Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
BAB 28- Sikap Ketus Zahra


__ADS_3

"Seharusnya sibuta itu mendapatkan pelayanan kesehatan dirumah sakit, atau didalam liang lahat. Tapi ini kok, malah mendapatkan hadiah sih?" Gumam Amar dengan geramnya.


"Mana besar sekali lagi hadiahnya. Satu milyar" Timpal Zacky.


"Dua tiket liburan ke India" Sambung Thoriq.


*******


"Memarnya sudah sedikit berkurang. Tapi jangan lupa, obatnya diminum. Salapnya tetap dioleskan" Saran Bu Sakinah lembut.


"Iya Bu. Terima kasih sudah merawatku" Jawab Rahul dengan seulas senyum. Luka dan memar diwajahnya sudah sedikit berkurang, karena sedang dalam masa pemulihan, usai kompetisi gulat dalam ajang pameran festival, yang diselenggarakan seminggu yang lalu.


"Lagipula Ibu tidak habis pikir. Kenapa sih kamu nekad sekali mengikuti kompetisi itu? Kamu bertarung dengan seorang pegulat handal, yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Ditambah lagi, tubuhnya lebih besar darimu. Untung saja kamu hanya luka-luka dan memar. Bagaimana jika seandainya kondisimu lebih parah dari ini?"


Tegur Bu Sakinah, masih dengan suara yang lembut.


"Iya Bu, aku minta maaf ya. Tapi kan, aku baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius kok" Lirih Rahul merasa bersalah.


"Dasar sombong" Zahra yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan ketus.


"Zahra. Kok kamu bicaranya begitu?" Bu Sakinah menegur anaknya.


Sudah satu minggu ini gadis itu bersikap ketus terhadap Rahul. Rahul sudah berulang kali mendekati, dan mencoba bicara dengannya. Namun wanita itu tetap tidak menggubrisnya.


"Rahul! Rahul!" Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bising-bising, yang sepertinya berasal tak jauh dari luar rumah itu.


"Itu diluar ada apa ya? Kok berisik sekali?" Tanya Bu Sakinah penasaran.


"Iya ya Bu. Ada apa ya? Ayo kita lihat" Timpal Zahra, lalu mendorong kursi roda ibunya, dan berjalan menuju pintu. Pun dengan Rahul yang mengikuti mereka dari belakang.


Begitu pintu terbuka, betapa terkejutnya Zahra dan ibunya melihat teras rumah mereka, ramai dengan kehadiran para wanita. Dari yang masih gadis, hingga yang sudah berumur.


"Astaga. Ada apa ini ramai-ramai dirumah saya?" Tanya Bu Sakinah, merasa heran dengan kerumunan para wanita itu. Seperti massa yang hendak melakukan aksi unjuk rasa dirumahnya.


"Eh, itu dia Rahul!"


"Hai Rahul!" Bukannya menjawab pertanyaan Bu Sakinah, wanita-wanita itu malah sibuk mencari perhatian Rahul, yang baru muncul diambang pintu.


"Hai" Rahul menjawab sapaan wanita-wanita itu dengan raut wajah bingung, akan sikap mereka yang kelihatan genit terhadapnya.


"Hai Rahul tampan. Perkenalkan, namaku Astuti. Ini aku bawakan singkong, Pete dan jengkol untukmu. Aku petik sendiri lho dari kebun orang tuaku. Rasanya enak dan masih segar. Nanti jangan lupa dimakan ya. Agar kamu selalu mengingatkanku"


Seorang gadis dengan penampilan yang sederhana mendekati Rahul, dan tersenyum dengan genitnya seraya menenteng dan memamerkan tiga jenis buah tangan, yang dibawanya khusus untuk lelaki itu.

__ADS_1


Namun beberapa menit kemudian, wanita itu harus menyingkir secara paksa, lantaran tubuhnya disenggol dengan tubuh wanita lain dari belakang.


"Heuh. Singkong, Pete, jengkol. Apa hebatnya? Yang ada malah membuat Rahul makin sakit saking baunya" Gadis dengan dandanan yang lumayan seksi dan menor, mencela gadis yang barusan disenggolnya, tanpa menghiraukan gadis itu mendumel dengan wajah masam karena ulahnya.


lalu dia menggantikan posisi gadis itu nampang didepan Rahul. "Rahul. Ini aku membawa jeruk,apel dan anggur dari kota khusus untukmu. Jangan lupa ya, nanti dihabiskan. Agar kau cepat sembuh dan sehat seperti sedia kala" Sikap gadis itu pun tak kalah genitnya dari gadis disenggolnya tadi.


"Iya ya, terima kasih" Jawab Rahul geli.


Tengah asik dengan aksinya menggoda Rahul, wanita itu juga harus menyingkir dengan paksa, saat bahunya didorong oleh seorang wanita paruh baya yang berada dibelakangnya.


"Ahk....minggir! Hai Rahul" Usai menghardik gadis yang barusan didorongnya, wanita berumur itu menyapa Rahul dengan seramah mungkin.


"Hai" Jawab Rahul kikuk. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi wanita-wanita aneh ini. Entah mengapa tak ada angin, tak ada hujan, Tiba-tiba para wanita didesa ini, pada bersikap ramah dan sok akrab dengannya. Entah dia harus merasa senang karena semua ini, atau merasa ilfil?


"Perkenalkan, ini anak Ibu, namanya Juleha" wanita itu memperkenalkan anak gadisnya, yang berdiri disisinya.


"Hai Rahul tampan. Aku Juleha, panggil saja Leha" Gadis itu tersenyum genit. Sikap gadis itu pun, tak kalah centilnya dengan dua wanita sebelumnya.


"Iy-ya, hai Leha" Rahul tersenyum geli.


"Oh ya Nak Rahul. Coba lihat, ini ada sup ayam, asem-asem daging, telur ceplok balado, gurame sambal dan daging bumbu sambal. Rasanya enaaaak sekali. Dijamin, kamu pasti akan ketagihan" Ibunya Juleha membuka tupperware rantang berisi beberapa jenis makanan.


"Maaf Bu, tapi saya tidak bisa melihat


"Iya"


"Ini semua, Leha yang membuatnya, khusus untukmu. Tahu tidak, Leha anak Ibu ini, sangat pintar dalam segala hal. Udah pintar masak, pintar dandan, pintar berbenah rumah. Pokoknya, siapapun lelaki yang berhasil memperistri anak Ibu ini, dia adalah lelaki yang sangat beruntung. Karena bisa memiliki istri seperti Leha ini"


Wanita paruh baya itu begitu semangatnya memuji, dan mempromosikan anak gadisnya. Tanpa memikirkan jika sikapnya itu sangat memalukan, hingga menuai sorakan sinis dari para wanita disekelilingnya.


"Nah, kamu sendiri bagaimana Nak Rahul?" Sambung wanita berumur itu.


"Mm.... bagaimana apanya ya Bu"


"Maksud Ibu, kamu sudah punya pasangan belum? Kalau belum, cocoklah dengan Leha"


"Mmm.... Saya belum punya istri...." Jawab Rahul apa adanya. Jujur, dia sudah mulai merasa jengah dengan sikap wanita-wanita edan itu. Namun dia masih berusaha untuk menahannya, demi menghindari terjadinya pertikaian dengan kaum hawa. Ditambah lagi, dengan statusnya yang hanya numpang didesa ini.


"Wah! Pas sekali kalau begitu. Kamu langsung saja nikahi Leha, lalu bawa dia liburan deh ke India!" Wanita paruh baya itu tersenyum lebar. Ucapannya itu lagi-lagi membuat para wanita disekelilingnya, bersorak sinis.


Rahul hanya menanggapinya dengan cengengesan. Dia semakin merasa geli dengan sikap wanita-wanita itu. Entah kapan drama ini akan berakhir.


Zahra yang sedari tadi merasa jengah dan jealous, melihat para wanita itu tebar pesona terhadap Rahul, semakin merasa keki dan panas melihat pria itu hanya diam saja. Seolah merasa senang menjadi pusat perhatian para kaum hawa didesa ini. Bagai api dalam sekam yang terus tertiup angin, akhirnya kemarahan Zahra meledak juga.

__ADS_1


PRAK!


Dia berbalik dan masuk kedalam, setelah membanting pintu Kedinding dengan keras, tanpa menghiraukan tatapan dari semua orang yang terperanjat, dan heran melihat sikap gadis itu.


"Ra! Kamu kenapa Nak?!" Seru Bu Sakinah, memanggil anaknya dengan raut wajah penuh tanda tanya. Namun Zahra sama sekali tak menggubrisnya dan tetap berlalu begitu saja.


"Bu, Zahra kenapa?" Tanya Rahul.


"Ibu juga tidak tau. Dia terlihat kesal sekali. Ibu perhatikan, sejak kompetisi itu, dia jadi uring-uringan. Coba kamu temui. Mungkin dia marah padamu" Saran Bu Sakinah.


"Iya Bu, aku akan coba bicara lagi dengannya. Maaf semuanya, Saya sedang sibuk. Lebih baik, semuanya pulang saja. Tapi jika kalian masih ingin disini, biar Bu Sakinah saja yang menemani kalian, karena beliau adalah tuan rumah disini. Jadi sudah seharusnya, beliau yang melayani tamu. Permisi"


Rahul pun berlalu kedalam rumah, tanpa menghiraukan gerombolan wanita beda generasi yang terus memanggil-manggil, dan hendak mengejarnya kedalam, hingga Bu Sakinah kualahan menghalangi mereka.


*******


Zahra yang masih uring-uringan dan kesal pada Rahul, berusaha mengalihkan pikirannya dengan memasak didapur.


Namun tetap saja, suasana hatinya yang sedang tidak baik, membuatnya terus merajuk dalam melakukan apapun, termasuk memotong sayur dengan serampangan hingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras.


Rahul yang baru saja memasuki dapur, dengan jelas mendengar bunyi pisau yang dihentak-hentakkan ketalenan pemotong,


hanya bisa menghela nafas santai. Sikap gadis itu begitu lucu baginya.


"Kalau bekerja itu, jangan sambil merajuk. Nanti yang ada, hasilnya malah tidak bagus. Apalagi memasak. Nanti masakannya bisa masam lho, jika yang memasak wajahnya masam" Goda Rahul.


Namun Zahra tetap dengan aktivitasnya, tanpa menghiraukan Rahul. Seolah-olah tidak mendengar apapun. Rahul kembali menghela nafas. Sudah satu minggu wanita itu mencuekinya. Namun kali ini, dia tidak boleh patah arang lagi. Dia harus bisa meluluhkan gadis itu.


"Perasaan aku tidak pernah mendengar suara gemuruh atau hujan, tapi kenapa sudah hampir seminggu ini, ada suasana mendung ya?" Seloroh Rahul.


Zahra meliriknya dengan tatapan dingin.


"Tidak lucu" Dan dia pun kembali memotong sayur.


"Siapa juga yang ingin membuat kelucuan? Memangnya aku pelawak?" Rahul masih saja berseloroh, membuat gadis itu semakin kesal padanya.


"Bisakah kau pergi dari sini? Aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk mendengar leluconmu" Kata Zahra ketus. Lalu dia meletakkan pisau dan beralih kekompor. Berkali-kali dia memutar knop kompor. Namun kompor tak kunjung menyala. Membuat Zahra semakin uring-uringan.


Rahul menyusulnya kedepan kompor. Lalu dia memegang tangan Zahra yang masih berada pada knop kompor, dan memutarnya secara perlahan. Kompor pun menyala seketika.


"Aku kan sudah bilang. Jika melakukan sesuatu itu, jangan sambil merajuk. Hasilnya pasti tidak akan memuaskan"


"Iya ya, aku lupa. Saat ini kan aku sedang berhadapan dengan lelaki cerdas, hebat, jenius, jagoan. Yang dengan gagah beraninya bertarung dengan seorang pegulat handal diatas ring. Hebatkan?" Sindir Zahra dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Sudah hampir satu minggu ini kamu selalu bersikap ketus terhadapku. Jika aku salah, aku minta maaf. Aku tidak keberatan untuk meminta maaf, jika aku memang melakukan kesalahan. Tapi bisakan kita bicara baik-baik? Bukan seperti ini" Rahul berusaha membujuk.


__ADS_2