
"Sebenarnya ada apa? Kamu sedang ada masalah, sampai tiba-tiba memutuskan ingin kembali ke Jakarta? Padahal pekerjaanmu disini saja belum selesai" Merasa ada yang aneh dengan sikap sahabatnya itu, Fajar kembali bertanya dengan menyelidik.
"Aku hanya ingin fokus saja, untuk mencari istriku. Selama ini aku sudah terlalu sibuk dengan hal lain. Sehingga aku lupa, jika sampai saat ini, Zahra masih belum jelas dimana keberadaannya. Jadi Sekarang aku akan kembali fokus pada Zahra dan rumah tanggaku. Dan aku akan berusaha untuk mengesampingkan dulu urusan lain"
Tutur Rahul lirih. Sesekali dia melirik Shreya yang sedari tadi hanya diam menyimak sembari mengaduk dan mengunyah makanannya, tanpa ikut nimbrung dalam percakapan dua lelaki itu.
Sebisa mungkin Shreya berusaha untuk tidak menatap Rahul. Dia tidak ingin menjadi goyah. Susah payah dia menentang kata hatinya sendiri untuk meminta lelaki itu meninggalkannya. Dan sekarang pria itu mengabulkannya.
Jadi dia harus menerimanya dan tetap konsisten pada keputusan yang telah dibuatnya sendiri. Dia tidak boleh lemah dan terbuai dengan perasaannya yang salah.
"Ya sudah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tapi kapanpun kamu butuh bantuanku, jangan ragu-ragu untuk mengatakannya" ujar Fajar tulus.
"Iya, terima kasih" Rahul tersenyum kecut. Sekali lagi dia melihat Shreya. Hatinya semakin hancur lebur melihat sikap perempuan itu yang mengacuhkannya. Ternyata kehadirannya disini benar-benar sudah tidak diinginkan lagi! Bahkan untuk melihatnya sebentar saja Shreya merasa enggan!
Tapi Rahul mengakui bahwa wanita itu tidak bersalah. Semua yang dia lakukan itu demi mempertahankan rumah tangganya.
Seharusnya dia merasa kagum pada kepribadian perempuan itu. Yang lebih memilih mempertahankan ikatan suci pernikahannya, ketimbang orang ketiga seperti dia.
Meski berat, namun dia harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Dia harus menjadikan semua ini sebagai pelajaran untuk kembali fokus pada Zahra yang sudah setia sebagai istrinya selama ini.
********
Rahul berjalan menuruni anak tangga demi tangga untuk menuju kelantai bawah. Begitu sampai dilantai bawah, langkahnya terhenti saat melihat Shreya yang sedang merapikan dan memasukkan bunga hiasan kedalam vasnya.
Raut wajah wanita itu tampak begitu muram dan murung. Tidak ada raut keceriaan sedikitpun yang terpancar diwajah itu. Mungkin perempuan itu pun sama kecewanya seperti dia. Kecewa dengan keadaan dan kenyataan yang ada dan harus tetap dihadapi.
Rahul memanjakan matanya sejenak. Memandangi wajah cantik itu berlama-lama. Wajah cantik yang selalu membuat hatinya merasa teduh tenang.
__ADS_1
Mungkin ini adalah terakhir kalinya dia melihat wajah itu. Karena setelah ini dia akan meninggalkan rumah dan kota ini. Dan wajah cantik itupun tidak akan pernah mungkin bisa dilihatnya lagi.
Sadar ada orang lain selain dirinya disana, Shreya menengadah. Dan dia melihat Rahul sedang berdiri didepan tangga memandanginya. Tatapan mata mereka langsung bertaut.
Shreya menatap Rahul dengan perasaan campur aduk. Antara cinta, sedih dan bimbang berbaur menjadi satu. Alam bawah sadarnya ingin sekali dia bangkit dan menghambur memeluk lelaki itu dengan erat. Mengatakan betapa dirinya tidak sanggup untuk jauh dari pria itu, dan melarangnya agar tidak pergi.
Namun pikiran jernih mencegahnya. Dia tidak boleh goyah dan terbuai lagi melihat pria itu. Dia harus tetap teguh pada keputusannya untuk menjauhi Rahul.
Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Shreya beranjak dari sofa dan berjalan menjauhi lelaki itu. Namun Rahul berjalan pelan mengejarnya.
"Shreya tunggu" Teguran Rahul berhasil menghentikan langkah Shreya. Namun tidak cukup untuk membuatnya membalikkan tubuh. Wanita itu tetap berdiri membelakangi Rahul.
"Semua yang kamu katakan kemarin, aku sudah memikirkannya baik-baik. Kamu benar. Kita memang salah. Kita sudah terlalu terbuai dengan perasaan semu. Hingga kita lupa pada kenyataan yang sesungguhnya. Pada orang-orang yang telah dengan tulus mencintai kita. Kita telah mempermainkan perasaan mereka.
Jadi aku sudah putuskan, jika malam ini aku akan kembali ke Jakarta. Aku akan melanjutkan hidupku dengan kembali memprioritaskan diriku untuk mencari Zahra. Dan aku juga akan berusaha untuk melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita. Aku juga berharap, agar kamu bisa hidup bahagia bersama suamimu disini. Dan aku minta maaf, kalau aku pernah berada ditengah-tengah kalian"
Tak ingin terlalu lama terbuai dengan perasaan sedih, akhirnya Rahul memutuskan untuk meninggalkan ruang tengah itu.
Setelah pria itu pergi, Shreya membalikkan tubuhnya. Dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya, dia memandangi Rahul yang sedang berjalan dengan langkah lebar menjauhinya. Dia hanya bisa menatap punggung lelaki itu yang semakin lama semakin jauh darinya.
Tanpa bisa dicegah lagi, dia melangkahkan kakinya mengejar Rahul hingga keluar rumah. Sesampai diluar, dia melihat pria itu masuk kedalam mobilnya yang langsung melaju meninggalkan pekarangan luas itu. Shreya menatap mobil yang dikendarai Rahul dengan perasaan sendu dan hampa.
Lelaki itu sudah pergi. Mungkin setelah ini dia tidak akan pernah bisa melihat Rahul lagi. Ini salahnya. Dia yang menginginkan semua ini. Dia sendiri yang meminta lelaki itu untuk menjauhi dan meninggalkannya.
Dan sekarang Rahul mengabulkannya. Lelaki itu benar-benar meninggalkan tempat ini. Pertahanan yang sudah susah payah Shreya bangun akhirnya runtuh juga. Ternyata perasaan cintanya jauh lebih besar ketimbang prinsipnya.
Namun semua sudah terlambat. Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah meratapi hari-harinya yang hampa seperti dulu lagi!
__ADS_1
********
Rahul mengemudikan mobilnya dengan perasaan galau. Sikap Shreya yang mengacuhkannya, bahkan tidak mau melihat wajahnya membuat dia merasa sangat sakit hati dan kecewa.
Meskipun jiwa bijaknya membenarkan keputusan Shreya, namun tetap saja, diabaikan oleh wanita itu membuat hatinya bagai teriris sembilu!
Namun dia tidak boleh terlalu lama larut dalam kekecewaannya terhadap Shreya. Dia harus ingat Zahra, istri sahnya! Seharusnya dia sadar. Mungkin semua ini teguran untuknya. Karena dia sudah berani melihat wanita lain, dan tega menghianati wanita setulus Zahra.
Padahal dia tau betul bagaimana sakitnya dikhianati, saat Amora mencampakkannya dalam keadaan buta dulu! Padahal dia dengan tulus mencintai wanita itu, hingga dia rela mengorbankan segalanya!
Tapi sekarang, dia malah sama saja seperti Amora?! Dia melupakan dan mengabaikan Zahra yang sedang dalam musibah dan membutuhkannya! Padahal perempuan itu benar-benar tulus mencintanya apa adanya!
Betapa jahatnya dia saat ini! Sepertinya meninggalkan Magelang adalah keputusan yang sangat benar. Karena selama dia masih berada disini, mungkin dia akan selamanya terbuai dengan keberadaan Shreya dan dan akan terus lupa pada Zahra.
Saat pikirannya sedang asik berkelana pada permasalahan cintanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Rahul langsung mengangkat panggilan suara dari asisten pribadinya itu.
"Iya Adam. Iya, saya segera kesana sekarang" Rahul mengakhiri panggilan suara dengan Adam. Dan kembali fokus melajukan kendaraannya, menuju tempat yang dimaksud untuk melaksanakan meeting.
********
Rahul sampai di Caffe beberapa menit kemudian. Setelah memarkirkan mobilnya, dia langsung masuk kedalam Caffe elite dan mewah itu.
Dari kejauhan dia bisa melihat Adam yang sedang duduk berbincang dengan seorang pria paruh baya, dan pria muda yang tampak masih seumuran dengannya. Rahul langsung menghampiri mereka. Melihat kehadiran atasannya, Adam langsung beranjak dan menyambutnya dengan penuh hormat.
"Selamat pagi Pak"
"Pagi"
__ADS_1
"Kenalkan Pak, ini Pak Ricky. Salah satu kontraktor terbaik dikota ini. Dan ini asistennya Hari" Adam menunjuk dan memperkenalkan dua pria didepannya.