
"Iya Dok. Saya janji, lain kali saya pasti akan lebih berhati-hati. Terima kasih atas nasehatnya" Jawab Shreya patuh.
"Kalau begitu saya permisi dulu"
"Iya Dok silahkan" Fajar mengangguk. Dokter Ronal pun berlalu. Kini hanya tinggal mereka bertiga saja dalam kamar itu.
"Oh ya, aku masih tidak mengerti, kok kamu bisa bertemu Rahul direstoran? Memangnya kamu ngapain kerestoran?" Fajar bertanya pada Shreya dengan alis bertaut. Dia juga melirik Rahul sekilas.
"Mmm.... Aku bosan dengan makanan rumah. Jadi aku minta diantar supir kerestoran. Aku tidak tau kalau ternyata, makanan yang aku pesan menggunakan bahan yang membuatku alergi. Dan.... Kebetulan, ternyata Rahul juga ada disana" Dengan gugupnya Shreya berkelit.
"Iya. Kebetulan aku sedang ada janji untuk bertemu dengan rekan bisnis direstoran itu. Dan tanpa sengaja aku melihat Shreya ada disana juga" Rahul ikut menimpali kebohongan Shreya.
Namun dalam hatinya, dia merasa ada yang janggal dari ucapan wanita itu barusan. Bagaimana mungkin Shreya bisa tidak tau, jika makanan yang dikonsumsinya itu mengandung kacang almond? Padahal dia ingat betul, tadi dia dengan jelas menyebut nama makanan itu saat memesannya.
Dan Shreya dengan jelas mendengarnya. Tapi wanita itu sama sekali tidak memberitau atau mencegahnya. Apa mungkin Shreya memang tidak tau, jenis makanan apa yang membuatnya alergi? Tapi bagaimana bisa? Kan dia bukan anak kecil?
Kalau pun dia lupa, apa mungki lupanya bisa separah itu? Hingga dia bisa lupa, pada makanan yang bisa membuatnya celaka? Aneh sekali. Sebenarnya ada apa dengan Shreya?
"Oh begitu? Terima kasih banyak ya, karena kamu sudah membawa Shreya kesini. Hingga dia langsung mendapatkan penanganan. Kalau tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi padanya. Kamu memang benar-benar best friendku"
Ucap Fajar dengan seulas senyuman. Tampaknya dia begitu tulus berterima kasih pada Rahul.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Bukankah sesama manusia, kita memang harus saling tolong menolong? Apalagi..... Shreya adalah istrimu" Rahul tersenyum terpaksa.
"Ya sudah kalau begitu. Sekarangkan aku sudah ada disini. Mungkin kamu masih ada urusan? Kalau kamu ingin pergi, tidak apa-apa. Sekarang aku juga akan membawa Shreya pulang"
"Semua pekerjaanku hari ini sudah selesai. Aku juga mau pulang sekarang" Sanggah Rahul.
Sebenarnya dia ingin sekali menemani Shreya hingga sampai dirumah. Karena dia masih merasa tidak tenang meninggalkan perempuan itu dengan kondisi yang belum sepenuhnya vit.
__ADS_1
Tapi tidak mungkinkan, dia mengatakan hal itu pada Fajar? Mana ada suami yang akan mengijinkan istrinya bersama pria lain?
"Oh begitu? Tapi kamu bawa mobilkan?" Tanya Fajar.
"Iya"
"Ya sudah. Nanti kita bertemu dirumah ya. Ayo Shreya, kita pulang. Supaya kamu bisa istirahat dirumah" Fajar melirik Shreya dan membantunya turun dari ranjang, dengan merangkul dan memegang pundaknya.
"Iya" Shreya menurut dengan ragu seraya melirik Rahul. Sebenarnya dia merasa sangat tidak nyaman dengan perlakuan Fajar terhadapnya. Menyentuh dan memegangnya seperti ini, apalagi dihadapan Rahul. Dan melihat lelaki itu menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Rahul hanya bisa memalingkan wajahnya, menyaksikan adegan yang membuat darahnya serasa mendidih itu. Andai Shreya adalah istrinya, mungkin dia sudah menghajar Fajar karena berani menyentuh wanita itu.
Namun apa boleh buat? Kenyataannya malah sebaliknya. Maka yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah, berusaha mendinginkan darahnya yang mendidih.
"Kami duluan ya" Ujar Fajar. Dengan enggan Rahul menganggukkan kepalanya disertai dengan senyum menahan amarah.
********
"Tidak. Aku tidak selera makan. Nanti saja ya aku makannya" Tolak Shreya dengan lesu.
Sudah tiga hari sejak insiden dia alergi hingga masuk rumah sakit. Sampai sekarang kondisinya tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Hingga nafsu makannya kembali menurun karena hal itu. Membuat semua penghuni rumah itu merasa khawatir.
Padahal Fajar sudah beberapa kali memesan makanan dari beberapa restoran. Namun percuma. Setiap makanan yang dipesannya tetap tidak bisa menggugah selera makan Shreya hingga sekarang.
"Tapi kamu belum makan apapun lho dari semalam. Kasiankan babynya, kalau kamu kelaparan. Ayo makan ya, sedikit saja. Aku suapi ya. Ayo buka mulutnya" Fajar tidak patah arang. Dia tetap berusaha membujuk Shreya agar mau menerima suapan darinya.
Karena terus-terusan dibujuk, akhirnya mau tidak mau Shreya terpaksa memakan makanan itu. Membuat Fajar tersenyum cerah karena usahanya berhasil.
Rahul yang kebetulan lewat pun lagi-lagi harus menahan sakit hati, melihat adegan suapan yang sedang dilakukan Fajar terhadap Shreya. Kenapa sangat sulit baginya untuk mengendalikan perasaan ini?!
__ADS_1
Padahal seharusnya dia tau, inilah konsekuensi karena berani mencintai perempuan bersuami. Malah seharusnya dia bersyukur karena suami dari perempuan itu masih belum tau apapun.
Seandainya Fajar tau, entah apa yang sudah terjadi. Mungkin lelaki itu sudah menghajarnya habis-habisan. Atau mungkin membunuhnya sekalian. Sama seperti apa yang ingin dia lakukan saat ini! Namun dia tidak memiliki alasan untuk melakukannya!
Shreya yang baru menyadari kehadiran Rahul ditempat itu, terkejut melihat wajah cemberut lelaki itu menyaksikan kebersamaannya dengan Fajar. Dengan gugup dia merenggut sendok dan piring ditangan Fajar.
"Mmm.... Aku makan sendiri saja ya. Aku pasti akan menghabiskannya. Oke?" Dengan gugup Shreya mengaduk-aduk isi piring itu dengan sendok. Sesekali dia melirik Rahul yang sedang menatapnya dengan cemburu.
"Kamu yakin tidak mau disuapi?"
"Iya yakin. Aku kan bukan anak kecil lagi. Jadi biarkan aku makan sendiri saja ya" Shreya makan dengan salah tingkah. Dia melirik Rahul yang masih memperhatikannya dari balik dinding.
"Ya sudah kalau itu maumu. Tapi jangan lupa dihabisi ya. Kasian sikecil" Fajar mengingatkan.
"Iya, iya" Shreya kembali melihat Rahul yang berbalik dan mulai melangkah pergi.
Melihat raut kesedihan diwajah pria itu, membuat hatinya bagai tersayat-sayat. Dia tidak pernah ingin melihat lelaki itu bersedih. Tapi apa dayanya? Bahkan untuk mengejar dan memeluk lelaki itu saja pun, sepertinya itu tidak mungkin.
Mungkin jalan terbaik memang dia harus kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang kemarin sempat tertunda. Iya, tidak ada cara lain. Mungkin memang sebaiknya dia meminta Rahul untuk segera enyah dari rumah ini. Sebelum Fajar tau semuanya.
********
Rahul hanya bisa berusaha meredam kecemburuannya, melihat adegan suap-suapan yang dilakukan Fajar dan Shreya. Adegan menyakitkan yang terus membayangi kepalanya.
Kenapa sangat sulit baginya untuk mengendalikan perasaan cemburu dan marah ini? Padahal jelas-jelas disini dialah yang bersalah! Dialah yang menjadi orang ketiga dalam pernikahan Fajar dan istrinya! Tapi kenapa dia malah merasa sebagai orang yang paling tersakiti disini?
Padahal dia tidak lebih dari seorang pecundang yang bersembunyi dibalik topeng persahabatan! Dia tidak pernah menyangka, kalau hidupnya akan seperti ini. Menjadi lelaki terburuk dengan mengincar istri sahabatnya sendiri!
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tidak ingin hidup seperti ini terus! Tapi dia juga tidak bisa menjauhi apalagi meninggalkan Shreya. Wanita itu adalah sumber semangat hidupnya untuk saat ini! Hah!! Lama-lama kepalanya bisa pecah jika terus memikirkan akibat dari masalah ini!
__ADS_1