Ikhlas

Ikhlas
Sakitnya Farah


__ADS_3

"Kakak!" Sapa Rayyan lirih, Vira menoleh dengan tatapan sinis. Vira jelas marah, ketika Rayyan menyapa Vira.


Kondisi Farah yang memburuk, membuat Vira panik. Semua orang mendapat amarah dari Vira. Tak terkecuali Rayyan yang tak tahu apa-apa? Kesalahannya hanya satu, ponsel Silvia yang tidak aktif saat Vira menghubunginya. Waktu yang tidak tepat dan situasi yang tak sesuai. Rayyan merasa kesal, ketika dia melihat raut wajah kecewa Vira.


"Dimana istrimu? Kenapa dia sulit dihubungi?"


"Silvia ada di dalam, dia sudah bersiap di ruang IGD!" Ujar Rayyan lirih, amarah Vira membuatnya tak berkutik.


"Fatih, segera gendong adikmu!"


"Kak Vira, biar aku yang mengangkatnya!"


"Rayyan, tidak perlu!"


"Kenapa? Aku pamannya!"


"Farah tidak akan merasa nyaman. Ketakutannya pada laki-laki membuatnya menjaga jarak. Selain padaku, hanya Fatih yang membuatnya nyaman!" Tutur Vira, Rayyan mundur beberapa langkah. Rayyan memahami perkataan Vira. Tanpa banyak bicara, Rayyan masuk ke dalam. Rayyan meminta Silvia bersiap dengan beberapa perawat wanita.


"Alasan itukah yang membuatmu melarang aku menggendong Farah putriku. Salahkah aku yang ingin mengenal putriku? Kenapa kerinduanku malah membuatnya tersakiti? Kenapa Vira? Kenapa putra dan putriku membenci aku? Farah tak pernah mengenalku, bahkan tak pernah aku mengetahuinya. Apa alasan dia begitu membenciku?" Batin Azzam.


"Vira!"


"Ada apa?" Sahut Vira dingin, raut wajah Azzam menghiba.


"Apa yang terjadi pada Farah?"


"Ingat apa yang terjadi tadi di restoran? Kamu akan tahu, apa yang telah terjadi? Sekaligus apa kesalahan terbesarmu!" Ujar Vira dingin, Azzam menunduk. Vira meninggalkan Azzam yang termangu tanpa mampu menentukan arah. Azzam mengingat teriakkan ketakutan Farah.


FLASH BACK


"Fatih, kita pulang!" Titah Vira, Fatih langsung mengangguk tanpa ragu.


"Tunggu Vira!" Pinta Azzam, Vira menoleh dari lobi restoran.


"Ada apa lagi Azzam?" Ujar Melda lirih.


"Kamu bisa pergi, tapi Farah akan tinggal bersamaku!" Ujar Azzam dingin.


Braaakkk


"Farah!" Teriak Vira, Fatih menoleh lalu berlari ke arah Farah.


Seketika Vira berlari menghampiri Farah. Nampak Farah terjatuh lemas menghantam lantai. Farah mencoba menggapai Vira yang jelas tak mampu digapainya. Farah merasa takut, ketika mendengar Azzam akan membawanya pulang. Farah sadar dirinya tak mampu mendekat ke arah Vira. Namun demi tetap bersama Vira. Farah melupakan sejenak kelemahannya. Kenekatan yang dibayar dengan luka akibat benturan yang dialaminya.


"Farah tidak ingin bertemu papa. Farah ikut mama!" Teriak Farah dalam dekapan Vira.

__ADS_1


Vira mendekap erat Farah, Vira melihat tubuh Farah bergetar. Ketakutan yang tak pernah ingin dilihat Vira. Rasa takut yang berlebihan, mampu membuat kondisi Farah memburuk. Trauma yang dialami Farah, hanya Vira yang menyadari dan mengetahuinya. Seberapa besar resiko yang bisa dialami Farah. Ketika emosi Farah memuncak.


"Farah, ini mama!" Ujar Vira cemas, tangannya menangkup wajah Farah penuh cemas.


Fatih duduk berjongkok tepat di belakang Farah. Raut wajahnya bingung tak mengerti arti kecemasan yang dilihatnya. Ketenangan Vira tak tampak. Guratan-guratan usia yang tampak, jelas menunjukkan hati yang penuh rasa gelisah dan takut. Azzam diam termangu, ketakutan Farah bak tamparan panas di wajahnya. Azzam meringsut duduk di depan Vira dan Farah. Dua wanita yang begitu dicintainya. Dua nama yang tak mudah tergeser akan nama wanita lain.


"Sayang, ini papa!" Ujar Azzam menghiba, Farah menepis tangan Azzam.


Farah sembunyi dalam dekapan Vira. Farah menjerit risteris. Tangannya mencengkram tubuh Vira erat. Air matanya deras menetes, seolah hatinya sakit. Wajah Azzam yang mendekat, terlihat begitu menakutkan. Suara Azzam bak suara aneh dalam gelap malam yang sunyi. Menakutkan penuh dengan kegelapan.


"Sayang, papa mohon. Ini papa sayang, Farah jangan takut!" Ujar Azzam menghiba, Farah terus bersembunyi dalam dekapan Vira.


"Tidak, aku ingin bersama mama. Farah hanya ingin bersama mama!" Teriak Farah histeris, Vira mendekap erat Farah.


Fatih dan Azzam termenung, Farah berubah menjadi tak terkendali. Tak ada kecantikan penuh kelembutan dalam wajah Farah. Semua orang menatap Farah bingung. Nafisa menatap nanar Azzam yang begitu cemas akan kondisi Farah. Kekhawatiran seorang ayah yang tak pernah dia rasakan. Kehangatan yang selalu dia harapakan, sejak dua puluh tahun yang lalu. Nafisa menggeleng tak percaya, semua yang diharapkannya. Dengan mudah dan tanpa paksaan didapat oleh Farah. Rasa sakit hatinya semakin parah, ketika melihat Azzam menghiba.


"Kenapa pa? Kenapa papa memohon padanya? Papa menghiba hanya demi kasih sayang Farah, anak yang tak pernah papa kenal. Apa papa tidak melihat lukaku? Kenapa papa mengacuhkan aku?" Batin Nafisa pilu.


"Fatih, hubungi tante Silvia. Minta dia bersiap dan menghubungi dokter untuk Farah. Katakan padanya, kita menunggu di rumah sakit!"


"Apa yang terjadi pada Farah?" Ujar Fatih cemas, Vira menoleh ke arah Fatih. Tatapan tajam Vira, seketika membuat Fatih terdiam.


"Vira, apa yang terjadi pada Farah?" Ujar Azzam cemas.


"Ponsel tante Silvia mati!" Ujar Fatih ketakutan.


"Terlalu lama, angkat adikmu. Gendong dia ke dalam mobil. Kita bawa Farah ke rumah sakit. Mama tidak bisa menunggu terlalu lama!" Ujar Vira lantang, Azzam hanya bisa diam. Ketika Vira mengacuhkan dirinya.


"Biar aku yang menggendongnya!" Pinta Azzam. Vira langsung melotot, Azzam berjalan mundur. Tatapan Vira menjadi penolakan yang sangat jelas.


FLASH BACK OFF


Setelah hampir satu jam Farah menjalani perawatan. Kondisi Farah mulai stabil,dia sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Emosi Farah sudah mereda, ketakutan yang tadi nampak. Berangsur menghilang dari raut wajah Farah. Nampak kecantikan Farah yang berbalut ketenangan dan kelembutan. Vira sedikit tenang, ketika mekihat kondisi Farah baik-baik saja.


"Mama!"


"Hmm!" Sahut Vira dingin.


"Apa yang sebenarnya dialami Farah? Kenapa di begitu takut pada laki-laki?"


"Farah baik-baik saja!"


"Mama bohong!"


"Sudahlah Fatih, lebih baik kamu masuk. Temani Farah, dia hanya tenang saat bersamamu!" Ujar Vira tegas, Fatih mengangguk tanpa bertanya alasan sakit Farah.

__ADS_1


Tap Tap Tap


"Vira!"


"Ada apa?"


"Apa yang terjadi pada Farah? Aku mohon katakan padaku!" Ujar Azzam cemas dan bingung.


"Tidak ada!"


"Kamu bohong, aku berhak mengetahuinya!"


"Kata siapa kamu berhak?" Sahut Vira dingin.


"Vira, dia putriku!"


"Tapi aku yang membesarkannya!"


"Bagaimanapun aku berhak mengenalnya? Aku harus mengetahui kondisinya. Farah darah dagingku!"


"Terserah!" Sahut Vira final, Vira berdiri menjauh dari Azzam.


"Tunggu!" Ujar Azzam sedikit emosi.


"Lepaskan!" Ujar Vira kesal, saat menyadari tangannya dipegang erat Azzam.


"Katakan padaku!" Ujar Azzam tegas.


"Tidak ada yang perlu dikatakan. Kamu bisa melihatnya sendiri. Sebab kamu hanya berhak mengetahui itu!"


"Cukup Vira, aku ayahnya sampai kapanpun aku ayahnya? Kamu tidak bisa menjauhkan ayah dari anaknya!"


"Seorang ayah yang mulai lupa akan tanggungjawabnya!"


"Apa maksudmu Vira? Sejak awal aku tidak pernah memiliki kesempatan bertanggungjawab pada Farah atau Fatih. Lalu, atas dasar apa kamu mengatakan aku lupa akan tanggungjawab!"


"Tanggungjawab sebagai ayahmu bukan hanya untuk Fatih dan Farah. Nafisa sangat membutuhkan kasih sayangmu!" Ujar Vira, seketika Azzam menunduk.


"tapi!"


"Oh iya mas Azzam!"


"Ada apa?" Sahut Azzam, seraya menoleh menatap Vira.


"Cobalah menjadi ayah yang baik. Gunakan pengaruh dan hartamu untuk mencari alasan putrimu sakit. Namun jika kamu tak menemukan alasannya. Pulang dan katakan pada tuan Angga. Hartanya terlalu murah, untuk membeli cinta dan senyum putriku!" Ujar Hanna sembari pergi.

__ADS_1


__ADS_2