
"Belum tidur!" Sapa Falan ramah, Bayu menoleh lalu menggelengkan kepalanya pelan.Nampak Falan pulang dari rumah sakit.
Malam sudah sangat larut, tak ada suara di sekitar Bayu. Hanya suara hewan malam yang menemani Bayu. Suasana tenang dan sepi, jauh dari keramaian kota. Keheningan yang menyimpan banyak misteri. Senyap tanpa ada suara yang mengusik pikiran Bayu. Langit nampak begitu indah. Bintang bertabur menghiasi langit malam. Bulan bersinar begitu terang. Tak ada yang menghalangi Bayu menatap langit. Seolah Langit begitu dekat dengannya.
"Aku merasa nyaman, sekaligus asing di tempat ini. Sangat bodoh, bila aku tidur terlalu awal!" Sahut Bayu santai, menutupi kegelisahan dan sakit hatinya.
"Maafkan sikap Farah!"
"Untuk!"
"Sikap tegasnya akan ketulusan hatimu. Aku menyadari cintanya padamu. Namun hatinya menolak mengakuinya. Dia tidak ingin rapuh karena rasa suci itu. Farah ingin yang terbaik untukmu!"
"Termasuk menyakiti hatiku dengan mengabaikan rasa dan perhatianku!" Ujar Bayu dingin, Falan mengangguk pelan.
Falan memilih duduk tepat di samping Bayu. Keduanya duduk beralaskan rumput liar. Langit menjadi atap yang begitu menengkan hati. Dua laki-laki yang menyimpan rasa pada Farah. Berharap memiliki hubungan yang lebih. Walau banyak alasan yang membuat mereka tak mampu bersama Farah. Falan dan Bayu termenung, menatap gelap alam yang ada di depannya. Mereka mencari cahaya yang tak nampak dalam kegelapan malam.
"Farah terlalu takut melukaimu, sebab itu dia memilih terluka. Mengabaikan rasa yang kamu tawarkan. Jauh lebih mudah, dibandingkan mengacuhkan rasa cintanya untukmu. Farah tak lebih dari cahaya dalam gelap malam ini. Cahaya kecil yang mencoba menyinari alam yang luas. Tujuan yang diharapkan Farah, menyadarkan keluarga Atmaja!"
"Haruskah dia melupakanku!"
"Harus, karena menjadikanmu bagian hidupnya. Akan menjadi lemah, sekaligus luka dalam hatinya!" Ujar Falan tegas, Bayu menoleh dengan tatapan tajam.
"Apa maksud perkataan kakak?"
"Panggil aku Falan, usiaku hampir sama dengan Farah. Hanya saja statusku yang menjadikanku kakak bagi Farah. Hubungan darah yang ingin sekali aku ingkari. Namun terkadangan kenyataan tak seperti yang kita harapkan. Ketika orang merasakan gula itu manis, tapi bagiku gula meninggalkan rasa pahit!"
"Kenapa aku merasa kamu memiliki rasa pada Farah? Kasih sayangmu lebih dari seorang saudara!" Ujar Bayu tenang, tapi tegas. Falan menghela napas, seutas senyum simpul menjawab perkataan Bayu.
__ADS_1
"Kamu mencintai Farah!" Sahut Bayu lagi, Falan mengangguk sembari tersenyum. Seutas senyum yang seolah ingin mengejek rasa tulusnya pada Farah.
"Entahlah Bayu, ini cinta atau rasa sayang seorang kakak? Puluhan tahun aku mencoba mencari jawaban ujung rasa ini. Namun aku selalu bingung, tepat di ujung jalan keputusanku. Aku kembali dan kembali, rasa ini semakin membuatku galau. Aku bimbang akan rasa yang tak pantas ada. Farah bukan adikku, dia keponakanku putra Azzam sepupuku. Seorang keponakan yang seharusnya menjadi putri, tapi tumbuh bersama dengan Farah. Malah membuatku terjerumus dalam rasa yang begitu membingungkan!" Ujar Falan, Bayu diam termenung. Bayu berharap yang dia dengar sebuah kebohongan belaka.
"Kamu berbohong, katakan semua itu hanya kebohonganmu. Agar aku menjauh dari Farah!" Ujar Bayu lirih, Falan menoleh seraya menggelengkan kepalanya pelan. Tatapan Falan tegas penuh dengan kepastian dan kejujuran. Falan memberikan jawaban yang tak pernah diharapkan Bayu.
"Farah dan aku tumbuh bersama, kami berbagi segalanya. Tak ada yang tak kuberikan padanya. Aku kuat hanya untuk melindunginya. Aku menjadi pintar, agar aku bisa sejajar dengannya. Aku hangat, supaya mampu menghangatkan dingin Farah. Aku melengkapi sisi kurang Farah. Tanganku yang selama ini menggenggamnya. Mengisi sela jari-jarinya yang kosong. Kasih sayang seorang saudara yang mulai kurasa berbeda. Tatkala aku melihat ada laki-laki yang mulai mengejarnya. Aku cemburu, hatiku sakit mendengar ada yang mencintai Farah selain diriku. Namun aku menyadari, Farah takkan pernah menjadi milikku. Cintaku terhalang stastus!" Tutur Falan penuh kejujuran.
"Farah!"
"Ada apa dengannya?" Sahut Falan, sejenak Bayu terdiam. Dia mencari kata yang tepat, untuk mengutarakan suara hati. Lebih tepatnya kegelisahan hati terdalamnya.
"Apa dia menyadari perasaanmu? Bagaimana pendapatnya?"
"Dia tak pernah menyadari dan tidak perlu mengetahuinya. Rasa ini telah tersimpan jauh dalam hatiku. Aku jujur padamu, bukan untuk mengatakan pada dunia akan rasaku pada Farah. Kamu merasa sakit dan marah, ketika Farah mengacuhkan rasamu. Namun kamu jauh lebih beruntung, impian bersama Farah masih bisa terwujud. Sedangkan aku, takkan pernah bisa bersama Farah!"
"Bayu, belajarlah untuk melihat luka orang lain. Agar kamu menyadari, lukamu masih tak seberapa? Farah selalu menatap ke bawah, bukan mendongak ke atas. Dia takkan pergi berbelanja di saat dia sedih. Berharap keramaian akan menghibur hatinya. Sebaliknya Farah akan datang ke hutan belantara seperti saat ini. Supaya dia bisa bersyukur, karena sakit dan lukanya masih ringan. Dibandingkan mereka yang hidup dalam gelap, tanpa kemudahan dan kemewahan!"
"Kamu sangat mengenalnya!" Ujar Bayu lirih, dia merasa tak berdaya. Tak pernah Bayu mengenal Farah melebihi Falan.
"Farah kecilku, ibarat kunang-kunang itu!" Ujar Falan sembari menunjuk kumpulan kunang-kunang tak jauh dari mereka. Bayu melihat ke arah yang ditunjuk Falan. Meski Bayu tidak mengerti arti perkataan Falan. Namun Bayu membenarkan perkataan Falan. Sebab Farah cahaya kecil dalam hatinya.
"Kunang-kunang yang terus bercahaya dalam gelap. Walau kunang-kunang menyadari, cahayanya sangat kecil. Cahaya yang takkan mampu menyinari malam. Namun kunang-kunang akan terus bersinar, agar hati yang mengharapkannya terus bahagia menatap cahaya kecilnya. Cahaya yang ingin digenggam, tapi akan mati bila digenggam!"
"Seperti cinta Farah yang ingin kita dapatkan. Namun cinta yang sama akan membuat Farah lemah!" Ujar Bayu, Falan mengangguk pelan.
"Lebih baik kamu kembali, dua atau tiga hari lagi Farah akan pulang. Dia harus melanjutkan tujuan hidupnya!"
__ADS_1
"Kamu ikut bersamanya!" Ujar Bayu, Falan menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku harus tetap di sini, pembangunan sekolah masih belum selesai. Rumah sakit belum memiliki dokter yang terbaik. Warga di sini tanggungjawabku, sedangkan Farah aku serahkan padamu!"
"Farah masih lemah, dia membutuhkanmu!"
"Dia akan baik-baik saja!" Ujar Falan penuh percaya diri.
Tap Tap Tap
"Kak!"
"Ada apa?" Sahut Falan dingin.
"Farah akan pergi malam ini!"
"Aku sudah menduganya, Arya menghubungi Farah tadi. Kakek membuat ulah, dia mengusik yayasan yang dikelola Farah!"
"Dia siapa?" Ujar Bayu lirih, sembari menoleh ke arah gadis bercadar.
"Resha Shafa Maulida, saudara angkat Farah. Dia sepupu jauhku, kami bertiga tumbuh bersama. Namun anehnya hatiku memilih Farah. Padahal ada Shafa di dekatku!" Bisik Falan, Bayu menunduk. Sebaliknya Shafa gadis bercadar, seketika tertunduk. Saat Falan menceritakan siapa dirinya?
"Kamu sudah menyiapkan keperluanmu!" Ujar Falan, Shafa mengangguk pelan.
"Kapan kakak menyusul?" Ujar Shafa.
"Secepatnya, bersiaplah kakak akan mengantar kalian!" Ujar Falan tegas.
__ADS_1