
“Pengkhianat ..., kamu benar-benar pengkhianat.” Teriak pria itu nyalang.
Ia terus meraung-raung, tanpa henti.Kaki dan tangannya menuju ke segala arah, sehingga membuat tubuhnya tersungkur ke tanah. Angin nan bergemuruh, menambah kegusaran hatinya yang perlahan rapuh.
“Heh …, wong gendeng. Cowok kok ambyar.” Ledek gadis yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Bukan urusanmu, lagi pula saya hanya belajar drama.” jawabnya datar.
Secara tidak langsung harga dirinya sedang di pertaruhkan. Bagaimana mungkin, laki-laki bisa selemah ini di mata seorang gadis.
“Heleh, bohong kamu. Nih, hapus dulu air matamu.” Disodorkannya sapu tangan berwarna merah muda, sambil terkekeh.
“Siapa namamu?” jawabnya sambil menerima sapu tangan.
“Rahasia ..., wle” Rinjani menjulurkan lidah, meledek.
“Bagaimana, saya mengembalikan sapu tangan ini. Kalau saya tidak tahu namamu ...,”Ucap pria ambyar, mendengus kesal. Nampak guratan kekesalan di wajah pria itu.
“Namaku Rinjani.” Ucapnya sambil tersenyum.
Tiupan angin sepoi-sepoi melayang ke awang, mengibaskan rambut panjang ikal yang terurai, hingga menunjukan pesona pemiliknya.
__ADS_1
Di tatapnya gadis riang itu dengan mata tajam. Seakan terbuai, Ia terhipnotis semakin jauh dan amat dalam, menuju lembah naungan kekaguman. Ia seakan lupa dengan kepedihan hatinya. Setelah sadar, segera dialihkan pandangannya. Lalu, berlalu begitu saja.
Mana mungkin, aku tertarik dengan gadis tengil seperti ini. Sangat jauh dari gadis impianku.
“Hei ..., tunggu. Siapa namamu?” Rinjani terus berteriak. Namun, tak di hiraukan teriakan gadis itu. langkahnya tetap tak berhenti. Sifatnya yang dingin, menutupi naluri di hatinya.
Tak ...
Lemparan batu, sukses mendarat di kepala pria dingin itu. sehingga, membuatnya menoleh. tanpa aba-aba, ia mendekatkan wajahnya. dekat semakin mendekat. Terpampang jelas, alis tebal dengan hidup mancung seperti roket yang siap melesat. Tatapan matanya begitu tajam. Mata elangnya seolah-olah siap menerkam mangsa.
Tut ..., pret...,
Datang suara tak diundang. Tidak terlihat, tapi baunya semakin menyeruak dan busuk.
Pria dingin itu hanya tersenyum sinis.
"Sebuah nama tidaklah penting. untuk apa kau tahu namaku, sedangkan kau sama sekali tak mengenalku." ucapnya melanjutkan pergi, tanpa permisi.
Tak terasa, setahun sudah berlalu. sejak kejadian itu, aku tak pernah bertemu lagi dengannya. apalah dayaku, aku hanya rempahan rempeyek yang tak berarti di matanya.
Namaku Dewi Rinjani yang berarti hasrat yang menyala dari sang Dewi. Di umurku yang ke-25 tahun ini, aku berharap dapat bertemu kembali, dengan sosok yang berhasil menawan hatiku untuk yang pertama kalinya.
__ADS_1
Dimana keberadaan pria dingin bermuka masam itu? bahkan aku nyaris lupa, bagaimana rupanya.
"Rinjani ...," seseorang tengah menepuk bahuku dari belakang. ku tolehkan pandanganku.
"Eh, Mas Riwan."
"Sedang apa kamu disini?" tanyanya penasaran.
"Enggak kok Mas. Mas Riwan sendiri ngapain ke sini?"
"Tadi kebetulan aku lewat, terus lihat kamu sendirian. celingukan kesana kemari kamu nyari apa to dek?" tanya Mas Riwan.
"Ndak Mas. Nggak nyari apa-apa cuma nyari angin saja hehe." nyengir kuda.
"Ya sudah, ayo pulang. ndak baik perempuan sendirian di sini. nanti bisa-bisa sawan."
"Demit ora ndulit, setan ora doyan sama aku mas."
"Wes ..,ayo pulang atau tak sikut."
"Njeh ndoro." jawabku meledek.
__ADS_1
"Aku bukan ndoromu." Mas Riwan bersungut-sungut.
Besok aku pasti akan kembali. Jika memang pertemuan singkat itu hanya kebetulan, mengapa hatiku seakan ikut bersamanya. Tuhan ..., pasti telah mempunyai rencana yang sangat indah untukku. Aku yakin itu.