
"Untuk apa kamu meminta maaf? Kamu kan tidak ada salah. Lagipula, kalau pun kamu bersalah, untuk apa minta maaf padaku? Memangnya aku siapa? Lebih baik urus saja wanita-wanita diluar itu. Kan sekarang kamu sudah menjadi idola baru didesa ini. Lihat saja kaum wanita disini. Dari yang muda sampai yang tua, mereka semua berlomba-lomba dalam mempromosikan diri ataupun anak gadisnya untuk dijadikan istrimu. Kamu tinggal pilih saja mau yang mana. Mau yang pandai berkebun, pandai memasak, pandai berdandan, atau.... yang pandai beberes rumah?"
"Kok kamu bicaranya begitu? Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal semacam itu. Lagipula, aku nekad mengikuti kompetisi itu juga, bukan demi wanita-wanita itu"
"Lalu demi siapa? Siapa yang membuatmu nekad mengikuti kompetisi uji adrenalin itu?" Tanya Zahra datar.
"Kamu"
"Apa? Aku? Kamu bilang aku yang membuatmu nekad mengikuti kompetisi gulat itu? Omong kosong macam apa itu? Memangnya kapan aku memintamu untuk melakukan itu semua? Kamu sendiri yang memutuskan untuk bertarung dengan pegulat itu, tanpa bicara dulu padaku. Dan tanpa memikirkan betapa paniknya aku, melihatmu dihajar habis-habisan diatas ring"
"Kamu tahu, aku seperti orang gila yang memaki, bahkan memohon-mohon kepada petugas untuk menghentikan pertarungan itu. Dan sekarang kamu bilang semua itu demi aku? Baiklah, katakan kenapa kamu mau mempertaruhkan keselamatanmu sendiri demi aku? Kenapa?" Kata Zahra dengan berkobar-kobar.
"Karena aku mencintaimu"
DEG
"Apa?" Zahra terpaku mendengar ucapan Rahul.
"Iya. Karena aku mencintaimu. Karena aku ingin menjadi tempat berbagi rasa sakit dan senangmu. Karena aku ingin orang yang selalu membuatmu tersenyum dan bahagia. Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak berguna. Yang bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, saat orang yang kucintai sedang berada dalam kesulitan. Karena itulah aku nekad mengikuti kompetisi itu"
"Karena, hanya itu satu-satunya jalan yang ada di depanku saat itu. Dan aku tahu, jika aku mengatakannya padamu, kamu pasti tidak akan membiarkanku untuk mengikutinya kan? Karena aku tahu, kamu pasti tidak akan pernah membiarkan, hal buruk apapun terjadi padaku. Iya kan?" Lirih Rahul.
"Mak-maksudmu apa, bicara seperti ini? Ka-kamu menembakku?" Tanya Zahra terbata-bata dengan wajah melongo. Dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tidak. Kata siapa aku menembakmu?" Seloroh Rahul.
"Lalu?" Tanya Zahra datar. Perasaan kesalnya mulai muncul kembali.
"Aku melamarmu"
"Mak-maksudnya?"
Rahul merogoh saku celananya, mengeluarkan kotak kecil berbentuk hati berwarna merah. Lalu dia berlutut sembari membuka kotak berisi sebuah cincin, dan menyodorkannya kedepan Zahra.
"Nona Azzahra Alfathunnisa, maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu menjadi istriku, pendamping hidupku, makmumku dan, calon ibu dari anak-anakku?"
Tubuh Zahra terasa kaku. Jantungnya terasa kembali berdegup kencang. Dia semakin tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Pria ini melamarnya? Ingin menjadikan dia istrinya? Apakah ini mimpi? Jika iya, maka ini adalah mimpi yang sangat indah sepanjang hidupnya.
"Ka-kamu serius?"
"Apakah tampangku terlihat seperti sedang bergurau?"
"Jika aku menolak, bagaimana?"
__ADS_1
"Ya.... aku berjuang sampai kamu menerimanya. Bukankah segala sesuatu itu butuh perjuangan, termasuk cinta?"
"Kalau begitu cepat pakaikan cincin itu dijari manisku. Setelah itu minta restu pada ibuku, agar beliau menerimamu sebagai menantunya?" Zahra menyodorkan jarinya kedepan Rahul dengan senyum ceria yang merekah diwajahnya.
Rahul sangat puas dengan jawaban Zahra. Dengan wajah penuh kebahagiaan, dia langsung mengeluarkan cincin dari kotaknya, dan menyematkannya dijari manis gadis itu.
*******
Hari bahagia mereka pun tiba. Hari dimana Rahul dan Zahra meresmikan hubungan mereka, dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Bagai air mengalir, Rahul begitu lancar dalam mengucapkan kalimat ijab kabul. Meski perasaan gugup itu ada. Namun hal itu tak mampu menghalanginya dalam mengucapkan kalimat sakral. Kalimat yang akan menjadikan Zahra sebagai miliknya.
Rahul tidak menyangka, diusianya yang ke 29 tahun ini, dia akan menikahi wanita yang berusia enam tahun lebih muda darinya. Ditambah lagi, pernikahan itu tanpa dihadiri oleh keluarga besarnya.
Tapi tak mengapa. Karena hal itu bukanlah prioritasnya. Dia sudah tidak ingin lagi mengingat apapun yang berhubungan dengan masa lalunya. Sekarang dia hanya ingin fokus pada masa depannya. Pada istri dan keluarga kecilnya.
Dia berharap semoga pernikahan ini, akan menjadi gerbang menuju kehidupannya yang baru dan bahagia, serta meninggalkan masa lampaunya yang kelam.
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga kalian akan selamanya berada dalam ikatan cinta, yang akan selalu menyatukan hati kalian untuk terus bersama, meski sebesar apapun badai dan jarak yang terbentang didepan kalian. Doa Ibu akan selalu menyertai kalian"
Harapan Bu Sakinah kala kedua pengantin meminta restu dengan mencium tangan dan lututnya.
"Iya Bu, terima kasih ya" Kata Zahra dengan mata berkaca-kaca.
Wirda langsung mencubit perut Maudy, karena malu atas sikap sahabatnya.
"Auw" Maudy mengaduh kesakitan, lalu menegur Wirda. "Apaan sih Wir?"
"Apaan, apaan. Justru kamu yang apa-apaan. Bicaranya tidak sopan sekali didepan orang tua" Jawab Wirda dengan nada sewot dan mata melotot, lalu melirik Bu Sakinah dengan melempar senyum, untuk menutupi rasa malunya akibat ulah Maudy.
Bu Sakinah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis-gadis itu.
"Memangnya kenapa sih? Kan Bu Sakinah juga pernah muda. Tu, Zahra buktinya. Bukti kalau Bu Sakinah juga pernah begituan dengan almarhum ayahnya Zahra ump...." Maudy masih saja ngeyel dan terus merocos tanpa malu. Hingga Rahma terpaksa membekab mulut mesumnya.
"Bu, maaf ya. Maudy kalau bicara memang suka sembarangan. Kami permisi dulu ya. Rahul, Zahra, selamat ya atas pernikahan kalian. Dah" Ujar Rahma dengan malunya.
Ketiga gadis itu pun meninggalkan rumah, yang menjadi tempat berlangsungnya prosesi akad nikah pasangan pengantin baru itu, dengan menyeret Maudy yang hanya bisa terus berdehem, lantaran mulutnya yang dibekab.
*******
"Apa kita sudah sampai didepan kamarmu?" Tanya Rahul saat mereka berada didepan kamar Zahra, yang sebentar lagi akan menjadi kamar mereka berdua.
"He em"
__ADS_1
"Kalau begitu pegang ini" Rahul menyodorkan tongkatnya pada Zahra.
"Kenapa harus aku yang memegang tongkatmu? Kan aku tidak buta" Zahra mengernyitkan kening.
"Tidak perlu banyak bicara. Ingat, sekarang kamu sudah sah menjadi istriku. Jadi, seorang istri itu harus selalu menuruti ucapan suaminya. Bukankah begitu nasehat ibumu?" Kelakar Rahul.
"Ow, ow, ow..... begitu ya? Jadi kamu akan menjadi suami yang otoriter terhadapku? Istrimu?"
"Kamu yang mengatakannya kan? Bukan aku?"
"Ow, begitu ya?" Zahra kembali menyentil kening Rahul, membuat pria itu mengaduh.
"Auw... Aku pikir setelah menikah, sifat bar-barmu akan menghilang. Ternyata malah bertambah parah ya?" Keluh Rahul.
"Tentu saja. Lagipula siapa suruh, mencari masalah denganku? Aku ini istri yang hidup dijaman millenial. Bukan dijaman Siti Nurbaya"
"Oh, begitu ya?" Rahul meraba-raba tubuh Zahra, dan dengan sekali gerakan, dia langsung mengangkat dan menggendong tubuh wanita yang baru saja dinikahinya itu.
"Auw... Hey, apa yang kau lakukan?" Pekik Zahra.
"Aku hanya ingin melakukan tugasku, sebagai seorang suami pada istrinya dimalam pertama" Rahul tersenyum penuh arti.
"Ya tapi tidak perlu menggendongku. Aku bisa jalan sendiri"
"Kenapa, karena aku buta? Bukankah.....?"
"Ada aku sebagai matamu, dan kau sebagai kakiku?" Tukas Zahra yang seolah sudah mengerti, dialog yang akan dilontarkan oleh suaminya.
"Benar sekali" Rahul langsung membuka pintu dan memasuki kamar, untuk memulai pertempuran panas pertama dengan istrinya malam ini.
"Ahk! Hehehe!" Zahra hanya menjerit riang dilengan suaminya.
Sesampai dikamar, Rahul berjalan perlahan-lahan menuju ranjang sesuai arahan Zahra, lantaran dia masih belum hafal situasi dan tatanan dalam kamar itu.
Setelah sampai didekat ranjang, Rahul langsung mendudukkan istrinya diatas permukaan kasur dengan lembut. Lalu dia sendiri juga menduduki tepi ranjang, didepan Zahra.
Dia menggerayangi wajah istrinya dengan satu telapak tangan. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi, bibir, hingga dagu. Dia ingin merasakan dan menghafal visual istrinya. Meski dia tidak bisa melihat wajah istrinya secara langsung. Namun setidaknya, sedikit banyak dia bisa mengetahui, jika wanita itu memiliki bulu mata yang lentik, hidung kecil, pipi chubby, serta belahan didagunya.
Puas menjelajahi bagian wajah Zahra, tangan Rahul beralih kebagian tubuh istrinya yang masih terbalut kebaya lengkap. Dengan penuh kelembutan dia menanggalkan satu persatu, pakaian yang menutupi tubuh wanita itu.
Zahra pasrah saat pria itu terus menyentuh dan menjamah tubuhnya. Dia berusaha menahan rasa sakit saat mahkota yang sudah dijaganya selama 23 tahun, akhirnya berhasil dilepas oleh lelaki yang kini sudah sah sebagai suaminya.
Keduanya sangat menikmati malam pertama mereka sebagai sepasang pengantin baru yang sedang bercinta. Malam pertama yang penuh dengan gairah.
__ADS_1
Rahul tidak menyangka, akan menjadi lelaki yang sangat bahagia pada malam ini. Dia sangat menikmati tubuh istrinya. Meski ini bukan pertama kalinya dia melakukan hubungan intim dengan wanita, namun ini pertama kalinya dia melakukan hubungan yang halal, karena wanita itu adalah istrinya sekarang.