
Seminggu setelah kejadian malam itu. Sikap Azzam berubah drastis. Dia semakin pendiam dan dingin. Melda merasa sedih melihat sikap Azzam. Putra kebanggaannya menjauh darinya, marah akan lemah sikapnya pada keluarga Atmaja. Usia Azzam tak lagi muda, tapi sikap Azzam seakan benar. Sebab selama ini dia tidak pernah mengeluh akan perlakuan keluarga. Ada satu alasan kuat dibalik sikap berontaknya.
Azzam tak lagi bisa menahan rasanya pada Vira. Namun di saat yang sama, Vira seakan tidak peduli pada perasaannya. Vira merasa tak pantas, bahkan takkan pernah bisa mencintai Azzam. Vira menganggap Azzam sebatas tuan muda keluarga Atmaja. Doa tulus Vira untuk kebahagian Azzam bersama Nadya. Layaknya pisau tajam yang menusuk hatinya. Azzam hancur ketika rasanya tak terbalas. Apalagi status yang seakan ingin terus menghadang penyatuan dua hati.
Disaat Melda merasa sedih melihat perubahan sikap Azzam. Angga malah bersikap tenang dan yakin Azzam baik-baik saja. Bahkan dia tidak merasa bersalah. Setidaknya Angga bertanya alasan dibalik sikap berontak Azzam. Sebaliknya Angga telah merencanakan kembali pertunangan yang tertunda. Seolah Azzam setuju akan rencana tersebut. Angga merasa dirinya mengenal Azzam melebihi siapapun?
Sikap arogant Angga seakan satu-satunya keputusan yang terbaik bagi keluarga Atmaja. Dia merasa apapun keputusannya. Semua itu terbaik bagi keluarganya. Angga tak lagi peduli suara hati terdalam Azzam. Penolakan Azzam akan perjodohan dirinya dengan Nadya. Sedikitpun tak mengusik Angga. Sikap tenang yang seolah menunjukkan karakter Angga. Sifat sombong yang melekat dalam setiap pribadi orang kaya.
Seminggu sikap diam, selama seminggu pula dia tidak pernah melihat Vira. Seolah malam itu, terakhir kalinya dia bisa melihat Vira. Bukan Azzam tidak berusaha bertemu Vira. Hampir setiap malam dia datang ke rumah Vira. Namun selalu terkunci dan rumah dalam kondisi sepi. Azzam juga bertanya pada Arif tentang Vira. Namun hasil yang sama dia dengar. Selama seminggu Vira tidak masuk kelas. Dia izin cuti sementara. Arif tidak mengetahui alasan Vira cuti. Bak orang yang kehilangan akal, Azzam mencari keberadaan Vira. Dia tidak bisa bertanya pada Fariz. Hubungan yang tidak baik antara Azzam dan Fariz. Membuatnya malu bertanya tentang Vira.
Pagi ini Azzam akan berangkat ke luar kota. Ada satu proyek besar yang sedang dia kerjakan. Azzam harus turun tangan, sebab nilai proyek yang sangat besar. Mampu menghasilkan keuntungan atau kerugian yang cukup besar. Azzam harus memastikan semua baik-baik saja. Azzam selalu turun tangan sendiri. Jika proyek yang dikerjakannya bernilai besar. Pribadi yang prefeksionist membuat para bawahannya takut padanya. Tidak ada satu kesalahan yang akan luput dari pandangannya. Semua harus sempurna dengan cara pandangnya.
Kreeett Kreett Kreeett
Azzam menarik pelan koper kecil yang dibawanya. Koper berisi beberapa pakaian gantinya. Azzam akan pergi selama beberapa hari. Pribadi Azzam sangat simple. Dia hanya butuh beberapa barang pribadi. Sisanya dia bisa membelinya jika dibutuhkan. Azzam tidak pernah butuh bantuan Melda untuk urusan sekecil ini. Dia mandiri sangat mandiri, sampai dia tidak menganggap keberadaan orang lain di sekitarnya. Azzam tidak mudah bergantung, hanya pada Vira. Azzam seolah ingin terus bergantung.
"Azzam!" panggil Melda lirih, Azzam menghentikan langkahnya. Dia menoleh melihat ke arah Melda. Sesungguhnya Azzam enggan mendekat, apalagi Angga duduk tepat di samping Melda. Namun rasa enggannya berubah menjadi semangat. Ketika dia melihat sosok lain yang berdiri di depan Melda.
Azzam melihat bik Siti berdiri di depan Melda dan Angga. Seketika Azzam berjalan mendekat. Rasa penasaran akan kondisi Vira menguasai hati dan pikirannya. Azzam takut terjadi sesuatu yang tidak baik pada Vira. Dia mendekat hanya ingin mencari kesempatan bicara pada bik Siti. Hanya pada bik Siti, Azzam sesekali bicara. Bukan karena Vira, tapi jauh sebelum mengenal Vira. Azzam merasa nyaman bila bicara dengan bik Siti. Pandangan yang luas tentang hidup. Membuat Azzam diam-diam nyaman berbicara dengan bik Siti.
"Bik Siti, ini gaji bulan ini. Sekalian aku titip untuk Vira. Selama ini dia sudah membantuku. Sebenarnya aku ingin memberikan langsung pada Vira. Namun sepertinya dia sibuk, bahkan menurut Fariz dia tidak masuk kuliah!" ujar Melda ramah, Bik Siti mengangguk pelan sembari menerima dua amplop dari Melda. Bik Siti diam menatap dua amplop putih di tangannya.
Dua amplop berisi jerih payahnya selama sebulan. Amplop terakhir yang akan diterimanya. Sebab bik Siti sudah memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Dia merasa lelah dan tidak kuat lagi bekerja. Selama sebulan terakhir, bik Siti hanya bekerja beberapa hari. Sisanya digantikan oleh Vira. Terkadang bik Siti merasa kasihan melihat Vira yang bekerja sembari sekolah. Pekerjaan yang tak layak bagi Vira.
__ADS_1
Azzam duduk di sofa tepat di depan bik Siti. Azzam melihat raut wajah sedih bik Siti. Saat mendengar nama Vira disebut. Azzam meremas tangannya, dadanya terasa ngilu. Seakan ada masalah yang sedang menimpa Vira. Seketika hatinya merasa gelisah memikirkan Vira. Azzam merasa detak jantungnya semakin cepat. Ketakutan aka kondisi Vira menguasai hatinya. Ingin rasanya Azzam teriak, bertanya kondisi Vira yang sebenarnya. Namun Azzam memikirkan bik Siti, akan tidak baik. Bila Angga mengetahui rasanya untuk Vira.
"Terima kasih nyonya, anda sangat baik. Namun gaji Vira saya rasa tidak perlu. Dia disini hanya menggantikan saya. Jadi tidak sepantasnya dia menerima ini!" ujar Bik Siti ramah, lalu meletakkan satu amplop yang diberikan Melda pada Siti. Melda menatap lekat bik Siti, kepolosan bik Siti yang membuat Melda sulit melepaskan ART sebaik bik Siti.
Melda menggeleng tidak setuju, sebaliknya Angga tersenyum sinis. Seakan sikap Siti hanya pura-pura. Azzam mengepalkan tangan melihat sikap Angga. Namun dia mencoba menahan diri, agar Angga tidak bisa menyentuh Vira atau keluarganya. Bik Siti menjauh dari Melda, membuktikan bahwa dirinya tak mengharapkan apapun dari Melda. Namun Melda memaksa agar menerima amplop yang diberikannya pada Vira.
"Ambillah bik Siti, itu hak Vira!" ujar Melda memaksa, Siti tetap menolak. Dia tidak ingin memanfaatkan kebaikan Melda. Siti sudah cukup menerima kebaikan Melda. Lalu dengan sopan Siti pamit pulang. Tak ada lagi yang bisa dikerjakan di rumah ini. Siti telah berhenti dari pekerjaannya. Dia tidak lagi bekerja untuk keluarga Atmaja.
"Tunggu bik Siti, aku terima kamu menolak semua ini. Dengan syarat, katakan dimana Vira sekarang? Apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa dia menghilang tanpa jejak. Fariz sempat khawatir, karena tidak melihat Vira di kampus!" ujar Melda, Siti diam membisu. Dengan pelan, Siti mengangguk mengiyakan.
Siti tidak tahu, pantaskah dia mengatakan dimana Vira sebenarnya? Bukan karena apa? Vira bukan orang penting, sehingga nyonya besar keluarga Atmaja harus mengetahui dimana dirinya sekarang. Vira hanya putri seorang ART yang tak pantas diperhatika. Siti diam memikirkan jawaban terbaik. Dengan menghela napas panjang. Akhirnya Siti mengatakan dimana Vira? Tanpa berharap Mrlda akan menemui Vira.
"Vira sedang dirawat di puskesmas. Hampir tiga hari Vira rawat inap. Tifus yang dialaminya kambuh. Sebab kapan hari dia pulang kehujanan? Vira peka terhadap hujan. Dia akan langsung sakit bila kehujanan. Sudah sering kali aku mengingatkan Vira agar tidak bermain hujan. Namun entah kenapa malam itu dia pulang basah kuyub. Seketika tubuh Vira menggigil dan akhirnya malam itu aku membawa Vira ke puskesmas!" ujar Siti lirih, Melda terkejut mendengar Vira sakit.
Azzam langsung berdiri mendengar kondisi Vira. Angga dan Melda menoleh ke arah Azzam. Mereka melihat jelas raut wajah penuh kecemasan. Azzam tak lagi bisa mengendalikan emosinya. Dia merasa sesak saat mendengar Vira sakit. Mungkin ini yang dikatakan cinta? Rasa sakit pemilik hati bisa membunuh, tapi sakit tubuhnya seakan tak terasa. Azzam langsung gelisah memikirkan Vira. Setelah sekian lama, akhirnya Azzam menemukan jawabannya.
Angga dan Melda merasa khawatir melihat sikap Azzam. Mereka merasa ada yang sedang terjadi pada Azzam. Namun tidak ada yang merasa curiga. Jika kegelisahan Azzam bersumber pada Vira. Gadis sederhana pemikat hati Azzam. Vira yang mengusik hari-harinya. Azzam tak lagi bisa menyembuyikan kegelisahan hatinya. Hanya Vira yang ada dalam pikirannya sekarang.
"Baiklah bik, pergilah kasihan Vira sendirian di puskesmas. Nanti aku akan menjenguknya bersama Fariz. Dia satu kelas dengan Vira, tentu akan banyak hal yang ingin dikatakan Fariz pada Vira!" ujar Melda lirih, Siti mengangguk lalu berpamitan pada Melda dan Angga. Meninggalkan Azzam penuh kegelisahan memikirkan Vira.
Tanpa berpamitan Azzam pergi menjauh. Melda tercengang melihat sikap acuh sang putra. Namun saat semua orang tidak melihat kegelisahan Azzam. Fariz yang mendengar kondisi Vira langsung kalang kabut. Baik Azzam dan Fariz sama-sama mengkhawatir kondisi Vira.
"Azzam, mama ingin bicara denganmu!" teriak Melda, Azzam menoleh seraya menatap dingin ke arah Melda.
__ADS_1
"Bicaraku denganku, jika mama mulai memahami diriku dan gelisahku!" sahut Azzam dingin.
Azzam berlari keluar dari rumah. Dia melajukan mobilnya keluar dari rumah megahnya. Gerbang tinggi penghalang dirinya dan Vira. Dia lewati tanpa hambatan. Azzam melaju membelah padat jalan raya. Dia mencari Vira di puskesmas paling dekat dengan rumah Vira.
Ciiiiittt
Azzam menghentikan mobilnya di depan sebuah puskesmas yang sangat kecil. Azzam semakin cemas memikirkan kondisi Vira. Azzam berlari masuk, dia langsung berlari menuju resepsionist. Kekalutan Azzam jelas terlihat.
Kreekkk
"Vira!" teriak Azzam sesaat setelah membuka pintu. Azzam tak pernah berpikir, jika di dalam ruangan bukan hanya ada Vira. Semua mata menatap Azzam yang baru saja berteriak. Sebaliknya Vira tidak menyadari kehadiran Azzam.
Dengan rasa cemas yang semakin menjadi. Azzam berjalan perlahan menuju tempat tidur Vira. Azzam menatap lekat wajah pucat Vira. Tangan kirinya menacap jarum infus. Keteduhan mata Vira meredup, seolah mengatakan tubuhnya tidak baik-baik saja. Azzam mematung tepat di samping tubuh lemah Vira. Tanpa sadar, setetes air mata Azzam jatuh. Tangan Azzam bergetar di udara. Ingin rasanya Azzam memeluk tubuh lemah Vira. Namun semua terhalang status diantara mereka.
"Vira, kenapa harus kamu yang sakit? Aku tidak sanggup melihat sakitmu. Biarkan aku menggantikan semua rasa sakitmu. Tulangku mampu menahan rasa sakit teramat demi dirimu. Aku mohon bangunlah, aku tidak sanggup melihatmu terbaring lemah!" batin Azzam.
"Tuan Azzam!" sapa Vira lirih, Azzam mendongak. Dia melihat Vira membuka kedua matanya. Sayu tak bercahaya, Vira sangat lemah tak memiliki daya.
"Vira, kenapa?" ujar Azzam lirih terhenti. Vira menggeleng lemah, sembari tersenyum. Dengan sisa tenaganya, Vira mencoba memahami situasinya.
"Aku tidak apa-apa? Aku baik-baik saja. Tubuhku merasa lelah, sehingga aku harus istirahat. Tuan tidak perlu mengkhawatirkan tubuh lemah ini. Jangan menangis karena melihatku sakit. Air mata seorang imam, sangat berharga kelak. Ketika menangis demi makmumnya!" ujar Vira lirih dan lemah.
"Jika memang air mataku berharga. Jadilah makmumku, agar aku bisa menangis untukmu. Sebab hanya kamu yang berharga untukku!" ujar Azzam tegas.
__ADS_1
"Terima kasih atas harapan yang tuan berikan. Aku bukan makmum yang pantas untukmu. Kelak akan ada makmum yang jauh lebih baik. Tuan Azzam, aku ingin melihatmu bahagia. Bersama dengan makmum yang pantas bersanding denganmu!" tutur Vira, Azzam menggeleng lemah.
"Hanya kamu yang aku inginkan!"