoa untukmu dan Zahra. Untuk kebahagiaan kalian. Mama senang sekali, karena kamu meminta doa dari Mama. Ya sudah, ayo sekarang kita turun kebawah. Acaranya sebentar lagi akan dimulai" Ajak Lesti kemudian.


Iya, malam ini adalah malam dimana dia akan merayakan hari jadi pernikahannya dengan Helmi yang ke tiga puluh tahun.


"Iya, Mama duluan saja. Aku mau ganti baju dulu"


"Ya sudah, dandan yang tampan ya" Gurau Lesti.


"Iya Mamaku sayang" Rahul membalas gurauan ibunya.


*********


Mobil Aston Martin warna hitam yang dikendarai Fajar akhirnya tiba ditempat kediaman Dirgantara, setelah menempuh perjalanan kurang lebih tujuh jam dari Magelang ke Jakarta.


Fajar turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Shreya.


Shreya terpaku menatap rumah mewah didepannya. Bukan lantaran dia merasa takjub melihat bangunan elite bak istana yang sedang menjadi tempat berlangsungnya pesta. Tapi karena hatinya merasa ada sesuatu didalam sana, yang membuat jantungnya berdetak tak karuan.


"Ayo" Suara ajakan Fajar membuat Shreya terkejut dan mengangguk.


Keduanya pun berjalan berbaur dengan para tamu undangan yang datang sebelum dan sesudah mereka, menuju kedalam rumah yang menjadi tempat digelarnya pesta secara mewah dan besar-besaran itu, setelah dipersilahkan dengan hormat oleh para pengawal dan petugas keamanan yang sedang bertugas mengawal acara.

__ADS_1


Mereka sudah sampai diteras dan hendak masuk, namun bunyi ponsel Fajar menghentikan langkah mereka. Fajar merogoh ponsel dari saku celananya dan menatap layarnya.


"Kamu masuk saja duluan. Aku angkat telpon dulu sebentar"


"Iya baiklah" Jawab Shreya dengan patuhnya meneruskan langkahnya masuk kedalam rumah.


Sedangkan Fajar berbalik mencari tempat yang tenang, untuk berbicara dengan orang yang menghubunginya.


********


Sementara didalam sudah penuh dan ramai dengan kehadiran pria dan wanita dari generasi yang berbeda, namun satu kalangan yaitu kalangan atas atau berpangkat. Hal itu terlihat jelas dari penampilan mereka yang tampak rapi, bersih dan elegan.


Rahul menuruni tangga yang membawanya menuju lantai pertama dimana pesta sedang berlangsung.


Visual dan penampilannya yang tampan, gagah dan menawan langsung membuatnya menjadi pusat perhatian para kaum hawa yang terpesona melihatnya hingga mata mereka tak mampu berkedip, seperti melihat seorang pangeran tampan tanpa kuda putihnya.


Rahul membalas tatapan-tatapan penuh kekaguman dari tamu undangan yang berjenis kelamin perempuan itu dengan tatapan dingin. Dia tidak sedikitpun menghiraukan ataupun tertarik dijadikan pusat perhatian oleh para wanita itu.


Amora yang juga sedang menjadi salah satu dari ratusan orang yang meramaikan dan memadati acara, tak bisa menepis perasaan kagumnya saat melihat sosok Rahul yang begitu tampan dan gagah. Ditambah lagi dengan outfit yang dikenakannya. Yang semakin membuatnya terlihat menawan.


Dia akui dari dulu pria itu memang memiliki sejuta pesona, yang membuatnya merasa sebagai wanita beruntung karena berhasil menaklukkan hatinya. Tapi sialnya itu dulu!!


Salahnya dia juga karena dulu melepaskan lelaki itu, hingga dia bisa jatuh dalam pelukan gadis desa bernama Zahra yang tidak jelas asal usulnya. Mengingat kenyataan itu membuat hatinya terasa panas!!


Dia jadi penasaran, wanita seperti apa sih yang telah membuat Rahul begitu tergila-gilanya? Padahal saat mereka bersama lelaki itu masih dalam keadaan buta. Lalu dengan apa wanita itu menaklukkan Rahul kalau bukan dengan kecantikannya?


"Ra, itu Rahul. Cepat dekati dia. Kalau perlu buat dia agar kembali bertekuk lutut padamu" Bisik Naomi yang berdiri disamping Amora.


"Aduh Ma, aku sudah lelah. Mama pikir gampang, mendekati Rahul yang sekarang sudah berubah menjadi manusia kulkas itu? Berkali-kali dia menolakku. Kemarin saja Mama Lesti hampir curiga dengan sikapnya terhadapku. Kalau seperti ini terus, yang ada lama-lama aku akan ditendang sebagai istrinya Gala, saat Rahul pun masih belum berhasil aku miliki" Sanggah Amora dengan malas.


"Iya juga ya. Aduh..... Kenapa sih, sekarang anak itu susah sekali didekati? Padahalkan, dulu gampang sekali untukmu mendapatkan hatinya. Kok dia bisa berubah 180 derajat celsius begitu ya?"


"Ya.... Mungkin dia terlalu sakit hati, karena dulu aku meninggalkannya dalam keadaan buta. Dan itu semua gara-gara Mama" Jawab Amora ketus.


"Lho, kok gara-gara Mama? Kan dulu kamu juga setuju dengan rencana Mama. Kok sekarang malah Mama yang disalahkan?" Sanggah Naomi yang merasa tak terima disalahkan oleh anaknya.


"Tapi kan itu semua ide Mama. Kalau saja Mama tidak menyarankannya, aku juga tidak mungkin menyetujuinya!"

__ADS_1


Saat ibu dan anak itu sedang asik dengan perdebatan mereka tentang Rahul, seperti anak kecil yang saling tak terima disalahkan, Rahul sendiri malah melangkahkan kakinya menuju pintu.


Hatinya terasa berdebar-debar. Seolah ada magnet yang menarik tubuhnya untuk terus berjalan kearah pintu, menerobos keramaian tamu undangan yang terus berdatangan.


Seorang wanita cantik berkulit putih yang tak lain adalah Shreya, tampak berjalan memasuki rumah itu bersama tamu-tamu lain yang tak sengaja berpapasan dengannya. Perutnya yang buncit tampak menonjol dibalik gaun panjang berwarna gold berlapis kain tulle hitam yang dikenakannya.


Wanita itu terus berjalan masuk, sementara Rahul terus berjalan kearah pintu hingga keduanya saling berpapasan tanpa saling melihat diantara keramaian para tamu.


Namun tanpa sengaja lengan mereka bersentuhan. Gelang emas yang melingkar ditangan Shreya tersangkut pada lengan panjang jas yang dikenakan Rahul. Merasakan ada sesuatu yang menarik lengannya, Keduanya sama-sama berbalik.


DEG!!


Tatapan mata mereka bertemu dan langsung terkunci dengan tubuh yang saling terpaku. Rahul tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat melihat wanita dihadapannya ini. Jantungnya terasa berdetak kencang. Perasaan hangat dan tentram sangat nyata dirasakannya menjalari seluruh tubuhnya.


Dan hal itu pula yang dirasakan Shreya saat melihat wajah pria yang terasa tidak asing dimatanya itu. Perasaan apa ini sebenarnya? Bahkan perasaan seperti ini tidak dia rasakan terhadap Fajar yang suaminya sendiri.


Cukup lama mata mereka bertatapan dalam diam. Hingga sepertinya mereka sudah tidak lagi menyadari kehadiran orang-orang disekitar mereka. Entah perasaan keduanya sedang melayang kemana dibalik tatapan mata mereka yang sedang terpaut satu sama lain.


"Rahul, kamu disini Nak?" Suara teguran Lesti pun masih belum mampu membuyarkan keheningan diantara mereka. Tatapan mereka masih belum lepas.


"Shreya, ternyata kamu disini? Maaf ya, aku lama angkat telponnya" Fajar pun muncul dan langsung menegur Shreya.


Namun tampaknya wanita itu juga masih belum menyadari kehadiran lelaki yang dia ketahui sebagai suaminya itu. Kedua matanya masih tetap fokus menatap pria yang telah membuatnya merasakan perasaan aneh dan tak menentu.


"Rahul, hey" Melihat anaknya tak bergeming Lesti kembali menegur dengan mengeraskan suaranya sembari mengibas-ngibaskan tangannya kedepan wajah Rahul.


Rahul terkejut dan dia langsung kembali kealam nyata, dengan melepaskan mata wanita itu.


"Mmm..... Iya Ma, kenapa?" Tanya Rahul linglung. Namun bukannya menjawab, perhatian Lesti malah tertuju pada tangan mereka.


"Astaga, ini kenapa tangan kalian bisa tersangkut begini? Sini, coba Mama lepasin ya?" Lesti mencoba untuk melepaskan gelang ditangan Shreya yang sedang tersangkut dilengan jas putranya. Namun gelang itu tak kunjung lepas. "Kok susah ya?" Keluh Lesti.


"Biar saya aja Tante" Fajar mengambil alih tindakan Lesti untuk melepaskan tangan mereka. Dan dia berhasil, gelang emas yang melingkar dipergelangan tangan Shreya kini sudah terlepas dari lengan Rahul.


Rahul dan Shreya menatap tangan mereka dengan perasaan hampa. Rasanya mereka tidak rela ikatan yang yang sedang menyatukan mereka terlepas.


"Sudah lepas. Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Fajar pada Shreya dengan cemas.

__ADS_1


"Iya, aku tidak apa-apa" Jawab Shreya lirih.


__ADS_2