
Seloroh Rahul dengan jahilnya. Membuat Shreya malu sekaligus keki melihat pelayan yang sedang berdiri melayani mereka, tampak tersenyum kecil seraya menutup mulutnya.
Dengan wajah merengut, Shreya menginjak kaki Rahul dengan kerasnya.
"Aauw!" Pekik Rahul. Membuat semua orang yang ada dimeja-meja sebelah terkejut dan menatap mereka dengan aneh.
"Ada apa Mas? Mas baik-baik saja?" Tanya pelayan dengan cemas.
"Iya Mbak, saya baik-baik saja. Sepertinya tadi ada tikus yang lewat dan menginjak kaki saya" Goda Rahul sembari melirik Shreya yang masih memasang wajah masam.
"Hah? Masak sih disini ada tikus? Setau saya, kami semua disini sudah sangat menjaga kebersihan" Pelayan wanita itu tampak berpikir dengan polosnya.
"Makanya dicek dulu Mbak. Bisa jadi tikusnya beda dari biasanya. Kalau biasanya mereka suka gigit barang, bisa jadi kali ini suka injak kaki orang" Rahul masih belum puas juga menjahili Shreya. Sikap wanita itu lagi-lagi mengingatkannya pada Zahra.
Pelayan wanita itu melirik Shreya lalu kembali tersenyum kecil. Tampaknya dia sudah mengerti apa yang terjadi. Tingkah dua sejoli itu membuatnya geleng-geleng kepala.
"Ya sudah kalau begitu, silahkan Mas, Mbak"
"Terima kasih. Mmm.... Saya pesan.... Beef steak, nasi goreng babat, risoles ragout, almond milk rice pudding, sup buntut, roti keto, spaghetti. Dan.... untuk minumnya, dua jus strawberry ya" Akhirnya Rahul memesan makanan yang diinginkannya. Shreya hanya diam mendengarkan tanpa ada sanggahan.
"Baik kalau begitu. Silahkan tunggu ya Mas Mbak"
"Iya, terima kasih" Ucap Rahul dengan santai.
Pelayan pun pergi. Kini hanya tinggal mereka berdua saja dimeja itu.
Suasana hati Shreya yang sebelumnya cair dan humoris, kini kembali menegang, saat dia harus mengumpulkan mentalnya untuk mengatakan hal yang paling tidak dikehendakinya.
"Oh ya, bagaimana? Apa kamu menyukai bunganya?"
"Mmm, sebenarnya.... aku ingin bicara sesuatu denganmu"
"Kamu mau bicara apa sih? Serius sekali" Tanya Rahul santai.
"Se-sebenarnya... aku...." Lidah Shreya masih terasa berat untuk berucap. Ingin rasanya dia menendang dirinya yang tidak bisa bersikap tegas ini.
__ADS_1
Padahal kemarin dia sangat lancar berbicara, saat meminta Fajar untuk menjauhinya sewaktu dipadang rumput itu. Kenapa dia tidak bisa bersikap seperti itu juga terhadap Rahul? Dia sangat membenci dirinya yang bisa selemah ini setiap kali berhadapan dengan Rahul.
KRUK KRUK KRUK
Perut Shreya berbunyi. Membuatnya terkejut dan menutup perut besarnya saking malunya. Shreya memandangi sekelilingnya. Dia sangat berharap agar tidak ada orang yang mendengar suara-suara memalukan yang berasal dari perutnya itu.
"Hehe. Jadi kamu sudah sangat lapar? Sabar ya. Sebentar lagi pesanannya datang" Kelakar Rahul cekikikan.
Shreya hanya tersenyum masam menanggapi ledekan pria itu. Yang dipikirkannya sekarang adalah, bagaimana agar perutnya tidak keroncongan. Dan suara-suara yang membuatnya mati kutu ini akan berhenti.
Ya sudahlah, sebaiknya dia makan saja dulu sampai kenyang. Baru setelah itu, dia akan kembali pada tujuan awalnya. Lagipula percuma, tidak lapar saja suaranya susah keluar. Apalagi dengan perut yang kelaparan begini. Yang ada hanya akan membuatnya tambah frustasi.
Beberapa menit kemudian, dua orang pelayan wanita datang dengan membawa makanan-makanan yang disebutkan oleh Rahul tadi.
"Silahkan dimakan Nona" Seloroh Rahul saat dua pelayan itu sudah pergi.
Shreya yang sudah ngiler melihat makanan yang tersuguh dihadapannya, langsung menyantap dan melahap semuanya tanpa menghiraukan Rahul yang menatapnya seraya tersenyum kecil. Nafsu makannya yang akhir-akhir ini menurun, kini kembali naik berkali lipat.
Sementara Rahul sama sekali tidak berminat dengan makanan yang tersaji dihadapannya. Matanya terlalu fokus menatap wajah cantik yang sedang berkutat dengan banyaknya makanan yang telah dipesannya. Bagai orang yang sudah berpuasa selama berhari-hari.
"He em" Shreya mengangguk dengan lemah saking kekenyangan.
"Oh ya, tadi katanya kamu ingin bicara. Mau bicara apa? Aku siap mendengarkan"
"Mmm..... A-aku mau bilang kalau.... Kalau.... Ahkk...." Saat sedang mengumpulkan kembali mentalnya ditengah-tengah lidahnya yang terasa Kelu untuk bicara, tiba-tiba saja Shreya merasakan dadanya sesak hingga membuatnya merasa kesulitan dalam bernafas.
Hal itu sontak saja membuat Rahul panik. Hingga dia langsung beranjak mendekati Shreya. Mencoba memastikan keadaannya.
"Shreya. Shreya kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?! Hah?" Dengan perasaan ketar-ketir Rahul memegang tangan Shreya yang sedang memegang dadanya.
Wanita itu tidak menjawab. Dadanya tampak tersengal-sengal. Perlahan-lahan dia merasa pandangannya menggelap, hingga akhirnya dia kehilangan kesadarannya. Hal itu membuat Rahul menjadi semakin kalut.
"Shreya! Shreya bangun! Shreya!" Seru Rahul seraya menggerak-gerakkan bahu wanita itu dengan lembut.
*********
__ADS_1
Rahul tampak mondar-mandir didepan ruang ICU. Pikirannya benar-benar kalut memikirkan kondisi Shreya yang sedang diperiksa oleh dokter didalam.
Dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada wanita itu. Kenapa tiba-tiba Shreya bisa merasa sesak nafas? Padahal sebelumnya perempuan itu tampak baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun jika dia sedang sakit.
Dia tidak habis pikir, kenapa hal buruk selalu saja terjadi pada perempuan itu? Dia hanya bisa berdoa dan berharap, semoga Shreya dan calon bayinya baik-baik saja. Semoga tidak ada masalah yang berarti yang menimpa keduanya. Semoga saja.
Ditengah-tengah kepanikannya akan kondisi Shreya, tiba-tiba dia mendengar bunyi ponsel yang berasal dari dalam tas yang terletak diatas kursi. Itu adalah tas milik Shreya. Rahul mengambil dan membuka tas selempang itu, lalu merogoh kedalam untuk mengambil ponsel yang sedang berdering.
Matanya terbelalak saat melihat siapa yang menelpon. Ternyata itu dari Fajar. Kenapa Fajar menghubungi Shreya? Apa lelaki itu tau, jika Shreya masuk rumah sakit? Apakah sebagai suami, Fajar bisa merasakannya?
Perasaan cemburu kembali menerjangnya melihat Fajar menghubungi Shreya! Dasar tidak tau diri! Padahal jelas-jelas lelaki itu adalah suaminya. Sah-sah saja jika dia menghubungi atau memperhatikan istrinya.
Tapi dia selalu saja melupakan kenyataan itu, dan merasa seolah-olah Shreya adalah miliknya yang tidak boleh diganggu oleh orang lain. Benar-benar tidak tau diri! Benar-benar gila!Rahul merutuk dirinya sendiri.
Selama beberapa saat dia merasa ragu untuk menjawab panggilan suara itu atau tidak. Jika Fajar tau kondisi Shreya, pasti dia akan datang kemari untuk menunjukkan perhatiannya pada wanita itu.
Namun akhirnya dia memutuskan untuk mengalah setelah berusaha keras untuk meredam emosinya. Biar bagaimana pun, Fajar adalah suaminya. Jadi memang sudah seharusnya dia tau jika istrinya sakit.
Tidak mungkin dia mengulangi hal yang sama seperti saat di Jakarta kan? Saat itu Fajar sedang berada di Thailand. Sehingga dia bisa menghindar dari memberitau lelaki itu. Tapi sekarangkan berbeda. lelaki itu ada disini. Jadi Rahul tidak bisa apa-apa kali ini. Dengan terpaksa, dia mengangkat ponsel itu.
"Hallo" Jawab Rahul ragu.
"Hallo, Rahul?" Suara Fajar diseberang sana terdengar bingung. Tampaknya dia tidak menyangka, jika ponsel istrinya akan diangkat oleh Rahul.
"Iya Jar, ini aku"
"Lho, kenapa kamu yang mengangkat ponsel Shreya? Shreyanya mana?"
"Mmm.... Shre.... Shreyanya...."
"Hallo Rahul. Kenapa kamu diam? Shreya mana? Dia baik-baik saja kan? Kenapa ponselnya bisa ada padamu?" Fajar kembali bertanya dengan tidak sabaran.
"Shre.... Shreya masuk rumah sakit"
"Apa?!! Rumah sakit?! Kok bisa?! Katakan padaku, apa yang terjadi padanya?! Dia baik-baik saja kan?! Tidak terluka parah?!" Fajar tampak terkejut hingga dia menanggapinya dengan nada tinggi.
__ADS_1