Ikhlas

Ikhlas
Pantai


__ADS_3

"Selamat siang bu Vira!" sapa Azzam lirih, Vira mendongak menatap lurus Azzam. Vira mengeryitkan dahinya tak mengerti. Kedatangan Azzam tak pernah Vira duga.


Sebulan lebih Vira ada di negara yang sama dengan Azzam. Keduanya sangat dekat, bahkan sering bertemu. Kerjasama diantara mereka menjadi alasan Vira dan Azzam sering bertemu. Namun Vira sangat dingin, tak pernah sekalipun Vira bersikap hangat pada Azzam. Bahkan saat Arif ingin meminang Vika. Vira seolah tak ingin membuka tabir masa lalunya.


"Selamat siang, silahkan masuk. Ada yang bisa saya bantu!" ujar Vira ramah, Azzam berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan Vira.


Azzam mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan Vira. Tidak banyak barang yang ada di ruangan Vira. Ciri khas Vira yang sangat sederhana. Vira tidak pernah berubah, meski kini mudah baginya membeli barang semahal apapun. Namun Vira bukan pribadi glamaour yang peduli akan pendapat orang lain. Salah satu alasan Azzam tak pernah bisa melupakan Vira.


"Terima kasih kamu tidak mengusirku. Namun alangkah baiknya, jika kita bicara di luar kantor. Aku sengaja datang saat jam makan siang. Agar aku tak membuang waktu berhargamu!" ujar Azzam tegas, Vira diam menunduk. Dengan perlahan Vira meletakkan bolpoint yang dipegangnya.


Vira mengambil ponselnya, Vira meminta Fandi masuk ke dalam ruangannya. Azzam diam menunggu keputusan Vira. Jelas Azzam melihat Vira yang sangat berbeda. Vira bukan lagi yang dulu. Dingin Vira mampu membekukan tubuh Azzam. Melumpuhkan syaraf Azzam yang sudah sangat lemah.


"Fandi, batalkan semua rapat hari ini. Antar Fatih pulang ke rumah utama. Rayyan ada disana, dia ingin bertemu Fatih. Aku akan pulang terlambat!" ujar Vira tegas, Fandi mengangguk pelan. Vira membereskan seluruh berkas yang ada di depannya.


Azzam tertegun menatap Vira, disiplin dan tegas jelas karakter Vira. Dua sikap yang membawanya sejauh ini. Vira berhasil menjadi pemimpin yang dissgani. Azzam melihat Vira mengambil tas dan kunci mobilnya.


"Kita berangkat sekarang, aku akan membawa mobil sendiri!" ujar Vira lirih, Azzam mengangguk pelan.


Azzam dan Vira berjalan beriringan keluar dari kantor megah milik Vira. Perusahaan kecil yang tak sepadan dengan perusahaan Azzam. Namun cukup membuat Vira sejajar dengan Azzam. Kesuksesan Vira sudah diakuai oleh banyak perusahaan. Cara berpikir Vira praktis dan taktis. Banyak proyek besar yang dengan mudah diselesaikan oleh Vira.

__ADS_1


"Kita pergi kemana?" ujar Vira, tepat di samping mobil sport miliknya.


"Ke tempat yang pernah aku janjikan padamu. Namun tak pernah terlaksana karena perpisahan kita. Hari ini aku ingin mengajakmu ke tempat itu. Seandainya mungkin, aku ingin kita menggunakan satu mobil!" ujar Azzam lirih, Vira menggeleng lemah. Lalu dia masuk ke dalam mobilnya. Vira akan mengikuti mobil Azzam dari belakang. Sampai detik ini, Vira belum membuka hati untuk Azzam. Meski Azzam masih sah menjadi suami Vira.


Mobil Vira mengikuti mobil Azzam, cara mengemudi Vira tak kalah dengan Azzam. Mobil keduanya memiliki kecanggihan yang hampir sama. Sekali lagi Azzam melihat sisi lain Vira. Perubahan besar yang tak pernah Azzam sangka. Vira jauh melebihi pemikiran orang-orang yang merndahkannya.


"Kenapa kita kemari?" ujar Vira dingin, Azzam melangkah perlahan meninggalkan Vira. Azzam tak peduli akan perkataan Vira.


Setelah hampir dua jam mengemudikan mobilnya. Vira dan Azzam sampai di suatu tempat yang jauh dari keramaian kota. Sebuah desa di pinggiran kota yang masih sangat asri. Desa yang jauh dari sentuhan modern. Wilayah yang masih sangat kuno. Vira dan Azzam menghentikan mobilnya di tepi laut yang berbatasan langsung dengan desa.


"Kak Azzam, lebih baik kita kembali!" ujar Vira, Azzam tak menggubris perkataan Vira. Azzam menoleh ke arah Vira. Dia melihat Vira berjalan tertatih di atasa hamparan pasir putih.


Vira terlihat kesusahan berjalan dengan sepatu heels yang masih dipakainya. Sedangkan Azzam sejak turun dari mobil sudah melepaskan sepatunya. Azzam berjalan tanpa alas kaki di atas hamparan pasir putih. Azzam berlari menghampiri Vira. Lalu tiba-tiba Azzam berjongkok di depan Vira. Azzam mengangkat kaki Vira, meletakkan kaki Vira di atas lututnya. Azzam membukan sepatu Vira satu per satu.


Azzam dan Vira larut dalam hangat indah perpaduan pasir pantai dan riak-riak ombak laut. Azzam berjalan di belakang Vira, menatap punggung wanita yang begitu dicintainya. Azzam bak pengawal yang siap menghadang bahaya demi Vira. Lama keduanya berjalan di atas hamparan pasir laut. Vira menghentikan langkah kakinya di tengah laut dangkal. Sedikit menjauh dari pasir pantai.


Kini celana Vira tak lagi basah oleh riak-riak kecil. Namun kaki jenjangnya terendam sempurna oleh air laut. Vira berdiri menatap lurus ke depan. Jauh menatap laut yang seakan menyatu dengan awan. Tak berapa lama Vira menunduk, Vira terdiam membisu. Vira merasakan sepi hati yang nyata ada. Kosong dan hampa terasa di tengah indahnya alam.


"Vira Azza Ifatunnisa, satu nama yang tak pernah aku lupakan. Vira gadis sederhana yang mengetuk pintu besi hatiku. Suara merdumu kala melantunkan ayat suci. Seakan kunci membuka hati yang kututup rapat. Senyummu yang meneduhkan mata dan pikiranku. Semenjak aku mengenalmu, tak pernah aku takut akan dingin malam dan gelap malam. Kamu senja yang hadir melukis indah hidupku!" ujar Azzam, Vira diam menunduk.

__ADS_1


"Sekarang atau lima tahun yang lalu, kamu tetap Vira kecilku. Meski aku sadari, kamu kuat tak terkalahkan. Kamu tangguh tak tertandingi. Kamu mampu tanpa diriku yang lemah. Lima tahun Vira, aku hidup tanpa pelita. Lima tahun aku sendiri kesepian, tanpa mendengar suara merdumu. Namun lima tahun yang sama, kugenggam erat cintaku padamu. Harapan akan penyatuan yang akan datang. Setiap detik yang berdetak, bak jam mati dalam hidupku. Aku mati tanpa bayangmu, aku hidup hanya dengan impian akan bertemu denganmu!"


"Kenapa kak Azzam berkorban sebesar itu?"


"Vira, pengorbananku tak ada artinya. Dibandingkan air mata yang menetes di wajahmu. Air mata penuh kebencian pada keluargaku. Air mata yang menyayat tubuhku setiap detiknya. Air mata yang ingin kuhapus, tapi tanganku seakan kaku tak mampu menghapusnya!" ujar Azzam, Vira mendongak menatap langit sore. Guratan tinta jingga mulai menyebar. Menggantikan warna biru dengan tinta emas penuh keajaiban.


"Vira, mungkin cintaku tak sebesar laut lepas ini. Namun setetes cintaku, kuyakin mampu melepas dahagamu akan iman. Kasih sayangku tak sebanyak butiran pasir pantai, tapi percayalah kasih sayangku tulus yang mampu menghangatkan dan menyentuh hati terdalammu. Mungkin aku mengada-ada, tapi cinta ini nyata, kerinduan ini menyiksa. Aku lelah menatapmu tanpa bisa menyentuhmu!"


"Kak Azzam, semua sudah berubah!" ujar Vira lirih, Azzam menggeleng tidak setuju.


"Mungkin kamu bukan Vira yang dulu, tapi kehangatanmu tetap kurasakan. Kamu berubah dan aku juga berubah, tapi cinta kita sama!"


"Sekali saja Vira, lepaskan beban yang kini kamu tanggung. Julurkan tanganmu padaku, agar aku bisa menggapainya kembali. Akan kugenggam tanganmu erat. Agar aku yakin, kamu tidak akan pergi menjauh dariku!" ujar Azzam.


"Vira, senja sebentar lagi akan menyeruak. Menawarkan ketenangan yang tak terkira. Dengan bismillah, aku ingin meminangmu kembali. Jadilah istri dan ibu dari anak- anakku. Fatih butuh dirimu, aku mengharapkanmu. Terimalah cintaku. Akan kugapai bahagia bersama kalian berdua!"


"Keluargamu!'


"Tidak ada keluarga, bila hanya air mata yang terlihat!" ujar Azzam.

__ADS_1


"Aku mencintaimu!" bisik Azzam sembari memeluk Vira erat. Azzam mendekap erat Vira.


"Yakinkan aku, jika memang cintamu indah!" ujar Vira lirih dan final.


__ADS_2