
Zahra terus menanyakan tentang nasib dan keberadaan ibunya. Karena seingatnya, ibunya juga sama-sama menjadi korban bersama dirinya dalam tragedi itu.
Akhirnya dengan berat hati Rahul menceritakan semuanya. Bahwa ibu mertuanya tidak selamat dan sudah tewas dalam peristiwa besar itu. Hal itu membuat Zahra sangat terpukul dan berduka. Hingga dia terus merengek meminta diantar kemakam wanita yang telah melahirkannya itu.
Akhirnya Rahul menurutinya. Dia membawa istri dan anaknya kearea pemakaman yang luas milik Dirgantara group.
"Ini. Inilah tempat peristirahatan terakhir Ibu" Rahul menunjuk salah satu makam yang berjejer dengan makam lain. Nampaknya makam itu masih belum terlalu lama, makam yang baru beberapa bulan.
Zahra menyerahkan baby Chand yang sedari tadi digendongnya ketangan Rahul. Kemudian dia berjongkok disamping makam yang ada didepannya
"Ibu. Ini Zahra Bu, anak Ibu. Aku tidak percaya kalau Ibu benar-benar sudah tiada. Ibu sudah meninggalkanku untuk selamanya. Kenapa Ibu pergi secepat ini? Bukankah dulu Ibu bilang, kalau Ibu ingin melihat cucu Ibu lahir? Tapi dia bahkan tidak sempat melihat dan mengenal Omanya. Aku minta maaf ya Bu, karena aku tidak ada disaat-saat terakhir Ibu. Ibu pasti sangat membutuhkanku saat itu kan? Hiks"
Zahra menangis terisak-isak sembari memegang batu nisan yang bertuliskan nama ibunya. Perasaan bersalah menerpanya, karena tidak berada disisi ibunya didetik-detik terakhir wanita itu menghembuskan nafasnya.
Padahal mendampingi dan memakamkan jenazah wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya, adalah kewajibannya sebagai anak satu-satunya. Tapi malah orang lain yang melakukannya.
Rahul ikut berjongkok disebelah istrinya. Melihat istrinya bersedih membuatnya ikut berempati dan merasakan hal yang sama.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Seharusnya akulah yang minta maaf, karena aku tidak bisa menjaga Ibu. Sehingga beliau harus pergi dengan begitu tragis. Aku minta maaf, karena belum bisa menjadi menantu yang becus untuk Ibumu" Rahul berbicara dengan lirih sembari menundukkan wajahnya dengan sedih.
__ADS_1
"Semua juga bukan salahmu. Apapun yang terjadi pada Ibuku adalah musibah. Itu adalah garis takdir beliau. Semua yang terjadi memang harus terjadi. Justru aku sangat berterima kasih padamu, karena kamu sudah memberikan pemakaman yang layak untuk Ibu.
Kamu dan keluargamu sudah mengurus jenazah Ibu dengan sangat baik. Saat aku tidak ada untuk melakukannya. Kamu sudah menggantikan tugasku untuk berbakti pada beliau disaat-saat terakhirnya" Ujar Zahra sembari menyeka air mata yang terus berderai diwajahnya.
"Ibumu juga Ibuku. Jika kamu putrinya, maka aku adalah putranya. Karena aku juga sudah menganggap Ibumu seperti Ibuku sendiri. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Ibumu terhadapku. Selain itu, beliau adalah wanita yang sudah menghadirkan istriku kedunia. Jadi apapun yang aku lakukan, masih belum cukup untuk membalas jasa beliau" Rahul membelai wajah istrinya.
"Bu, semoga Ibu bahagia ya disana. Dan aku juga akan bahagia disini bersama suami dan putraku" Zahra kembali melirik gundukan tanah dimana jasad ibunya berada. Berusaha memperlihatkan senyumannya. Sekalipun yang terlihat adalah senyum sendu disela-sela air matanya. Berusaha untuk tegar.
"Ibu tenang saja. Sampai matipun aku akan selalu menepati janjiku untuk senantiasa membahagiakan putri dan cucu Ibu. Aku tidak akan pernah menyakiti mereka. Karena mereka berdua adalah hidupku" Rahul berkata dengan sungguh-sungguh sembari memeluk Zahra dan Chand.
********
Dia merasa wanita itu tidak memiliki hak apapun atas apa yang dimilikinya. Karena semua itu adalah miliknya sebagai wakil direktur Dirgantara group, dan sudah dia miliki sejak sebelum mereka menikah.
Gala memberi Amora penawaran, atau lebih tepatnya sebuah ancaman. Yaitu bahwa dia tidak akan pernah membeberkan soal bukti perselingkuhan dan perzinahan yang dilakukan Amora, asalkan wanita itu bersedia untuk berdamai dan tidak mencoba untuk menuntut harta yang bukan miliknya.
Sebenarnya dia bisa saja membeberkan bukti tentang scandal, maupun affair yang dilakukan Amora kepada majelis hakim. Dan bukti itu sudah cukup kuat untuk membuat Amora terpojok dan tidak bisa menuntut apapun darinya.
Namun dia tidak ingin membuat nama baik dan image wanita itu semakin tercemar. Sekalipun Amora telah menghianatinya, namun dia tetap tidak bisa menyangkal perasaannya sendiri. Hati dan cintanya masih menjadi milik wanita itu hingga saat ini.
__ADS_1
Dan dia tidak tau sampai kapan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Karena itulah dia tidak sanggup bertindak terlalu kejam pada wanita yang dicintainya dengan mengumbar-umbar aibnya. Cukup dia dan keluarganya saja yang tau.
Sedangkan dipersidangan dia mengatakan pada majelis hakim bahwa alasannya menggugat cerai Amora, lantaran dia sudah tidak memiliki kecocokan lagi dengan wanita itu.
Selain itu, dia juga melakukannya demi menjaga reputasi keluarganya. Karena Dirgantara group merupakan salah satu holding company terbesar, yang cukup terkenal dan terpandang di Indonesia.
Dia tidak ingin scandal yang dilakukan Amora sampai mempengaruhi reputasi group keluarganya. Keluarganya mendukung tindakannya. Bahkan mereka sangat bangga padanya, karena dia bisa mengambil keputusan dengan bijak tanpa terpengaruh dengan emosinya.
Disisi lain, Rahul tetap bersikeras untuk mempolisikan Amora dan Naomi sebagai dalang dari tersebarnya video dia dengan Zahra.
Zahra sudah berusaha bicara dan membujuk Rahul, agar memaafkan dan melupakan saja apa yang sudah terjadi, demi Kak Gala. Namun kali ini Rahul begitu keras kepala. Dia dengan tegas mengatakan bahwa dia sudah memaafkan Amora dan Mamanya.
Namun dia tetap menginginkan mereka untuk diproses secara hukum, demi memberikan efek jera. Dan dia yakin kakaknya akan memahami tindakannya. Melihat suaminya yang sudah tidak bisa lagi ditentang, akhirnya Zahra mengalah dan membiarkan. Mungkin memang ini keputusan yang terbaik.
Dan orang yang paling hancur dan terluka akibat segala permasalahan yang terjadi itu, tentu saja adalah Gala. Dia tidak tau sampai kapan luka itu akan menguap dan sembuh. Sepertinya dia butuh waktu untuk menenangkan dan menata hatinya kembali.
Akhirnya dia memutuskan sebuah ide untuk bertolak keluar negeri, dan memulai hidup baru disana. Dia membujuk dan meminta ijin pada Papanya, untuk memimpin salah satu anak perusahaan Dirgantara group yang berada di London.
Helmi menolak permintaannya. Karena dia tidak ingin berjauhan dengan anak sambungnya itu. Apalagi untuk saat ini Gala sedang bersedih. Dan dia yakin jika anak itu sedang sangat membutuhkan orang-orang terdekatnya, untuk selalu menghibur dan mendukungnya. Dan dia yakin istrinya juga akan sependapat dengannya.
__ADS_1
Namun Gala tidak patah arang. Dia terus membujuk dan meyakinkan orang tuanya, jika untuk saat ini dia sedang butuh suasana baru dan waktu untuk sendiri supaya dia bisa cepat move on. Akhirnya keluarga tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengijinkan.