Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 38- Kondisi Zahra


__ADS_3

"Itukan Rahul sayang"


"Mana?" Amora menatap lekat arah yang ditunjuk ibunya.


"Itu yang didalam ambulance?" Naomi menunjuk Rahul yang baru saja turun dari ambulance.


"Oh iya benar. Jadi dia masih hidup? Mama, Papa dan Gala juga baik-baik saja. Lalu untuk apa mereka bawa-bawa ambulance kesini?" Amora menautkan alisnya. Dia semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


"Ssstt.... mereka sudah dekat" Naomi mengingatkan saat rombongan itu sudah mulai mendekati mereka.


Rahul menatap rumah mewah milik keluarganya dengan perasaan hampa. Rumah yang sudah hampir tiga tahun tidak dilihatnya.


Dia kembali teringat akan janji yang dia buat bersama Zahra. Tadinya dia pikir, bahwa dia akan kembali kerumah ini bersama istrinya. Memperkenalkan wanita itu sebagai istri dan ibu dari calon anaknya pada keluarga besarnya.


Bahkan hayalan itu sudah berkali-kali melintas dibenaknya. Bagaimana dia datang kerumah ini dengan menggenggam tangan Zahra dengan mesranya, atau menggendongnya seperti yang dia lakukan saat malam pertama mereka dulu.


Tapi sekarang, janji dan impian itu sirna. Bukannya pulang membawa istrinya, tapi dia malah membawa jenazah ibu mertuanya.


Dia hanya berharap agar istrinya saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Dia akan selalu berdoa untuk itu, agar istrinya bisa kembali dalam pelukannya lagi.


"Jenazahnya dibawa masuk kedalam ya" Titah Helmi pada rombongan perawat pria yang sedang menggotong keranda berisi jasad Bu Sakinah.


"Baik Pak" Mereka semua mengangguk lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Membawa keranda yang tertutup kain penutup keranda warna hijau masuk kedalam rumah.


"Mbak, Mas, Gala, Rahul. Selamat datang" Sapa Naomi dengan menampilkan senyum manis agar terlihat seramah mungkin.


Gala berusaha tersenyum untuk membalas senyuman yang diberikan oleh istri dan mertuanya.


Helmi dan Lesti hanya membalas senyuman mereka dengan tatapan hampa. Saat ini perasaan mereka sedang campur aduk, antara senang karena akhirnya bisa dipertemukan dan dipersatukan kembali dengan Rahul, serta kesedihan atas musibah yang dialami oleh besan serta menantu yang belum pernah mereka temui.


Rahul menatap mereka dengan datar. "Ma, Pa, Kak. Aku langsung kekamar ya. Mau siap-siap" Rahul ijin pada orang tua dan kakaknya tanpa menghiraukan drama ibu dan anak yang telah dia ketahui sifatnya itu.


"Iya sayang, nanti Mama susul ya" Jawab Lesti dengan suara lembut saat Rahul berjalan masuk kedalam rumah dengan melewati istri dan mertua kakaknya begitu saja.


"Sayang, i-itu Rahul sudah bisa..... Melihat?" Amora mendekati Gala dan mencoba untuk menanyakan tentang rasa penasarannya.


"I-iya. Kok dia seperti bisa membalas tatapan kita ya? Dia juga berjalan tanpa menggunakan tongkat? Dan.... Itu tadi, itu jenazah siapa?" Timpal Naomi.


"Nanti aku ceritakan. Ayo kita masuk saja dulu" Ajak Gala.


******


Seorang dokter tampan tampak sedang berbincang dengan seorang wanita yang tak lain adalah asistennya, didepan sebuah ruang IGD yang didalamnya terlihat seorang wanita yang terbaring tak sadarkan diri, dengan sejumlah alat medis yang tersemat ditubuhnya.

__ADS_1


"Dok, wanita itu ternyata sedang hamil. Sepertinya operasi harus dibatalkan karena terlalu beresiko. Ditambah lagi dengan kondisinya yang kurang baik. Takutnya hal itu malah akan berdampak pada janinnya"


Wanita yang berprofesi sebagai asisten dokter itu menjelaskan sembari menyerahkan hasil pemeriksaan medis pasien pada atasannya.


"Ya sudah kalau begitu, berikan saja perawatan terbaik untuknya. Pantau terus kondisinya. Jangan lupa, periksa juga luka-lukanya. Siapa tau ada luka dalam atau luka yang serius" Titah dokter muda yang bernama lengkap Fajar Lazuardi yang tak lain adalah direktur utama sekaligus pemilik rumah sakit itu.


"Baik Dok" Jawab asisten dokter bernama Vera itu.


******


"Apa?! Jadi selama lima bulan ini menghilang, Rahul malah menikah dengan wanita lain?!" Seru Amora dengan suara kencang dan terdengar penuh amarah, saat mendengar cerita Gala tentang pernikahan yang dijalani Rahul selama dia menghilang lima bulan ini.


"Amora, kamu kenapa seperti marah begitu? Dan, tadi juga kamu bilang, wanita lain? Maksudnya apa?" Tanya Lesti yang merasa aneh dengan sikap menantu pertamanya, yang dinilai tidak suka mendengar kabar soal pernikahan Rahul.


Tampaknya, Helmi dan Gala juga merasakan hal yang sama. Itu terlihat cara mereka menatap Amora dengan alis bertaut.


"Mmm.... Mmmm.... I-itu" Amora jadi gelagapan dan tidak tau harus memberi jawaban apa sebagai alasan untuk berkelit.


"Mmm... Mbak, jadi itu, jenazah ibu mertuanya Rahul?" Naomi mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menyelamatkan Amora dari pertanyaan dan tatapan penuh kecurigaan dari suami dan mertuanya.


Meskipun dalam hati, dia mengutuk kecerobohan anaknya yang hampir saja membuat mereka dalam masalah.


"Iya Mbak Naomi. Desa yang selama ini dihuni oleh Rahul bersama istri dan mertuanya diterjang banjir bandang. Mertuanya berhasil ditemukan, tapi sayangnya tidak berhasil diselamatkan. Sedangkan istrinya sampai sekarang masih belum ditemukan. Untung saja saat kejadian itu, Rahul sedang menjalani operasi mata di Jakarta. Jika tidak, mungkin" Lesti bercerita dengan sendu.


"Mau gadis desa atau gadis kota, bagi saya itu bukan masalah. Toh selama lima bulan ini Rahul merasa bahagia bersama wanita itu. Itu artinya, dia mendapatkan cinta yang tulus dari istrinya" Helmi membalas komentar Naomi dengan bijaknya.


"Iya, malahan saya prihatin dengan apa yang terjadi pada menantu saya itu. Saya belum pernah mengenalnya, tapi dia sudah menghilang seperti ini. Ditambah lagi, dia sedang hamil" Timpal Lesti.


"Apa?! Hamil?!" Seru Amora dan Naomi serempak saking terkejutnya.


"Iya, dia sedang mengandung pewaris Dirgantara Group. Saya hanya berharap dia bisa segera ditemukan, dan dalam baik-baik saja. Agar rumah ini bisa kembali dihiasi dengan kebahagiaan, serta tangisan seorang anak"


Helmi mengutarakan harapannya dengan tatapan menerawang, yang dijawab dengan anggukan kepala dan harapan yang sama dari Lesti dan Gala.


Amora dan Naomi pun terpaksa melontarkan senyuman agar terlihat jika mereka juga mengharapkan hal yang sama.


Padahal dalam hati, mereka menginginkan sebaliknya. Mereka berharap agar wanita bernama Zahra itu tidak akan pernah ditemukan. Bahkan lebih baik jika wanita itu telah tewas terkubur reruntuhan dan lumpur hingga tubuhnya membusuk didalam sana.


Dengan begitu, kesempatan Amora untuk kembali mendekati dan mendapatkan Rahul akan terbuka lebar tanpa adanya penghalang.


******


"Ini Dok" Asisten Vera menyerahkan hasil CT scan pasiennya pada dokter Fajar yang langsung menerima dan membacanya dengan seksama.

__ADS_1


"Menurut hasil CT scan, ada luka yang cukup parah dibagian kepalanya akibat benturan keras. Kemungkinan besar dia akan mengalami geger otak dan amnesia" Jelas Vera.


"Dia sedang hamil. Ketika nanti dia sadar, pasti dia akan menanyakan tentang suami dan keluarganya. Kita tidak tau apa-apa mengenai wanita ini. Tapi yang saya tau, banjir bandang itu lumayan dahsyat. Banyak korban yang masih belum ditemukan hingga saat ini, bahkan banyak juga yang tewas"


Lanjutnya seraya menatap wanita yang terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang didepannya.


Kondisi wanita itu sudah memungkinkannya untuk dipindahkan keruang rawat inap, meski beberapa alat medis masih harus tetap terpasang ditubuhnya, seperti masker oksigen dan infus sebagai penyokong kesehatannya.


Fajar telah memerintahkan stafnya untuk memberikan layanan VVIP terhadap wanita itu.


"Lalu apa maksudmu?"


"Mungkin saja, suaminya salah satu dari korban itu. Saya khawatir terhadap kondisinya jika dia sampai mendengar cerita itu. Dia bisa saja trauma atau tertekan. Dan hal itu bisa mengakibatkan terjadinya pendarahan hebat dibagian kepalanya. Dan hal itu juga bisa saja berdampak terhadap kondisi janinnya. Keduanya bisa saja tidak dapat diselamatkan" Vera mengutarakan kekhawatirannya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Sepertinya kita tidak perlu memberitaunya tentang bencana alam yang membuatnya jadi seperti ini"


"Lalu bagaimana jika dia sampai menanyakan tentang suaminya? Jawaban apa yang harus kita berikan?" Tanya Fajar sembari menatap wanita malang diatas ranjang didepannya dengan tatapan simpati.


"Kita bisa meminta bantuan seseorang untuk mengaku sebagai suaminya" Ide Vera.


"Maksudmu, suami bohongan?" Fajar mengernyitkan keningnya, merasa ide yang diberikan asistennya itu terlalu konyol.


"Tidak ada cara lain Dok. Ini demi menjaga mentalnya. Keselamatannya adalah prioritas utama kita saat ini. Mungkin kita salah karena membohonginya, tapi kesalahan itu bukan kejahatan, jika menyangkut nyawa pasien. Maka apa yang kita lakukan bisa dibenarkan"


"Lalu sampai kapan kita harus membohonginya tentang suaminya?"


"Ya.... minimal sampai dia melahirkan. Setelah itu kita bisa pelan-pelan mengobati dan menjelaskan semuanya. Yang terpenting untuk saat ini adalah keadaannya harus stabil dulu"


Fajar menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab. "Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang berpura-pura sebagai suaminya"


"Hah, Dokter Fajar serius?" Seru Vera yang merasa terkejut dengan ide atasannya itu. Dia tidak menyangka jika atasannya akan memberikan ide yang jauh lebih gila lagi darinya.


Seorang dokter tampan dan mapan pemilik rumah sakit Lazuardi, salah satu rumah sakit terbesar di Magelang dengan sukarela mengajukan diri untuk bersandiwara sebagai suami dari wanita asing, yang bahkan tidak dia ketahui asal usulnya.


Hem.... apakah ada udang dibalik batu? Vera tidak habis pikir dengan jalan pikiran atasan tampannya itu. Apa dia salah ya, karena sudah mengusulkan tentang ide suami bohongan?


"Mau bagaimana lagi? Kita tidak perlu melibatkan orang luar dalam masalah ini, cukup ini menjadi urusan kita dengan pasien"


"Tapi, Dokter tidak ada rencana untuk menjadikan dia sebagai istri yang sesungguhnya kan?" Goda Vera.


"Maksudmu?" Tanya Fajar datar.

__ADS_1


"Ya.... lihat saja, dia lumayan cantik. Jangan sampai nanti dari istri pura-pura, endingnya malah dijadikan istri beneran" Vera memindai wanita yang masih tertidur diatas ranjang itu dan melirik Fajar dengan senyum menggoda yang merekah diwajahnya.


__ADS_2